Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Sapardi Djoko Damono

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

with 2 comments


Ziarah Batu

 

/1/

 

kami memutuskan untuk memulai ziarah

menjenguk perigi dekat gua

meski air di sana tak lagi

memantulkan wajah kami

 

kami sudah menguasai peta hari ini

tak akan tersesat ke kanan atau ke kiri

 

sekarat adalah bagian dari adegan yang nanti

kata-kata bijak yang mengalir di musim hujan

lewat begitu saja di sela jari-jari kami

tak sempat kaufahami setetes pun

kami saksikan sembilu mata itu

 

dongeng agung yang pernah kami bangun

bergoyang sebentar sebelum rubuh ke arus

yang tak baik jika kami ukur derasnya

 

sebuah tonggak yang kacau aksaranya

adalah satu-satunya saksi perhelatan ini

 

 

/2/

 

kami dulu suka menciptakan dewa-dewa

mereka-reka nama-nama yang susah dieja

dan merekamnya di jajaran batu

untuk menentramkan huru-hara

 

penatahnya tak kami ketahui lagi di mana

 

deretan sosok dewa tanpa kepala

adalah ajakan yang penggal di angan kami

 

pernah adakah sebenarnya rasa tenteram?

 

kami pernah suka merangkai perangai ksatria

agar kelak anak-anak bisa menafsirkannta

 

siapa telah menciptakan punakawan?

 

 

 

/3/

 

jiwa yang mencari bayang-bayangnya

menabrak cermin

terserak berkeping-keping

 

watakmu aksara yang tanpa petanda

gambar yang tak hendak dideretkan

dalam tontonan yang digelar hari ini

sebelum sirak-sorai usai menutup tirai

 

jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya

bergetar di kelir yang tumbang

 

sendirian saja

 

ya, jiwa kami hari ini

 

 

/4/

 

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

 

tak ada lagi yang percaya pada jiwa kami

 

gulungan kertas yang tertinggal di gudang

telah memalsukan perangai kami

meriap pasukan rayap menyobek-nyobeknya

berbaris membawanya ke lubang

yang tak mempercayai sejarah

 

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

 

 

/5/

 

(mereka melecut ribuan kuda ke arah barat

jangan sampai keduluan matahari terbenam!

bentak sang senapati)

 

tak terdengar ringkik dalam gambar

yang dilukis oleh orang yang tak kami kenal

yang konon hanya senyampang saja

turun dari jung untuk membisikkan dongeng

kepada nelayan yang berangkat ke laut

 

kami tak kenal kuda

            kami tak pernah mendengar lecutan

            hanya teriakan yang segera dihapus ombak laut

 

 

dan orang-orang yang turun dari perahu

membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda

di lembah-lembah perbukitan

 

dan orang-orang asing yang hanya tinggal sebentar

mencatatnya di kitab-kitab

sekedar bukti bahwa mereka memang pesiar

 

dan para pesiar yang hanya tinggal sebantar

mengawini istri dan anak-anak kami

 

 

/6/

 

perempuan-perempuan menanti kami

di pantai: membayangkan keringat dan mani

tapi yang berlabuh adalah para pelawat

tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti

 

kami masih mengayuh jauh di laut

semakin sayup semakin sepi

 

kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu

adalah anak-anak yang lahir dari benih

yang menetes bersama anyir keringat kami

 

betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta

dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa

 

 

 

/7/

 

kami diajari berdoa dengan irama ganjil

sambil mendirikan kuil demi kuil

agar sogra tak teram-temaram

ketika mendengar permohonan kami

 

kurban yang selalu memuntahkan sendawa

 

di dinding kuil kami semburkan gambar

yang senyampang dipamerkan pelawat

yang tidak sepenuhnya bisa kami maknai

sapuan dan garisnya, warna dan aromanya

 

tidak kami temukan sawah dan margasatwa

 

mereka menyebutkan kitab yang dibisikkan

dari angkasa purba

 

nun jauh di sana

 

 

 

/8/

 

jerit pedang dan denting darah dan jilat api

berloncatan dari babad

yang ditata dalam larik-larik rapi di kitab

rekaan juru tulis di kala senggang

ketika tak ada lagi sisa teriak perang dan kebodohan

di sela-sela pesta raja dan sembah punggawa

 

kami tidak mendengar sendawa dewa

 

ia tinggal di kuil yang jauh terpisah

dari menara tempat senapati menanti

kekasih dari samudra

 

 

 

/9/

 

di urat darah berseliweran ikan pari

kalau ombak menyeret perahu kami:

lukisan yang ditorehkan dengan jampi-jampi

di sekujur pinggirnya

ternyata tak mampu bernyanyi

 

(ah, yang menjadi saksi hanyalah lintah

ketika kami menanam benih di sawah)

 

bergantian kami bernyanyi

butir demi butir menetes dari atap rumah

 

kami tak lagi mempercayai janji pembebasan itu

 

 

 

/10/

 

dewa ternyata tak ikhlas berbagi

doa yang kami persembahkan adalah kurban

membusuk di kuil yang dibangun agak ke bukit

sesuai tata cara yang dulu menciptakan langit

sesuai tanda yang berupa gundukan bumi

 

jiwa kami adalah layang-layang berekor

yang talinya ditarik, disendal, dan diulur

oleh anak laki-laki yang akan kami kurbankan

 

 

 

/11/

 

beberapa gunduk pasir, ikan-ikan berkelejotan

(deretan galur, cacing yang padah di mata bajak)

amis keringat, langit yang terhapus sebagian

adalah latar yang direka dalam janturan

 

sekarat kami meloncat-loncat dalam sabetan

ketika kelir tumbang –

doakan agar kami tenteram

 

 

 

/12/

 

jejak yang bergeser-geser

di sela-sela kata

tidak untuk dieja, ternyata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAPARDI DJOKO DAMONO menulis puisi dan

prosa. Tahun lalu terbit dua kumpulan puisinya,

Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita dan Namaku Sita.

 

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 MARET 2013.

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 13, 2013 at 7:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

with one comment


The Real Is Silence

River Of Life, 2012/1/

Apakah kau percaya

pada arwah gentayangan

yang ada dan tiada

di sekitar istana? Apakah kau percaya

ada yang baunya sengit

ada yang membusuk

di sekitarmu?

Apakah kau sungguh-sungguh

mencintai ibumu?

Wahai, Perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/2/

Pangeran, lihatlah ke luar.

Orang-orang pulang kantor

berkendara motor:

Satu, seratus, seribu –

ada yang berteriak

mungkin padamu,

“Bagaimana kabar anjingmu?”

Tak ada yang peduli

dengan siapa ibumu tidur

malam ini.

Mereka tak suka nonton

sandiwara sedih –

hujan yang setiap hari

menggigilkan mereka sudah cukup

menjajarkan mereka

di sudut duka yang baka.

“Apa kabar anjingmu

yang suka menggeletak

pura-pura mati

setiap kali kau bicara

kepada dirimu sendiri

tentang bunuh diri?”

 

/3/

Seorang perempuan yang lewat

membuka payung dalam gerimis

tak pernah mendengar

dan mungkin juga tak peduli

bayolan dua penggali kubur

di pinggir liang lahat

yang akan menganga

siap menerima masa lampaumu.

Perempuan itu pingin buru-buru pulang

menonton kisah gadis solehah

agar bisa ikut mengusut

rangkaian pertanyaan sederhana

yang tak ada kaitannya

dengan celoteh dua badut itu,

“Apakah memang cinta

Yang telah mengirim

Perempuan muda itu

Ke jalan sesat?”

Perempuan berpayung

menunggu angkot –

kalau saja ia tahu

kisah cinta tak telarai itu

mungkin akan dikatakannya –

tanpa menimbulkan rasa sedih,

“Itu pasti lebih dikenang

daripada kalau ia masuk biara

yang pasti akan menjadikannya

tak jelas telungkup

atau telentang.”

Sidik jarinya tetap menempel

di sekujur tubuhmu, lihat!

Siut matanya masih terasa

menyambar-nyambar tatapanmu!

 

/4/

Kau mungkin hanya ragu-ragu

untuk tahu bahwa sepasang badut

itu punya firasat buruk

segera sesudah kau mendarat

di negeri ini;

mereka bernyanyi-nyanyi

memain-mainkan tengkorak

melempar-lemparkan kata-kata musykil

ketika menggali kubur

perempuan muda yang bayangannya

meraung dan mencakar-cakar

dua belak otakmu.

Mereka mungkin saja tahu

bahwa kau hanya berpura-pura

gila ketika itu;

bahwa kau memang tak paham

makna cinta yang kaukumur-kumur

tak pernah masuk tenggorokanmu,

“Yang mati bunuh diri

tak berhak dikubur

di pelataran suci ini!”

Tapi, bukankah kau sebenarnya

yang membimbingnya

ke liang kubur itu?

O, ya, Pangeran –  bukankah kau

yang pernah menyuruhnya

masuk biara ketika ia

merasa tak kuasa

menjangkaumu? Padahal!

 

/5/

Bahwa kau memang tak paham

ketika dulu bilang

ibumu pelacur murahan

bahwa kau tak bisa mengurai

simpul yang digulung

ibumu dan perempuan muda itu;

bahwa kau memang tak paham

kasak-kusuk sebelum kau masuk

ke perhelatan agung

yang tak seharusnya

tapi yang ternyata seharusnya

melibatkanmu;

bahwa adu pedang itu

permainan yang lebih perkasa

dari sandiwara akal-akalanmu.

 

/6/

Sandiwara yang kaurancang

hanya sedikit menggoyang mahkota,

yang jelata tak diberi tempat

untuk menyaksikannya;

mereka sibuk berseliweran

naik angkot, bis kota,

boncengan sepeda motor setiap hari

tidak untuk menjawab

pertanyaan yang mungkin kausodorkan

kepada arwah gentanyangan itu.

Sandiwara hanya kenyakinan maya

yang menorehmu, “Hai,

kenapa getar pada api maya?”

Kepada siapa sebenarnya

Kautodongkan pertanyaan itu?

Kepada arwahmu sendiri

yang akan menutup

perbincangan ini nanti?

 

/7/

Underpass macet sama sekali

ketika hujan deras turun –

itu, alhamdulillah, sebabnya mereka

tak pernah sampai di gedung

pertunjukan sandiwara

akal-akalanmu.

Mereka buru-buru

ingin sampai ke rumah

menyaksikan sinetron

yang tak berniat menyodorkan

masalah atau tanda tanya

ke kotak kepala

yang sudut-sudutnya

tak pernah tentram

dan karenanya hanya memimpikan

air mata yang melegakan sukma.

Sialan! Hujan tak juga berhenti

macet di underpass menyebabkan

semua tertunda.

Alhamdulillah, mereka tak ikut bingung

meski mungkin suka sandiwara

yang ada adu pedangnya

yang banyak maki-makinya

yang berkilau gelimang darahnya

tanpa harus mendengarkan

ucapan filsafat yang keramat

di tepi liang kubur itu.

 

/8/

Aku mencintai perempuan muda

yang mungkin bunuh diri itu –

lebih dari segala cinta

yang dimiliki manusia!

 

/9/

Tentu kaudengar teriakan lelaki

yang bapaknya kaubunuh

dan adiknya mati tenggelam itu,

“Tunggu, jangan timbun dulu

liang kubur yang kaugali

sampai kau bisa memeluk

sekali lagi

tubuh molek itu.”

 

/10/

Ada hp bergetar

Di underpass

Sinetron keluarga sakinah

dah mulai mas

km msh di jln

ujan ya

rugi mas ga nonton

haru bgt deh.”

Sialan! Hujan gak juga reda!

Padahal hanya dalam sandiwara

hidup berupa tanda tanya.

 

/11/

Apakah benar itu umpatan

ketika terdengar ucapan

Wahai, perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/12/

Selebihnya; senyap-sunyi semata.

 

 

Nuh

Nuh bilang, kita harus membuat perahu.

Mimpi kita muntah: banjir besar itu

apa sudah direncanakan sejak lama?

Ambil beberapa huruf yang cekung,

 

agar kita semua bisa terapung.

Persiapkan juga beberapa yang tegak

dan miring, dan sebuah titik.

Ke mana kita terbawa muntahan ini?

 

Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air

agar kita bisa sampai ke sebuah bukit.

Mimpikah sebenarnya muntahan ini?

Agar kita bisa menelan masa lalu.

 

Senyap Penghujan

:Rendra

 

/1/

Senyap mengendap-endap dan hinggap

di ranting itu. Seekor burung mematuknya –

ia terdengar menyanyikan aroma panda

sepanjang musim penghujan.

 

/2/

Seekor burung menukik dan hinggap

di ranting itu. Sunyi sembunyi di senyapnya –

terlelap di antara bulu-bulunya.

 

/3/

Senyap, burung, sunyi, dan juga hujan

melesat bersama aroma yang kebiru-biruan.

 

 

Sapardi Djoko Damono dalam waktu dekat

akan meluncurkan dua buku puisinya yang

terbaru, Sutradara Itu Menghapus Dialog

Kita dan Namaku Sita, serta sebuah trilogi

novelet.

 

KOMPAS, MINGGU, 3 JUNI 2012

 

 

Written by Puisi Kompas

Juni 3, 2012 at 4:56 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: