Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI M AAN MANSYUR

leave a comment »

Siput atau Bayi atau Aku yang Tidur

 

Satu-satunya rumah yang tersisa adalah tidurku. Di luar itu,

badai – dan bayangan-bayangan yang mengejar diri sendiri.

Aku tidak lagi menunggu. Jendela telah kehilangan cahaya.

Langit-langit dan atap dan langit dipenuhi perjalanan dan

ketakutan dan bandara.

 

Kuinginkan ini: selimut warisan ibuku adalah cangkang

dan aku melunak jadi bayi. Sudah lama aku jatuh cinta

pada hal-hal yang bisa mengajariku mengerti dan berhenti.

Telingaku tersumbat dan lamat-lamat cuma kudengar

kalimat selamat tidur dari dalam diriku yang baru kembali.

 

Aku siput dan aku bayi dan aku diselaputi tidur yang

damai. Kumakan mimpi-mimpiku: kita ada perih lain yang

kita kira masa depan dan semua yang cuma andai.

 

Kubiarkan semua bayangan di luar rumahku berlari dan

jatuh menabrak diri sendiri. Ikutlah berlari jika kau tak

ingin ke mana-mana lagi. Di dalam cangkang ini, aku riang

bermain. Alamat-alamat yang tidak pernah kudatangi,

pulau-pulau yang pernah menjauh, pulang satu demi satu

menempatiku.

 

Kelak ketika bayangan-bayangan itu, dan kau, menyerah

atau mengalah atau gagal mengalahkan diri sendiri, aku

bangkit. Mataku adalah pintu. Bahkan batu-batu akan

memasukiku sebagai bunga atau matahari terbit.

 

Barmain Petak Umpet

 

Kututup mata di depan, atau barangkali di belakang, pohon

mangga dan menghitung satu dua tiga empat lambat hingga

sepuluh. Kubiarkan kau berlari, menemukan jarak dan

tempat sembunyi. Kutahu, di suatu tempat, kau cemas

menunggu.

 

Rasanya baru dua tiga bulan, bukan sepuluh, anak-anak

belum sempat menggalkan diri dari kita. Tapi, di antara

pohon mangga tempatku terpejam menghitung dan sunyi

tempatmu bersembunyi, telah dibentangkan jalanan. Di

dadanya, orang-orang asing dan mesin-mesin lalu-lalang

lebih cepat dari waktu, saling kejar mencari dan mencari

dan mencari dan mencair jadi apa dan kenapa dan kapan.

Kau, meski tak lagi bersembunyi, tidak juga kutemukan.

 

Barangkali kau suntuk menunggu, dan aku mulai cemas

kehabisan lagu yang untuk kunyanyikan.

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa di Makassar,

Sulawesi Selatan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku

Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan

Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Februari 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 17, 2014 pada 10:17 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: