Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for September 2013

PUISI JOKO PINURBO

leave a comment »


Surat Batu

 

Maaf, baru sekarang aku membalas surat

yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

 

Waktu itu kamu memintaku merawat

sebuah batu besar di halaman rumahmu

sebelum nanti kamu pahat jadi patung,

Patung itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

 

Aku suka duduk membaca dan melamun

di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya.

Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu

dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

 

Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan

lebih besar dari cintamu. Aku senang

melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

 

Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu

lahir air mancur kecil yang menggemaskan.

Air mancur itu sekarang sudah besar,

sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

 

Maaf, jangan ganggu air mancurku.

Bahkan batumu mungkin sudah tak mengenalmu.

 

(2013)

 

 

Surat Kau

 

Kau tak ada di kakiku

ketika aku membutuhkan langkahmu

untuk merambah rantauku.

 

Kau tak ada di tanganku

ketika aku membutuhkan jarimu

untuk mengubah gundahku.

 

Kau tak ada di sarungku

ketika aku membutuhkan jingkrungmu

untuk meringkus dinginku.

 

Kau tak ada di bibirku

ketika aku membutuhkan aminmu

untuk meringkas inginku.

 

Kau tak ada di mataku

ketika aku membutuhkan pejammu

untuk merengkuh tidurku.

 

mungkin kau sudah menjadi aku

sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

 

(2013)

 

 

Surat Kopi

 

Lima menit menjelang minum kopi,

aku ingat pesanmu: “Kurang atau lebih,

setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

 

Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari

bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.

 

Kau punya bermacam-maca kopi

dan kau pernah bertanya: “Kau mau pilih

kopi yang mana?” Aku menjawab: “Aku pilih kopimu.”

 

Di mataku telah lahir mata kopi.

Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi.

Apakah puting susu juga mengandung kopi?

 

Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.

 

Burung menumpahkan kicaunya ke dalam kopi.

Matahari mencurahkan matanya ke hitam kopi.

Dan kopi meruapkan harum darah dari lambungmu.

 

Tiga teguk yang akan datang aku bakal

mencecap hangat darahmu di bibir cangkir kopiku.

 

(2013)

 

 

Surat Senyap

 

Waktumu sebentar lagi habis, hujan.

Malam akan menganga dan kau menjadi gema.

 

Mula-mula kau berjalan rintik-rintik,

bolak-balik antara kepala dan ujung kaki.

Ketika demam berhembus, kau meluncur deras

diiringi tiga tembakan petir. Hatiku banjir.

 

Kau membuat kolam di lambungku dan aku

terdiam mendengar kecipak air di kolamku

 

Kini kau merintik kembali dirintikmu

sebentar lagi sirna. Tinggal gigil penjual sate

yang tiba-tiba berhenti di leherku, mendengar “T”

yang Tuhan serukan di ujung lidahku.

 

Malam mulai menganga dan kau menjadi gema.

 

(2013

 

 

Surat Libur

 

Apa kabar liburan sekolahmu?

Semoga kamu bertambah gemuk dan lucu

dan dikagumi kucing kesayanganmu.

 

Aku juga sedang libur. Aku baru saja

naik kelas. Aku mendapat hadiah

dari Ayah dan Ibu karena aku

rajin belajar. Belajar melamun

dan menuliskan hal-hal yang tak mudah.

 

Ibu memberiku sebuah jendela

untuk mengganti jendelaku yang sudah

usang dan bolong-bolong kacanya.

Dari jendela baruku aku bisa melihat

seekor kucing sedang duduk manis di bulan

sambil matanya menantang mataku.

 

Ayah hanya bisa memberiku sehelai sarung:

sarung cap kucing. Sarungku lebih panjang

dari tubuhku, lebih hangat dari mimpiku.

Aku mau memakainya untuk membungkus

tidurku yang simpel dan murah.

Aku masih menghitung kotak-kotaknya.

Sabar ya. Nanti kuberitahu berapa jumlahya.

 

(2013)

 

 

Surat Pulang

 

Tenanglah. Aku tak pernah mengharap

oleh-oleh dari orang yang hidupnya susah.

Kamu bisa pulang dengan rindu

yang masih utuh saja sudah merupakan berkah.

 

Pulang ya pulang saja. Tak usah repot-repot

membawa buah tangan yang hanya akan

membuat tanganku gemetar dan mataku basah.

 

Aku tahu, kepalamu kian berat

dan hidupmu bertambah penat.  Mau selonjor

dan ongkang-ongkang saja kamu tak sempat.

 

Pernah aku jauh-jauh pergi untuk menemuimu

dan tak bisa menemukanmu.

Di manakah kamu? Ke manakah kamu?

Ealah, ternyata kau sedang beribadah di akunmu.

 

Pulanglah dengan girang jika pulang

adalah menulis ulang sajak yang rumpang.

Jika kau punya banyak kucing tapi tak punya

ngeong kucing, aku punya malam-malam

bertaburkan ngeong kucing.

 

Pulanglah dengan lugu. Masih ada pintu untukmu,

bahkan jika kau pulang telanjang malam-malam

saat aku sedang bertukar meong dengan kucingku.

 

(2013)

 

 

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962;

tinggal di daerah Istimewa Yogyakarta.

Buku kumpulan puisi terbarunya adalah

Tahilalat (2012) dan Baju Bulan (2013).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 22 September 2013

Written by Puisi Kompas

September 25, 2013 at 7:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »


Sampai Ujung

 

Jalan ini sudah sampai pada ujungnya,

sesudahnya rumput liar, tumpukan batu,

jurang terjal, dirimu yang bergantung

pada jalar akar kulit manis

menyembul di bibir tebing.

 

kau takut jatuh,

matamu juga,

bibirmu apalagi,

tapi hatimu telah jatuh dahulu

ke jurang,

tempat di mana hatiku jadi cakar

jantungku jadi taring.

 

aku gigit hatimu itu,

di tebing kau menjerit

angin menghempas dirinya,

bukit tiba-tiba menggandengmu,

tahukah kau itu, bukit itu juga aku.

 

(Padang, 2013)

 

 

 

Satu Kenangan Mengikat Jantung

 

aku telah belajar memetik daun mati

tomat ini, Su, meracun ulat, memupuk tanah,

menyimpul tali ke bilah betung,

memetik buah, mencicipi daging paling manis,

sebelum menjamu kau

menjadi tamu di ladangku.

 

aku rancang segala yang perlu,

mengajarkan kau memegang pompa,

menyimpul tali, menyemai urea,

menyentuh tanah yang manis ini,

berulang kali aku sayat tipis

tomat-tomat merah,

mencicipi di lidah, kelak ketika

kau menjadi tamu, lidahmu

tetap lembut di irisan tomat

yang kau petik sendiri.

 

kau datang, hatiku terpinang,

jantungku terikat, daun tomat gugur

di jarimu, tanah subur, lidahmu

tetap lembut,

Su, telah senang sebagai tamu.

 

ah, Su, kiranya kau tamu,

ya, kau tamu yang akan pergi,

kau ikat jantungku, kau bawa sepanjang jalan.

 

(Padang, 2013)

 

 

 

Tomat Orang Hilir

 

di hilir tomatornag besar-besar, pemiliknya etek,

pak etek, mamak. orang pupuk bersama tahi sapi,

tahi ayam, sepuluh karung buat memupuk serupa

menyambung hidupmu yang sekarat, setelah perut

petani dibanting harga murah di pasar bukitsileh.

 

di hilir ini ulat tomatnya juga besar-besar, orang racun

di pagi dan sore hari, gugur ulat menyuburkan batang,

batang subur dahan berbuah, orang petik tomat ini.

 

peti ini telah dipaku lima sisi, padanya pada lempung

yang kosong tomat-tomat telah dibariskan serupa

membariskan hidupmu pada lempung itu, kau paku sisi

atas, lengkap enam sisi itu dipaku rapat,

lengkap hidupmu, kau lingkari

kau bawa tomat itu ke pakan, tempat berdagang

segala hidup, pakan orang karangsadah.

 

(Karangsadah, 2013)

 

 

 

Alizar Tanjung lahir di Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di

IAIN Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 15 September 2013

Written by Puisi Kompas

September 19, 2013 at 4:41 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Sekali Lagi Ratap Kapal Karam

 

Harimau di atas kapal kami

bergelung di tengah ombak bersabung

tak dibayangkan pulau tersadai di tepi samudra

betapa jauhnya batas senjakala

 

Seekor tupai berekor pirang

melompat ke dalam lubang pada dinding kapal kami

dia membawa suara ngengat kelapa tumbang

gedebum jatuh mumbang

 

Pohon pisang jantan terapung-apung

telah lepas dari buah yang dijunjung tinggi

sendirian kini di lepas laut hampa diri

 

Berang-berang dari dasar lautan

menyumbul ke permukaan

kami terlonjak ketakutan

berlantun jauh – bimbang,

ajalkah yang tengah datang?

padahal dia bawa tarian ubur-ubur riang

dua pasang darwis bercinta dalam kecubungnya

lenguhnya sampai ke sini, kami mengira lenguh sapi

dari dalam kita suci – oh itu lagi

 

Tak ada yang berani

bunuh diri di atas kapal kami

-toh yang satu ini

hanya persoalan kami

manusia lata ini

 

Jembatan Ambruk

 

Jembatan ambruk

di bawahnya sungai

kuning tembikar

ke sudut matamu

menjela sampai

 

Rombongan sepeda

di atasnya jungkir-balik

antara tertawa dan menangis

kau kata, “habislah dia

habis!”

 

Sungai berbusa

pahit paya

kaki bakau

ke tepi pipimu

menjulur sampai

 

Puncak hidup

antara berhiba

dan gembira

kau kata, “derita,

hempas-

hempaslah kami!”

 

Jembatan ambruk

sisa perang panjang

ke dalam dirimu

runtuhnya sampai

 

 

 

Tini Menemui Ajal

 

Tini pulang

jam tiga petang

ketika pasar

sedang ramai

seperti bunyi

troli pada kapal

atau ban pecah

di pinggang pendakian

 

Dan sunyi tiba-tiba menyergap

tepat setelah ramai bersiderap

 

Rombongan kereta itu

yang lewat cepat di sampingnya

bagai lesat daun bawang

bergoyang hebat dalam angin lisut

dalam cuaca yang jadi

seputih suasa

tiba-tiba terjun

ke lembah tak bersaga

habis mati kalian

dalam gamang

tak berkesudahan

 

Langit jadi kedap

suaramu kini hanya

lirih terpantul

seperti Tuhan

yang bersiul-siul

dari jarak dekat

 

Tini pulang

kami menangis

entah girang: hore hore!

selamat berkabung

seluruh kampung

 

Rombongan kereta itu

pasar yang dilipat dan berkembang

terbayang bagai

perjalanan ke belakang

 

Lalu hari jadi terang

.

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang, Sumatera Barat.

Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 September 2013

 

 

Written by Puisi Kompas

September 19, 2013 at 4:21 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI WARIH WISATSANA

leave a comment »


Begitulah Setiap Malam

 

Begitulah setiap malam kami bertemu

meniru tetes air menembus dinding

membayangkan seekor anak burung

tidur semusim di liang batu

 

Bila kami jemu berbagi cerita

Ia membujukku mengenakan topeng ibumu

Berulang meyakinkanku

bahwa tubuhmu hanyalan pualam angan

genangan kenangan yang sekejap lenyap

sewaktu tangan menyentuhnya perlahan

 

Tubuh yang kelak jadi rabuk akar mati

biarlah kini menjelma sebatang pohon tua

di mana sepasang tupai melayang riang

tak peduli siapa pencipta patung di taman ini

tiruan dirimu yang ingin tersipu sepanjang hari

 

Bila aku berbaring murung di ranjang

dan enggan berbagi pandang

Seketika dirinya berpura gila

bagai seorang ayah yang gelisah

berdiri di ambang pintu hingga petang

menunggu di bungsu yang tak kunjung pulang

 

Atau jadi seorang kekasih putus asa

serupa tugu batu penyendiri

berdiri di simpang jalan

hingga lampu kamarmu padam

 

Lalu memekik dari lantai empat

mengejutkan orang-orang lewat

menduga dirinya akan nekat meloncat

 

Di waktu lain ia tercenung di kamar mandi

semalam membasuh wajah berkali-kali

merasa diri seekor ikan terbang terlupakan

mengigaukan nama-nama sungai dan lautan

 

Segera kurayu ia mengunjungi rumah piatu

seorang tua dengan langkah ragu tak sampai ke pintu

mengucapkan selamat datang seraya tertawa hampa

 

Kubisikkan padanya bahwa kelak begitulah nasib kita

ia hanya tersenyum seolah satu hal yang lumrah saja

 

Bila kami tak kunjung merasa bahagia

ia menari di depanku

menanggalkan satu persatu masa lalunya

sengaja menghalangi jalanku ke pintu

sambil berulang memecahkan piring

agar suara marahku tak terdengar nyaring

 

Begitulah setiap malam kami bertemu

berkali merayakan hari kelahiran

saling menyalakan lilin di depan cermin

mengecup kening dan meraba wajah masing-masing

yang entah kenapa selalu saja akhirnya serupa

 

2012

 

 

 

 

Umang-umang

Kepada Penyair Ketut Suwidja

 

Genaplah petang ini

Umang-umang yang sendiri

Berenang perlahan menuju tepi

Merelakan rumah raganya

Di kedalaman samudra

 

Begitulah kusaksikan semuanya dari kejauhan

Seorang pendeta mengayun genta

Penari membisikkan mantra

Tapi seperti biasa

Tak ada yang bisa menduga

Apakah pintu sorga seketika lalu terbuka

 

Mereka membiarkan petang puing

Melupakan sehelai rambut putihmu

Diterbangkan angin dihanyutkan malam

Di mana tak kutemukan lagi perahu ibu

Yang dulu melayarkan masa kecilmu

Mengarungi palung muasal segala tanya

Di sebalik ganggang dan bayang gelombang

 

Begitulah hari bermula atau berakhir tak terduga

Seperti sebutir pasir sesat tak sengaja

Ke rumah kerang atau teripang

Bertahun dalam linangan cahaya

Sebelum berkilau sempurna

Bebagai pualam rahasia hidup kita

 

Namun aku ini hanya orang biasa

Melihatmu dari kejauhan saja

 

2012

 

 

 

Ode Dini Hari

 

Seekor cicak mati sedini ini sendirian

Tubuhnya remang membayang

Menggenangi lantai dingin

Tersentuh pendar cahaya dari seberang

 

Tak ada sekedar sapa duka

Atau doa sederhana yang memberkatinya

Begitu saja hidupnya lintas percuma

Seakan terlupakan tanpa makna

 

Padahal bermalam sebelumnya

Suara riangnya melipur kita

Menggodamu dengan teka-teki nasib

Bahwa hari esok jauh lebih baik

 

Apakah bunyi hujan di luar itu

Adalah suara gaibnya

Atau lenguh dan keluh kita

Yang tak bersudah

 

Seekor cicak mati sedini ini

Harinya telah selesai

Tapi matanya masih saja terbuka

Walau hampa tanpa cahaya

Menatap ke arah gelap

Di mana senyap tak kunjung tersingkap

Sebagaimana hidup ini yang sekejap lenyap

 

2013

 

 

 

Upacara

Erawan

 

Berhutang pada siapakah hidup ini?

 

Di dekat rumahmu, sebelum gang buntu

atau sekelok sajak dari masa kanak

Seperti biasa dengan tekun dan sabar

Para penjaja itu mengacungkan patung budha

Tak peduli torehan kasar, pahatan tak selesai

memodai wajahnya yang hening ini

 

Melampaui siang hingga petang nanti

Mereka akan menghampiri siapapun

Mengulangi tawaran nasib baik yang sama

Sambil mengingat sebungkus nasi dan seteguk kopi

harga hari tak terganti sebelum mati melunasi janji

 

Selalu seperti biasa sang welas asih itu

masih terus memejamkan mata

Seakan tak tergoda nyanyian duniawi

Angan sorgawi diri kita yang tak ingin percuma

Tak kuasa menolak bujukan suka dan duka

Selubung bayang yang mengelabui pandang

 

Berhutang pada siapakah nasib baik ini?

 

Lihat gantungan kunci kayu itu

Tiruan lingga yoni yang sempurna

Menggoada mata kita hingga ke alam niskala

Merasa diri sudah sungguh wanaprasta

tapi nyatanya tak kunjung jadi pendeta

Padahal telah direntang garis dan warna

Telah dibentangkan segala aksara

Melampaui semua mantra serta seluruh rajahan rahasia

 

Berkali pula mengiring arakan lembu dan naga banda

Sepanjang doa dirundung kidung juga gamelan

Tikungan demi tikungan tak sampai tujuan

Jauh nian jalan pulang ke kawitan

 

Setiap waktu bertanya, kuyup hidup menemu jawab

Hutang piutang ini belum juga selesai terlunasi

 

2013

 

 

Warih Wisatsana tinggal di Denpasar, Bali.

Buku puisinya berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan (2003)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 SEPTEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

September 13, 2013 at 4:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI BERNARD BATUBARA

leave a comment »


Tempias

 

sebelumnya aku pernah mendamba rincikMu

kota-kota ini, tuan, adalah kota yang berasal dari senja

 

di dalam lembar-lembar kosong kitab suciMu

hangat, sebentar, melelehkan, dan melelahkan

 

tapi kematian terlahir sebagai harakat yang panjang

ia harus panjang pula diucapkan, ia telampau jauh

 

namun menyala

demikian dekat

demikian terang

 

kota-kota ini tumbuh dari kealpaan, aku adalah napasMu

napasMu telah larut dalam hampa udara dalam doa-doa

 

sebelumnya aku pernah begitu mendamba rincikMu

sebelum engkau menjelma tempias yang halus

 

namun amat basah

 

demikian lekat

demikian erat

 

2013

 

 

 

 

 

Kamar

 

kata-kata yang sudah tua

tinggal di dalam kamar

 

rindu menekuk lutut di sudut

luka bergelantungan di pintu

 

tidak ada lampu untuk masa lalu

atau cinta yang terbaring dan dendam

 

cuma kenangan tersangkut di sarang laba-laba

dan ingatan membungkus tubuhnya yang biru

 

tidak ada kita di atas kasur

atau sisa napas di pinggir bantal

 

cuma kepergian yang membekas di jendela

dan selembar tirai yang masih menunggu

 

2013

 

 

Bernard Batubara lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat.

Buku puisinya berjudul Angsa-Angsa Ketapang (2010).

Saat ini ia tinggal di Yogyakarta.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 SEPTEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

September 13, 2013 at 3:27 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TAUFIK IKRAM JAMIL

leave a comment »


penyair hang jebat

 

penyair hang jebat

membalut luka kata-kata

setelah kisah

adakah tikam yang salah

atau mungkin batu asah keliru

menerjemah tajam keris

sementara silat dan gelut

memaknai diri sebagai uji

bukan tari menjelang mati

gerak yang terpatri dari hati

 

 

 

pelabuhan mana

 

di pelabuhan yang keberapakah

akan kau tambat diri

pancang tahu pasti pada tali

sentap serta ikat yang menagih janji

antara sampai dan pergi

tak pernah berbagi lagi

dipahami hari dari hembus yang asli

seperti langit senantiasa hijau

menautkan mata sejauh pandang

 

 

 

 

 

 

percintaan hang tuah-tuh teja

 

kalian sampai ketika renyai

saat hari mengawal sunyi

hingga diam kalian semakin sejuk

dan kalian membiarkan semuanya

terkurung dalam isyarat

yang terbasa-basi pada malam

dikunci dalam bilik kata-kata

dengan mendustai makna

tanpa sekat setia

atau sekedar tenggat pura-pura

menyetujui setiap khianat

pada tuju yang berbeda

lalu menyatu pada yang tak suka

menghidu keinginan lain

dari sisa-sisa gelap

ditinggalkan dendam dan geram

 

tapi semuanya harus berakhir

sebelum subuh

 

 

 

depunta hyang sebelum berangkat

 

di bawah sinar setengah bulan yang menari

dengan tangan lentiknya memeluk jagat

di depan rakyat hambur menghampar

depunta hyang tegar berujar:

untuk delapan abad menjelang

yang tak panjang direntang

yang tak tanggung digulung

kalian menjadi saksi

betapa perjalanan suci ini

menjemput mimpi-mimpi

yang tak boleh kita abaikan sebagai janji

maka tak ada kesal tiada sebal

sebab telah kita sebar kisah dengan sadar

katangka dan minangatamwa bukan ditinggalkan

tetapi telah menjadi resam bagi setiap hala

memang tak mungkin patah di satu tapak

bahkan tidak pada jarak langkah

kembali ada harapan

diciptakan angan-angan yang kesepian

melayap dalam himpitan-himpitan ingatan

berbagi tempat dengan setiap sangkaan

 

perguruan nalanda kuharap serta

sebah kehendak ilmu sejauh tuju

sehingga ragu sekalipun

akan menjadi guru

berdepan dengan beragam laku

tak akan pernah sia-sia bersemuka kata

sampai tiada adalah satu-satunya cara

untuk menguji cinta pada yang ada

 

(Salah satu versi Depunta Hyang memindahkan Sriwijawa

dari Kampar, Riau, ke Palembang, Sumsel)

 

 

Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru, Riau. Buku

Puisinya antara lain tersebab aku melayu (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 SEPTEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

September 13, 2013 at 3:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: