Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Inggit Putria Marga

Puisi Inggit Putria Marga

with one comment


Pengayuh Rakit

sebab segala yang mendatanginya selalu pergi setelah beberapa puluh hari sambil duduk mendekap lutut di tepian rakit, kepada air sungai yang penuh wajah matahari, pengayuh rakit meratapi perannya di kelahiran kali ini yang baginya, serupa sepetak tanah yang hanya layak ditanami sawi: tanah gembur dan berhumus di lapisan pertama, keras dan berbatu di lapis-lapis lainnya.

tak ada tanaman tahunan yang dapat subur di tanah seperti itu. mereka hidup tapi hidup seperti payung terkatup. pokok jati di belakang rumahnya semacam bukti: belasan tahun akar menjalar, tubuh hanya mampu setinggi lembu, daun kalah lebar dengan daun telinga anak gajah, lingkar batang lebih ramping daripada lingkar pinggang atlet renang. jati yang tumbuh terhambat kerap membuatnya ingat pada pohon cita-cita yang sejak kecil tertanam di ladang dada: batang kerdil, daun mungil, tiada buah meski sepentil.

sementara para sawi, di tanah itu, dengan panjang akar hanya beberapa senti mampu mencapai puncak hidup dalam puluhan hari. daun-daun muda tengadah seperti tangan berdoa. daun-daun tua rebah di tanah bagai petualang istirah. sayang, sebelum kembang-kembang sawi lahir, hubungan tanah dan tumbuhan berakhir. sawi dicerabut. tanah melompong ditertawai kabut. melompong serupa wajahnya saat segala yang mendatangi hanya singgah beberapa puluh hari, lalu pergi: hewan atau manusia, malaikat atau hantu, bahagia atau pilu.

alih-alih menjemput penumpang
di tepi sungai untuk diantar menyeberang
pengayuh rakit terus-menerus meratap
buaya menyembul dengan mulut mangap

2018 Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:03 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI INGGIT PUTRIA MARGA

with one comment


Sesaat Sebelum Pergi

 

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku

ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri

di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher

seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

 

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu

merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu

merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu

merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

 

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas

di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar

lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya

yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku

pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Oktober 14, 2014 at 10:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: