Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Desember 2013

PUISI FARIQ ALFARUQI

with 4 comments


Meracak Kuda Pandai

 

Kepada tuan

bersarung berkopiah itu aku kata:

Aku ingin membeli seekor kuda.

Kalau ada, tuan.

Kuda dengan ringkik membahana.

Yang kakinya setangguh batang kopi.

Dan bulunya, legam berminyak

seperti damar habis dibakar.

 

Sekedar pengelupas rasa puas.

Penebas sepi yang tumbuh bertunas.

 

“Ini kuda asli Australia

untung memakai

untung membeli.

Lihatlah, surainya

sehalus jembut jagung.

Lengkung punggungnya

mampu meredam getar bagi ngilu

di pangkal pahamu.

Larinya, aih, tak usah ditanya.

Atau yang bujang dari arab.

Sebagai pejantan ia tak ada lawan.

Jika ia pandai berdiri saja

betina mana tak bakal terpesona.”

 

Kepada tuan

bersilnglet berkolor itu aku bilang:

Aku tak mencari kuda pacuan

maupun kuda lajang.

Kuda yang tak perlu tali kekang

saat ditunggang.

Yang telah hafal alur pendakian dan penurunan.

Yang tahu kapan berketipak pelan

kapan berderap kencang.

Adakah tuan punya?

 

“Meski ke ombak pasang

kau mengerang.

Ke angin limbubu

kau mengadu.

Tidak bakal bertemu

yang seperti itu.

Hanya kuda

yang telah melewati sekian perang

yang pandai bersiasat sendiri.

Hanya malam hutan belantara

yang mampu membikin kuda

berderap tak berbunyi

meringkik tak bersuara.”

 

Kepada tuan

di pasar ternak itu aku katakan:

Yang tuan gusuk setiap pagi,

Yang tuan racak sepanjang malam.

Adakah hati hendak melepasnya.

 

Kandangpadati 2013

 

 

 

Harimau dalam Perut Penyair

 

“Yang bersembunyi

dalam perut penyair itu

selain puisi.

Seekor hariamu

yang diam-diam

sedang mengasah kuku

dan gigi.”

 

Begitulah.

Sementara jalan-jalan dialihkan orang lalu.

Rumah-rumah panggung digubah

dengan batu bata

dari bekas benteng padri.

Dan lampu-lampu semprong

yang menebar jelaga

di dinding kamar

tak pernah lagi disulut

 

Ia masih juga berkerabat dengan maut

Berkarib dengan kepedihan paling akut

 

Meskipun ia tahu.

Setiap pilu

yang ia asah sampai tajam.

Setiap ngilu

yang ia raut hingga sanggup untuk menikam.

Seperti memelihara anak harimau

yang sedang menunggu

saat yang tepat untuk menerkam

 

“Yang meninggalkan bekas luka

pada tubuh itu

selain harimau.

Seekor puisi

yang tak pernah mau

berdiam dalam perut penyair.”

 

Kandangpadati, 2013

 

 

 

Fariq Alfaruqi lahir di Padang, Sumatera

Barat, 1991. Mahasiswa Sastra Indonesia

Universitas Andalas ini bergiat di Lembaga

Kebudayaan Ranah, Padang.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 Desember 2013

Written by Puisi Kompas

Desember 10, 2013 at 12:53 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDY TRI RIYADI

with 3 comments


 

Tertirah dalam Tiga Batang Paku di Dinding

 

Setelah membayangkan mengarung padang

alang-alang, seekor capung mengambil waktu

berhenti di paku pertama. Sayapnya terbentang

seperti tengah berkata, “Aku tak ingin kau ganggu

 

meski di bawah paku kedua, bahumu lanjang

dan matamu yang pejam kau tumpu

pada sepasang lengan. Seolah baru datang

kekasih dan belum sempat melepas sepatu.”

 

Dia juga seolah menantang

pada kelinci di bawah paku ketiga, “Kau tahu

arti lucu? Dunia yang dipaksa tenang

berhenti dari kejaran waktu!”

 

Dunia tumbuh dari bayang-bayang

penari yang tertidur itu.

Dunia yang dibesarkan lidah panjang

cicak berwarna abuh-abu,

 

yang hendak menerkamku.

Sementara di meja sebidang,

kau – kelinci belang – menatapku

seolah aku ini pembawa kabar dari padang.

 

Kabar yang ditunggu-tunggu,

oleh penari yang tertidur panjang,

dan akan menggerakkan telinga panjangmu

hingga dia bangun dengan dada terguncang.

 

2013

 

 

Kolam

 

Tak ada yang abadi di permukaan kolam,

daun yang jatuh atau gesit sirip ikan

selalu membuat gelombang, memecah

kesunyian.

Hanya sulur teratai tegak menyangga

bunga, seperti mendongak ke puncak

semesta, membuatmu merasa

ada yang harus dipertahankan.

Seekor katak, duduk diam, di atas daun

seperti waktu yang tengah berhitung

kau lelah atau limbung

menunggu sesuatu yang selembut

titik embun, sehalus benang cahaya

yang turun dari rimbun daun, atau

sekedar kata yang tepat

untuk mengutarakan

hidup tak mungkin bisa

tenang.

 

2013

 

 

Kecup Tak Sudah di Punggungmu

 

Punggungmu: subuh, malam yang perlahan hilang

warna lamat-lamat antara hitam-biru-kuning-tembaga

aku mencari wajahmu, tak menemu juga

yang ada pesan-pesan usang.

 

Bibirku: pembacaan berulang-ulang

kata-kata seperti merambat dari abjad suku kata

mengecupi punggungmu tanpa jeda

mencari yang tak terbilang.

 

2013

 

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal , Jawa Tengah,

Dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergabug di-

Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Buku puisinya Gelembung (2011).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 Desember 2013

 

Written by Puisi Kompas

Desember 10, 2013 at 12:26 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: