Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Hasan Aspahani

PUISI HASAN ASPAHANI

with 4 comments

Written by Puisi Kompas

Oktober 14, 2014 at 10:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HASAN ASPAHANI

with one comment


Aku Sudah Tidak Lagi Bertanya

 

AKU sudah tak lagi bertanya, lewat dari tapal berapa

kapas kata dari ikatan pantun, tualang menjadi tapa,

 

Aku pejalan rambang, menggadang karena rumah radang,

Aku sudah tak lagi bertanya, berapa bayang tumbang.

 

 

Pengumuman Orang Hilang

 

RADIO itu kepalaku sendiri. Yang akhirnya berhenti pada satu

frekuensi, yang terus-menerus memutar ulang hal sama: pengantar

akhir siaran.

 

Aku seperti memutar kenop frekuensi radio, mencari entah siaran

apa yang sedang ingin kudengar. Mungkin pengumuman seseorang

yang hilang.

 

 

Raung Kaca, Ruang Baca

 

NANTI aku ke sana sebagai pemelesir, terusir.

 

Mencari buku yang hilang, atau yang belum ada.

Itu sebab aku mampu sepura hati, berpura-pura.

 

Itu seperti danau, berparas kaca, bayangku

meraung di sana, aku yang hanya sanggup gugup,

tentu tak mendengarnya: mencemaskan pangkalan

ditelan pisang, tak bisa berhenti, pusang hati.

 

Nanti aku ke sana sebagai pemburu, dengan pemuras,

senantiasa menodong ke arah kiri, ke dada sendiri.

 

 

Pengakuan Seorang Mantan Pencuri

 

RUMAHKU adalah rumah-Mu. Rumah-Mu adalah rumahku. Sekarang

kalau aku hendak masuk, aku tak perlu lagi membongkar jendela-Mu.

 

Tapi, tadi malam aku mencoba mencuri lagi di rumahku sendiri. Diam-diam

Menyelinap ke dalam hati-Mu, dan berharap Kau memergoki aku.

 

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur,

Dan kini bermukin di Batam. Buku puisinya yang terbaru

Adalah Mahna Hauri/A Fairy’s Veil (2012)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 MEI 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 13, 2013 at 7:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi HASAN ASPAHANI

leave a comment »


Di Depan Teater Chaplin

 

ADA berapa teater untukmu di kota ini, Chaplin?

 

Aku seperti pengembara, dengan sedikit waktu malam,

dan ingin masuk, mungkin untuk sebuah peran  sebagai

kucing jenaka, bernyanyi untuk Cinderella yang lupa.

 

Kalau kita bertemu, malam itu, aku sudah berlatih

untuk bercakan-cakap seperti adegan dalam film bisu.

Dengan begitu, kita tak perlu saling menerjemahkan.

*

Beberapa kali, Chaplin, seseorang harus menjadi yatim?

 

Teater, mungkin sejenis rumah penampungan juga,

untuk keinginan-keinginan yang tak punya tempat.

 

Ini bukan lagak, bukan soal kepandaian berpura-pura

 

Panggung, mungkin sejenis tempat pindah dan singgah,

dari satu lakon ke lain lakon, dalam takdir yang kekal,

apapun peranmu, loper surat kabar dalam kisah

detektif, menemukan berita yang tak ada, atau badut

malang pada sebuah sirkus: terusir dan teringkus!

*
Berapa lama aku harus berdiri dan bertepuk padamu?

 

Tak ada makammu, di sini, Chaplin. Aku ziarahi saja

Keinginanku yang tak mati dan belum ingin aku kubur,

dalam senyap hati setenteam udara Danau Jenewa,

toh tidak akan ada yang akan ingin mencurinya.

 

Dan kau tetap hidup di kota ini, dalam cahaya proyektor

yang berisik, dan kami masih akan tertawa, bagi pejalan

dengan sepatu bertelapak besar, celana gembung, dan

jas sesak, serta topi yang melindungimu dari salah-duga,

bahwa engkau tak pernah bisa sekadar berbahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Sebuah Restoran di Pinggiran Kota Koln

 

YANG jauh pada jarak dan langkah telah didekatkan

oleh lapar. Tapi lidah yang penuh jejak rempah, tak

mengatakan apa-apa pada kentang, dan ikan berserat

merah. Aku bercakap-cakap saja, dari bangku restoran ini,

dengan bocah memancing, dan anjing yang bosan, pada

lukisan Norman Rockwell, dalam sebuah reklame lama,

minuman bersoda.

 

Yang dingin pada musim dan malam, telah

dihangatkan oleh teh Britania. Dan gol yang dirayakan, tak

peduli ke gawang mana dalam siaran langsung sepakbola,

entah dari liga apa. Selalu tampak berat hati, ketika

mereka harus bubar, dari barisan kursi di depan bar, dari

barista yang sabar, dan dapur, dengan perabot tua, radio

Grudig yang tak lagi menangkap gelombang suara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Angsa di Kanal Amsterdam

 

KAMI tak akan ad di kartu-kartu pos yang

Dipajang di toko sovenir di Amsterdam. Seperti merpati,

dan jalak, juga camar di atas papan nama dermaga. Kami

tak pernah punya masalah dengan kota ini. Kota yang tak

pernah ingin sempurna ini. Kami hanya ikut bertahan dan

menjadi apa adanya. Dan itu memang bukan segalanya.

 

Amsterdam, adalah liuk suara saksopon pada sebuah

komposisi jazz yang lekas. Kami adalah nada kosong

ketika kota kehabisan napas. Amsterdam adalah lalu-

lalang sepeda, dan padanya kau belajar tentang ketekunan

menerbitkan harapan. Nanti kau akan putuskan kau telah

lulus sebagai apa., di sebuah museum tak berpenjaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Misalnya Aku Membaca Namamu

pada Grafiti di Lorong-lorong

Stadion Itu.

 

:dd

 

AKU membayangkan, akulah remanaj dengan

menutup wajah, tandel penuh kaleng cet, bersekutu dengan

malam,  dan sedikit keberanian. Sepi seperti gemuruh

penonton, pada pertandingan final antara dua klub satu

kota. Aku berkeringat pada subuh yang dekat. Melukiskan

rindu dengan cepat, dan lekas. Lebih dari sebuah gol

penentu kemenangan, ketika terakhir kali, kuterakan huruf

terakhir namamu. Lalu aku lari, selekas aku menyelinap

tadi, sambil membayangkan engkau membaca namamu

pada grafiti yang diam –diam kuterakan pada lorong-lorng

di stadion itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poster Pertunjukan Dario Fo

di Sebuah Jalan di Milan

 

MILAN, benarkan manusia tak dilahirkan untuk

berbahagia? Di jalanmu, Milan, ada sebuah cafe, dengan

remang lampu, mesin judi, televisi, dan kursi-kursi kayu

sewarna pekat buih cappucino. Aku kira harimu tak

pernah sempurna, Milan, meskipun dari kecemasan orang

aeasing aku padamu.

 

Milan, ingatkah engkau pada seorang dari Sangiano?

Belajar ilmu bangun ruang dan tampaknya dia tak

berbahagia? Aku tak tahu, dimana persisnya teater itu,

milan, dan naskah lakon apa yang kini sedang dimainkan,

dan siapa yang sedang memerankan apa.  Aku sedang merasa

angat asing dengan siapa yang sedang  kuperankan,

Milan. Aku mungkin perlu poster, seperti Dario Fo yang

Kulihat, sekilas di jalan-jalanmu, Milan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas Napak Tilas, pada

Cappuccino Segelas

 

SEKELAM engkau, warna jubah para rahib,

Selembut doa-doa pada pagi yang rutin.

 

Seakan menawar pada lidah lelaki Turki,

Tertuang pada madu dan hangat susu.

 

Seramah barisata, dia lelaki muda Italia,

Sekarib jarak dari kisah gembala Afrika.

 

Sesia-sia rapat para penguasa fasis

mengabaikan kecup suhu dan sentuh busamu.

 

Sehangat semi musim udaramu, Milan

Seteguh gagang pada gelas tembikar.

 

Sesementara gambar di rapuh limpah buih,

sekelebat kibas duyung berekor kembar.

 

Seingkar harum kopi pada sarapan pagi,

Seakrab bunyi mesin espresso sepenuh hari.

 

Seberani engkau di gerai gula bersoda,

sesetia engkau di kafe, kebab, dan pizzaria.

 

Sekecewa aku yang mengecewakanmu

Lidah siap saji, ayam jantan tak tumbuh taji.

 

Seperti telah kuselesaikan saat-saat sesat,

dosa itu tetap dekat, tapi tak lagi memikat.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 2 SEPTEMBER 2012

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Ka-

limantan Timur, dan kini bermukin di Batam.

Buku puisinya yang terbaru adalah Mahna

Hauri (2012)

 

 

Written by Puisi Kompas

September 4, 2012 at 4:59 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HASAN ASPAHANI

with 3 comments


Ia Menulis di Linimasa

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telah

memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa.

 

Lupa, adalah gudang tanpa pintu, dan di situ,

sejumlah peristiwa terperangkap, berhenti,

bersama beberapa nama, dan segenap perannya.

 

Di gudang itu, tak apa-apa, bila sesekali ia kembali,

misalnya ketika ia perlu satu alasan sangat sepele

mengenang apa saja yang tak memaksa dikenang.

 

Itu bisa ada pada sepotong foto yang terlipat, lengket

Atau bisa pada jam bekas, berhenti berdetak pada 3.50!

 

Atau pada tumpukan acak majalah berita mingguan

yang sebagaian besar halamannya tak sempat dibaca.

*

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian

ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap

memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat.

Itu sebabnya ia masih menulis puisi: yang dengan

caranya ajaib, pada bait-bait selentur kantung karet,

 

memberi tempat pada segala yang hendak dilupa,

dan segala yang menerus-terus hendak diingat.

 

 

Yang Sembunyi di Dalam Mataku

Yang sembunyi di dalam mataku

Menatap pada tebing punggungmu

 

Karena ia terbuka, maka aku mengira

kau tantang aku berani menebaknya

 

Yang mengarang di tungku diriku

Mengapi tersebab tebas betismu

 

Karena langkahmu semakin tajam

Aku menjelaga, lekat ke silam sepi

 

Yang memelangi di dinding langitku

Cahaya ragu dari kembang gaunmu

 

Karena aku hidup yang tak bermusim

Aku tinggal ladang tak bertanaman

 

 

Aku Tak Akan Menyalahkannya

CINTAKU adalah rasa asin pada lautmu. Matahari mengira ia bisa

menguapkan aku dari engkau, mengawankanku dari langit yang asing.

 

Ia keliru, tapi biar saja, aku tak mau menyalahkannya.

Cintaku adalah hara menyebati di tanah kebunmu. Matahari mengira

 

hanya ia yang menumbuhkan engkau dan memekarkan bunga

bungamu. Ia salah, tapi bisa saja, aku tak akan menyalahkannya.

 

 

Romantisme Badut

APAKAH tangis? Tangis adalah tawa yang jujur. Dan tawa? Tawa adalah tangis yang

berpura-pura. Aku tahu sebab aku badut yang kau larang melucu.

 

Padahal sejak dahulu, aku hanya ingin menjadi badut bagimu, menjadi diri yang janggal, dan

kau tak lagi perlu payah mengerti aku, lau kau tertawa saja dan padamu semua sesal selesai.

*

HIDUP bukan cuma bagi singgah iseng di tenda sirkus. Kau menolak ajakanku, lalu

pergi sendiri, membelu ketegangan dari tubuh-tubuh yang terampil mempermainkan bahaya.

 

Lalu muncullah aku dengan topi yang tak muat, dan hidung merah tomat, di sela-sela tepuk

tanganmu, melemparkan bola-bola yang tak cukup di dua tangan, lalu kau tertawa dan

padaku segala kesal dimulai.

 

 

Ulat yang Rakus dan Embun yang Santun

AKU daun dan kau ulat yang rakus. Aku sudah tak ada, ketika kau

menjelma menjadi kupu-kupu, mengembangkan warna sayapmu.

 

Aku malah dan kau embun yang santun. Aku sudah tak ada ketika di

ujung daun, pagi dan matahari mencemerlangkanmu.

 

 

Gambar untuk Sebuah Petang

KITA memang tak pernah benar-benar siap,

Waktu, dengan tangannya, kita terperangkap.

Kita murid di kelas tujuh, dengan pelajaran

terlambat, atau belum saatnya diberikan.

 

Ada selembar fotografi, gugus geometri, yang

kau curi, dari perempuan lain yang mengelincir,

pada mimpi warna tua, yang miring-licin.

 

Tubuhmu, harus kumengerti sebagai rumus

sudut-sudut siku. Rumit, dengan angka-angka

berbaris lama, panjang di belakang nol & koma.

 

 

Tentang Ular yang Berdiam di Dalam Apel

ADA seekor ular berdiam dalam tiap

buah apel yang dulu kita yang menanam.

Ini sudah musim panen, di kebun liar

kita. Kita masygul, kenapa semakin lebat

kecemasan?

 

Kita tak berani memetik.

Juga tak berani memungut yang jatuh.

karena tak ada lagi, di tangan, tempat

untuk sakit yang lain. Jejak sepasang

taring jadi luka-luka. Tak akan kering.

 

Hati akan jadi keranjang kosong

yang kita seret pulang. Kita sepasang

petani, berselisih jalan di jalan ke rumah

yang berbeda alamat dan arah.

 

Kita tak berani pergi lebih jauh lagi.

 

 

Mengatakan Aku, Mengakukan Kata

Hanya kata. Tapi awal jadi dari segalanya

Hati kubuka dengan kata. Hati bersembunyi dalam kata

 

*

Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata

Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata

 

 

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur,

dan kini bermukin di Batam. Buku puisinya antara lain

Telimpuh (2009) dan Luka Mata (2010)

Written by Puisi Kompas

April 30, 2012 at 10:53 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: