Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Januari 2014

PUISI WENDOKO

leave a comment »


Musim Hujan, Tahun Baru

 

/1/

Pernahkah kaudengar cerita:

Sebelum tahun baru, Nian – raksasa bertanduk

dan bermata lebar – kerap  mendatangi desa-desa.

Nian akan melalap panen ladang, ternak, atau manusia.

Karena itu penduduk menaruh sisa panen di depan rumah

–          lalu menutup pintu dan jendela-jendela.

Sampai suatu malam, ketika Nian menjerit-jerit

karena bocah yang berpakaian merah.

 

Atau, pernahkah kaudengar cerita:

Li Zhi-chang, si pemberontak itu

menyeru penduduk menggantung lentera merah

–          agar terlepas dari malapetaka.

 

Sebelum tahun baru, Ibu menempeli dinding rumah

–          juga pintu dan bingkai jendela – dengan kertas warna merah.

Lalu guntingan kertas berkarakter keberuntungan,

kekayaan, kebahagiaan, dan umur panjang.

 

Di depan pintu menggantung dua lentera merah.

 

Ibu juga menggosok seisi rumah

–          menyapu dengan nasib buruk dan membuka Jalan Keberuntungan,

sebelum menyimpan sapu di bilik belakang.

 

Di ruangan depan bertumpuk makanan dalam bungkus besar.

Tapi bersabarlah sampai tiga hari ke depan.

Kita sudah menyantap labazhou, bubur dengan bijian kacang

–          sekedar menghormat dua belas dewa.

 

/2/

Sebelum tahun baru, Dewa Tungku pulang ke Istana Dewa

–          setelah satu tahun lamanya mengamati gerak-gerik kita.

suguhkan makanan yang manis dan gula-gula,

agar Dewa Tungku tak melapor yang buruk tentang kita.

 

Ibu sudah menanak niangao

–          kue manis dari tepung ketan, gandum, sedikit garam, lalu gula.

Bentuknya bulat, semoga keluarga rukun bersatu-bulat.

 

Ayah sudah membersihkan meja altar

–          mencopot dekorasi lama, lalu menaruh niangao dan gula-gula.

 

Di depan rumah ia membakar patung kertas.

 

“Ini Zao-jun, si Dewa Tungku,” katanya.

“Kita mengantar Dewa Tungku ke Istana Dewa,

untuk bertemu dengannya tahun mendatang.”

 

Tapi lembab sekali di luar rumah.

 

/3/

Ada hidangan-hidangan di meja:

 

Louhan zhai, aneka sayuran dalam nampan.

Irisan wortel, kubis, rebung, kulit-tahu, jamur dan kacang

–          artinya kemakmuran.

 

Tumis ikan dalam piring besar.

 

Tapi kata ibu, tak boleh disantap sampai tuntas –

Harus ada sisa untuk disampan, artinya kelimpahan.

 

Daging gulung dan sosis, dengan potongan daun bawang.

Daun bawang artinya menghitung uang.

Irisan sosis, bukankah mirip uang logam?

 

Mie dengan telur-telur bulat

–          tapi jangan digigit waktu bersantap.

Sedot keras-keras, semoga umurmu panjang.

 

Di ujung meja, jeruk berkulit keemasan

–          artinya keberuntungan.

Lalu apel-apel merah, semoga ada setahun yang lancar.

 

Paman Lou sudah datang.

Ia sedang bercakap-cakap di ruang depan.

Paman San dan Bibi di perkarangan rumah.

Tetapi mana bibi Fang?

Mungkin sedang membantu Ibu di belakang.

 

Sebelum santap malam, ucapkan doa-doa.

Tahun lalu Kakek sudah tak ada.

Ingatlah para leluhur – dan kita bersyukur

untuk satu tahun yang telah lewat.

 

/4/

Ada rangkaian bunga di meja:

 

Bunga prem, kumkuat dan terong.

Bunga persik, lili, lalu ranting-ranting bambu.

 

Prem dan kumkuat artinya kekayaan.

Terong, semoga kau dilimpahi kesehatan.

Bunga persik artinya berkat, lili itu ketenangan.

 

Ibu membeli dari bazar di dekat rumah.

 

Di ujung jalan ada suara tambar, simbal dan tarian naga.

 

/5/

Shen-tu dan Yu-lei, dia penjaga Gerbang Tanah

suatu saat turun Gunung Persik di utara.

Mereka menghabisi setan-setan –

yang saban hari melalap bunga persik di sana.

Tak hanya bunga, tapi juga menggerogoti batang.

 

Karena itu selama tiga puluh hari pertama,

kita menaruh patung Shen-tu dan Yu-lei di pekarangan.

Tak hanya menolak bala, tapi juga menjerat keberuntungan.

 

Tapi gantungkan juga gambar Dewa Kekayaan.

dan tuliskan bait-bait sejak beruntai –

seperti dulu yang dicontohkan Kaisar Meng Huang.

 

Sebentar lagi rombongan orang itu akan lewat.

Mereka berteriak “Dewa Kekayaan telah datang!”

Sudahkah kauletakkan meja di dekat pagar

–          lengkap dengan kue dan gula-gula?

Jangan lupa sisipkan uang ke amplop merah,

agar tahun ini beban kita berkurang.

 

Sekarang kainian. Kakak Ing pasti datang.

Ia akan datang dengan si mungil yang tampan.

 

/6/

Pernahkah kaudengan cerita:

Qu Ming, saudagar muda itu

sekali waktu terdampar ke pulau berbatu-batu.

ia dijamu oleh empunya pulau, dan sebelum pulang

Qu Ming meminta Ru Yuan – si pelayan yang jelita.

Mereka serumah dalam satu musim panas,

lalu perlakuan Qu Ming berubah kasar.

Suatu hari Ru Yuan menjelma asap – lenyap

ke dalam sapu, dan menyapu habis seisi rumah.

 

Tetapi sekarang saatnya membersihkan rumah,

setelah empat hari lamanya

kita menyimpan sapu di bilik belakang

–          agar tak menyapu harta keberuntungan kita.

 

Adik, jangan lupa singkirkan sesaji dan dupa.

Lalu pandanglah langit dan gugusan awan.

Kita membaca langit dan pertanda

–          barangkali langit akan bersih sampai tahun mendatang.

 

Gantungkan juga kain merah di pintu depan.

Bukan, bukan untuk menakuti Nian – karena

sekarang hari kelima. Kita gantungkan kain merah

sekadar menjaga kedamaian.

 

/7/

Ranting-ranting mulai menunas.

Angin mengusik, tapi langit tak berawan.

 

Semalam, setelah lewat tengah malam

kita menghanyutkan sampan kertas dengan lentera

ke sungai. Biarkan ia berlayar

–          terantuk-antuk, dan terbawa arus ke lautan.

 

Tapi pagi ini jangan ke luar rumah.

Dewa Amarah sedang berkeliaran.

Tidurlah lebih cepat, dan jangan lupa

tebarkan beras atau biji-biji ke lantai.

 

Biarkan tikus-tikus berpesta, sepanjang malam.

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah menerbitkan

Beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012).

Sebagian puisinya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris

Dan terbit dengan judul Selected Poems (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 26 Januari 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 26, 2014 at 7:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »


 

 

Kain (4)

            harapan

 

Malam mendatanginya dalam mimpi.

Malam yang gelisah, mengajaknya

Menunggangi rumah masa kecil.

Terbawa pula perdu, rumputan padang

pohonan akasia. Juga burung dan kupu

yang bergerak selalu, mengantarnya

ke barat. Ke kampung asal.

Malam yang penuh pengertian itu

mengiring mimpinya, renta dalam duka

menjenguk masa lalu.

 

Mimpi juga pernah membawa tubuhnya

lunglai ke atas tembok kota,

kepayang arak rindu:

–          Datanglah dan jemput aku!

Seru saja damba bersua kepadaku.

Tolong bujuk aku dengan memelas

sementara pura-pura kutolak permintaanmu itu.

Terlalu malu berbalik diriku

setelah tak pamit kala berangkat.

Katakan dulu sesuatu yang manis:

gumam bunda di celah doa

merajut bayang wajah dan namaku

menjadi harap menjadi khayal

menjadi terkasih lagi. Atau

ayah yang sakit-sakitan atau

masa lalu yang sebenarnya tak (perlu) ada.

Ayo, tanamkan benih haru padaku

agar kutemukan alasan pulang, karena

sebenarnya rindu ini terlampau ruah.

 

– Ranting mimpi bertunas lantas mengering:

Sungguh, lebih celaka pelarian ini dibandingkan mati.

Kabur belaka wajah sanak.

Kadang terjaga aku di sunyi malam

antara takut dan ingin dipergok.

Wahai, nikmatnya wajah masa lalu

menabur rindu pada lelapku

sebelum mengabu dipanggang hari.

 

-Habel, Habel!

Biang segala mimpi paling celaka

Sudah manyat busuk, masih mengusik kau!

Terkutuk segala tanah bagi darahmu!

Hantu jahat kau di mimpiku resah!

Mengapa padamu hanya Allah memihak?

Sungguh hidup paling sialan mesti kujalani!

 

Dia menanti. Ditanam jua damba sebatang

Di dadanya kiri, di jantung berdenyut merih.

Dipercikan selalu air mata dan rintih.

Hingga memuncak jadi hasrat:

menjenguk tanah asal.

Tapi terus saja diulur-ulur. Selalu.

Menanti alasan terbaik yang tak pernah ada.

Dan kembali memang tak pernah

kecuali dalam impian paling purba

: jiwa yang terhilang.

 

Agustus 2013

 

 

Kain (6)

            kota Henokh

 

Mimpi yang selalu ketakutan itu

membangun kota berkubu dari peluhmu.

kau namai Henokh seperti putramu sulung.

Karena berharap kelam berganti cahaya baru.

 

Kecemasan membangun tembok dan organ tubuhmu

menjelma antara bayaran, bersiaga:

serangan gelap musuh itu

mengganggu tidurmu senantiasa

dengan berisik suara mereka.

 

Padahal kau sadar sungguh,

tertoreh sudah tanda suaka di dahimu.

Tetapi kota terus membanjiri tubuh

dengan amis peluhmu

sementara tetap kau mengira

itu teriakan darah adikmu.

 

Malam ini mendadak kau berpikir tentang Habel

yang terselip di antara hingar tentaramu

lalu diam-diam menyusup

dan menikam belati ke jantungmu.

 

Mimpimu sering melihat sepasang kasut

yang berlari sendiri diteriaki darah

yang mengering di belukar itu.

Kadang kasut itu memaksa tubuhmu

berjalan ke kampung halaman.

Sementara kau sampirkan jubah di bahu

tersedu mengenang ayahmu.

 

Lihatlah, bulan pun lembayung

Pada malam kau diam-diam rindukan adikmu.

 

 

Kain (8)

 

Kecemasan yang mulai letih

berkata pada suatu malam:

Cukup sudah. Pelarian perlu berbatas.

Tak mungkin terus berpindah.

 

-Di Tanah Nod – di timur Eden aku berbiak.

Di tanah yang punah berkat, lahirlah anak-anakku.

Berlusin-lusin, bagai buah ara diguncangkan.

Tapi takut dan sepi ini sungguh siluman.

Menakut-takuti mimpi dengan cakarnya.

Cukup sudah! Cukup segala telunjuk menunding!

 

Dengan cadas kecewa dan sakit hati dibangun kota

berlumur getah angkuh tersisa. Mengapa perlu sesal

sesudah Tuhan sembunyikan wajah?

Dinamainya kota Henokh seperti putranya sulung

karena merekalah masa depan.

 

-Selamat berpisah mimpi buruk

pula segala kenangan cengeng.

Selamat tinggal Tuhan!

Biar kucipta tuhanku sendiri.

Kuukir indah patungnya lantas kusembah.

Karena tak ingin kutengok lagi

masa lalu itu.

Apakah Kau iri dan menyesal?

 

-Di sini, keresahan terasing.

Terlampau hingar pesta-pora.

Terlalu sibuk untuk menyesal

selain si palung sepi malam.

Di sini kuingin tenteram belaka

Memisah diri dari segala

juga ancaman nyawaku tunggal.

 

(- Di sini, di kokoh kota bertembok

sesungguhnya bersembunyi aku

dalam penjara kubangun sendiri.

Ah bunda, dosa ini ternyata

cuma melahirkan keterasingan.

Sebenarnya sudah mati aku

lama sebelum disergap ajal.)

 

Oktober 2013

 

 

Kain (9)

 

Kini mimpi membawanya ke ladang.

Mengulang cerita persembahan itu.

Mimpi yang sudah tak setia itu

memaksa pandangnya kepada mezbah Habel

pada domba bakaran terlalap habis.

Lalu nampak bertunas kayu berpalang

dan sesosok tubuh bergantung berdarah.

Tapi sajian ladangnya asap pekat hanya

bagai jerami basah terbakar.

 

Ia tak mengerti maknanya:

Eden bisa diraih kembali

dengan korban darah.

Bahwa dosa perlu tebusan darah.

Karena sebenarnya ia

penghuni neraka lantaran dosa.

 

Ia tak mengerti dan tak ingin mengerti

tapi merasa perlu membunuh mimpi

yang bersekongkol melukai tidurnya itu.

Barangkali dengan mengusir lelap tidur

yang kerap mengundang mimpi.

 

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah lulusan Fakultas Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.Ia pernah bekerja sebagai reporter pada beberapa media massa lokal di Timor, Nusa Tenggara Timur, dan kini tinggal di Makassar.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 Januari 2014

 

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2014 at 8:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: