Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

Posts Tagged ‘MUGYA SYAHREZA SANTOSA

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

with one comment

Hikayat Jamarun

 

(seribu burung akan mengepung langit yang tiba-tiba mendung

dan paruh mereka sibuk menyasar biji matamu)

 

angin tak pernah berubah menjadi sari padi

hingga terasa sengat ruap pandan wangi.

dan musim belum menampakkan panen cengkih

apalagi memanen kopi untuk ditumbuk dan dibagi.

 

jadi apalah arti serbuan aroma dari tubuh bangkainya

yang tak pernah terasa seharum ini,

selain dari tubuh para nabi dan mereka yang terkasih.

 

tetapi janji dengan telak ia tepati,

tak bisa mengelak apalagi meyakini

mereka yang bermata fana terbelalak

dan mereka yang bermulut dusta

sekedar bisa menganga.

 

coba kau cium lagi

dengan hidung belakamu,

dan sesaplah sepuasnya.

 

sungai bisu yang melarikan tubuh

prasangka yang menenggelamkannya.

oh gema rimba yang memantulkan

rasa laparnya,

enggan juga jarak memendek dalam jauh.

 

seharusnya mulut ikan yang tersesat di mata kail itu

bukan tuduh yang terhunus begitu ampuh,

sedang tak ia kenali bayang wajahnya sendiri.

 

“aku sebatas mencari alas untuk perih

lambungku, demi memerah waktu

sekadar memanjangkan usiaku.”

 

tapi tak ada yang percaya pada rasa lapar

sebab tubuh lunglai dalam pangkuannya

tak bisa membenarkan kesaksiannya.

 

setiap pandang yang menyapu wajahnya

terasa membasahi dengan dengki.

setiap kali jantungnya berdegup

para punggawa siap menyusupinya duri.

 

“bawa ia ke hadapan kanjeng dalem

biar neraka mudah diterima baginya!”

 

ia merasa langit sepenuhnya pongah

tegak dan tak bisa lagi ia menganggit doa

sepatah kata sekalipun.

 

pasir dan darah bercampur di mulutnya

hampir saja gigi dan lidah tak dirasai lagi.

 

gemetar tubuh berangsur menyergap

begitu saja,

saat punggawa dengan mudahnya

menggusur tubuhnya ke jalanan bersemak

tak bergalur.

 

tanah terasa mengambang dalam tatapannya

pohon-pohon goyah.

bumi kembali bukan pijakan ramah baginya.

 

depan singgasana yang bunga mawarnya

dari emas dan tembaga,

ia begitu percaya kanjeng dalem

akan mengenangkan padanya

bagaimana memperlakukan petani

seperti para pelayan

seorang dewi kelembutan.

 

tapi lelaki yang angkuh, sorotan mata merah

dan mulut menahan tetesan bisa

tak pernah menganggapnya berharga.

 

“ini kotaku tak bisa kau berbuat dosa

tanpa penghakimanku.”

 

kanjeng dalem dengan tubuh bersih

nan rupawan telah begitu menyilaukan matanya.

tak ada sebab mengapa tiba-tiba matanya begitu sembab

bukan kerena pukulan punggawa

melainkan kata yang bersarang jauh dari rasa iba.

 

ia terasa jalang jelata, mengapa kasih terasa melorot

dari genggam begitu mudahnya.

 

tak ada tanda-tanda bahwa

hari esok masih ia punya.

 

seluruh gempita tinggal gagap

terkulum di mulut seketika.

 

“bawa ia ke tiang gantungan!”

 

dosa apa yang mudah diterka

doa apa yang mudah musnahnya.

 

ia membayangkan alun-alun

yang dahulu mengajarinya menangkap capung.

menggambar punggung kupu-kupu

dengan lamunan tentang istri dan anak-anaknya.

 

oh pagar hidup dari salur sirih

serasa baru saja ia tumbus.

ia melihat anaknya berdiri

membawa kolocer di tangan.

ia melihat istrinya bersimpul senyum

merekatkan kasih merah delima di dada.

 

tapi mengapa semua bayang berubah hitam.

Orang-orang mengepungnya, melempar

kesumat yang tak pernah ia sulut sepercik pun.

 

angin enggan menyejukkan pucuk mimpinya.

dahan harap terasa gemertak terinjak-injak.

 

“bila aku tak pernah membunuh anak malang itu

kalian akan merasakan malam begitu cepat

dilepaskan.”

 

dan orang-orang masih terkesima

pada luruhan peluh dari tubuhnya.

saat tali dikalungkan ke lehernya

dan ia berdiri di atas sana sendiri

tanpa pengakuan dosa

yang pernah dimulainya.

 

“kalian akan merasa paling busuk

setelah rupa burukku menghalangi

matahati yang terlanjur dibenamkan nafsu.”

 

juga tak membuat orang-orang

menyisihkan lengan keangkuhannya.

hanya dada yang membusung

seperti busur memanahkan dendam

dan entah menyasar apa sebenarnya.

 

pada hentakan pertama pada lehernya,

ia menelan udara dari celah sempit dunia.

pada tarikan yang makin mencekiknya

ia menghisap aroma surga

tanpa kata-kata yang diumbarnya.

 

seribu burung menghalangi langitmu

dan udara yang membumbung dipenuhi aroma

pandan wangi, sesekali berganti terasa bubuk kopi.

selebihnya aroma berjatuhan.

 

warna malam tiba-tiba menyergap

dalam kepak gagak yang mengerubungi

mata dan lidah fitnah.

di tanah, di mana ia tergantung sepi

cahaya seakan miliknya seorang diri.

 

(2014)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Tinggal dan bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 FEBRUARI 2015

Written by puisi kompas

Februari 9, 2015 at 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »

Ngurek

 

tanpa sebatang gagang

aku masih bisa berkhidmat

di hadapan rahasia lubang.

 

menanti penuh kesabaran

di uluran benang yang bergetaran.

sepanjang mata kail menadah umpan

agar terjerat sang tubuh hitam panjang

si lihai berkelit, belut berlilitan.

 

semoga tangan peka

pada setiap geletar kiriman.

sebelum peluh menetes

berluruhan tak tertampung

ujung hari yang berkesudahan.

 

saling merenggut dan bersikukuh,

sang buruan tak mudah patah

di seberang kelam dan jauh

dari murahan pada rasa menyerah.

 

andaikan tanganku lengah

dan kehilangan arah,

ia pasti menemu celah

kabur dan tak sempat terangkum gugur.

 

tapi kecergasanku

membikin pasrah makin melemah.

setelah tercerabut ke akar pertahanannya

dua-tiga hantaman ke tanah

akan membuatnya jerih

sampai di puncak letih.

 

2013

 

 

Kolecer

 

aku akan kehabisan bumbu

bila harus menyulam bilik pondokmu

untuk menghadang angin barat itu.

 

aku pun akan kehilangan

pohon keramat kampungku,

hanya untuk membangun dinding kayu

pada kamarmu.

 

maka kuhadiahkan sebatang pancang

tubuh gombong bambu.

juga seraut kayu

yang memipih,

mengusik musim yang menepi kini.

 

kau boleh memilih jati, tisuk, bihbul

atau surilem sesukamu.

sebab sungguh luas hasratku

memanggulnya di atas punggung

Galunggung yang kian penuh-peluh.

 

mengaraknya ke pematang sawah

dan menancapkan tepat

ke kedalaman tanah.

tegaknya seperti isyarat pitarah

di mana selalu tertuju pada wibawa.

 

pusarnya yang mengunci

menjagai wajah angkasa yang perkasa.

ekornya melambai

membagikan wajah angin yang tergerai.

 

dan apabila terdengar dengungannya

burung-burung terusir sudah,

padi-padi tumbuh suburlah.

 

anak-anak menyukai suaranya

seperti mendapati teman sejawat

yang setia mengisi tabah

ke tiap rusuk dadanya

dan akan senantiasa terawat

di dalamnya.

 

suatu petang di bawah cahaya jingga

yang semakin mematang,

diriku menghadapinya,

terasa lebih menantangnya.

tapi langit juga terhisap

ke dalam pusarnya.

sehingga teramat gegabah

bilah wajah resah terus saja

kubiarkan tengadah.

 

2013
 

Mugya Syahreza Santosa lahir di 3 Mei 1987 di Ciajur, Jawa Barat. Kini ia tinggal dan bekerja di Bandung. Hikayat Pemanen Kentang (2011) adalah buku puisinya yang pertama.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 Maret 2014

Written by puisi kompas

Maret 5, 2014 at 6:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »

Jampi Menebar Ikan

 

jangan hendak kau ke hilir

bisa kail nanti menemu bibir.

jangan hendak kau ke hulu

bisa kilat menuju dahimu

 

2013

 

Jampi Menyergap Belut

 

pupuri tangan kawula Gusti,

getahnya tanah sawah

kukunya tajam runcing jerami

 

cengkeram terhindar lepas kabur.

genggam lekas menemu labur.

 

pipih di sela jemari,

letih di kepal ini.

 

2013

 

 

Jampi Dihadang Ular

 

dahan menghadang, ranting melintang

jangan menjegal jalan Nabi,

berpagutlah pada genggam-cakar diri.

dahan datang, ranting merintang,

tercerabutlah, patahlah!

jalan badak terseok karena kilat

jalanku tersuruk karenamu.

 

dingin sempurna,

di lekuk jalan setapak,

di tiap tanah berjejak.

 

enyah,

ampuhlah azimatku!

 

2013

 

 

Jampi Memandikan Domba

Sebelum Diadu

 

kumohon pada air basuhan ini,

selanggeng takbir menyimbahi rautmu.

tumbuh dari sejuknya, manjur ke ubunnya.

sari dari penciptanya,

sari jisimnya,

sampai sari sukmanya.

 

daging bagai ruap kembang

darah bagai rekahan mahkotanya.

urat dari sumsum ningrat,

sumsum terisi penuh air mawar.

 

serumpun kulit,

bambuku bergulung di tanah

satu alif luhur, kuncuplah!

 

2013

 

 

Jampi Ayam Adu

 

sehelai bulu gugur ke tanah,

ditempa cahaya jadi memerah.

jangan sungkan wibawa pitarah,

tersisihlah dendam juga amarah.

 

tajinya setikan belati,

paruhnya setangguh gergaji.

mengirap cakrawala,

mengerjap membuka laga.

 

kulit seliat getah,

darah sesubur tanah,

kuku sekukuh batuh.

 

kalaulah harus camping mahkotanya,

tumbuhlah pucuk mawar di esok harinya.

 

2013

 

 

Mugya Syahreza lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, Jawa Barat.

Buku puisinya bertajuk Hikayat Pemanen Kentang (2011).

Kini bekerja dan tinggal di Bandung, Jawa Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 JULI 2013

 

Written by puisi kompas

Juli 11, 2013 at 5:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

with one comment

Tulang-Belulang Sunyi

 

untuk sebaris puisi

aku kumpulkan lagi

tulang-belulang sunyi.

 

kata yang mengandung nyeri

yang dapat menghantar perih

ke dalam diri.

 

tanpa segan

di tiap lariknya kini

kuremukkan bayanganku sendiri.

 

(2013)

 

 

 

Rajah Lutung Kasarung

 

inilah rajah pembuka,

rajah yang menyingkap kabut

jalan cerita.

pengantar yang terdengar samar

dari juru pantun

pengisahnya, yang gemar

memohon maaf

pada gusti yang sudah

menjagai.

 

membumbunglah dupa ke panggung,

ke panggung menjadi selubung pelindung.

pada raja-raja pintakan suka,

serta pada sri rohaci harapkan suci.

 

aku akan berkidung,

menembang cerita pantun,

mengguar cerita wayang,

menamsilkan lenggam laku dahulu,

merunut perangai lama.

 

tujuh lorong berjajar,

yang kedelapan inilah

sedang kutempuh.

 

alih-alih salah mengecap-ucapkan,

alih-alih keluar garis alur,

lantaran jelas menyusur galur,

tergelar jalan tutur.

 

dari mana asal perjanjian

dari mana bakal cerita

mulailah dari kahyangan.

ditadahi cupumanik,

Cupumanik astagina,

digenggam sepenuh tangan,

ditutupi dengan cadar,

disimpankan di jalan besar,

dibuka oleh orang lalu-lalang,

yang tahu raut mukanya,

yang tahu pertimbangannya,

yang mahir dalam memerankannya,

ketika digelar nyaringlah bernyanyi semua,

meminta dituturkan hikayatnya.

 

maka:

simpankanlah ke rimbun kelam-malam,

simpankanlah ke rindang siang,

tempat mengambil sekaligus meninggalkannya.

 

(2013)

 

 

 

Mugya Syahreza Santosa lahir 3 Mei 1987 di Warungkondang,

Cianjur, Jawa Barat. Buku puisinya berjudul

Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini tinggal dan

bekerja di Bandung.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 14 APRIL 2013

 

 

 

 

Written by puisi kompas

April 15, 2013 at 3:24 pm

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »

Pemandian Badak Putih

 

Mereka datang tanpa tembang

hanya mengokan senapan

menakuti kami

demi pala, lada dan kopi

 

dengan tubuh jangkung

mereka merasa paling tinggi

membalas santun kami

dengan mendepak kepala berpeci ini.

 

dengan tubuhnya yang putih

dan seragam berdasi.

mereka menumbuhkan kumin

mengusapnya, seraya mendesiskan

bahwa kami tidak lebih berharga

dari pelor panas di atau darah di ujung belati.

katanya, hiduplah dengan berbakti

padanya, demi kehormatan melayani.

 

seperti badak dengan tubuh berpetak

mereka memamerkan diri

setiap hari, di bawah matahari

mandi dari sumur tempat moyang kami

minum dan belajar mengaji.

dan kami tinggal budak, kini

seorang tiri di rumahnya sendiri.

 

dinaungi pohon beringin

mata air itu terus tak pernah kering

bagai sudah terlampau nyeri juga perih

untuk berhenti mengaliri.

 

tubuh mereka yang semakin hari

memutih tersepuh serapah kami.

menggilap disembunyikan jas

dan menghirup cengkeh dari kebun kami.

 

dari jauh kami menatap-nanap

ke arah sumber pembikin pelangi

yang memancar dari lubang sumur itu.

 

tapi mereka dengan kuda-kuda besi

melintasi jalanan yang kami bangun sendiri.

angkuh, tak mau peduli

kalau kami nanti mati

karena haus dan terlindas

kaki-kai baja, tertabrak sengaja

oleh culas-culas mereka.

 

(2012)

 

 

Variasi Pupuh Balakbak

 

/a/

ada geletar sukma ditangan fana; asmara

santun digembalakan ke padang doa; aura

selalu, selalu sampai pada ruang tanpa sisa; niscaya

 

/b/

ada sunyi dijatuhkan dari langit; puisi

sesekali kuas nafsunya meningkahi; pelangi

katanya, katanya berisi ingatan tentang hujan; abadi

 

/c/

ada kamboja jatuh ke dada makan; ingatan

melepas ruap, meletup dari dosa; impian

perlahan, perlahan mencecar kesenyapan; kenangan

 

/d/

ada bara dilipatan ingatan; amarah

seperti dahaga tak sampai tandas; gairah

setia, setia menjaga sekam dalam kenangan; musibah

 

/e/

ada kepak kelelawar langit petang; sengsara

sayapnya runtuhkan pecahan duka; derita

seakan, seakan tak lagi bisa terbang bayang; petaka

(2012)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987.

Buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini ia

Tinggal dan bekerja di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 18 NOVEMBER 2012

Written by puisi kompas

November 19, 2012 at 3:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.132 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: