Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘IRMA AGRYANTI

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Juni 21, 2016 at 10:19 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »


Pertunjukan Ini

 

siapa memendamkan

mata api sakti limandaru

 

pemain yang mengenakan topeng itu

mengisahkan padaku

 

raksasa tak berdaya

dilenyapkan

di setiap akhir cerita

 

maka cupak gurantang, kesatria-kesatria

yang dibutakan cinta, muslihat dan peragai

yang mengembarai gua-gua dan menandai tubuhku

dengan derita

 

sebentar, babak selanjutnya dimulai

gending ditabuh

panggung hening sesaat

 

seorang lalu berdiri di tepi jurang

dataran kering di bawah seolah-olah membisiknya

cupak yang culas dan busuk itu seperti berkata

 

mungkin pahlawan terakhir akan gugur

 

di pentas ini

gerantang hendak pula dilenyapkan

juga nasib juga penantian

tinggallah aku

 

maka namaku air mata

muncul dari mata paling jahat

mata para penonton yang awas

 

2014

 

 

Upacara Tahun Baru

 

di tempat terakhir berdiri

padam ingatan

separuh umurku memendamkan cinta

maut pertama dari derita

 

duka luka kali ini

meretakkan dirinya

malam begitu riuh

di jalan kota

 

sedang aku bersembunyi

dari angka di kelender, jarum waktu,

catatan-catatan tua

kenangan membuat segalanya abadi

menjelang tiada

 

mereka menyalakan kembang api

ke langit paling kelam

 

2014

 

 

Irma Argyanti lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kumpulan puisinya berjudul Requiem Ingatan (2013).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 APRIL 2014

Written by Puisi Kompas

April 17, 2014 at 10:27 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AGRYANTI

leave a comment »


Anjani

 

bangsa jin yang menyulapmu

telah terbang menghilang

di pusuk. Bersama juru kisah

menjadi kupu-kupu

 

aku menerimamu sebagai anjani

matahari yang gerhana

tenggelam

di balik perasaanmu

mengingatkan pada derita,

mulang pekelem, cinta yang sirna

 

di manakah ihwal mula segala

jalaan kembali

akhir yang gaib

 

puncak ini sunyi

dari ketinggian

kengerian menghujam

tajam

 

aku dan kau

berdiri sedekap

 

2013

 

 

Anjing Gunung

 

tukang masak

dari balik bukit

mengenal tanda itu

ngilu pada waktu lengkingmu

 

dari sunyi senyap

pagi dingin

sebelum matahari

 

tubuh gemetar

yang putih jernih

seperti zaitun

basah oleh kabut

 

ke dalam hutan

dimandikan cahaya

pohon, tebing tinggi,

kesedihan

 

jika sungai telah mati

dan gembala tak ada

jangan mengeluh

duduklah di dekatku

 

di bukit ini

menjaga yang pernah ada

dan kini tak ada

 

2013

 

 

 

Alzheimer

 

di hadapanmu, aku

tak mampu membedakan

bayangan, kenangan, ataukah

nestapa

 

lubuk hitam kelam

datang kepada malam

kegelapan ilusi

lempang di landai prasangka

 

di hadapanku, kau

ingatan yang mengecil

mimpi keperakan

memendar pada ujung

sia-sia usia

 

lalu segalanya muda

kembali seperti belia

 

2013

 

 

 

Kamar Gelap

 

kamar gelap

adalah hantu yang murung

dengan jari-jari dan kuku hitam

menjangkau mimpi

dipinjamnya rasa sepi

disimpannya ke hening malam

 

langkah yang gontai

semacam hembus angin, tirai yang lambai

gerimis yang tak henti-henti

 

kamar gelap

adalah hantu yang berjaga

dengan kaki-kaki dan rambut panjang

dipinjamnya hening malam

disimpannya ke dalam sepi

 

2013

 

 

 

Irma Agryanti lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ia bergiat di Komunitas Akarpohon.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 26 Mei 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2013 at 3:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »


Pembaptisan

 

seorang pembaptis, sebaris ayat

begitu santun

bagai doa semi

 

cahaya lilin dan air suci

semacam tangis dalam roman

tafsir dari segala tafsir

 

sempurnalah gadis remaja

di antara tamsil-tamsil

kenestapaan

tangan terakhir yang menyentuhnya

 

2012

 

 

Melankoli Ingatan

 

ia ingin membuang ingatan, setelah dikenalnya banyak hal. hujan

yang tak punya musim, membiarkan kenangan memasukkan tangis

ke dalam matanya. mata yang dibuat dari daun-daun kering, begitu

halus dan tabah. tahun-tahun menatapnya. tahun-tahun yang

melukai. tapi kau membebaskannya dari kesakitan, juga melankoli.

ia ingin membuang ingatan, di muka pintu, waktu berhenti,

perlahan berjalan mundur.

 

2012

 

 

Aku Membayangkan Sajakmu

 

membayangkan sajakmu

hanya setitik nyala

dari rumah ke pembakaran

memberi terang

pada garis kata-kata

 

mataku sehitam malam

seremang bayangan

tak paham

kupu-kupu diarak

mengitari mataram

 

bertubuh magrib

bersayap matahari

 

kau menulisnya dengan tinta air

seperti relief candi yang diterakan

di kedua sebrang pulau

 

sindu,

siapa lebih gelap dari sajakmu

lebih kelam dari silam

bahasa tanpa warna

bahasa yang setua

kampung halaman

 

2012

 

 

ia melangkah

sepanjang selendang

meliuk dengan tubuh yang bicara:

 

aku akan mengitari api

membelah dan mengiring

 

rambutnya dibiarkan terulur

menjangkau cahaya

 

seirama gerak beburung

matanya, menulis riwayat-riwayat cemas

sita yang dibawa rama-rama

rama-rama yang dibawa mati

 

sehelai tangis, sebaris sepi

di tengah tarian panjang

membuat rinai tubuhnya

 

di pementasan ini

penari itu, melantun seorang diri

dalam riuh ramai kesunyian

 

2012

 

 

Irma Agryanti lahir di Mataram, Lombok.

Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 JANUARI 2013

 

Written by Puisi Kompas

Januari 16, 2013 at 1:32 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »


 

 

 

 

 

 

 

Di Dalam Televisi

kota ini

adalah televisi

sebuah kaleng ikan sarden

dengan amis laut buatan

 

ada yang diracun

dan menunggu mati suri

kehilangan musim

ketika seluruh lampu dipadamkan

 

kota pukul 00

sebuah fatamorgana

yang mengungsi

ke dalam televisi

 

2012

 

Anjing Api Artupudnis

di mana ia dikubur

seekor anjing yang datang

dalam sajakmu

 

masihkah dikenali

bayang-bayang hitam malam

menggoreskan kibas ekornya

ke arah pulang

 

seberapa keras ia menggonggong

lapar menyusu, haus berburu

seberapa ia jauh berjalan

menyisir kupu-kupu

 

tubuhnya

dikoyak api birahi

 

tapi di mana ia dikubur

di makam Van Ham yang lapang

rumah potong terbuka

tak ada pembakaran

 

dalam sajakmu

kematian diabadikan

 

2012

 

Patung Air Partini Tuin

dalam tubuh batu

padam matahari

 

sedingin kolam matanya

corak kain batik

tangannya menangkup bagai kuncup

menutup lubang pusar

 

ia bukan sita

padanya dikenakan

bunga-bunga tanpa warna

sepucat ikan

penjaga setia garis silsilah

 

tubuhnya basah

keningnya basah

heningnya basah

 

membuka diri

ke kedalaman air

sepanjang tahun

menunggu

hanyut

 

2012

 

Requiem

10 musim dingin

dialamatkan pada namanya

 

ia mengadu tentang jadi tua

ngilu gusi

cinta

yang tak datang

 

kartu pos dari paris

mengirim dingin terburuk

 

daur garis tangan patah

menggambar perempuan

di mana kesendirian adalah biru salju

dan lengang jalan

 

sebelum pintu dibuka

mereka melepas sirine

tanda kematian

 

2012

 

IRMA AGRYANTI lahir di Mataram, Lombok. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon.

KOMPAS, MINGGU, 10 JUNI 2012

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2012 at 2:48 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: