Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDY TRY RIYADI

leave a comment »


Berlatih Solmisasi

 

/do/

 

Seperti kau yang ingin

Menuntaskan cemas,

ia pun berhasrat

menunaikan gegas

 

perjalanan yang dimulai

dengan pertanyaan sendiri

 

: mau dan mampukah kau

berjalan sampai batas paling nyeri?

 

/re/

 

Hanya kau, katanya, yang harus

menjawab seluruh perjalanan

dengan sepenuh kesanggupan.

 

Ia hanya beringsut – menjauh sedikit

pada sebuah sudut agar kau semakin

mengerti

 

: hidup tak cukup dijalani

dengan bersungut-sungut.

 

/mi/

 

Jika kau – lagi-lagi – berhenti

dan memikirkan untuk kembali

pada awal perjalanan ini,

 

ia

 

justru menyesali keputusannya

untuk bermimpi. Menaruh harapan

sejauh-jauhnya ke sebuah ujung

 

yang akan membuatnya bertarung

dengan siapa pun.

 

Termasuk dengan dirinya sendiri.

 

/fa/

 

Kau inginkan fajar yang lain.

Fajar dengan seekor kucing meringkuk

di atas keset di depan pintu

dan tak mengganggu seekor burung coklat

yang baru turun dari ranting jambu.

 

Ia tahu, namun tak bias menjanjikan

Hal semacam itu setiap pagi.

Dengan kecupan penuh ragu di dahimu

ia ingin buktikan – selalu ada cara berbeda

untuk memulai hari denganmu.

 

/so/

 

Perjalanan ini tidak ditentukan

oleh siapa pertanyaan: siapa memulai

dan mengakhiri? Juga bukan dengan

– mengapa dimulai dan diakhiri?

 

Seperti seorang berlatih solmisasi

dari kunci nada paling rendah,

sampai pada suaranya terasa tak sampai lagi,

tapi ia tidak berhenti.

 

Ia selalu melatih pita suaranya

agar semakin merdu bernyanyi.

 

Nanti.

 

 

/la/

 

“Jangan tanyakan berapa lama

kau harus bertahan,” katanya.

 

Ia terdengar seperti suara

manja di tengah pertempuran.

 

“Jangan pula tanyakan kapan

aku harus berhenti,” pintanya.

 

Ia seperti nyeri. Bertubi-tubi.

 

/ti/

 

Pada akhirnya, yang kau bisa
hanya mengetuk dan bernyanyi,
bukan lagi mengutuk dan bermimpi.

 

2016 Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

September 7, 2016 at 1:08 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

with 2 comments


Gresik: Telur Bebek dan Leher

 

Ada amsal tentang kenangan awal. Kenangan pada jajaran rumah yang

berubin tebal dan bertembok tinggi. Serta patung kilin yang bersiaga di

tempat ibadah. Patung kilin yang menyimpan wujud mustika di delapan-

belas bagian tubuhnya. Juga tentang telur-telur bebek yang tergeletak di

sepanjang got kering sebelah trotoar. Telur-telur bebek yang dipunguti oleh

tangan si kanak. Tangan yang kini telah dewasa. Yang diam-diam juga ingin

memetik matahari sebelum lingsir. Atau mewarnai kulit delima agar tetap

merona. Semerona ibu yang telah jadi bidadari. Bidadari yang setiap bersedih,

berziarah ke makam Tuan Maulana. Dengan air mata berlinang.

Juga dengan kerudung yang berjuntai menawan.

 

Dan ada amsal tentang kenangan berikutnya. Kenangan pada aroma yang

memberat. seberat napas yang membau sengak. Yang mengingatkan bau

asap yang mengepul dari sekian cerobong. Sekian cerobong, yang jika

gerhana tiba, bergerak dan berjalan tegap. Seperti seregu sedadu yang

berbaris-baris. Berderap. Berderap. Berderap. Dan sesekali memeragakan

kerancakan jalan di tempat. Kerancakan yang membuat permukaan pantai

jadi bergoyang. Sampai tiga ikan buntal yang berenang, pun seketika

membuntalkan perutnya. Sebab menganggap, ada musuh yang akan

menyergap. Musuh yang mungkin terang. Mungkin gelap. Atau malah

mungkin samar. Tapi amat dekat. Sedekat urat leher.

 

(Gresik, 2016) Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Agustus 22, 2016 at 12:23 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TRIYANTO TRIWIKROMO

leave a comment »


Kekecewaan Purochana

 

Di hutan Waranawata telah kubangun istana kematian

dari kayu-kayu yang mudah terbakar. Tetapi atas

perintah Duryudana, selalu kukatakan kepada Pandawa,

itulah surga terindah, tempat peristirahatan termewah

setelah seharian berburu kijang dan satwa-satwa lemah.

 

Aku juga telah meletakkan kursi goyang Kunti

di dekat dinding ranjang Yudistira di dekat

perapian: itulah neraka yang akan menjadikan mereka

sekedar unggun abu. Tubuh Bima akan meleleh, Arjuna

kehilangan kepala, Nakula dan Sadewa jadi arang,

dan burung-burung serta kelinci hangus tanpa sisa. Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Agustus 8, 2016 at 1:54 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Agustus 1, 2016 at 12:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »


Getik Ikan Bethik

                     di kali jambe

 

mataku genangan mata air tawar

sirahku kuncung mekar merengkuh luar latar

 

sisikku mantel silap penyamar pandang

punggungku pun hijau ganggang pengecoh

 

senar para penjoran. getik manggar,

getik pelepah gedang, getik batang merang

 

getik apung kiambang, getik kangkung lanjaran

getik lumut akar poh bapang, sebab lagakku Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Agustus 1, 2016 at 12:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RIO FITRA SY

with 2 comments


Penumpang

 

Aku selalu ingin berada

di tempat yang tidak tepat.

Stasiun pukul tiga pagi,

bank di tanggal merah,

rumah Belanda di Wonokromo

atau dalam perasaan-perasaan

yang tak kau inginkan.

 

Bagaimana kau yakin

tempatmu di dunia ini

adalah di mana kau

berada sekarang?

Yang aku diami di malam hari

di pagi hari. Yang kau

kenakan di siang hari adalah

yang kau tanggalkan

di sore hari. Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juli 18, 2016 at 1:16 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »


Bermain Bola

 

Sejak Forrest Gump mengenal Gendon

siswa asal Jawa di sekolah itu

ia tahu bedanya suling dan harmonika.

Dari Gendon pula Forrest Gump tahu

bahwa football bukan bal-balan.

 

Dengan dengkul tebal dan badan gempal

Forrest memang tak jago menggiring

maupun menggoreng bola.

 

Seperti kerbau mabuk

Forrest Gump menabrak dan menginjak apa saja

termasuk para gelandang

kubu penyerang

bagian bek

sang kiper

dan jaring gawang. Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juli 18, 2016 at 1:13 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ASEP ZAMZAM NOOR

leave a comment »


Pelabuhan Ampenan

 

Sebuah jalan membelah kebisuan siang

Udara panas serta debu mengepul ke udara

Aku menyusuri pedestrian, melewati deretan toko

Yang sudah menjadi reruntuhan di antara gudang tua

Rumah tanpa penghuni dan biara sepi. Ke sanalah

Aku berjalan sendiri sambil menundukkan kepala

Berjalan dengan membawa sebongkah batu

Di dalam dada. Aku mencari kedai kopi Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juli 14, 2016 at 1:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI NEZAR PATRIA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Juli 7, 2016 at 12:34 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HANNA FRANSISCA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Juni 27, 2016 at 12:29 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: