Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Mei 2014

PUISI MASHURI

with 3 comments


Ikan Buruk Rupa

 

Di Lembata, cinta telah menjelma mata tombak

Yang rapuh

Dengarkan deritnya yang mengapung di udara, serak

Seperti kerongkongan yang tersumpal minyak

Tak ada janji dari jejalan yang berlubang, juga mimpi

Yang dibuhul ketandusan

Kita pun seperti bintang laut yang terdampar

Di pasir panas, menggelepar

 

Tapi dari kisah ikan-ikan, dengan buruk wajah, tapi

Berdaging renyah

Terajut rahasia

Seperti rumput-rumput laut yang menenun kesabarannya

Di delta, memberi makna pada keluasan cakrawala

Bahwa di petak sempat, tempat berkubang jejak-jejak keparat

Mimpi bisa menjulang, menjadi kiblat

Bagi rupa yang hilang Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2014 at 6:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KEDUNG DARMA ROMANSHA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2014 at 6:29 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI YETTI AKA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2014 at 6:23 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TRIYANTO TRIWIKROMO

with one comment


Muslihat Membunuh Hikayat Hujan

(Variasi untuk film Reign of Assasins)

 

-Biksu Bodhi

 

aku datang dari benua mimpi gelap. Aku tak akan mati

di Pegunungan Jinhua yang pangap.

 

kau boleh saja menyangka aku mati

di Pegunungan Xionger penuh duri, tetapi sesungguhnya kisahku

baru dimulai saat jasadku dicuri.

 

saat itu juga aku menjadi ibu yang melahirkan cerita-cerita baru,

melahirkan gerombolan Batu Gelap yang dipimpin oleh Raja Roda

(kasim yang selalu ingin punya kumis melintang), menghidupkan

Hujan Rintik, ratu pedang berbahaya yang sepanjang waktu takut

pada hujan, membangkitkan Zhang Renfeng dari kuburan di bawah

 

tetapi mengertilah aku sesungguhnya hanya kabut. Teka-teki kecil

sebelum kausebut nirwana dalam sembahyang-sembahyang angkuhmu

menjelang pertempuran. Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Mei 23, 2014 at 3:15 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Tuba

 

Kau yang tak liat beradu

di atas memasrahkan

ketaklukan ini padaku:

 

Tak silap tafsirmu, aku yang

dimunculkan dari pati yang tak

dikehendaki mengerti ihwal

melengoskan perihal berhadapan.

Yang di kejauhan akan berserah

pada pelukan, lebih-lebih,

ciumanku. Apabila berterima,

mampus si musuh utama meski

masih disimpannya gelagat rahasia

yang bisa membuatmu berbalik

arah. Lalu kuputarbalik jalan

darahnya. Kuaduk-aduk semesta

uratnya. Berbaliklah arah amatan.

 

Atas tak bawah, bawah tak atas.

Tak lagi dia tangkas membeda

darah anjing, kuda, kambing, naga,

atau muntahan mambang. Tak

perlu aku mahir berakar di tanah

atau bertopang tiang tegak. Cukup

sedikit kesiur mengudara. Siutku

tak luput menyapa jantung Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 at 1:34 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZAIM ROFIQI

with one comment

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 at 12:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FARIQ ALFARUQI

with one comment


Di Jalur Harimau

 

Berbaliklah, sebelum sugaku sampai ke lambung.

Sebelum benakku tak lagi bisa menghitung

mana yang patut disebut, mana yang pantas ditebas.

 

Pulanglah selagi jalan para peladang

masih berjejak di pintu rimba.

Selagi berkas cahaya, masih membekas

di kerjap mata.

 

Sebab bila malam telah mengekal

dan suara tetabuh gendang

ditelan rimbun batang jejal berjejal,

yang hilang tak bakal bersua

yang pergi tak akan kembali.

 

“Di tingkah bunyi rasa, aku gamang.

Pada sahutan bansi dan pupuik batang padi

memang dibikinnya aku menoleh ke belakang.

Tapi yang termakan tidak untuk dimuntahkan lagi.

Sekali berjalan, tak laut usai dikayuh, tak gunung habis didaki.”

 

Kalau begitu bahasamu, kau dengarlah aumku:

Penembak jitu bersembunyi di balik rumpun bambu

petarung handal menanti di padang datar

penggulung ulung bersiasat di lembah sempit.

 

“Biar rengkah dadaku, biar dicabik nyawa dari badan

aku tetap bakal lalu, aku akan tempuh itu sekalian jalan.”

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Matinya Kuda Pelajang Bukit

 

Kuda pelajang bukit, di mana kau sembunyikan rasa sakit.

Jika langit yang rubuh kau sibakkan saja dengan kibasan kepala

bumi yang bergetar hanyalah ngilu kuku

sekedar pengelupas lumpur yang mengering di kakimu

dan tak segetar bulu pun mampu memberi tahu

seandai angin tak pernah berhenti mengirim badai.

Mengirim sensai.

 

“Tiba di gurun, telah aku seru angin berdesir

aku himbau lipan, kalajengking, ular segala bisa

agar kami, si kuda dan si penunggang tuba

terkubur selamanya dalam lautan pasir.

Sampai ke padang, sampai di yang lapang dan lengang

berkali aku patah pinggang, berkali pula kaki ini pincang.

Tapi malang sebentar malang, kalian tahu, pepatah

telah mengutukku menjadi seekor kuda

yang tahan dengan segala cuaca.

Segala terpa.

 

Kuda pelajang bukit, beri kami tanda selain rasa sakit.

Seperti stempel tuhan di kening orang-orang suluk

atau serupa rajah yang diguratkan di kulit orang-orang mabuk.

 

Sebab sesudah harimau mati meninggalkan belang

setelah gajah mati meninggalkan gading yang panjang

tak ada lagi umpama baik bagi kami

selain kisah-kisah yang dilantunkan berulang.

 

Sebab telah kami runut jejakmu di sepanjang jalur orang lalu

kami tebar suraimu ketika peraduan angin bertemu

tapi tak juga ada yang bisa kami kenang selain rasa sakit itu.

 

“Kalau begitu inginmu, sebut aku si kuda patah kaki penarik bendi.

Kuda patah pinggang berpacu dalam gelanggang.

Kuda pandai jadi tunggangan, kuda pandir penumpang beban.”

 

Oh kuda perih bahasa.

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Kuda Bendi Pengobat Demam

 

Setelah jeruk purut dikebat benang tujuh warna

tiga butir labu sudah ditanam dalam kubur leluhurnya

dan seulas bawang merah dicampur minyak tanah juga telah bekali

dioleskan ke selingkar pusarnya.

 

Inyiak Talago Batuah itu berkata:

“Meski seribu jin raja alam dipanggil

segala penghuni bunian ambil andil

ikut juga yang halus-halus dan kecil-kecil

tak bakal sembuh ia punya demam panas menggigil.”

 

Oh, ke mana lagi akan aku kadukan

orang pintar di darat sudah aku turut

syekh berjenggut panjang di pesisir sudah aku jalang

serentang tangan telah kujangkau, sekuat bahu sudah kupikul.

Tapi alamat sembuh melayang saja seperti asap dupa.

Memercik saja serupa air kembang sekian rupa.

 

Tapi Inyiak Talago Batuah itu tertawa:

“Panggil mantri, yang berlebih mesti dipangkas

masa kanaknya mesti dilepas.

Kabari orang sekampung, pilin tampuk buat nangka,

Gelegakkan santan air kelapa, sembelih jawi.

Arak ia berkeliling kampung

bakal jadi obat mujarab hati yang murung.”

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Sasaran Harimau

 

Aku tak menyuruhmu mengasah punggung pisau

supaya kelak kau tinggalkan jejakmu

di jalur orang-orang lalu.

Aku tak memintamu menyimpan perca putih

demi alasanmu membentangkan sorban di selingkar negeri.

Ayam hitam tak disembelih

untuk lapar harimau dalam perutmu.

Juga bukan untuk mengundang harum

kemenyan itu dibakar untukmu.

 

“Ini, Engku, sekarung beras untuk kesusahanmu, kegelisahan itu.”

 

Meski ke padang datar kau berguru

dan kau beroleh rusa belang kaki

yang menyimpan seribu langkah

untuk melayang ke atas tanah.

Telah kau khatamkan rimba sempit dan berbukit

hingga diammu tak terbaca mata

terkamanmu tak terlacak arah.

 

Percayalah, sekali saja kau mengaum

akan ada yang menandaimu

sebagai musuh satu kaum.

Sekali saja kau menajam-najamkan kuku

bakal ada yang mengirimkan tinggam

tepat di jantung itu

menyisipkan tuba

pada sisa makan malammu.

Sebab ini ilmu bukan sembarang ajar

dijangkau dari puncak gunung

ditarik dari dasar palung.

 

“Jangan ragu, Engku. Ubun-ubun kepalaku berjumlah genap, Guru.

Kabarnya aku cucu Inyiak Balang.

Delapan harimau berkeliaran dalam tubuh leluhurku.”

 

Aku tak memintamu datang ke ini sasaran

aku tak bakal menahan jika kau memilih pulang.

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Fariq Alfaruqi lahir di Padang, Sumatera barat,

30 Mei 1991. Sedang belajar di Jurusan

Sastra Indonesia Universitas Andalas. Bergiat

Di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpadati.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 4 MEI 2014

Written by Puisi Kompas

Mei 14, 2014 at 12:41 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: