Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for September 2012

PUISI ZELFENI WIMRA

leave a comment »


Sajak Surau Patah Tiang

 

Kami jabat surau ini

pengisi musim yang berlepasan dari jantung kami

surau patah tiang

tumbang menjelang hari raya terang

 

di remang mihrab, masih ada yang tegak

menggumam berzanji:

ke surau adik ke surau

ke surau membasuh kaji

risau bersabut rarau

alif kami tak lagi berdiri

 

2012

 

 

 

Kampung Tak Bernabi

 

perkampungan kembali tenang

setelah ayat terakhir alfatihah diaminkan

lidah kami berhenti pada alif lam mim

tiga huruf bersangkutan dalam rahasia

mereka tak sempat jadi kalimah.

kata alif: aku tidak sanggup berdiri di titik kesendirian

ucap lam: kau masih menjauh tak menjangkau tubuhku

mim pun berseru: rajah aku lam. aku kedinginan.

 

terdengar ada yang berdentang

seperti gemerincing lonceng

menjelang jibril turun mengurai misteri kalam

tapi di kampung kami ini kini tiada lagi yang bisa kami panggil nabi

 

2012

 

 

 

Puisi Bungsu

 

:brigitte oleschinsky

 

aku salut pada helaian rambut yang berpenggalan

jatuh di lantai salon kecantikan

sebilah gunting telah memisahkannya sari kepala seorang puan

yang berias menjelang tiba hari pernikahan

 

aku salut pada perut sepatu yang pandai merawat cemburu

sebelum sebuah perjalanan direncanakan

selalu bagian punggung yang dibersihkan

dipugari dan diminyaki

padahal sakit perjalanan tertumpu pada sisi dirinya yang tertekan

 

aku salut pada jiwa tulus anak-anak ikan gabus

menetas beratus-ratus

langsung berhadapan dengan arus

namun bila lapar menguras usus

mereka serahkan badan dimakan induk yang rakus

 

aku salut pada kepandaian seekor belut

meskipun badan dibalut lumpur

tetapi selalu bisa meluncur

tanpa sedikitpun berlumur

 

aku salut pada ketaatan si kaki seribu

merangkak lambat menekuni lumut tebing batu

seolah tidak tahu, laju waktu selalu terburu

baginya, hidup sekenyang rahang

mengapa harus berlari kencang seperti kijang

atau melayang ke awang serupa elang

 

aku salut pada landak

terbiasa menahan duri di atas daging sendiri

aku salut pada kesetiaan burung hantu pada pasangannya

aku salut pada airmata nelayan yang menetes ke tengah samudra

aku salut pada puasa induk ayam yang mengeram

aku salut pada pintu yang sedia menutup diri

sebelum penghuni rumah bepergian

aku salut

aku salut pada bait-bait pusi di buku ini

yang tidak pernah mengerang atau meradang

padahal setelah aku karang sengan garang

ia lebih berpeluang terbuang, dari pada dikenang

 

2012

 

 

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang

Limopuluah Koto, Sumatera barat. Ia tengah

mempersiapkan buku kumpulan puisi pertamanya,

Air Tulang Ibu.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 25, 2012 at 3:49 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »


Rumah Kopi

 

Rahasia dari bibir kita sederhana: Aku menyeret waktu

yang beku, mirip kabar sendu dari jendela lebar, dari beranda

penuh kursi dan dari tiap daun meja. Sedang kau menyaru

dalam bau yang kuhidu dari asap tipis rindu di bibir cangkir.

 

Dan mata kita diam-diam menyimpan rahasia yang lain:

Hangat tubuhmu menghitam dan sedikit berbuih, seperti

pada sebuah pantai aku menemu bangkai ketam. Sementara

sebentar-sebentar ada kalut yang mengarah ke laut, jauh

dari aku dan sebuah sesal yang dipintal oleh kata-kata.

 

Aku bukan musafir, hanya perut petualang yang tak lapar

benar. Helai roti berselai nenas, bukan sesuatu yang pantas

untuk dihidangkan sebab –  sudah dikabarkan sebelumnya

manusia bisa dipuaskan hanya dengan firman.

 

Maka rahasia-rahasia hanyalah percakapan biasa di tubuh

waktu. Diam-diam di meja seberang ada yang mencuri tawa

kita. Menyembunyikannya pada pekat malam, pada dada laut

dalam, dan juga pada bangkai ketam.

 

Lalu, apakah sesal? Dingin merapat di ketat cangkir.

 

Dan kita hanya bisa saling memandang.

Dan kita merapikan bibir masing-masing.

Sementara meja dan kursi berderet-deret panjang

di beranda, menyebar keharuman sederhana..

 

Keharuman yang belum bisa diucapkan.

 

2012

 

 

 

Di Kedai Bibit Tanaman

 

Yang dipinggirkan daunan adalah anyaman cahaya

menyitas lubang-lubang paranet lalu acuh melintasimu,

tak menyapa juga tak menyentuh rambutmu yang kini

mulai sering dikelabui kenangan.

 

Yang sering disajikan aneka bunga selain harum dan warna

adalah nama-nama dan peristiwa, berkelindan dari

aneka tandan dan buketan. Tanganmu rajin menyibak

dan menyimaknya, meski ada getar halus itu.

 

getar serupa sayap serangga, kepik atau entah apa

tetapi jelas mendengung seolah bunyi dari seberang

gagang telepon begitu pembicarakan kita hentikan.

 

2012

 

 

 

Setelah Kau Mengunci Pagar

 

Malam semakin marak

senapan-senapan sepi

saling menyalak.

 

Dan dia – korban bulan bisu –

baru berwarna biru,

seperti habis ditasbihkan

oleh sepotong lagu,

 

merayu-rayu engkau.

Menyaru aku.

 

2012

 

 

 

Tabah Dahan

 

Dia saksikan embun yang tadi pagi singgah

diam-diam menghilang ke mana entah.

 

Dia saksikan daun yang beberapa waktu

baru tumbuh, tahu-tahu sudah luruh.

 

Dia saksikan juga bunga belum lama kuntum

lalu mekar dan mahkotanya pun tersebar.

 

Adalah angin kerap menggodanya, agar

kelak, dia lebih tabah jadi kayu bakar.

 

2012

 

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah,

dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergiat di

Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar Malam).

 

KOMPAS, MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

September 25, 2012 at 3:44 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ISWADI PRATAMA

with one comment


Lanskap

di rumpun perdu

mimpi sebutir batu

warna jernih pagi

datang kepada tepi

tak berkata,

tercerap cuaca

 

 

di bentang laut malam

bulan berenang

cahaya keperakan

kegelapan pecah

empasan gelombang

sayap-sayap api

 

 

lalu biru kembali

seperti pagi.

 

 

Jalan Setapak

engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang

meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai

rumpang-lesuh di kampung kumuh

 

 

di minggu pagi,

orang-orang, sebagian kecil orang di kota ini

merayakan akhir pekan, melintasimu sambil menduga-duga

 

 

seberapa dekat ujungmu pada tanjung

seberapa hampir tubirmu pada pasir

seberapa hirap harapmu pada lanskap

 

 

tapi bagi para peronce perih

engkau tak lain rima di runcing lidah

syair yang gampang menggerung getir

 

 

umpama buku, sampul mereka kuning belaka

terlalu ricu pada sandi sebab takut terduga

bila luka, merah mereka meraih rona

 

 

maka datang lagi aku ketika mereka lelah-jemu

di hari-hari sibuk, di terik tarikh

mengetam kerak ngilu sekujurmu

 

 

engkau jalan setapak yang mengantarku

ke hutan di pinggiran tanjungkarang

hutan yang belum pernah mereka temukan

 

1 Agustus 2012

 

 

 

Hermes-Inggit

 

Apakah yang telah memautkan kita selain kata

Seperti darah ketika mengungkapnya

mengoyak tabir tubuh; celah bagi seberkas cahaya

Huruf demi huruf disepuh

api pemanggang dinyalakan

 

 

Bagi penyair, setiap kata prahara belaka

Pengembara jalang menjelajah

Lebih jauh dan lebih hancur

Sebab hanya dalam wujud remuk redamnya

Menjadi patut diucapkan

 

Bandar Lampng, April 2012

 

 

Gunduk

aku pati pohon jati yang padu

tak lunak namun belum batu

coklat yang hampir gelap

terkucil di kebun ini

 

 

aku hampir dihapus humus

lalu dikemas para rangas

diberi rongga dan ruas

 

 

tapi entah mengapa

rerayap itu pergi

ke bawah pohon turi

 

 

lalu aku kosong

 

 

sesekali semut putih dan ular datang

cuma numpang bermalam

atau mampir dalam perjalanan

 

 

engkau kelembak

dulu bermukim di sini

ketika masih kepompong

 

 

tapi seperti ana-anai

engkau pergi setelah lengkap sayap

dan aku abai

 

 

aku terlanjur mengasihimu duhai kupu-kupu

sebab kukira engkau selonsong semata

rupanya selubung itu hanya selimut

bagi bapakmu yang lagi beringsut

 

 

kepak yang seperti sepasang layar

membawa perahu jauh

dari bocah ditepi telaga itu

 

 

tetapi lelaki kecil itu tahu

biduk akan kembali

dan ia menunggu

 

 

dan aku tak mengerti

bagaimana menanti

sayapmu indah di atas sana

meski waktumu singkat belaka

 

 

tak ada nektar padaku

selain bau getah kayu

dan busuk perdu

 

 

dan lihatlah,

pemilik kebun ini tengah merambah tanah

ia sangat berhasrat oada setiap gunduk

ingin seluruh permukaan tampak rata

 

 

demi buah buah

demi bunga bunga

 

 

dan engkau memang cemerlang di sana

 

Juli 2011

 

 

Kurban

 

1.

makin putih engkau kini

pisau yang peran berjaya

menciptak liang luka di tubuhku

 

 

kukira telah pada hasratmu

setelah punah darah

setelah belulang belaka padaku

 

 

betapa bersinarnya engkau ketika itu

betapa terbujurnya aku

 

 

engkau tangkas mengupas

fasih mengemas

nyeri hingga ke ulu hati

 

 

memang pernah aku cemas

rasa sakit tak mau tuntas

tapi tak sekali gentar aku

pada sangar hasratmu

 

 

terhadap meling-runcingmu

sungguh, tak kutundukkan mataku

 

 

berilah aku jeda sebentar

hendak kuterangkan kulitku

akan kupejalkan daging-dagingku

agar lebih mujur nasibmu

 

 

2.

Kami tahu,

ini bukan pertarungan

melainkan pembantaian

 

 

kami hanya akan menetapkan suatu ukuran

tentang seberapa keji sebuah tikaman

seberapa perih sayatan

 

 

ia akan terseok seperti dulu

bersimbah luka melulu

tapi ia akan sembuh dan kembali dipersiapkan

 

 

kami datang untuk selalu memastikan

masing-masing makin matang

 

 

3.

Jangan gegabah menduganya

ia tak belajar sabar semata

tak cuma mahir bertahan atas luka

ia makin waspada dan tak terkira

 

 

setelah berulang kali kurajang ia

tak kudengar lagi raung regang

atau sekedar sedu

hanya hening menggema

 

 

kukira ia akan tak tersentuh kini

meski aku telah sehalus cahaya

 

 

Juli, 2011

Iswadi Pratama lahir di Tanjungkarang,

Lampung, 8 April 1971. Buku puisinya ber-

Tajuk Gema Secuil Batu (2007)

 

KOMPAS, MINGGU, 16 SEPTEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

September 17, 2012 at 5:09 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARIO F LAWI

with 2 comments


Lorosae

 

Kami tusukkan tubuh kami ke dalam amanat sirih,

Pinang dan kapur. Tangan dan kaki kami hanya dipatahkan,

Batok kepala kami dibelah sekadar, tulang-tulang kami

Dihaluskan perlahan. Bersepah kami senantiasa. Bagai masam

Dalam mulutmu. Bagi larsa di kakimu. Bagi laras di tanganmu.

 

Naimata 2011

 

 

 

 

Wirug

Tangan asap mengatup seperti para pelacur di pelataran gereja.

Ke dalam bara yang meletup, tubuh dupa yang sekarat –

Seumpama jiwa malang mereka –  kita lemparkan. Wewangi itu

Senantiasa menghiasi altar dan kurban persembahan, bukan?

 

Naimata 2011

 

 

 

 

Ekaristi

Pagi yang cacat

Mengulurkan anamnesis.

 

Kami berdiri di jalanan

Menyaksikan diriMu dikorbankan.

 

Di bawah salip,

TubuhMu yang jasad,

 

Kami koyak kelak

Dengan rasa lapar paling purba.

 

Naimata 2011

 

 

Mario F Lawi dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18

Februari 1991. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas

Nusa Cendana. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flambora.

 

KOMPAS, MINGGU, 9 SEPTEMBER 2011

Written by Puisi Kompas

September 12, 2012 at 2:27 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Kain dari Bugis

 

Seorang Arab penjual peniti

Berkali-kali mendatangi rumahmu

Sebuah pincalang terdampar di utara Tiku, katanya

Ada kain yang lebih lembut dari ujung rambut nona

Lebih harus dari meranti atau kulit lansano

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa samun dari Ujung Gurun

Ke sana ke Bukit Tajadi kampung padri

 

“Ibu, Ibu, aku bawa untukmu

Khusus yang paling baru

Kain yang membelakangi matahari turun

Kain dagangan para lanun.”

 

Seorang Arab pedangan semat

Dengan mata besar bulat dan bibir pepat

Alisnya damar keras dan arang hitam

Berkali-kali lewat di halaman rumahmu

Melambaik-lambaikan selendang itu

Bagai manik-manik pada ekor tenggiri

Berkilat-kilat dari jauh tampak saja sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau dibawa karavan Pauh Lima

Naik Sitinju ke Tigabelas Kota

 

“Ibu, Ibu, ini aku tawarkan

Kain pembalut deritamu

Selendang manyang selendang dunia

Sehelai dua boleh kau coba.”

 

Seorang Arab yang rambutnya keriting coklat

Mendatangi ibuku berabad-abad setelah kamu

Setelah pabrik besi di Bekasi berdiri dan kain kami

Didatangkan dari Tanah Abang sebulan sekali

Tapi tak ada kau di situ

 

Kau kini ditumpuk bersama ribuan kodi kordurai warna susu

Kau kini ada dalam truk kontainer melintar Selat Sunda itu

 

Apakah dia masih jua berseru

Dari halaman itu:

“Ibu, Ibu, belilah agak sehelai dua

Biar akan sempurna manis lenggokmu.”

 

 

 

 

 

 

Koin Sepuh Emas

 

Aku abwakan istriku koin sepu emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

“Belilah beras kami ini!” kata kolektor itu

Dia melemparkan dencingan pada tanganku

Loji-loji kompeni terban di pinggir bibirnya

Buaya-buaya raksasa melubangin kanal si sela-sela giginya

Dan seluruh kota seketika itu juga terendam hingga ke mercusuar

 

In koni sepuh emas, tak perak, atau tembaga

Kakek buyutku menambangnya berabad silam

Di hutan-hutan yang tak terdaki oleh kalian

Di hutan yang bermalam-malam ditembusnya

Dengan ini parang, parang berduri dari anyam pandan

Yang dipegang dengan punggung tangan

Parang yang dilehermu hendak ditebaskan

 

Ah, kalian, museum dunia baru yang sendirian

Yang buta peta dan yang tahu hanya berdiam

Kalian memangkas kata sifat seperti aspal jalan membunuh manusia

Sementara aku ingin menumbuhkannya di tiap ujung  kalimat

Ah, kalian, yang menggigil di hadapan hayat

 

Aku bawakan istriku koin sepuh emas

Tiga gulden abad kedelapanbelas

Aku bawakan dia dengan kantong plastik ini

Kantong plastik dari pabrik  dunia baru kalian

Yang sepi tiada berkawan.

 

 

Perdebatan tentang Belacu

 

Kau sebut dia marekan

Kain kasar dari pesisiran

Belacu kadang dia ucapkan

Aku kata biarkan

Dia sutra dari daratan

 

Kau kata dia ikan putih

Ke lambung kapal tersisih

Aku kata diam jahanam

Dia kerapu dari palung lautan

 

Kau bilang dia loyang

Sekali sepuh tembaga melayang

Aku kata apa kau bilang?

Dia emas terakhir penambang

 

Kau sebut dia pahit empedu

Bagai racun dikerongkonganmu

Aku kata tak apa, Cinta

Kau manis paling pangkal

Si tebu udang

 

Deddy Arsya

lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987,

dan kini bermukim di Padang.

Kumpulan puisinya, Odong-odong Fort de Kock, segera terbit

Written by Puisi Kompas

September 11, 2012 at 5:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi HASAN ASPAHANI

leave a comment »


Di Depan Teater Chaplin

 

ADA berapa teater untukmu di kota ini, Chaplin?

 

Aku seperti pengembara, dengan sedikit waktu malam,

dan ingin masuk, mungkin untuk sebuah peran  sebagai

kucing jenaka, bernyanyi untuk Cinderella yang lupa.

 

Kalau kita bertemu, malam itu, aku sudah berlatih

untuk bercakan-cakap seperti adegan dalam film bisu.

Dengan begitu, kita tak perlu saling menerjemahkan.

*

Beberapa kali, Chaplin, seseorang harus menjadi yatim?

 

Teater, mungkin sejenis rumah penampungan juga,

untuk keinginan-keinginan yang tak punya tempat.

 

Ini bukan lagak, bukan soal kepandaian berpura-pura

 

Panggung, mungkin sejenis tempat pindah dan singgah,

dari satu lakon ke lain lakon, dalam takdir yang kekal,

apapun peranmu, loper surat kabar dalam kisah

detektif, menemukan berita yang tak ada, atau badut

malang pada sebuah sirkus: terusir dan teringkus!

*
Berapa lama aku harus berdiri dan bertepuk padamu?

 

Tak ada makammu, di sini, Chaplin. Aku ziarahi saja

Keinginanku yang tak mati dan belum ingin aku kubur,

dalam senyap hati setenteam udara Danau Jenewa,

toh tidak akan ada yang akan ingin mencurinya.

 

Dan kau tetap hidup di kota ini, dalam cahaya proyektor

yang berisik, dan kami masih akan tertawa, bagi pejalan

dengan sepatu bertelapak besar, celana gembung, dan

jas sesak, serta topi yang melindungimu dari salah-duga,

bahwa engkau tak pernah bisa sekadar berbahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Sebuah Restoran di Pinggiran Kota Koln

 

YANG jauh pada jarak dan langkah telah didekatkan

oleh lapar. Tapi lidah yang penuh jejak rempah, tak

mengatakan apa-apa pada kentang, dan ikan berserat

merah. Aku bercakap-cakap saja, dari bangku restoran ini,

dengan bocah memancing, dan anjing yang bosan, pada

lukisan Norman Rockwell, dalam sebuah reklame lama,

minuman bersoda.

 

Yang dingin pada musim dan malam, telah

dihangatkan oleh teh Britania. Dan gol yang dirayakan, tak

peduli ke gawang mana dalam siaran langsung sepakbola,

entah dari liga apa. Selalu tampak berat hati, ketika

mereka harus bubar, dari barisan kursi di depan bar, dari

barista yang sabar, dan dapur, dengan perabot tua, radio

Grudig yang tak lagi menangkap gelombang suara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Angsa di Kanal Amsterdam

 

KAMI tak akan ad di kartu-kartu pos yang

Dipajang di toko sovenir di Amsterdam. Seperti merpati,

dan jalak, juga camar di atas papan nama dermaga. Kami

tak pernah punya masalah dengan kota ini. Kota yang tak

pernah ingin sempurna ini. Kami hanya ikut bertahan dan

menjadi apa adanya. Dan itu memang bukan segalanya.

 

Amsterdam, adalah liuk suara saksopon pada sebuah

komposisi jazz yang lekas. Kami adalah nada kosong

ketika kota kehabisan napas. Amsterdam adalah lalu-

lalang sepeda, dan padanya kau belajar tentang ketekunan

menerbitkan harapan. Nanti kau akan putuskan kau telah

lulus sebagai apa., di sebuah museum tak berpenjaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Misalnya Aku Membaca Namamu

pada Grafiti di Lorong-lorong

Stadion Itu.

 

:dd

 

AKU membayangkan, akulah remanaj dengan

menutup wajah, tandel penuh kaleng cet, bersekutu dengan

malam,  dan sedikit keberanian. Sepi seperti gemuruh

penonton, pada pertandingan final antara dua klub satu

kota. Aku berkeringat pada subuh yang dekat. Melukiskan

rindu dengan cepat, dan lekas. Lebih dari sebuah gol

penentu kemenangan, ketika terakhir kali, kuterakan huruf

terakhir namamu. Lalu aku lari, selekas aku menyelinap

tadi, sambil membayangkan engkau membaca namamu

pada grafiti yang diam –diam kuterakan pada lorong-lorng

di stadion itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poster Pertunjukan Dario Fo

di Sebuah Jalan di Milan

 

MILAN, benarkan manusia tak dilahirkan untuk

berbahagia? Di jalanmu, Milan, ada sebuah cafe, dengan

remang lampu, mesin judi, televisi, dan kursi-kursi kayu

sewarna pekat buih cappucino. Aku kira harimu tak

pernah sempurna, Milan, meskipun dari kecemasan orang

aeasing aku padamu.

 

Milan, ingatkah engkau pada seorang dari Sangiano?

Belajar ilmu bangun ruang dan tampaknya dia tak

berbahagia? Aku tak tahu, dimana persisnya teater itu,

milan, dan naskah lakon apa yang kini sedang dimainkan,

dan siapa yang sedang memerankan apa.  Aku sedang merasa

angat asing dengan siapa yang sedang  kuperankan,

Milan. Aku mungkin perlu poster, seperti Dario Fo yang

Kulihat, sekilas di jalan-jalanmu, Milan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas Napak Tilas, pada

Cappuccino Segelas

 

SEKELAM engkau, warna jubah para rahib,

Selembut doa-doa pada pagi yang rutin.

 

Seakan menawar pada lidah lelaki Turki,

Tertuang pada madu dan hangat susu.

 

Seramah barisata, dia lelaki muda Italia,

Sekarib jarak dari kisah gembala Afrika.

 

Sesia-sia rapat para penguasa fasis

mengabaikan kecup suhu dan sentuh busamu.

 

Sehangat semi musim udaramu, Milan

Seteguh gagang pada gelas tembikar.

 

Sesementara gambar di rapuh limpah buih,

sekelebat kibas duyung berekor kembar.

 

Seingkar harum kopi pada sarapan pagi,

Seakrab bunyi mesin espresso sepenuh hari.

 

Seberani engkau di gerai gula bersoda,

sesetia engkau di kafe, kebab, dan pizzaria.

 

Sekecewa aku yang mengecewakanmu

Lidah siap saji, ayam jantan tak tumbuh taji.

 

Seperti telah kuselesaikan saat-saat sesat,

dosa itu tetap dekat, tapi tak lagi memikat.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 2 SEPTEMBER 2012

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Ka-

limantan Timur, dan kini bermukin di Batam.

Buku puisinya yang terbaru adalah Mahna

Hauri (2012)

 

 

Written by Puisi Kompas

September 4, 2012 at 4:59 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: