Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Juni 2014

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Mengunjungi Museum

 

1.

Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.

Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung

belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu

membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri

di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta

benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai

atau hantu.

 

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya

masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian

perempuan itu masih kuda muda liar dan

senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika

kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi

kalender atau jam dinding yang ketagihan

mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 21, 2014 at 3:00 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZELFENI WIMRA

with 6 comments


ode liris inyiak guru

 

jalan ini tak lagi sunyi, nyiak

langkah kami kadang mirip derap duka perang yang berlari kencang

tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri

meredam ringkihnya sendiri

 

melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo

menggenggam gigil di ujung jarinya

denyut yang canggung

kitab-kitab kuning telah memutih

gema suara debat mengabu di rusuk surau

tahlil dan kunut ditabukan

segalanya bertaburan jadi bid’ah

memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak

dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang

menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 at 8:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 at 7:59 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AJI RAMADHAN

with one comment


Monogram Dua Huruf

 

Meski kau menuduhku sebagai penyamun, tetap

aku berpaling darimu. Dan meski tujuan kita sama,

aku mencoba pikiran kita bertolak belakang.

 

Aku ingat, kau tiba-tiba bertanya padaku:

“Jalan apa yang kau loncati. Bagaimana. Dan

Apakah kau tak terjebak untuk mabuk? Kenapa?”

 

Barangkali kau keliru merabai aku, jika aku ternyata

dapat menjadi si buas yang sopan ketika mendung

belum tercatat sebagai perih. Mungkin kau hanya

 

membaca di sisi luarku, lalu menduga bahwa aku

adalah si kecil yang berlindung di batu gelap sembari

berdoa dijauhi hari sial. Memang tak salah ketika Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juni 4, 2014 at 8:20 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: