Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Mei 2012

Puisi MARIO F LAWI dan SUSY AYU

leave a comment »


MARIO F LAWI

Gela

/1/

Di dahiku masih ada tanda salib, dioleskan kakek dengan rasa haru

yang harum, sepotong kelapa, serta adonan sirih dan pinang dari

mulutnya. “Tanda ini, Cucuku, adalah awal keabadian.” Salibku

merah seperti mimisan ibu. Harum

seperti kencing pertama bayi

waktuku. Kusembunyikan isak dalam lemari, karena sejenak gagak

akan berganti burung kenari, sebelum tubuhku sansak bagi

peluru-peluru dinihari.

 

/2/

Dari jalan ke jalan, kakek sempatkan mencari Tuhan yang tergolek di

dalam selokan. Kadang ia temukan Tuhan menggantungkan nafasnya

dalam batang mayang di pucuk lontar. Tapi, rupanya nafas Tuhan tak

pernah cukup untuk menghabiskan linting tembakau yang biasa

disunggingkan kakek di ujung bibirnya. Dengan tigapuluh doa yang

sekarat, kakek mulai melayarkan perahu-perahu kecil ke lautan,

kepada leluhur yang mengajarkannya

cara merokok. Kepada pulau-

pulau yang menyusun kerajaan di antara waktu-waktu uzurnya.

Kepada lafaz yang tak habis-habis mengecap gula dan tuak di

dapurnya. Kepada segala sesuatu yang menyusun uban-uban di

kepalanya.

 

Berat punggungnya menanggung letih segala masa tuanya. Kakek

menatapku dengan rapuh. “Aku akan pulang. Jangan lupa

bertandang.” Kulihat wajah nenek di matanya. Kakek bergegas

menenteng ha’ba di padang Mahera. Kakinya mempermalukan pagi.

Domba-domba membicarakan suara yang tak lagi sanggup

mengangkat tongkatnya.

 

“Aku ke kota sebentar, Kek. Membelikan sebotol Sprite untukmu.

Kita tanam di dekat mataair belakang rumah. Agar kelak batang

mayang yang kukerat menumbuhkan pabrik benang dan tangan

pelangi untuk menenun kembali kisah cinta masa mudamu.”

 

Juga kursi roda dan dokter gigi untuk mengatasi masalah-masalah hari

tuanya yang dikirim penenung ulung di ujung kampung.

 

/3/

Wo Deo Muri, ne herae ta hero’de ri nyiu wou mangngi, mita rui

kedi ihi kuri, mita haga dara, mita ju medera, kelodo pa taga rihi

dula.*

(Nuimata, 2012)

 

Keterangan

*Salah satu doa dalam Daba-ritus inisiasi Kaum Jingitiu Suku

Nappu Pudi, Desa Pedarro, Kecamatan Huwa-Mehara, Kabupaten

Sabi-Ruija-dalam bahawa Hawu. Terjemahannya kira-kira: Ya

Allah sumber kehidupan, anak ini dioles-usapi dengan kunyahan

kalapa harum agar kuat dan segar tubuhnya serta jiwanya, supaya

bertambah besar dan tinggi, supaya mendapatkan tempat yang

tinggi/terhormat dalam keluarga dan marga.

 

MARIO F LAWI

Kelaga Rai

 

/1/

“Siapa yang mengambil pinang?!” seru nenek dari balik benang yang

belum selesai ia tenun. Benang menyimpan senyum, hanya akan ia

pamerkan ketika bunga selesai disusun. Nenek mengingat, dulu ia paling

cantik di dusun. Pengangumnya paling banyak, pendeta hingga penyamun.

 

Mata pisau kakek dirajah dengan nama nenek, kerap ia gunakan untuk

melihat pelepah sahaja yang matang. “Hari tua akan sangat panjang, Sayang.”

Di pelupuknya tergantung batang mayang. Dikeratnya perlahan kenangan

gamang. Sesekali getir melintas dingin dicelah kanopi bayang-bayang.

 

/2/

Masih juga ia gemar melintasi pekarangan. Angin cuma menumbuhkan tali

tak lebih dari seutasĀ  untuk mengikat kaki lontar yang gemar jalan-jalan.

Kakek menerawang sambil menikmati detik-detik terakhir ketika dada

tembakau mengejang dalam lintingan pucuk lontar keringnya yang tipis.

 

/3/

“Meliuklah ke utara! Di sana ada sebuah danau.”

Subuh lekas. Membelitkan cemas.

 

“Lalu tunjukkan yang bersembunyi di balik matamu!”

Dengung bergantian menaksir arah mataair dengan kayu bercabang

meski riwayat timba tak pernah berhasil mencapai kedalaman.

 

Kakek mendongakkan kepala, menatap pucuk-pucuk daun yang silih

berganti tersenyum ke arah matanya. Di tengah tatapan, ia tanggalkan

ubannya satu demi satu. “Ini untukmu. Ini untukmu. Ini juga untukmu.”

 

/4/

Hidup terlihat secantik nenek.

Kakek masih sangat tampan.

(Naimata, 2012)

 

 

 

SUSY AYU

Perjamuan

 

ini darahku

sesap baik-baik

 

ini dangingku

congkel lagi sekepal

 

di luar

sepi telah resah berkerumun

 

bagikan saja

sebab tiap sajak cuma gema di Getsemani

 

tidak, jangan berduka!
aku cuma seorang kekasih

yang bimbang menunggu

di kayu salibmu

(Yoyakarta, 2011-2012)

 

 

 

SUSY AYU

MENJADI GENANGAN

 

kamulah Toba

genangan air mata purba

duka yang membeku sebagai dinding kawah

 

kau kutuk aku dengan cintamu

berjaga sebagai mehnir di gerbang-gerbang huta

sampai kau sudahi tujuh puluh tujug ribu kangenku

dan selembar kartu pos

yang tak sampai ke manapun

(Bekasi, 2012)

 

 

 

SUSY AYU

Lebaran

hatiku sebatang kembang api

kau sulut dan terbakar di awang

sambil kau bertepuk tangan

 

kumaafkan engkau

untuk kegembiraan yang kekanak-kanakan

(magelang, 2011)

 

 

 

Mario F lawi dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18 Februari 1991.

Mahasisa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Nusa Cendana, Kupang,

bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Susy Ayu lahir di Purwakarta, Jawa Barat, 14 Juni 1972. Buku puisinya adalah

Rahim Kata-kata (2010) dan buku kumpulan cerpennya bertajuk Perempuan di

Balik Kabut (2011).

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 14, 2012 at 6:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: