Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Deddy Arsya

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Kancing Baju Alimaca

 

Dalam topi lakenmu yang bundar

cakrawala tiba-tiba pudar, Alimaca

bukit-bukit baru tumbuh dari balik kabut seperti payudara anak gadis tiga belas tahun

ladam kuda memercikkan api di jalan raya, dulu para rodi bergelimpang mati di situ

tapi sebentar lagi lampu-lampu toko menyala di seberangnya menebar harum

sabun wangi yang tercium dari leher gadis-gadis baru pulang dari pemandian air panas

di jalan besar ke pasar kota itu juga, Alimaca

ada kereta api lewat setiap pagi

membawa keranjang-keranjang penuh kampung-kampung yang terseret

troli ke supermarket, truk-truk tentara penuh muatan pernah berjalan di atasnya

membawa kamu bercelana pendek belacu memotong garis damarkasi

bertanya-tanya dalam hati di mana putar roda hidup ini akan berhenti

tapi kini Alimaca kau dengar suara mereka bukan gemerincing suara sabda

yang sampai ke telinga para anbiya

hanya suara hujan yang berguntur di atas kepala, bukan, Alimaca?

kancing bajumu tinggal seluruhnya

ketika angin tiba-tiba gusar, Alimaca

menyumbul pusarmu yang besar, menyumbul hari depan yang cepat-cepat buyar

rahasia berhamburan keluar seperti keluang-keluang berhamburan dari mulut gua

pada lantai berderak bunyi jatuhnya bagai derak gigi kereta api di jalan menanjak

angin dataran tinggi membawa kabut bikin arah tak tampak, Alimaca

ladam kuda berdentang-dentang di jalan raya, hari lalu bergetar di atas tempat tidur

seperti getar busur

Alimaca, seperti desis ular mendengkur

 

 

 

Cinta Jahanam

Kalau kau tak mau, Uda, terpaksa pada buhul ini aku minta

janji lama hilang lenyap sumpah tinggal gulali merah muda

jangan beri aku harap, Uda, siampa besar di kerak-kerak neraka

jahanam kau, Uda

kakimu terbalik, bibirmu rata

mulutmu gua bersarang biawak berbisa dan komodo purba

kau memelihara babi dalam kepalamu, Cindaku!

aku bisa kembalikan kapal yang tersorong badai ke samudra

tapi tak bisa kembalikan hati yang terseret riak kecil asmara

di tengah malam menjelang malaikat tidur dalam kepalaku

aku sebut-sebut namamu bagai igau iblis dari dasar kawah

cintaku amuk gunung api, Uda

 

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Sumatera Barat.

Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 FEBRUARI 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 4, 2014 at 8:51 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Sekali Lagi Ratap Kapal Karam

 

Harimau di atas kapal kami

bergelung di tengah ombak bersabung

tak dibayangkan pulau tersadai di tepi samudra

betapa jauhnya batas senjakala

 

Seekor tupai berekor pirang

melompat ke dalam lubang pada dinding kapal kami

dia membawa suara ngengat kelapa tumbang

gedebum jatuh mumbang

 

Pohon pisang jantan terapung-apung

telah lepas dari buah yang dijunjung tinggi

sendirian kini di lepas laut hampa diri

 

Berang-berang dari dasar lautan

menyumbul ke permukaan

kami terlonjak ketakutan

berlantun jauh – bimbang,

ajalkah yang tengah datang?

padahal dia bawa tarian ubur-ubur riang

dua pasang darwis bercinta dalam kecubungnya

lenguhnya sampai ke sini, kami mengira lenguh sapi

dari dalam kita suci – oh itu lagi

 

Tak ada yang berani

bunuh diri di atas kapal kami

-toh yang satu ini

hanya persoalan kami

manusia lata ini

 

Jembatan Ambruk

 

Jembatan ambruk

di bawahnya sungai

kuning tembikar

ke sudut matamu

menjela sampai

 

Rombongan sepeda

di atasnya jungkir-balik

antara tertawa dan menangis

kau kata, “habislah dia

habis!”

 

Sungai berbusa

pahit paya

kaki bakau

ke tepi pipimu

menjulur sampai

 

Puncak hidup

antara berhiba

dan gembira

kau kata, “derita,

hempas-

hempaslah kami!”

 

Jembatan ambruk

sisa perang panjang

ke dalam dirimu

runtuhnya sampai

 

 

 

Tini Menemui Ajal

 

Tini pulang

jam tiga petang

ketika pasar

sedang ramai

seperti bunyi

troli pada kapal

atau ban pecah

di pinggang pendakian

 

Dan sunyi tiba-tiba menyergap

tepat setelah ramai bersiderap

 

Rombongan kereta itu

yang lewat cepat di sampingnya

bagai lesat daun bawang

bergoyang hebat dalam angin lisut

dalam cuaca yang jadi

seputih suasa

tiba-tiba terjun

ke lembah tak bersaga

habis mati kalian

dalam gamang

tak berkesudahan

 

Langit jadi kedap

suaramu kini hanya

lirih terpantul

seperti Tuhan

yang bersiul-siul

dari jarak dekat

 

Tini pulang

kami menangis

entah girang: hore hore!

selamat berkabung

seluruh kampung

 

Rombongan kereta itu

pasar yang dilipat dan berkembang

terbayang bagai

perjalanan ke belakang

 

Lalu hari jadi terang

.

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang, Sumatera Barat.

Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 September 2013

 

 

Written by Puisi Kompas

September 19, 2013 at 4:21 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


IMG00616-20130122-Tapa Barata Anak Bujang

Setelah masuk ke gua tarikah empat puluh hari di Koto Tengah

Dia pulang mengunjungi ibunya

Ibu, aku sudah bertapa

Kita-kitab segala bangsa telah kubuka

Kucari simpul derita dunia dan kupepat dia

Kalau kukata, matinya mati anjing

Terpenjara ia bersama babi segala celeng

Tidak akan hidup lagi dia abadi dalam sengsara

 

Tapi ibunya bilang: burungmu masih tegak

Hasratmu masih suka berlagak, kerampangmu gelinjang-gelegak

Pergilah ke Gunung Ledang, tempat pendekar pergi bertarak

 

Setelah turun dari Gunung Ledang empat puluh hari kemudian

Dia mengetuk pintu dapur ibunya

Ibu, aku sudah memangkas hasrat

Para gergasi rimba raya dalam tubuhku telah kubebat

Kutemu simpul amarah dunia dan kupancung dia

Kalau kukata, matinya mati pada pangkal

Ke pucuk dia tak akan hidup

Ke urat dia tidak akan tumbuh

 

Tapi ibunya bilang: Neraka dalam dirimu tak kau padamkan

Gerahammu mengunyah bagai pabrik, lambungmu karet gelang terus regang

Bagaimana mungkin petapa gemuk sepertimu sampai pada makrifah

 

Kau loba, Siampa!

 

 

Menjerat Burung Terbang

 

Kau ingin menangkap burung, katamu yang terbang di angkasa itu

Maka kau melompat bagai berkelebat pada pohon tinggi itu

Memanjati rantingnya yang berdaun paling ujung

 

Dari atas sana kau berseru:

Burung-burung bernyanyilah dan daun-daun menarilah

Akan kupasang jerat antara tidur dan jagamu, pada siang dan malammu

Aku seru pada yang hilang akan kembalilah dia padaku selalu

Bercerailah dari tumpukmu dan lepaslah kepakan sayapmu

 

Tapi tiap kau melenggang ketiakmu lepas ke tahan seperti kain basah

Gelengmu lepas dari kepala yang tidak berani tengadah atau bilang ya

Kau lompati pohon tinggi itu hingga tergapai-gapaikau di udara

 

Kau pelihara rasa gamang itu bagai lupa dalam buku sejarah

Tak berani kau menitah pada daun-daun dan burung-burung itu

Kau melompat, tapi tumitmu tidak lebih sejengkal dari tanah

Lalu kau kata hendak menangkap yang berubah di udara?

 

 

Ratap Kapal Karam

 

Kapal karam

menjelang di Pulau Pandan

padahal angin hanya diam

dan langit tampak

tak kusam

 

Mungkin ada tenung

berjalan pada lipatan gelombang

barangkali sumpah

dipesan perantara geram

 

Laut tenang

kalut dukamu

membawa asin garam

dalam pasang

ke pantai-pantai

panas berdengkang

 

Nun jauh di tengah,

paus hitam berjumpai putih

duduk diam

sendirian

 

Laut tenang

dalam deritamu

kapal karam

jadi

silam

 

 

 

Samsinar Pulang dari Pasar

Samsinar pulang

dari pasar

pukul empat petang

membawa santan

berkebat serai

dan rukuruku

 

Untuk menggulai

ikan macoaji

tangkapan bagan

nelayan Purus

mengelinjang

dalam kuali

 

Aku suaminya

tidur bergelung

di tengah rumah

hilang marwah

 

Celaka bapak si anu

kutukmu

dari dapur

yang mengepul

aroma kayu

terbakar basah

 

Celaka dia!

 

Amin semesta

 

 

 

Pacu Sapi di Simabur

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk

Berlomba lari di medan pacuan

Membawa karavan yang di atasnya

Masa silam duduk sendirian dengan cemeti di tangan

Sapi yang juga diarak dari masa silammu

Dan orang-orang di sini memancung kepalanya dengan arit

Mengubahnya menjadi sapi buntung masa kini yang berjalan ke depan

 

Turis-turis dari Jepang membawa rombongan tukang foto ke sini

Menggelar tenda di pinggir arena untuk menunggu momen penting:

Ketika sapi itu berak atau terkencing beramai-ramai

Mengangkat sebelah kaki untuk berkata “waw” seperti anjing

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk yang berpacu

Di gelanggang berbau pesing yang sudah seperti jamban

Karavan di atasnya telah lepas dari punggung

Penunggang itu terlempar ke pinggir pacuan

Meninggalkan cemeti yang melecut-lecut dirinya sendiri

Dan orang-orang di sini sepakat mengumpat:

 

“Pantat, pantat, nomor empat pantat!”

 

 

 

Dinda Petualang

Fais memotret arca ke muara Baranghari

Menulis tentang tembikar dan ukiran pada batu

Untuk majalah traveling luar negeri

Bodhisatva menyapanya, “Apa kabar, Dinda petualang?”

Anaknya merengek hampir setiap malam

“Abak, Abak!” memanggil-manggil dalam diam

Rindu terkebat pada waktu

Cemburu bersorak ke arah pintu

Sementara musim lepas terus dari tampuknya

Bagai orang tua pikun tersesat di kota besar

Mambang di awan berputar-putar

Fais memotret dari kapan yang berjalan ke depan

Sementara bumi berputar ke belakang

 

 

 

Rosnida Mencari Laki

 

Tidak berfaedah

kerjamu itu, Rosnida

ibunya memekik-mekik

di pangkal jenjang

 

Tapi dia berbedak juga

sore-sore hari

mencari laki

ke Pasar Atas

atau ke Pasar Bawah

bukittinggi sempit sekali

menawar kuini

atau duku Sijungjung

harganya murah

 

Malam baru

dia pulang

membawa lagu

selamat pagi, Ibu

telah kutemu

sumpul lukaku!

 

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang,

Sumatera Barat. Buku puisinya,

Odong-odong Fort de Kock,

akan segera terbit.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 20 Januari 2013

Written by Puisi Kompas

Januari 22, 2013 at 2:27 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Kain dari Bugis

 

Seorang Arab penjual peniti

Berkali-kali mendatangi rumahmu

Sebuah pincalang terdampar di utara Tiku, katanya

Ada kain yang lebih lembut dari ujung rambut nona

Lebih harus dari meranti atau kulit lansano

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa samun dari Ujung Gurun

Ke sana ke Bukit Tajadi kampung padri

 

“Ibu, Ibu, aku bawa untukmu

Khusus yang paling baru

Kain yang membelakangi matahari turun

Kain dagangan para lanun.”

 

Seorang Arab pedangan semat

Dengan mata besar bulat dan bibir pepat

Alisnya damar keras dan arang hitam

Berkali-kali lewat di halaman rumahmu

Melambaik-lambaikan selendang itu

Bagai manik-manik pada ekor tenggiri

Berkilat-kilat dari jauh tampak saja sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa karavan Pauh Lima

Naik Sitinju ke Tigabelas Kota

 

“Ibu, Ibu, ini aku tawarkan

Kain pembalut deritamu

Selendang manyang selendang dunia

Sehelai dua boleh kau coba.”

 

Seorang Arab yang rambutnya keriting coklat

Mendatangi ibuku berabad-abad setelah kamu

Setelah pabrik besi di Bekasi berdiri dan kain kami

Didatangkan dari Tanah Abang sebulan sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau kini ditumpuk bersama ribuan kodi kordurai warna susu

Kau kini ada dalam truk kontainer melintar Selat Sunda itu

 

Apakah dia masih jua berseru

Dari halaman itu:

“Ibu, Ibu, belilah agak sehelai dua

Biar akan sempurna manis lenggokmu.”

 

 

 

 

 

 

Koin Sepuh Emas

 

Aku abwakan istriku koin sepu emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

“Belilah beras kami ini!” kata kolektor itu

Dia melemparkan dencingan pada tanganku

Loji-loji kompeni terban di pinggir bibirnya

Buaya-buaya raksasa melubangin kanal si sela-sela giginya

Dan seluruh kota seketika itu juga terendam hingga ke mercusuar

 

In koni sepuh emas, tak perak, atau tembaga

Kakek buyutku menambangnya berabad silam

Di hutan-hutan yang tak terdaki oleh kalian

Di hutan yang bermalam-malam ditembusnya

Dengan ini parang, parang berduri dari anyam pandan

Yang dipegang dengan punggung tangan

Parang yang dilehermu hendak ditebaskan

 

Ah, kalian, museum dunia baru yang sendirian

Yang buta peta dan yang tahu hanya berdiam

Kalian memangkas kata sifat seperti aspal jalan membunuh manusia

Sementara aku ingin menumbuhkannya di tiap ujung  kalimat

Ah, kalian, yang menggigil di hadapan hayat

 

Aku bawakan istriku koin sepuh emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

Aku bawakan dia dengan kantong plastik ini

Kantong plastik dari pabrik  dunia baru kalian

Yang sepi tiada berkawan.

 

 

Perdebatan tentang Belacu

 

Kau sebut dia marekan

Kain kasar dari pesisiran

Belacu kadang dia ucapkan

Aku kata biarkan

Dia sutra dari daratan

 

Kau kata dia ikan putih

Ke lambung kapal tersisih

Aku kata diam jahanam

Dia kerapu dari palung lautan

 

Kau bilang dia loyang

Sekali sepuh tembaga melayang

Aku kata apa kau bilang?

Dia emas terakhir penambang

 

Kau sebut dia pahit empedu

Bagai racun dikerongkonganmu

Aku kata tak apa, Cinta

Kau manis paling pangkal

Si tebu udang

 

Deddy Arsya

lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987,

dan kini bermukim di Padang.

Kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock, segera terbit

Written by Puisi Kompas

September 11, 2012 at 5:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: