Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Mashuri

leave a comment »


Godaan Musim

di tepi musim, pawang hujan
mengutuk kemarau.
ia meratap parau,
“aku rindu langit
yang mengandung mendung
dan angin mendesau.”

2018

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:06 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Irwan Segara

leave a comment »


Dewa-dewa yang Ditinggalkan

Di Gunung Pulasari
Pohon-pohon adalah saksi
Bagi dewa-dewa yang ditinggalkan,
Kerajaan tersembunyi
Dengan candi-candi tegak
Dalam ingatan arca Durga
Kini kaki-kaki menjauh
Dari altar pemujaan
Tangan-tangan tak lagi meminta
Kepadanya

Dari kejauhan angin menjerit
Langit berbisik pada awan
Segala sesuatu bercakap-cakap
Dalam rahasia
Masih kucari jejak-jejak waktu
Di sepanjang jalan sejarah,
Arca-arca yang berserak ini
Bertanya kepadaku melalui mimpi,
“Ke mana bibir yang melantunkan kidung
Mata yang berdoa, tangan yang dulu memuja
Kini tak lagi ada?”

 

Irwan Segara lahir di Lebak, Banten, 17 April 1989. Kini ia menetap di Yogyakarta. Perjalanan Menuju Mars (2018) adalah buku puisi perdananya.

 

PUISI KOMPAS, Sabtu, 16 Februari 2019

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:04 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Inggit Putria Marga

leave a comment »


Pengayuh Rakit

sebab segala yang mendatanginya selalu pergi setelah beberapa puluh hari sambil duduk mendekap lutut di tepian rakit, kepada air sungai yang penuh wajah matahari, pengayuh rakit meratapi perannya di kelahiran kali ini yang baginya, serupa sepetak tanah yang hanya layak ditanami sawi: tanah gembur dan berhumus di lapisan pertama, keras dan berbatu di lapis-lapis lainnya.

tak ada tanaman tahunan yang dapat subur di tanah seperti itu. mereka hidup tapi hidup seperti payung terkatup. pokok jati di belakang rumahnya semacam bukti: belasan tahun akar menjalar, tubuh hanya mampu setinggi lembu, daun kalah lebar dengan daun telinga anak gajah, lingkar batang lebih ramping daripada lingkar pinggang atlet renang. jati yang tumbuh terhambat kerap membuatnya ingat pada pohon cita-cita yang sejak kecil tertanam di ladang dada: batang kerdil, daun mungil, tiada buah meski sepentil.

sementara para sawi, di tanah itu, dengan panjang akar hanya beberapa senti mampu mencapai puncak hidup dalam puluhan hari. daun-daun muda tengadah seperti tangan berdoa. daun-daun tua rebah di tanah bagai petualang istirah. sayang, sebelum kembang-kembang sawi lahir, hubungan tanah dan tumbuhan berakhir. sawi dicerabut. tanah melompong ditertawai kabut. melompong serupa wajahnya saat segala yang mendatangi hanya singgah beberapa puluh hari, lalu pergi: hewan atau manusia, malaikat atau hantu, bahagia atau pilu.

alih-alih menjemput penumpang
di tepi sungai untuk diantar menyeberang
pengayuh rakit terus-menerus meratap
buaya menyembul dengan mulut mangap

2018 Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:03 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »


Seperti Pohon Tua

Seperti pohon tua, tinggi dan tua, kau diam dalam sunyi, sendiri menunduk ke bumi, seperti nabi, atau sufi, atau orang-orang suci.

Seperti pohon tua, kau melahirkan petapa, melahirkan Budhha burung-burung yang merdeka, juga semut yang tak lelah bekerja.

Seperti pohon tua, akarmu menacap ke bumi, daun-daunmu merambah langit, jin-jin memelukmu bagai jelmaan kekasih gaib.

Seperti pohon tua, kepadamu Tuhan menitipkan tiga rupa  lah kekasih sejatimu yang kau cintai selapang berkah, setulus doa-doa.

Seperti pohon tua, kau karib dengan udara, oksigen, serta karbon dioksida di mana cintamu yang lembut terpaut di tiap-tiap denyut.

(2019) Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 9, 2019 at 11:18 pm

Ditulis dalam Puisi

Puisi Deddy Arsya

leave a comment »


Lengkung Teluk Painan

Ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu Bugis ke pulau terdekat. Matahari hanya sebesar telur penyu. Kau bercerita tentang nenek moyangmu, pasir-pasir melonjak dalam matamu. Seperti hantu dari masa lalu, kelepak terompah kuda, bendi yang dipacu terpaksa, dan erang sapi-sapi di padang-padang terbuka. Kita pernah bercita-cita membangun rumah dari semuanya. Aku pernah memberimu gelang dari pelepah pinang. Kita pernah berjanji untuk tak saling meninggalkan. Kita akan seperti sepasang burung, merajut sarang di satu dahan. Elang nasib berkitar-kitar di atas kepala. Tapi lengkung teluk ini – biduk-biduk nelayan, dan kota kecil bau ikan, pelabuhan kapal agak ke selatan, pekan tripang, lokan, dan umang-umang, derak pedati yang sesak muatan. Lenguh kerbau di tanjakan – telah mengajarkan kita untuk saling melupakan.

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 2, 2019 at 1:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Wayan Jengki Sunarta

leave a comment »


Kampung Kongsi

di belakang Rex Bioscoop
di pusat Kota Sabang
sehampar kampung kumuh
merayakan hidupnya

kuli pelabuhan dari berbagai penjuru
mengadu peruntungan di situ
merajut harapan menebar jala

jalan sempit dan rusak
lorong-lorong usang
menjadi napas sesak
memberkati kampung

angin garam mengibarkan pakaian
bergelantungan di loteng-loteng papan
lelaki tua bermain catur di beranda
perempuan menjemur ikan asin

Kampung Kongsi seperti petak catur
prajurit dan raja seolah tampak sama
mengarungi hidup yang tak terduga

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 2, 2019 at 1:11 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Bening Siti Aisyah

leave a comment »


Aforisme

Bagai Nuh dengan kapal kayu yang besar,
Mari berlayar bersama, hingga nun ujung dunia.

Sang puan tercipta dari sebuah gelombang yang menggulung. Ia datang
bertelanjang kaki. Bermahkotakan rumput laut yang alum. Lalu duduk di atas batu
besar. Di dalamnya seakan kekasihnya bersemayam. Tertatah namanya dengan
sederhana: Jaka Banyu. Seorang nakhoda yang hilang. Dipenjara oleh laut selatan. Cakrawala tergelincir. Sembari mengiringi sang puan membaca pembuka surat
dari kekasihnya.

Kekasihku, Sri Wangi, perempuan berbau bunga. Aku akan
berlayar lurus. Melintasi netra. Kelak akan kutemui engkau saat
tangkai-tangkai cemara mulai basah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 19, 2019 at 5:15 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Kurnia Effendi

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Januari 19, 2019 at 5:10 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Joko Pinurbo

leave a comment »


Kopi Koplo

Kamu yakin
yang kamu minum
dari cangkir cantik itu
kopi?
Itu racun rindu
yang mengandung aku.

(Jokpin, 2018)

Belajar Berdoa

Enggak usah crigis.
Mingkem saja dulu,
bereskan hatimu
yang amburadul.

(Jokpin, 2018)

Kakus

Tega sekali
kaujadikan
dirimu yang wah
kakus
kumuh
berwajah
rumah ibadah.

(Jokpin, 2018)

Bonus

Langit
membagikan
bonus
air mata
kepada
pelanggan
banjir
yang setia.

(Jokpin, 2018)

Buku Hantu

Untuk apa
kamu menyita buku
yang belum/tidak
kamu baca?

Untuk menghormati
hantu tercinta.

(Jokpin, 2018)

 

Malam Minggu di Angkringan

Telah kugelar
hatiku yang jembar
di tengah zaman
yang kian sangar.
Monggo lenggah
menikmati langit
yang kinclong,
malam yang jingglang,
lupakan politik
yang bingar dan barbar.
Mau minum kopi
atau minum aku?
Atau bersandarlah
di punggungku
yang hangat dan liberal
sebelum punggungku
berubah menjadi
punggung negara
yang dingin perkasa.

(Jokpin, 2018)

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 12, 2019 at 3:43 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Dadang Ari Murtono

leave a comment »


dongeng sangkelat

sepi yang ia cintai barangkali tak ada lagi,
tepat ketika sunan kali memindahkannya dari akadiyat
ke tengah babad yang benderang, dan empu supa,
dengan tiga kali pijitan, mengubahnya dari biji kemiri
jadi sebilah keris penanggung wahyu

ia mabuk, ia benci
tapi pada halaman itu, pembaca mulai tidak sabar
”masukkan ambisi kekuasaan, masukkan nujum-nujum,
beri kami perang yang meriah”

*
bau maut pada tembok batu bata
ketika malam jatuh seperti dibanting
ia ingin lelap, sebenarnya, dalam warangka
tapi kiai condongcatur memanggil-manggilnya
ke sebuah paragraf berisi pertempuran singkat

”tapi aku tak mau,” katanya
”tapi pembaca menginginkannya”
”tapi aku tak peduli dengan pembaca”
”tapi kau harus menghentikan kali yang menaburkan
bibit mati lewat lekuk pamorku”

* Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 5, 2019 at 7:48 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: