Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Februari 2019

Puisi Hasan Aspahani

leave a comment »


Beberapa Soal Ujian Nasional Mata Pelajaran Kesetiaan yang Diam-diam Kuikuti tanpa Sepengetahuan Engkau

: Sapardi Djoko Damono

 

1. Apakah ada alasan lain bagimu untuk senantiasa mendoakan kekasihmu selain karena engkau mencintainya meskipun ia bukan lagi kekasihmu?

a. Aku mendoakan dia karena dia adalah kelelawar yang berkembang biak dan hatiku adalah goa yang menikmati siksa dari jerit menjelang senja dan gema-gema yang mempertebal rasa sakit itu.

b. Aku mendoakan dia sebagai pohon nyiur di pantai yang condong tapi tak tumbang dan dia adalah ombak yang tak berhenti menghantam dan yang dulu mendamparkanku di pantai itu.

c. Aku mendoakan dia seperti penjual kue putu yang menyembunyikan piul kecil
di sepanjang gang dan berharap dia mendengar dan membayangkan harum pandan
dan manis gula jawa yang dulu sering kami nikmati bersama.

d. Aku mendoakan dia seperti rasa syukur ketika menerima gaji pertama dan cinta
adalah apa yang kusisihkan untuk anak-anak panti asuhan, mereka yang
mengajarkan padaku bagaimana cara menemukan banyak hal dari sebuah kehilangan. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 24, 2019 at 11:07 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Mashuri

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:06 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Irwan Segara

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:04 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Inggit Putria Marga

with one comment


Pengayuh Rakit

sebab segala yang mendatanginya selalu pergi setelah beberapa puluh hari sambil duduk mendekap lutut di tepian rakit, kepada air sungai yang penuh wajah matahari, pengayuh rakit meratapi perannya di kelahiran kali ini yang baginya, serupa sepetak tanah yang hanya layak ditanami sawi: tanah gembur dan berhumus di lapisan pertama, keras dan berbatu di lapis-lapis lainnya.

tak ada tanaman tahunan yang dapat subur di tanah seperti itu. mereka hidup tapi hidup seperti payung terkatup. pokok jati di belakang rumahnya semacam bukti: belasan tahun akar menjalar, tubuh hanya mampu setinggi lembu, daun kalah lebar dengan daun telinga anak gajah, lingkar batang lebih ramping daripada lingkar pinggang atlet renang. jati yang tumbuh terhambat kerap membuatnya ingat pada pohon cita-cita yang sejak kecil tertanam di ladang dada: batang kerdil, daun mungil, tiada buah meski sepentil.

sementara para sawi, di tanah itu, dengan panjang akar hanya beberapa senti mampu mencapai puncak hidup dalam puluhan hari. daun-daun muda tengadah seperti tangan berdoa. daun-daun tua rebah di tanah bagai petualang istirah. sayang, sebelum kembang-kembang sawi lahir, hubungan tanah dan tumbuhan berakhir. sawi dicerabut. tanah melompong ditertawai kabut. melompong serupa wajahnya saat segala yang mendatangi hanya singgah beberapa puluh hari, lalu pergi: hewan atau manusia, malaikat atau hantu, bahagia atau pilu.

alih-alih menjemput penumpang
di tepi sungai untuk diantar menyeberang
pengayuh rakit terus-menerus meratap
buaya menyembul dengan mulut mangap

2018 Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2019 at 2:03 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »


Seperti Pohon Tua

Seperti pohon tua, tinggi dan tua, kau diam dalam sunyi, sendiri menunduk ke bumi, seperti nabi, atau sufi, atau orang-orang suci.

Seperti pohon tua, kau melahirkan petapa, melahirkan Budhha burung-burung yang merdeka, juga semut yang tak lelah bekerja.

Seperti pohon tua, akarmu menacap ke bumi, daun-daunmu merambah langit, jin-jin memelukmu bagai jelmaan kekasih gaib.

Seperti pohon tua, kepadamu Tuhan menitipkan tiga rupa  lah kekasih sejatimu yang kau cintai selapang berkah, setulus doa-doa.

Seperti pohon tua, kau karib dengan udara, oksigen, serta karbon dioksida di mana cintamu yang lembut terpaut di tiap-tiap denyut.

(2019) Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 9, 2019 at 11:18 pm

Ditulis dalam Puisi

Puisi Deddy Arsya

leave a comment »


Lengkung Teluk Painan

Ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu Bugis ke pulau terdekat. Matahari hanya sebesar telur penyu. Kau bercerita tentang nenek moyangmu, pasir-pasir melonjak dalam matamu. Seperti hantu dari masa lalu, kelepak terompah kuda, bendi yang dipacu terpaksa, dan erang sapi-sapi di padang-padang terbuka. Kita pernah bercita-cita membangun rumah dari semuanya. Aku pernah memberimu gelang dari pelepah pinang. Kita pernah berjanji untuk tak saling meninggalkan. Kita akan seperti sepasang burung, merajut sarang di satu dahan. Elang nasib berkitar-kitar di atas kepala. Tapi lengkung teluk ini – biduk-biduk nelayan, dan kota kecil bau ikan, pelabuhan kapal agak ke selatan, pekan tripang, lokan, dan umang-umang, derak pedati yang sesak muatan. Lenguh kerbau di tanjakan – telah mengajarkan kita untuk saling melupakan.

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 2, 2019 at 1:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Wayan Jengki Sunarta

leave a comment »


Kampung Kongsi

di belakang Rex Bioscoop
di pusat Kota Sabang
sehampar kampung kumuh
merayakan hidupnya

kuli pelabuhan dari berbagai penjuru
mengadu peruntungan di situ
merajut harapan menebar jala

jalan sempit dan rusak
lorong-lorong usang
menjadi napas sesak
memberkati kampung

angin garam mengibarkan pakaian
bergelantungan di loteng-loteng papan
lelaki tua bermain catur di beranda
perempuan menjemur ikan asin

Kampung Kongsi seperti petak catur
prajurit dan raja seolah tampak sama
mengarungi hidup yang tak terduga

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 2, 2019 at 1:11 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: