Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Maret 2013

PUISI NUKILA AMAL

with 2 comments


Naga Pop-UP

 

Yang paling mencekam di antara para naga seram

adalah naga merah di halaman lima

Di atas kertas ia bangkit

menjulang setegak arca petapa

sendiri di tebing curam tinggi, tanah bertatah

batu-batu mulia bling bling berlian emas nilam

 

Mestinya telah ia rasakan langit di atasnya

terbuka, namun bukan langit berangin miliknya

saat ia melayang di atas jurang-jurang

melintasi ngarai-ngarai bersungai

 

Dan tiba-tiba campur tangan ini

Bernafas api, ia maju menatapku

yang menatapnya tak berkedip

Mestinya aku semacam dewa aneh,

monster, gergasi surgawi di akanan

tengkurap mengayun-ayunkan kaki

pulang di ujung sebuah malam

melantur, manis memabukkan

 

kepayang, kuelus setelapak tangan

sisik taring misai perapian

kutepuk-tepuk menenangkan

betapa kupahami cemasmu

merasakan tekanan langit tiba-tiba

pada ubun-ubun, pada tengkuk,

dipelototi dewa-dewi mengantuk –

monster modern kami

 

 

Naga Spektra

 

Di awal tiba, ia cuma sebuah nokttah

(tak penting – satu kata, sekalimat,

Sebelah dagu, tiba-tiba lenyap)

Noktah yang mulai membuka

gulungan dan lipatan, menghamblur

limas pada limas, garis patah zigzag

pendar-pendar perak

kristalin dalam gerak

 

menjelma

seekor naga megah

merambah medan tatap mata

memanjanglebar, ragi dan getar

menebar pupa kelabu buta

dari perutnya – penumbra

yang menerakan

ketiadaan sesuatu

dalam segala

(Retak dalam matriks?

Realitas tercabik, tiba-tiba

tampil teramat cacat)

 

Aku memata-matai seisi duniaku

genting gerhana di mata

lengkung naga, masih perak elektrik

 

Secara agung, ia menyisih

ke cakrawalan paling sepi

mengumpulkan tubuhnya

menggeliat kenyang

dan pergi

 

Aku memata-matai seisi duniaku

segala sesuatu kembali utuh

pada menit kedua puluh

 

 

Menyemangka

 

Siapa yang tahu kejar sabar

dan daya tenun serupa apa

yang memunculkan hijau dedaunan

untuk mengulang dan merenda diri

tak pernah serupa dua kali

Apa gerangan gairah yang

membersitkan bunga betina kuning

damba yang merasuki sulur-sulur

mengumpar mencari arah rahasia

lajur-lajur yang turun gelap

menegaskan tepian bundar hunian

dan bahagia yang menyelami

samudra daging merah

Siapa yang tahu arus tak habis

bentuk dalam gerak

sebuah semangka

 

 

Empa Kepala Bosch

Buang Batu, 1488 – Hieronymus Bosch

 

Biarawati sudah jemu mencemasi

arwah gentayangan, kaku tajam,

kucing hitam, gemerisik malam

bisik-bisik berisik setan

 

Agar selamat dari segala mala

kenakanlah penolak bala –

jimat sarat kalimat setebal

dan seberat kitab pengetahuan

 

*

Rahib pagi-pagi sekali pergi

ke tulang cukur desa meminta

potongan rambut terkini, model surgawi –

selingkar halo rebah di kepalanya

 

*

Lubbert Das tak berkuasa atas kepalanya

sekap kuburan ilalang berbatu lapis

kaok burung gagak terbang rendah

lengking tawa dan titah para arwah

 

Lubbert Das cuma ingin lubang udara

bersemilir kincir angin, padang terbuka

permai pastoral, tanpa tiang gantungan desa

Ia tak ingin berakhir di sana, berayub tertiup angin,

 

pinta matanya

yang menatap kita

 

*

Lelaki bertopi corong menyanyi

asal-asalan mars alkemis dalam hati –

sayat sana, iris sini – sambil ia petikkan

sekuntuk lagi tulip emas

dari kepala Lubbert Das

 

Menanti, sepundi lagi koin emas

segemuk pinggang Lubbert Das

 

 

Jeli Ceri Nostradamus

 

Siapkan sekilo buah ceri yang termatang dan terindah.

Bayangkan negeri jauh berladang lapang, bermatahari sekali.

Hiruplah wangi tanah dan buah ceri berjuntai merah

terpetik sejangkauan tangan anak-anak petani di musim panenan.

Yang termanis adalah yang terjatuh, matang terpa tempa angin.

Secercah saja hijau membikin kecut, dan gigimu kedut.

 

Biji adalah masa depan yang terjanjikan, buanglah.

Masukkan ke panci berpasir gula – sedikit saja,

yang masam akan melarut lupa diri, mengental manis.

Manis sekadarnya, ditunggui sesabarnya.

Aduk sesekali dengan sendok kayu, di atas api biru.

Setengah mendidih, tuang ke dalam kain bersih bertadah

wadah gerabah, peras, peraslah hingga tumpat

kain sekepalan tinggal kulit dan rangka serat.

Masukkan perasan sari ceri ke panci berapi rendah

Hati-tahi dengan lidah apimu, nyalang itu tak perlu

(niscaya menggelegakkan amarah ceri,

urung menyerap yang termerah dari merah dirinya,

tumpah ke luar wadah, hangus berlebam marun ungu).

Untuk menguji, titikkan setetes jeli ceri di atas pualam.

Jika ia berdiam bundar, tak tergoda menggelincir oleh licin,

maka telah cukuplah ia sebagaimana adanya.

Tuang ke dalam bejana kaca, biarkan mendingin oleh nafas angin.

Cahaya terbaik adalah yang jatuh seirisan –

dari tingkap jendela, celah, ronggang… carilah.

 

Bawa bejana kaca ke arah cahaya, dan lihatlah

Jeli ceri sejernih mirah delima, berkilau cemerlang

menjanji nujuman takdirmu dan umat manusia

Habluran masa depan, sejarah: jerih-payah, (ke)capaian.

 

Beberapa, ada beberapa, yang akan lebih tersihir menatap

dalam irisan cahaya

titik-titik debu melayang

ringan

tanpa tujuan.

 

 

Nukila Amal menulis novel

Cala Ibu (2003), kumpulan cerita

Laluba (2005), dan yang baru

terbit buku ceritak anak Mirah

Mini: Hidupmu, Keajaibanmu.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 24 Maret 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 27, 2013 at 8:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHDA IMRAN

leave a comment »


24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu

 

24 jam berikutnya yang tak pernah cukup

membersihkan pecahan kaca dalam kepalamu

kepala yang dipenuhi air laut dengan ikan pemangsa

bermata rabun. Suaramu menyerupai ratap, atau

lebih sering menyerupai geraman

 

Tenanglah, sedang kumandikan tubuhmu

dari kata-kata sekadar. Dari jejak kaki

orang dulu. Jejak kaki yang selalu

mengucapkan nama lengkapnya

dengan api dan sembilu

 

Lihat, dalam tubuh dan kata-katamu,

aku berjalan, setenang air danau,

setenang api membakar pulau

 

24 jam berikutnya terapung-apung

dalam kepalamu. Kepala yang menanak kata-kata

dari sisik ular, getah kulit kayu, dan mantera

kutukan. Suaramu tak menyerupai apapun,

atau lebih sering tak menyerupai suara

 

2013

 

 

 

Hujan yang Berwarna Hitam

 

Hujan yang berwarna hitam

adalah hantu yang bersedih

dirangkumnya sekalian malam

disimpannya ke lubuk perih

 

Jantungnya gelap

adalah degup angin ngarai

tangis yang sayup. Lambai

yang tak sampai-sampai

 

Semata seru

di sawang

yang beku

 

Hujan yang berwarna hitam

adalah hantu yang mengerang

tubuhnya sedingin batang pisang

dirangkumnya sekalian dendam

 

disimpannya ke lubuk malam

 

 

2013

 

 

 

Ular Tepi Air

 

Seekor ular bergulung di tepi air

menunggu kapan mayatku dihanyutkan

ke sungai untuk meminta kembali

sebuah kata yang pernah

kupinjam darinya

 

2013

 

 

 

 

 

Pelajaran Kedua Menulis Puisi

 

Tulis puisi dan lupakan

serupa mendatangi dan meninggalkan

pada keduanya dunia tak tampak, kecuali

serupa kelok bayang separuh batang lidi

 

yang kau julurkan ke dalam perigi

 

2013

 

 

 

Pelajaran Ketiga Menulis Puisi

 

Naik ke jenjang kata

yang tak berkejadian tak berkarena

 

Menggigil kakimu ke puncaknya

serupa Musa menuju Thursina

 

2013

 

 

 

Pelajaran Keempat Menulis Puisi

 

Kata adalah tubuhKu

yang bukan seseorang

yang bukan bayang

 

Hilang dalam kata

temukan darahKu

 

Minumlah!

 

2013

 

 

Ahda Imran Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat (Indonesia) namun besar di Cimahi, Jawa Barat. Puisinya tersebar di koran, jurnal, dan antologi. Antologi puisinya antara lain Dunia Perkawinan (1999) dan Penunggang Kuda Negeri Malam (2008). Ia aktif mengikuti kegiatan pertemuan sastra di berbagai daerah. Ia menulis untuk suplemen budaya mingguan di koran Pikiran Rakyat Bandung.

 

 

 

PUISI Kompas, 17 Maret 2013

 

Written by Puisi Kompas

Maret 22, 2013 at 7:21 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

with 2 comments


Ziarah Batu

 

/1/

 

kami memutuskan untuk memulai ziarah

menjenguk perigi dekat gua

meski air di sana tak lagi

memantulkan wajah kami

 

kami sudah menguasai peta hari ini

tak akan tersesat ke kanan atau ke kiri

 

sekarat adalah bagian dari adegan yang nanti

kata-kata bijak yang mengalir di musim hujan

lewat begitu saja di sela jari-jari kami

tak sempat kaufahami setetes pun

kami saksikan sembilu mata itu

 

dongeng agung yang pernah kami bangun

bergoyang sebentar sebelum rubuh ke arus

yang tak baik jika kami ukur derasnya

 

sebuah tonggak yang kacau aksaranya

adalah satu-satunya saksi perhelatan ini

 

 

/2/

 

kami dulu suka menciptakan dewa-dewa

mereka-reka nama-nama yang susah dieja

dan merekamnya di jajaran batu

untuk menentramkan huru-hara

 

penatahnya tak kami ketahui lagi di mana

 

deretan sosok dewa tanpa kepala

adalah ajakan yang penggal di angan kami

 

pernah adakah sebenarnya rasa tenteram?

 

kami pernah suka merangkai perangai ksatria

agar kelak anak-anak bisa menafsirkannta

 

siapa telah menciptakan punakawan?

 

 

 

/3/

 

jiwa yang mencari bayang-bayangnya

menabrak cermin

terserak berkeping-keping

 

watakmu aksara yang tanpa petanda

gambar yang tak hendak dideretkan

dalam tontonan yang digelar hari ini

sebelum sirak-sorai usai menutup tirai

 

jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya

bergetar di kelir yang tumbang

 

sendirian saja

 

ya, jiwa kami hari ini

 

 

/4/

 

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

 

tak ada lagi yang percaya pada jiwa kami

 

gulungan kertas yang tertinggal di gudang

telah memalsukan perangai kami

meriap pasukan rayap menyobek-nyobeknya

berbaris membawanya ke lubang

yang tak mempercayai sejarah

 

kami telah memutuskan hubungan

dengan juru gambar itu

 

 

/5/

 

(mereka melecut ribuan kuda ke arah barat

jangan sampai keduluan matahari terbenam!

bentak sang senapati)

 

tak terdengar ringkik dalam gambar

yang dilukis oleh orang yang tak kami kenal

yang konon hanya senyampang saja

turun dari jung untuk membisikkan dongeng

kepada nelayan yang berangkat ke laut

 

kami tak kenal kuda

            kami tak pernah mendengar lecutan

            hanya teriakan yang segera dihapus ombak laut

 

 

dan orang-orang yang turun dari perahu

membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda

di lembah-lembah perbukitan

 

dan orang-orang asing yang hanya tinggal sebentar

mencatatnya di kitab-kitab

sekedar bukti bahwa mereka memang pesiar

 

dan para pesiar yang hanya tinggal sebantar

mengawini istri dan anak-anak kami

 

 

/6/

 

perempuan-perempuan menanti kami

di pantai: membayangkan keringat dan mani

tapi yang berlabuh adalah para pelawat

tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti

 

kami masih mengayuh jauh di laut

semakin sayup semakin sepi

 

kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu

adalah anak-anak yang lahir dari benih

yang menetes bersama anyir keringat kami

 

betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta

dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa

 

 

 

/7/

 

kami diajari berdoa dengan irama ganjil

sambil mendirikan kuil demi kuil

agar sogra tak teram-temaram

ketika mendengar permohonan kami

 

kurban yang selalu memuntahkan sendawa

 

di dinding kuil kami semburkan gambar

yang senyampang dipamerkan pelawat

yang tidak sepenuhnya bisa kami maknai

sapuan dan garisnya, warna dan aromanya

 

tidak kami temukan sawah dan margasatwa

 

mereka menyebutkan kitab yang dibisikkan

dari angkasa purba

 

nun jauh di sana

 

 

 

/8/

 

jerit pedang dan denting darah dan jilat api

berloncatan dari babad

yang ditata dalam larik-larik rapi di kitab

rekaan juru tulis di kala senggang

ketika tak ada lagi sisa teriak perang dan kebodohan

di sela-sela pesta raja dan sembah punggawa

 

kami tidak mendengar sendawa dewa

 

ia tinggal di kuil yang jauh terpisah

dari menara tempat senapati menanti

kekasih dari samudra

 

 

 

/9/

 

di urat darah berseliweran ikan pari

kalau ombak menyeret perahu kami:

lukisan yang ditorehkan dengan jampi-jampi

di sekujur pinggirnya

ternyata tak mampu bernyanyi

 

(ah, yang menjadi saksi hanyalah lintah

ketika kami menanam benih di sawah)

 

bergantian kami bernyanyi

butir demi butir menetes dari atap rumah

 

kami tak lagi mempercayai janji pembebasan itu

 

 

 

/10/

 

dewa ternyata tak ikhlas berbagi

doa yang kami persembahkan adalah kurban

membusuk di kuil yang dibangun agak ke bukit

sesuai tata cara yang dulu menciptakan langit

sesuai tanda yang berupa gundukan bumi

 

jiwa kami adalah layang-layang berekor

yang talinya ditarik, disendal, dan diulur

oleh anak laki-laki yang akan kami kurbankan

 

 

 

/11/

 

beberapa gunduk pasir, ikan-ikan berkelejotan

(deretan galur, cacing yang padah di mata bajak)

amis keringat, langit yang terhapus sebagian

adalah latar yang direka dalam janturan

 

sekarat kami meloncat-loncat dalam sabetan

ketika kelir tumbang –

doakan agar kami tenteram

 

 

 

/12/

 

jejak yang bergeser-geser

di sela-sela kata

tidak untuk dieja, ternyata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAPARDI DJOKO DAMONO menulis puisi dan

prosa. Tahun lalu terbit dua kumpulan puisinya,

Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita dan Namaku Sita.

 

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 MARET 2013.

 

Written by Puisi Kompas

Maret 13, 2013 at 7:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ASRINA NOVIANTI

with 2 comments


Ruang Tunggu

 

hanya igau

radang kenangan

seperti sayap waktu

lungkrah di telapakku

 

mungkin perlu kusimpan

salur ingatan

kau yang meriang

menembusku

dan pintu ruangan

belum juga terbuka

 

/2013

 

 

 

Lorong Lelaki

 

aku memasuki lorongmu

berharap betah di getah tahun

membangun pondok

juga sebuah ranjang hangat

merawatmu seperti lingkar mawar

 

di sana

aku berdiam diri

mengobati kelammu

dan belajar dari setiap gemetaranmu

 

/plawad, 2013

 

 

 

Ombak Tubuh

 

sepanjang tahun

kau simpan ombak

di tubuhku

meraba getar dan cemas

atau asin air mata yang bergulir

 

waktu pun bersujud

di malam-malam diamku

saat engkau jauh

seperti tak selesai kuingat

apa yang pernah kau eja

di tubuhku

 

atau pada gelungan rambutku

yang genih kaucium

seperti membelah

kecambah lelah

 

/plawad, 2013

 

 

 

Asrina Novianti lahir di Lahat, Sumatera Selatan, 11 November

1980. Lulusan FISIP Universitas Lampung, Jurusan Komunikasi.

Bekerja di Badan Litbang Kementrian Kesehatan RI.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 MARET 2013

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2013 at 5:03 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »


Taksidermi Kata

 

–          Meminjam Lukisan Berburu Banteng-nya Raden Saleh

 

keributan dalam celah kalimat sebuah sajak:

 

belum menutup benar matanya yang binal,

ketika kami menohokkan sebuah tumbak

ke pundaknya yang berlemak, seketika badan

segarnya terjungkal ke arah kanan.

dengan gemetar kami seret dagingnya

dari gelanggang, saat petang lenggang itu.

 

dengan kesabaran petapa, antara diam dan mendaras

kami menunggu yang hendak tampak bergegas.

menguar keras dalam bahasa. berkelebat dalam

benak, yang tersembunyi dalam alam rasa.

yang tiba-tiba menyerunduk ke arah muka,

kami mengelak-menjeratnya dengan kelihaian

pencak, sigap kuda-kuda.

 

di pendapa, badan sintanya kami gantung.

kami garit lambungnya agar pisah jeroan dengan

kulitnya. kami samak tampangnya agar bertengger

sangar dalam kaca. mengkilap dalam kalimat,

berkacak dalam sajak.

 

2012

 

 

 

 

Tualang Kopi

 

di lengan dedahan pokok

kami pentil tersabar, mendongak

dan melogok pada tingkap petang atariksa.

sambil merapal doa dan tafakur – akan segera tiba,

akan segera tiba meninggalkan muasal menuju tualang.

sungguh ini tak sekedar perjalanan ketertundukkan.

seperti suratan pengembara tersedak buah

pada jakun dan payudara. atau ngilu leher

kambing kurban pada meja persembahan.

 

akan segera tiba mereka menjemput,

yang mengasah taring dan pisau kuku

dan memburaikan liur geraham.

yang berkelebat pada gelap samar bulan,

seperti mekar kelelawar yang menawar rasa lapar

atau cakar musang mengintip daging merah pilihan.

mencicipi manis-getir sari sari.

 

maka kami jalani kodrat tamasya

dalam kerongkongan dan jeroan.

atau kami akan tengadah dalam jemuran pekebun,

merelakan sebagian dari badan disesap matahari

hingga kisut-kusut langsai. hingga sampai-sampai,

 

di tangan pekebun itu kami tergelincir

di pinggir tubir ujung jari asap limpahan

penuhi wajan penggorengan dan seisi bedeng.

masak-masak! gulingkan gulingkan.

agar bara blarak hantarkan gurih menir,

dan cukilan kambil merasuk ke daging.

sutil yang meratakan uap panas tungku

menguningkan kuku dan mencoklatkan kami,

yang kian renyah terpanggang dan meronggong.

 

adakah gosong telah menjadikan kami hamba

bebijian tabah yang terpilah dalam tampah,

akan sempurna dalam penggilingan atau

tumbukan lesung alu.

 

sungguh kami telah girang terhidang dalam perjamuan,

bersamamu, ketela goreng dan serbuk susu

dan seseorang di seberang yang bersikeras

menulis sajaknya yang kian gagu.

 

2012

 

 

Genduk

 

engkau yang kerap membuat cemas,

gumukmu menyaji lugas

 

kami yang tertahan di ujung ubun,

yang mengencangkan panggul

 

engkau sabetan kuas nan lancip

melengkung ke tingkap birahi

 

kami pemain harpamu,

menyentil senar ke ujung susup

 

engkau gerigi yang diselipi kantil,

juga kenanga yang merawat rahasia

 

kami perajin gerabah,

mengaduk liat hasrat ke ujung mega

engkau selapis ketan,

yang tersaji klimis dengan parutan

 

kami jemari yang mengelus pelan,

lembah bakung mahkotamu

 

engkau irisan pepaya,

yang menghenyakkan watas purba

 

kami pengendara tersesat,

di ujung sempit alis matamu

 

2012

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Buku puisinya

adalah Sepasang Bibirmu Api. Bermukim dan bekerja di Sidoarjo,

Jawa Timur.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 MARET 2013

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2013 at 5:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: