Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Riki Dhamparan Putra

PUISI RIKI DHAMPARAN PUTRA

with 2 comments


Meminang Pamakayo

 

Tukang kebunkah

Atau hanya burung kehi yang bisa menyeru hujan

agar turun ke Pamakayo

Aku akan mendaki

Agar kutemukan untukmu pematang-pematang batu penuh ilalang

bukit jurang,

beras padi merah,

sulur-sulur jewawut mengejang

di lereng-lereng beralas karang rengkah

 

Tak ada perigi di sana

Tapi aku mendengar suara orang menimba

Aku melihat tujuh ekor merpati datang dari pusar cakrawala

Lalu mengambil air yang tersembunyi di kebun seorang nenek raksasa

 

Kata orang

Salah satu dari merpati itu tak dapat lagi kembali

Isi kendinya tumpah dan menimbulkan bah di bumi

Memisahkan daratan menjadi pulau-pulau yang dikelilingi teluk-teluk sunyi

 

Kata orang juga

Ia dinikahkan dengan seorang manusia

Sebagai hukuman bagi penghuni langit tang telah mencuri air

dari kaki gunung-gunung di Solor Wetan Lema

 

Sejak itu

Antara langit dan bumi ada sebuah jembatan bianglala

Berasal dari tangis si merpati yang merindukan negeri asalnya di surga

 

Aku mendaki

Aku singgahi engkau pada pondok-pondok kayu yang ditinggalkan

aroma moke,

darah hewan persembahan,

batu-batu suku mengerang dalam rentak tarian

 

Bila lelah

Aku akan istirahat di bawah dahan pohon randu yang patah

Agar kudengar apakah

Tunasnya sudah tumbuh untuk memberi kabar baik

Waktu pesta di akhir musim peceklik

 

Agar kucukupkan untukmu cerita

Di dalamnya aku menitipkan sehelai kawate yang lusuh dan pudar

Sajak-sajak ringan yang kutulis

ketika kapal-kapal bertolak mengulak ombak

di bandar-bandar

 

Hanya itulah balaku

Hanya itulah ketipaku

Aku tak dapat mengisi bewaya selain sirih pinang

Bahkan sedahnya yang pahit telah tercampur garam

 

Maka siapakah yang begitu tulus menyeru hujan

agar turun ke Pamayako

Aku mendaki

Aku temui engkau pada surga pohon bidara

Tempat damai bagi bocah-bocah yang memburunya

dengan gembira

 

Juni 2013

 

 

Aroma Dendeng Kotoklema di Rantang Opu Sidiq

 

Ampunilah aroma belalang di rantang Opu Sidiq

Sebab ia mengandung candu laki-laki

darah laut yang panas

jantung matahari

mata lamafa yang awas membunuh buih

hingga ke batas yang paling jauh

 

Ampunilah bukit-bukit yang melepuh

gurun-gurun bugil

jalan kampung yang rusak

arwah-arwah yang memberkahi persabungan

dengan ludah sirih dan tuak kecut

 

Dan di atas semua itu ampunilah garam

Ampunilah buah asam

Ampunilah golok yang mencincang daging di tatakan kayu

Tangan yang melumat bumbu dengan sebuah penggiling batu

 

Ampunilah menu makan siang kami yang sederhana

Dendeng paus musim lefa

 

Juli 2013

 

 

Petilasan Seekor Monyet

 

Monyet besar ini tak seperti monyet lagi

Tangan siapakah yang mengikatnya dengan kain

dan selempang

Mengajarnya bersuci

Lalu mengirimnya ke gua-gua petilasan

 

Ia masih tampak jenaka saat

kutemukan terbungkus pada selembar sampul kulit yang dekil

Bulu tubuhnya belum dicukur

Dan gelungnya masih utuh memendam seluruh rahasia waktu

Namun kenapa ada bau sabun pada jejaknya

Apakah ia sedang mandi

Atau hanya bermain-main dengan riak segara

Lalu keluar dengan terburu-buru

Keluar seperti bocah yang berlari pulang tanpa mengenakan baju

 

Ia tak seperti monyet lagi

Walau kadang-kadang enggan menampakkan muka

Tapi ia tak pernah benar menjauh dari sesiapa yang mencari

Kadang-kadang dikejarnya mereka dengan sepucuk kudapan segar

Dari daun-daun yang tak akan busuk dan tua

Dari taman rambat dan perdu gurun yang membesarkan ternak

dengan peluh dan tapa pengembala

 

Beruntunglah gunung-gunung yang ia agungkan dengan

sujud

ia selimuti dengan kabut dan rasa takut

Juga perahu-perahu nelayan di samudra

Beruntunglah mereka

Karena dilanun angin lengang

Angin yang menghalau buih pulang ke asal gelombang

 

Tapi monyet besar ini

Apakah yang aku tahu tentang kisahnya

Bukankah ia hanya cerita pengantar tidur

Hanya kadang-kadang kami bertemu di bilik

kontrakanku yang sedih

di pinggir tol menuju pusat kota

di mana monyet-monyet tumbuh dan bertempur

untuk menjadi cerita sehari-hari yang tak bermakna

 

Ia tak mengatakan apa-apa

Aku tak mengatakan apa-apa

 

Jakarta, 2013

 

 

Tugu-tugu Kota Bau-Bau

 

Nanas palsu. Kota Bau-Bau menjelang pilkada

Kalau bersisik katakan ikan, berpayung katakan raja

Jangan kau bungkus dengan umpama

Sebab kalau kau sobek tapi tak menitik darah

Atau bila tampukmu patah tapi tak menitik getah

Siapa yang menanggung rahasianya

Tugu berlumut

Ataukah muka yang masam?

 

Aku juga heran kenapa pintu bandar

harus dijaga seekor naga

mengapa bukan ubur-ubur

Mengapa tidak membuat bantal untuk mengapung

di atas ombak yang tak pernah tidur

 

Mimpi pulang ke negeri asal

Melabuh pada terowongan-terowongan runtuh

berisi manyat aspal

penakar logam

kepingan gerabah

lembaran uang kain terselip di antara tumpukan silsilah

di loteng rumah

 

Silsilah palsu. Di dalamnya hanya ada satu singgasana kosong

Itu pun sebuah tiruan

Agar sesiapa yang duduk di atasnya

Tidak mangkir dari perjanjian yang disurat pada tulang manusia

Disahkan dengan sebuah cap biru dari kapal karam

yang diselamatkan dari perairan Kabaena

 

Bukan cap yang mengada-ada

Seratus tahun setelah tembok keraton dibangun

La Karambau yang gagah berusaha merebutnya

Tapi ia terusir

Pengikutnya diburu

Satu-satunya yang selamat hanyalah tempat lari

Tersembunyi di balik gua-gua keramat

di bukit Siontapina yang sunyi

 

Ke situlah sajak ini diantarkan

Orang-orang mendaki tanpa alas kaki

Pondok-pondok dibersihkan

Para tetua mengaruh

di rahim batu yang telah melahirkan raja-raja

dari sebatang bambu di kesunyian hutan

 

Sajak palsu. Kota Bau-Bau menjelang pilkada

Ratusan tahun lalu aku pernah tersesat

di tengah pesta yang sama

 

Ngibing semalam suntuk

Kendi perak penuh arak dituang

ke gelas tamu-tamu yang sudah oleng

karena mabuk

 

2012

 

 

 

 

 

Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli1975 di Kajai Talamau, Sumatera Barat.

Kumpulan puisinya berjudul Percakapan Lilin (2004).

Kini ia tinggal di Jakarta.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 20 Okteber 2013

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Oktober 23, 2013 at 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: