Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

PUISI TONI LESMANA

with one comment

Di Situ Panjalu

 

kutemui jantung

ungu disaput kabut

mengapung di situ

 

denyutnya lembut

mengirim getar di hijau

air panjalu

 

itulah hutan yang mengambang

terdapat gerbang seperti celah tambang

yang mengundang kembang

 

ke sanalah perahu-perahu

kuyup dan meluncur

tubuh-tubuh berlumpur rindu

 

di sana ada kubur

di bawah daun-daun

dijaga sepasang harimau

kubayangkan kau di sini

di sampingku

menghirup maut

 

yang merdu

mengalun

sedikit bikin mabuk

 

dan khusyuk. Lalu kita limbung

berebut saling menawarkan tubuh

menjadi perahu dan dayung

 

menuju aum

di balik kabut itu

di dalam kubur-kubur itu

 

selalu ada yang ingin

dijenguk

dengan rindu

 

2014

 

 

Di Dada

 

kusimpan apa

yang kau turunkan itu

lurus ke hati

lurus ke langit

 

sebelah tubuhku pedih terbakar

sebelah lainnya nyaman gemerlap

entah mana

yang kelak akan abadi

 

2014

 

 

Toni Lesmana lahir di Sumedang, Jawa Barat. Menulis puisi dan prosa dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bergiat di Komunitas Studio Titikdua Ciamis.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 FEBRUARI 2015

 

 

Written by puisi kompas

Februari 9, 2015 at 8:03 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

with one comment

Hikayat Jamarun

 

(seribu burung akan mengepung langit yang tiba-tiba mendung

dan paruh mereka sibuk menyasar biji matamu)

 

angin tak pernah berubah menjadi sari padi

hingga terasa sengat ruap pandan wangi.

dan musim belum menampakkan panen cengkih

apalagi memanen kopi untuk ditumbuk dan dibagi.

 

jadi apalah arti serbuan aroma dari tubuh bangkainya

yang tak pernah terasa seharum ini,

selain dari tubuh para nabi dan mereka yang terkasih.

 

tetapi janji dengan telak ia tepati,

tak bisa mengelak apalagi meyakini

mereka yang bermata fana terbelalak

dan mereka yang bermulut dusta

sekedar bisa menganga.

 

coba kau cium lagi

dengan hidung belakamu,

dan sesaplah sepuasnya.

 

sungai bisu yang melarikan tubuh

prasangka yang menenggelamkannya.

oh gema rimba yang memantulkan

rasa laparnya,

enggan juga jarak memendek dalam jauh.

 

seharusnya mulut ikan yang tersesat di mata kail itu

bukan tuduh yang terhunus begitu ampuh,

sedang tak ia kenali bayang wajahnya sendiri.

 

“aku sebatas mencari alas untuk perih

lambungku, demi memerah waktu

sekadar memanjangkan usiaku.”

 

tapi tak ada yang percaya pada rasa lapar

sebab tubuh lunglai dalam pangkuannya

tak bisa membenarkan kesaksiannya.

 

setiap pandang yang menyapu wajahnya

terasa membasahi dengan dengki.

setiap kali jantungnya berdegup

para punggawa siap menyusupinya duri.

 

“bawa ia ke hadapan kanjeng dalem

biar neraka mudah diterima baginya!”

 

ia merasa langit sepenuhnya pongah

tegak dan tak bisa lagi ia menganggit doa

sepatah kata sekalipun.

 

pasir dan darah bercampur di mulutnya

hampir saja gigi dan lidah tak dirasai lagi.

 

gemetar tubuh berangsur menyergap

begitu saja,

saat punggawa dengan mudahnya

menggusur tubuhnya ke jalanan bersemak

tak bergalur.

 

tanah terasa mengambang dalam tatapannya

pohon-pohon goyah.

bumi kembali bukan pijakan ramah baginya.

 

depan singgasana yang bunga mawarnya

dari emas dan tembaga,

ia begitu percaya kanjeng dalem

akan mengenangkan padanya

bagaimana memperlakukan petani

seperti para pelayan

seorang dewi kelembutan.

 

tapi lelaki yang angkuh, sorotan mata merah

dan mulut menahan tetesan bisa

tak pernah menganggapnya berharga.

 

“ini kotaku tak bisa kau berbuat dosa

tanpa penghakimanku.”

 

kanjeng dalem dengan tubuh bersih

nan rupawan telah begitu menyilaukan matanya.

tak ada sebab mengapa tiba-tiba matanya begitu sembab

bukan kerena pukulan punggawa

melainkan kata yang bersarang jauh dari rasa iba.

 

ia terasa jalang jelata, mengapa kasih terasa melorot

dari genggam begitu mudahnya.

 

tak ada tanda-tanda bahwa

hari esok masih ia punya.

 

seluruh gempita tinggal gagap

terkulum di mulut seketika.

 

“bawa ia ke tiang gantungan!”

 

dosa apa yang mudah diterka

doa apa yang mudah musnahnya.

 

ia membayangkan alun-alun

yang dahulu mengajarinya menangkap capung.

menggambar punggung kupu-kupu

dengan lamunan tentang istri dan anak-anaknya.

 

oh pagar hidup dari salur sirih

serasa baru saja ia tumbus.

ia melihat anaknya berdiri

membawa kolocer di tangan.

ia melihat istrinya bersimpul senyum

merekatkan kasih merah delima di dada.

 

tapi mengapa semua bayang berubah hitam.

Orang-orang mengepungnya, melempar

kesumat yang tak pernah ia sulut sepercik pun.

 

angin enggan menyejukkan pucuk mimpinya.

dahan harap terasa gemertak terinjak-injak.

 

“bila aku tak pernah membunuh anak malang itu

kalian akan merasakan malam begitu cepat

dilepaskan.”

 

dan orang-orang masih terkesima

pada luruhan peluh dari tubuhnya.

saat tali dikalungkan ke lehernya

dan ia berdiri di atas sana sendiri

tanpa pengakuan dosa

yang pernah dimulainya.

 

“kalian akan merasa paling busuk

setelah rupa burukku menghalangi

matahati yang terlanjur dibenamkan nafsu.”

 

juga tak membuat orang-orang

menyisihkan lengan keangkuhannya.

hanya dada yang membusung

seperti busur memanahkan dendam

dan entah menyasar apa sebenarnya.

 

pada hentakan pertama pada lehernya,

ia menelan udara dari celah sempit dunia.

pada tarikan yang makin mencekiknya

ia menghisap aroma surga

tanpa kata-kata yang diumbarnya.

 

seribu burung menghalangi langitmu

dan udara yang membumbung dipenuhi aroma

pandan wangi, sesekali berganti terasa bubuk kopi.

selebihnya aroma berjatuhan.

 

warna malam tiba-tiba menyergap

dalam kepak gagak yang mengerubungi

mata dan lidah fitnah.

di tanah, di mana ia tergantung sepi

cahaya seakan miliknya seorang diri.

 

(2014)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Tinggal dan bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 FEBRUARI 2015

Written by puisi kompas

Februari 9, 2015 at 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARHALIM ZAINI

leave a comment »

solilokui para penunggu hutan

– batu geliga (bezoar)

 

sepulang dari eropa, racun-racun

dalam tubuhku sibuk berkelahi,

berdengung-dengung bagai lebah

bergelayut di jantung,

bagai suara kambing gunung

yang di lehernya lembing bergantung.

suara-suara itu lalu-lalang secepat cahaya

di urat darah kacukanku,

jejaknya menanam sengat silau,

beribu sengat, yang sakitnya lekat

pada setiap kali mataku memandangmu

terhantuk-hantuk di sampan kayu

di pelataran sungai senja

 

maka, kuminta, maniskan darahku,

siapa pun dikau wahai para penunggu hutan,

dengan sebutir batu geliga itu, sebutir saja

atau, kikiskan ke dalam segelas anggur,

agar jadi jimat abad tujuh belas

di limbung mabuk badanku.

 

kau bukan orang asli, Bung

            kau para munsyi yang mualaf

            pergilah ke selat, atau ke tanjung,

            atau hanyutkan saja dirimu ke persia

            ke perdangangan terselubung

 

alahmak,

setengah gelepar ini,

rupanya tak membuatmu patuh,

tak sekejap saja diam dari seranah.

aku orang kota, terbuang dari kampung,

disumpahi orang darat, dikutuki orang laut.

maka darahku kadang pahit,

kadang sepat, kadang kelat.

tapi hati-hati, ujung lidahku asin,

merapal jampi-jampi untuk memikat hatimu,

untuk menciumi aroma gaharu di tubuhmu,

bismillahku masih bersirih,

masih lekat urat pinang merah di bibirku,

andai kelak kusepah semah di bibirmu.

kau ingat, sujud sembahmu di kakiku dulu,

adalah tersebab kata, padam kemilau emas

pada mata.

 

dan ratusan tahun, kau dengar,

doa sejarah yang itu-itu saja,

yang ditadahkan ke pintu langit tenggara.

sampai aku hafal berapa tiang layar

yang tumbang ke cina.

wahai, tak mungkin sembuh,

itu derita,

bahkan jatuh,

itu raja.

 

tapi, batu geliga dari perut gajah telah lenyap,

            dijual ke aceh, diberi nama pedro de porco siacca,

            binatang-binatang hutan merajuk, juga mengamuk

            ke kota, mereka kini makan roti di mal-mal,

            tak lagi suka daun-daun tropis

            yang membangkai di api gambut

 

aku tahu, sepulang dari eropa,

mulutmu mulutku bau jerebu.

yang punah oleh api adalah ranah.

kita tumbuh dari selera orang lapar

yang bangkit dari kuburan hutan.

masa depan kita tinggal sungai,

yang kita minum siang malam,

yang kita tangisi siang petang.

tapi, batu geliga, tak ada di sungai.

perut ikan-ikan hanya menyimpan pasir,

lumut limbah dari pabrik,

dan serpih syair yang terbenam di rawa.

ikan-ikan yang hidup dalam perut kita,

adalah juga ikan puaka,

menjelma racun-racun yang sibuk berkelahi

tentang warna sirip dan sisik,

sibuk mencari mitos-mitos tentang asal-usul

dari kepingan uang logam yang berkarat

di bawah bantal kapuk nenek monyang.

 

maka, tolong, maniskan saja darahku,

dengan batu geliga itu,

yang mungkin, masih tersisa

di dalam degup jantungmu.

 

 

 

– rotan jernang (dragon’s blood)

 

ia hanya tahu, suatu hari,

ia akan menjelma jadi pohon dracaena,

di hutan hitam belakang rumah.

rasanya, ia tak tahan lagi,

tubuhnya dipaku di tiang-tiang sembahyang,

jadi penyebat anak-anak yang tak pandai

mengaji alif-ba-ta,

dijual dibeli di pasar raja-raja,

ditenggak para penyair yang tergagap

kehilangan kuasa kata.

 

konon,

kemenyan merah dibakar di bawah kapur,

saat magrib menabuh bedug di surau-surau,

yang terus memanggil-manggil tuhan

di mata kapak orang kampung,

adalah permaisuri surga yang tak menjadi bini.

tapi sejak lama, ia telah tahu, itu orang bunian

yang tak berumah di surga, tak bertanah di bumi,

tak mungkin ia pagut asap, seperti ia memagut

remang senja yang lindap.

 

pernah,

bagai lepas urat nadinya

dari akar-akar tanah,

saat tak dapat ia ucap alif-lam-mim

di depan madrasah,

tempat ia pernah terhimpit berhari-hari

di halaman-halaman kita suci.

saat itu, yang terdengar oleh daun-daunnya,

adalah gaung hutan, meraung panjang,

bunyi semak yang disibak-sibak,

dan batang-batang getah tua

yang ditetak-tetak.

 

            suara tuhankah itu?

            al-faaatihah…

 

ia hanya tahu,

hari-hari akan lepas dari tubuhnya,

seperti kulit yang terlepas dari dagingnya.

tak pernah ia membenci tukang kayu,

seperti ia membenci tukang tebang.

ia berani bersumpah, atas nama matahari,

yang telah melahirkannya,

bahwa di seluruh dataran rendah,

orang-orang menguliti seluruh hikayat,

seluruh riwayat, dari ujung ke pangkal,

sebagaimana mereka membuang

– dengan rasa benci – duri-duri dari batang.

 

dan, suatu hari, ia tak lagi ingin tahu,

di mana harus mengucap assalamualaikum,

ketika tubuhnya terpanggang,

melelehkan resin merah ke tanah,

bagai melelehkan darah

ke merah darah.

 

 

 

– lebah sialang (apis dorsata)

 

kami tinggi, karena langit tujuan kami,

teriakmu dari atas bukit.

 

tapi orang belanda, sebagaimana juga aku

melihat gumpalan mendung di langit utara,

langitnya orang sumatera,

seperti ribuan sarang lebah

menggantung di rimbun sialang

bersiap jatuh ke jantung ladang.

 

itukah langitmu,

            yang kakinya bengkak-bengkak

            kena sengat teluh

            orang kacuk dari siak.

 

tidak katamu.

orang sakai kebal nujum

tersebab darah madu kami minum,

seperti orang jakarta mereguk limun

dari lambung tanah kami yang tambun.

bahkan kepada inggris, di tahun 1823,

bukankah raja-raja telah menjual silsilah kami

dalam lima ribu karung lilin.

maka kita ini siapa, peramu atau pemburu,

atau binatang-binatang liar abad tujuh belas:

 

yang bertanya kepada hutan,

            jawabnya rumah.

            yang bertanya pada sungai,

            jawabnya tanah.

 

maka kau yang tinggi

atau aku yang terbenam,

adalah adik beradik

yang bermain galah panjang

di halaman belakang.

sebab, di depan, kau tengok,

di sepanjang sungai besar berarus lambat

kapal-kapal tiap petang berbaris

menadahkan periuk bagai pengemis,

bahkan sejak berabad lampau

menanti kau bilang puah,

menunggu aku bilang puih.

 

kami, tak lagi tinggi,

sebab langit adalah tempat tinggal kami,

bisikmu dari dalam tanah.

 

Marhalim Zaini lahir di Bengkalis, Riau, 15 Januari 1976. Buku puisinya yang ketiga, Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu (2013), menerima dua penghargaan: Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013 dan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2013.

Written by puisi kompas

Februari 3, 2015 at 3:11 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »

Parasurama

 

apakah kau akan berhenti

jika setiap langkahmu ditumbuhi sepi

atau mengayuhkan kapakmu

sebab malam tak lagi pernah sama

setelah kematian renuka?

 

malam telah mengutukmu

menjadi pembunuh ibu

atau batu di dasar kali

dan tak ada janji kembali

 

apalagi yang ada setelah kematian renuka

: malam panjang tanpa mimpi sedetik juga

 

sementara kematian menjauh

tak mau menyentuhmu

karena bagiku

kaulah kematian itu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Renuka

 

tak ada yang tejanjang di bengawan narmada

hanya cinta yang berjatuhan di batu-batu kali

hanya dada yang sejenak terbuka

lalu cepat tertutup kembali

tak ada apa-apa. tak ada yang pernah kutinggalkan

aku di sini dan sebegini saja, yamadagni

 

tak ada yang telanjang di bengawan narmada

hanya darahku yang mengalir di kapakmu, rama

deras seperti cinta yang tak pernah kudaku

 

maka telanjanglah, menarilah di kaki candiku

sebab cinta tak datang sembarang waktu

sebab ada masanya kau hanya selembar daun

—gemetar ditampar hujan

 

Jogja, 2014

 

 

 

 

Yamadagni

 

apa yang pergi tak bakal kembali

apa yang telah kaubunuh mokal tumbuh

: kepala itu telah jatuh

—menggelinding ke ruang tak tersentuh

 

katakan padaku,

mantra macam apa yang bisa menguasai malam

menutup seluruh jalan dendam dan kematian

yang kadung tumbuh di ujung wadung

 

kupinjam seluruh tubuhmu, rama

sebab kau tak akan mati

sebagaimana dendam yang kumiliki

 

Jogja, 2014

 

 

 

Golekan

 

wayang di sebelah sudah selesai

kayon di selesaikan di tengah azan

mungkin kau sudah bangun

dan pelan-pelan menyadari

bayangmu telah lari pergi

tak ada rajah

yang perlu dibaca lagi

 

sementara dua boneka kayu

—sepasang kekasih kaku

manari diburu waktu

 

Jogja, 2014

 

 

Anjani

 

telaga sumala meredam lukamu

menjatuhkan kama berbau perdu

tepat pukul lima pagi yang beku

 

buka saja mulutmu

seperti saat kau memanggilku

bukalah dan lahirkan sesuatu

 

mungkin sebuah puisi

tentang kera betina yang menyendiri

di sebuah telaga hingga ia melahirkan puisi

tentang kera betina yang menyendiri

 

waktu mesti kaubunuh

hingga bulu-bulu di wajahmu gugur

menjelma kera putih

yang akan membopongmu

ke sebuah tempat

yang pernah kaulihat

di cupu astagina

 

atau biarkan saja

telaga sumala

menelanmu

dan kau tak pernah ada

 

Jogja, 2014

 

 

 

Supraba

 

di mana letak kematianmu

di sanalah aku akan berdiam

menunggu datangnya malam

saat aku mesti kembali

menjadi cahaya

 

waktumu tak lebih panjang dari rambutku

ruanganmu tak lebih luas dari tubuhku

bergegaslah. di luar terlalu gaduh

 

aku ingin segera menepi ke sana

di dalam kematianmu yang dingin

dan sebutlah kita pengantin

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sumbrada

 

kularung cintamu!

jadilah perempuan itu berlari

menghujamkan diri

pada sepi yang tegak berdiri

layaknya sebuah belati

lalu sungai menerima tubuh

—tongkat kosong rapuh

membawanya pergi jauh

sejauh-jauhnya darimu

 

dan kalaupun kini ia hidup kembali

duduk diam di sebuah tempat

menyaksikanmu yang terus menari

dengan baju pengantin hingga tamat

: ia bukan siapa-siapa

 

Jogja, 2014

 

 

 

Windradi

 

sebut aku batu

sebab kau tahu

tak ada lagi suaraku

tak kubagi cintaku

bahkan kepadamu

 

dalam diam kuhayati

apa yang tak pernah mati

berdiri antara luar-dalam

siang dan malam

akan kusaksikan

semua menua dan sia-sia

 

dan kau yang berendam

di telaga sumala

selembar daun akan jatuh

tepat di mulutmu

sesuatu akan tumbuh

menjadi setapak jalanku

mencair. membahasimu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Alap-alap Surtikanti

 

suatu kali aku pernah bersembunyi di gelung rambutmu

berdiamlah di sana, katamu, rumahkan kesepianmu

dan bau lehermu menidurkanku. menjaga kesedihan

yang berkeliaran sepanjang tembok tamansari

tinggallah di sana, katamu, selesaikan pelarianmu

tapi tubuhmu bukan makamku. tak ada namaku di sana

 

aku hanya pencuri yang mesti terus berlari

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gojali Suta

 

di batas yang tak lagi jelas

siapakah kamu

yang menyeru namaku

siapakah aku

yang menyusun ranjang besi

dari puisi-puisi tak jadi

 

maka kupecahkan wajahmu

dan tidurkanlah aku

di ranjang yang sepi

agar selesai seluruh cinta

agar selesai perseteruan

yang panjang ini

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sambang Juwing

 

ceritakan padaku malam ini

cinta yang tak pernah mati

dan kau pun berhenti

menulis ulam derma – ulam dermi

di sebidang tanah yang sepi

di mana sepasang kekasih

baru saja mati siang tadi

koyak-moyak di tanganmu

yang berkeliaran rindu

 

mereka tak ada katamu

mereka tak tinggal di sni

hanya ada aku dan kamu

dan sebidang tanah sepi

 

dan aku pun memelukmu

tubuh yang tak bisa kukenal

sebab malam begitu rapuh

dan bisa jatuh kapan saja

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gunawan Maryanto aktif di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013).

Written by puisi kompas

Januari 18, 2015 at 6:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DADANG ARI MURTONO

with 3 comments

ketika maling caruling memaling

 

pada upaya yang kesekian

ia seperti mendengar nyai itu berkata

segala yang gagal membuatmu menyerah

akan menjadikanmu lebih tabah

 

pada upaya yang kesekian

gerit jendela seret tak beroli ituhanya senyap

ia seakan melihat asmara

menyungkupkan jarit gelap tak berbatik

dan ia tahu

tak bakal ada jerit

sampai esok

sewaktu si demang menyadari dadanya berlubang

dan jantungnya tinggal kantung yang begitu luang

 

 

 

pengakuan nyi demang

(untuk ken andhisti sekali lagi)

 

hatiku kupu-kupu, caluring

dan segala padamu

songkroh penyebrak

atau tongkat berperekat sawang laba-laba kuning

 

telah kau maling, celuring, hatiku

sejak hari pertama kita bertukar kerling

dan di kamar si demang

tubuhku tinggal kepompong kosong

bakal penyebab demam si demang

 

lalu bersama atau tidak, caluring

dalam cinta yang begini

apalah lagi artinya

 

 

 

cak markeso

 

aku penyair bimbang, cak

bimbing aku

aku tak kuat berjalan dengan memanggul

perut lapar, dalam tasku, kata-kata

tak ada yang abadi

maka tunjukkan cak, duniamu itu,

semesta ludruk ontang-antingmu itu, kaki yang tak

lelah menghela langkah, dan bagaimana

apa yang kuucap di depan tukang becak penggemar

atau pinggir kali dengan sedikit pendengar

terus terngiang hingga kini, tak

lungkrah-lungkrah, tak payah-payah

 

aku pencinta bimbang, cak

bimbing aku

 

perempuan-perempuan datang datang

dan pergi meninggalkan bahasa

yang sementara, bahasa yang terlalu

sering diulang orang hingga cepat usang

maka ajari aku bagaimana cara menemukan

supartiku, seperti kau menemukan supartimu

setelah dua kisah cinta murungmu yang

selalu berumur setahun

 

aku tualang bimbang, cak

bimbing aku

 

tidak ada puisi dalam khazanah

masa kecilku, seperti tak ada parikan

dalam keluarga besarmu

tapi kau temukan jula-julimu sendiri, hei

putra kiai, dan kau tempuh pikiranmu sendiri

dan bertahan kau di sana, berdiri gagah

sebagai tualang sejati dalam ludruk garingan

 

lalu kacamata riben itu, cak

apakah sekedar penutup mata julingmu

ataukah kau jadikan tameng

agar suatu bagian dari dirimu

tidak dimasuki apa-apa yang mengajakmu menyerah?

 

 

 

DADANG ARI MURTONO lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Tengah. Puisinya antara lain termuat dalam antologi Pasar yang Terjadi pada Malam Hari (2008).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Written by puisi kompas

Januari 13, 2015 at 7:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

with 3 comments

Dendam Absalom

Nyanyian kepada Daud

 

Engkau adalah masa lalu tak selesai

yang harus dibereskan. Yang tumbuh

dan melahap hidupku hingga sumsum.

Bertumbuh kau seperti tumor

menjalar dan mematikan

sebagai kanibal.

 

Aku harus membunuhmu, Ayah,

kendati kuhormati dan kucintai engkau.

Sangat. Karena ampunanmu sebatas jarak

sedangkan hadirku tak lagi kau anggap.

Sedekat pandang kau tempatkan aku

untuk berjumpa tak boleh – agar rinduku

sebatas bisul tanpa mata.

 

Kepadamu seorang tertakik luka

paling perih. Tertanam akar

paling pahit. Engkaulah siksaku, awan pekat

halangi mataku tuk menatap wajah Allah.

 

Malam ini harus kubunuh engkau

Sementara kubayangkan diriku bocah kecil

dalam dekapanmu. Sementara kusesali diriku,

sumber segala dosa. Tapi kenapa kau harus

beristri banyak? Mengapa padaku ampun

kauberi untuk kau abaikan hanya?

 

Namaku Absalom: Bapa perdamaian.

Keindahan dari semua yang elok.

(Kau sendiri yang menamai, bukan?)

Namaku Absalom. Tapi damai tak lagi padaku.

 

September, 2014

 

 

 

Ratapan Daud

Kematian Absalom

 

Akhirnya pergi jugam kau. Tanpa berpamit.

Tanpa restu kecuali kesumat. Karena kau

kupanggil pulang untuk tak kuampuni.

 

Betapa sakit dan sepi.

Betapa malam-malam penuh hantu,

penuh mimpi berduri, anakku.

 

Barangkali tanpa setahuku,

sering kau terbangun tengah malam

berpeluh lalu berteriak ngeri.

 

Dulu kau akan memanggilku

dan kuusap kepalamu

sementara kau dekap pinggangku erat.

 

Akulah hantu itu bagimu.

Betapa perih diremehkan

dan dianggap tiada ayah sendiri.

 

Lebih daripada tak diampuni sekalian.

Jiwamu tergantung antara ampunanku

dan rindumu berjumpa.

 

Ada tapi tiada. Pernah kau titip isyarat

mendekatkan diri sebelum akhirnya

pahit hatimu, bertahun kuabaikan.

 

Akulah hantu bagimu.

Engkau yang terindah dari semua,

tapi engkau tiada. Terhilang.

 

September, 2014

 

 

 

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Kini tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Written by puisi kompas

Januari 13, 2015 at 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI INGGIT PUTRIA MARGA

with one comment

Sesaat Sebelum Pergi

 

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku

ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri

di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher

seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

 

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu

merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu

merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu

merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

 

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas

di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar

lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya

yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku

pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi

 

di gerbang cakrawala ia berhenti, semacam berharap aku tau kamu

menyusulnya ke kerajaan tuhan, yang mungkin tak sesempurna dalam mimpi

lama ia mengambang di sana, tubuh merahnya makin nyala

bagai warna darah pertama yang keluar dari kakimu, saat tajam batu-batu

adalah kenyataan pertama yang mesti kau temui, di langkah pertamamu

di atas bumi

 

bias merah tubuh sang fajar membuat laut awan cemar, bintang pudar

bulan sabit samar. seluruh tali malam terbakar, tapi ruang pagi

rapat tertutup layar. di atas ubun-ubun kita segalanya merah, segala darah

mengapa kau memelukku? jangan takut pada darah, jangan pernah takut

sebab bila aku hilang, kau masih dapat terus hidup dan memiliki darah di tubuhmu.

tapi jangan darahmu hilang, tak ada hidup dan tak ada aku untukmu

 

berdirilah di sampingku, namun jangan genggam tangaku

 

lihat tubuh fajar yang perlahan lumer dan menggenang di langit, darah hari

yang sesaat lagi kering oleh satu makhluk yang disebut matahari

bila fajar yang menggenangi langit itu telah pergi, lihat fajar yang lain

yang kerap menitik di sudut bibirku, darah dari mulut istri yang setiap malam

terhantam tangan satu makhluk yang disebut suami

lalu andai fajar yang menitik di sudut bibirku pun pergi

ingat fajar lain pula dalam tubuhmu

 

miliaran keping darah yang tak henti mengalir

tempat cintaku padamu tiap hari terlahir

 

jauh di atas kepalaku, bagai kelopak teratai hampir mekar

matahari sedikit berpijar. di sekeliling kakiku, embun di rumput-rumput teki

bersinar.

 

2014

 

 

 

Selain Empat Burung Gereja

 

persetubuhan rel dan roda kereta melahirkan sekaligus mengusir debu-debu

angin sore pertengahan tahun mencampur mereka dengan udara

menyesakkan paru-paru siapa saja, namun gagal mengusik

ia yang duduk di beranda, melihat empat burung gereja hinggap

di setumpuk pecahan bata. seperti tata kota di tanjungkarang

begitulah bata-bata itu tersusun

tumpang tindih: satu menumpang, yang lain menindih

 

empat burung gereja hingga di posisi berbeda

 

yang pertama di tumpukan tertinggi, kepala menoleh ke sana ke mari

kaki sesekali bergerak ke kanan ke kiri. sepertinya, ia jenis burung gereja

yang kurang punya ketetapan hati. agak jauh, di sebelah kanan burung yang

labil ini, burung kedua mengambil posisi, kepala lebih sering menunduk,

kepada kaki, paruh kadang mematuk. tampaknya, ada sejumlah perjalanan

yang sungguh terkutuk

 

yang ketiga dan keempat, hingga di pecahan bata yang paling dekat

dengan bentala. mereka berhadapan, mengangguk-anggukkan kepala

beradu ricau tanpa jeda. entah bertengkar entah bertukar cerita, keduanya

mengingatkanku pada aku dan anakku. sengit pertengkaran atau

riuh percakapan: tanda kami sedang jumpa: jiwa raga

 

hari kini warna kopi. empat burung gereja pergi meninggalkan tahi

di setumpuk rekahan bata. bagai rel yang diam menunggu cumbu roda kereta

lelaki itu tetap duduk di beranda. ia lihat dua lelaki berseragam dan berpentungan

melintas, menoleh sejenak padanya sambil tetap berjalan entah kemana.

sepasang suami istri menggotong kasur, malam ini entah di mana mereka tidur

satu per satu rumah di tepi rel jadi puing. tempat tinggal bagi kenangan, kini

barangkali hanya di darah, cuma di daging

 

di sela tidur panjangku

di bawah rengkahan bata yang tertumpuk

di depan rumah tua itu

selalu kusempatkan waktu untuk melihatnya, sekadar memastikan bahwa anakku

(setidaknya sebelum rumah kami pun berlalu) baik-baik saja

 

2014

 

 

Inggit Putria Marga lahir dan menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya bertajuk Penyeret Babi (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Written by puisi kompas

Oktober 14, 2014 at 10:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 7.151 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: