Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘RAMOUN APTA

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 at 7:59 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »


Ular Dalam Gelas

 

Aku ingin menjadi ular dalam gelasmu, Sessaria.

meliuk-liuk, melingkari pinggulmu dengan kelembaban.

sebagaimana kebetahan akar menjaga kerapuhan dahan.

 

sebagaimana Ariphron yang malu-malu mengupas kulit batu,

di gelas itu, aku ingin membelit dan mabuk menikmati anggurmu.

anggur Hygeia, anggur yang membutakan mata Hippocrates

setiap kali menghimnekan tetesan itu.

 

dalam setiap pergantian cuaca, terberkatilah kau sebagai

tuah bagi influenzaku, Sessaria. sebab di setiap tetesan

yang jatuh di gelas itu, ada lidahku, dan nafasmu yang tak

henti-henti mengurai segala sakit di sekujur demamku.

 

 

 

Beri Aku Rahimmu

 

beri aku rahim yang kesemutan itu, Sessaria.

meskipun palsu, aku inginkan reinkarnasi di sana sebagai

jiwa suci yang hanya mengena cintamu.

 

hanya cintamu, dan cukup. beri aku rahim itu,

Sessaria. meski di kemudian

kelahiran bermaksud

menggugurkan aku.

 

 

 

Gugur Bunga

            buat Romi Zarman

 

di muka pintu

ia duduk

memandang bunga

berguguran di halaman

 

ia bayangkan

angin dari timur berhembus

guguran kelopak itu

bertebaran

 

bergulir-gulir

bagai matahari pagi

dalam kemarau

menuju barat

tertahan pada tembok

gang jalan di luar rumah

 

jatuh ke selokan

dihanyut air

menuju kulah hitam

di ujung pertemuan

 

ia bayangkan

kelopak bunga itu

hilang merahnya

 

hancur

bercampur batang sisa sayur

membaur sampah

meluluk comberan

menghumus eceng gondok

dan gulma.

 

di muka pintu

ia duduk

memandang si tangkai

sepi di halaman

 

ia bayangkan

kedatangan tiba-tiba

angin dari barat mengembalikan

hakikat kelopak bunga itu

 

sebagaimana membelokkan

jalan waktu.

seketika terkenang burung-burung

terbang keluar hutan terbakar

ia berdiri

 

kelopak murung bunga itu

ia tankap

ia sisihkan dari dedebu

dari sisa cinta si tangkai.

 

ia bayangkan

kelopak bunga itu

adalah nasibnya.

 

 

Ramoun Apta lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo,

Jambi, 26 Oktober 1991. Mahasiswa Sastra Indonesia

Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor

Penulisan Kreatif) Sajak Sore.

 

KOMPAS, MINGGU, 4 NOVEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

November 8, 2012 at 4:16 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »


Kangkung Selokan

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, lelaki yang tumbuh keliru

di sepanjang lekuk dan ceruk, dan di sepanjang comberanmu.

kolam dan ladang dalam riwayat para leluhur, hanyalah

dongeng di sepanjang malam kosong,

tak menumbuhkan mimpi, tak berbuah impian.

 

kami tercampak di bandar-bandar, serupa kaleng sarden

bekas makan siang, kemudian tumbuh, menjadi sampah,

memuakkan setiap mata bila terkenang sarapan kemarin pagi.

 

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, serupa tomat

yang tercampak ke dalam sampah. kuali dan kelaci,

serta mangkuk dan piring bagi nasib kami, hanyalah

sepenggal takdir yang tertidur – takdir yang mendepak kami

keluar dari mimpi sendiri.

 

Padang, 2011

 

 

Energi Mencipta Puisi

mencipta puisi

tak semudah membalikkan cangkang

kura-kura yang melangkah tertatih

menuju sungai

 

mencipta puisi

seperti menjangkau buah di ujung ranting

tak pandai mengira kerapuhan dahan

alamat badan akan jatuh

dan puisi menjadi luruh

 

meski kau mampu menghadirkan kata-kata

dan mendakwa kata-kata itu adalah puisi

 

tetap saja kau hanya berhasil mencipta

kura-kura yang tersandung

dan aliran sungai yang tak berhasil

menemu muara

 

sementara buah masih riang terjuntai

semisal gerak daun basah

di rantingnya

dahan lebih dulu menjatuhkan engkau

 

Padang, 2012

 

 

Pulanglah, meski Sekedar sebagai Bayangan

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan

orang-orang di beranda menanti engkau datang

meski hujan lupa meninggalkan bercak di permukaan

 

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan

orang-orang di halaman menunggu engkau pulang

meski di bekas hujan jejakmu menghilang

Padang, 2012

 

RAMOUN APTA lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991.

Ia bergiat di Labor Penulisan Kreatif Sajak Sore dan bekerja di Forum Penulis Seni, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 10 JUNI 2012

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2012 at 2:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: