Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Oktober 2013

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


Lonceng Makan Siang

 

lonceng makan siang berkeloneng di tengah ladang

batang-batang kurus kacang tanah membayang di panci rebus

bibi yang anggun bagai api unggun, berdiri memandang kejauhan

hari ini ada juga sup kelinci, dengan biji bunga matahari

harumnya terkepul di udara meranumkan buah-buah mangga

 

sekali paman memanggil kami, suaranya seperti dalam mimpi

kadang paman begitu baik, dan kalau paman baik,

bibi terlihat lebih cantik,

 

tengah bulan komariah, semalam ada datang piring terbang

jakun leherku mulai mengembang dan iseng sekali

memperhati dada Ida, anak paman yang berambut merah bagai gadis manca

Ida tak lahir dari rahim bibi, kabarnya, seekor pelikan membawanya

dari seberang lautan, bersama keranjang rotan hutan

 

lonceng makan siang berkeloneng ulang, Ida berlari di depan

badannya ramping seakan ceruk tebing, bau tubuhnya runtuh

seperti dari sebuah kota yang lama dilupakan orang

sup kelinci dan biji bunga matahari membuat matanya kian cemerlang

 

aku kira itulah kali pertama cinta terhidang di meja keluarga

 

2013

 

 

Ramalan Sirih Pinang

 

sirih pinang bilang, aku dan Ida akan jadi kekasih terlarang

seekor monyet besar datang dengan menyeret batang yang terbakar

memutari kampung, siul monyet itu bergulung-gulung sampai jauh

hingga orang di seberang menyangka telah tiba akhir dunia

 

ramalan itu kami baca sambil tidur di tepi pematang

Ida memandang sekawanan serangga keluar kandang

dalam pikirannya, sungguh senang menjadi serangga

terbang ke sembarang mencari harum kembang

 

aku meraba rambutnya, merah-terang seakan baru terpanggang

sirih pinang bilang, kami sebenarnya sedarah yang lama terpisah

lalu disebabkan rasa bersalah, bumi berputar balik arah, kami kembali

ke tempat pertama kali ruh tumbuh dan penuh di tubuh

 

maka kamilah yang sekarang bersalah, apabila memilih ingkar

kecuali bila ada yang mati dan orang-orang mulai lupa siapa kami

di baris terakhir ramalan ini, tertulis siapa yang mesti mati

alhasil, aku percaya mengapa kemudian pada malam hari

 

aku sering bermimpi melihat paman mati bunuh diri

 

2013

 

 

Anjing Merah

 

sudah lama aku menduga merah pada rambut Ida

berasal dari bulu anjing yang suatu petang pernah bertandang

beginilah aku kira: seorang ibu telah berserah sedemikian rupa

saat sampai pada puncak sakit di kaki bukit

 

garbanya hampir terbuka sehingga pohon-pohon memohon

pada langit untuk menyalakan bintang lampion, langit sedikit berderit

dan akar-akar cahaya membakar mata ibu kita hingga tak dilihatnya

perpindahan benda-benda angkasa

 

beginilah aku kira: ruh ibu kita mengembara di atas sana

sementara tangis pertama Ida pecah di lembah

ketika itu ia semak tersibak dan anjing bulu merah menyalak

paman mendengar salak anjing itu dalam mimpinya

membuatnya terjaga dan seketika itu juga membuka jendela

“itu bukan dengan anjing, itu tangis bayi yang haus air susu,”

katanya sambil memandang keluasan ladang

 

kuceritakan semuanya pada Ida di depan kuburan anjing merah itu

pada suatu petang sesaat setelah binatang itu bertandang

dan paman menembakkan senapan ke bulu-bulunya yang berkilauan

 

2013

 

 

Sisir Kayu

 

pada merah rambut Ida ia percaya, ada cerita yang masih rahasia

tangan-tangannya yang kurus bagai angan-angan yang haus tualang

mendesirkan bisik untuk pergi, besok pagi atau pagi yang besoknya lagi

 

kukira Ida akan pergi juga, seorang jejaka akan membawanya

dan ia akan ditinggalkan dekat jendela, supaya setiap saat menjadi yang

pertama melambaikan tangan, menggadaikan kepulangan kelak apabila

anak-anak telah cukup umur untuk diajak

 

kadang aku cemburu, dan diam-diam bersumpah membuatnya patah

seperti hatiku saat tahu apa yang telah dibisikkan tersimpan di kepala

menjadi hasrat teramat kuat dan berkarat apabila tak dirawat

 

ketika akhirnya Ida pergi kawin lari – cintaku yang terpendam

busuk bagai buah yang terlalu lama diperam –  kulihat kian kilau ia

seperti seorang biku tua yang baru saja menyingkap semua rahasia dunia

 

2013

 

 

Kiki Sulistyo, lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya, Sirkus, akan segera terbit. Kini ia bermukim di sebuah dusun di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU. 27 Oktober 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2013 at 5:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARIO F LAWI

leave a comment »


Rosaria

/1/
Kesementaraanku menghidu lapang nahu yang bergetar setelah tahu telah lama puisi tak lagi sakti di hadiratmu. Engkau mengecup tanganku seperti hati Ishak yang awas memberkati Yakub ketika nazar tak lagi cukup melambungkan Esau ke langit. Telapak tangan kananmu menimbang seberapa pantas airmataku jatuh di hadapan altarmu. Dari stasi ke stasi aku mencari cara yang paling sopan menghidangkan khianat di atas piring cinta, sedang engkau masih saja sibuk mengurusi kapela kecilmu di lengkung lembah. Aku selalu menengadah ketika berdoa sebab percaya surga seperti yang diajarkan ibu, sedang senyummu senantiasa bercahaya melingkarkan nimbus bagi segala kemustahilanku. Sesekali, kau menganggapku sebagai Pembawa Cahaya yang rajin menjerumuskanmu ke dalam dosa. Selebihnya, kau menganggapku pendoa yang gemetar di hadapan salib cintamu.

 

/2/
Dulu engkau rajin mendekati ular yang sangat mengasihimu sebelum menuduhnya menggodamu. Kita pun diusir setelah aku memasuki gerbangmu; bukan lubang jarum yang tengik karena orang kaya dan seekor keledai dijatuhkan dari langit perumpamaan. Aku menyentuhmu dengan cara yang tak diajarkan agama-agama. Engkau menerimaku dengan iman dan tabah yang penuh. Kita belajar berdosa dengan alasan yang sangat sederhana; membutuhkan sesuatu untuk mengasihi Bapa. Dan kepada ular yang masih sudi bersimpuh di bawah tumitmu, engkau persembahkan sesal yang paling pejal.

 

/3/
Sepasang domba yang tengik oleh bau kandang yang mengepung, akhirnya dituntun ke padang oleh sang gembala. Dalam desir yang gamang, kita akan menyerahkan sang gembala kepada kawanan serigala. Rekuiem terakhir yang terdengar adalah suara seruling di hadapan wajah angin yang terluka. Setelah mengajarkanmu cara melepaskan diri dari sangkut sengkarut semak belukar, aku pun akan menyerahkanmu kepada tukang cukur yang mengajarkan kita berkhianat sebelum memasrahkan diri di bawah mulut pisau jagal yang memuja sesap paling lesap di tubuhku.

 

(Naimata, 2013)

 

Panen

 

Dengan ukuran kematian, kami mendepa panjang lintasan dosa dan kebangkitan. Hujan sungguh tak ada, Tuan, sebab lambungmu belum ditikam. Kepak gagak yang menjauh berusaha mengelak dari cahaya pukul tiga. Matahari dari balik detak-hentimu adalah yang paling menyilaukan, karena bumi yang terbelah akan lebih baik menghentikan lajur-hidup benih gandum. Ladang telah kami garap, demi kehidupan dan rasa sakitmu. Lima langkah dari ibumu, para pemanen menundukkan kepala. Berkas-berkas telah dipisahkan dari antara ilalang. Para pekerja mulai memindahkan mereka ke dalam lumbung demi musim-musim yang sekarat. Sebagai benih-benih gandum, Tuan, kami mesti kaujatuhkan ke tanah, meski rekuiem musim tak pernah mampu menaksir arah cuaca yang mengeras di antara kedua matamu.

 

(Naimata, 2013)

 

 

Mario F Lawi dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18 Februari 1991. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana ini bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flambora.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 27 Oktober 2013

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2013 at 5:07 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RIKI DHAMPARAN PUTRA

with 2 comments


Meminang Pamakayo

 

Tukang kebunkah

Atau hanya burung kehi yang bisa menyeru hujan

agar turun ke Pamakayo

Aku akan mendaki

Agar kutemukan untukmu pematang-pematang batu penuh ilalang

bukit jurang,

beras padi merah,

sulur-sulur jewawut mengejang

di lereng-lereng beralas karang rengkah

 

Tak ada perigi di sana

Tapi aku mendengar suara orang menimba

Aku melihat tujuh ekor merpati datang dari pusar cakrawala

Lalu mengambil air yang tersembunyi di kebun seorang nenek raksasa

 

Kata orang

Salah satu dari merpati itu tak dapat lagi kembali

Isi kendinya tumpah dan menimbulkan bah di bumi

Memisahkan daratan menjadi pulau-pulau yang dikelilingi teluk-teluk sunyi

 

Kata orang juga

Ia dinikahkan dengan seorang manusia

Sebagai hukuman bagi penghuni langit tang telah mencuri air

dari kaki gunung-gunung di Solor Wetan Lema

 

Sejak itu

Antara langit dan bumi ada sebuah jembatan bianglala

Berasal dari tangis si merpati yang merindukan negeri asalnya di surga

 

Aku mendaki

Aku singgahi engkau pada pondok-pondok kayu yang ditinggalkan

aroma moke,

darah hewan persembahan,

batu-batu suku mengerang dalam rentak tarian

 

Bila lelah

Aku akan istirahat di bawah dahan pohon randu yang patah

Agar kudengar apakah

Tunasnya sudah tumbuh untuk memberi kabar baik

Waktu pesta di akhir musim peceklik

 

Agar kucukupkan untukmu cerita

Di dalamnya aku menitipkan sehelai kawate yang lusuh dan pudar

Sajak-sajak ringan yang kutulis

ketika kapal-kapal bertolak mengulak ombak

di bandar-bandar

 

Hanya itulah balaku

Hanya itulah ketipaku

Aku tak dapat mengisi bewaya selain sirih pinang

Bahkan sedahnya yang pahit telah tercampur garam

 

Maka siapakah yang begitu tulus menyeru hujan

agar turun ke Pamayako

Aku mendaki

Aku temui engkau pada surga pohon bidara

Tempat damai bagi bocah-bocah yang memburunya

dengan gembira

 

Juni 2013

 

 

Aroma Dendeng Kotoklema di Rantang Opu Sidiq

 

Ampunilah aroma belalang di rantang Opu Sidiq

Sebab ia mengandung candu laki-laki

darah laut yang panas

jantung matahari

mata lamafa yang awas membunuh buih

hingga ke batas yang paling jauh

 

Ampunilah bukit-bukit yang melepuh

gurun-gurun bugil

jalan kampung yang rusak

arwah-arwah yang memberkahi persabungan

dengan ludah sirih dan tuak kecut

 

Dan di atas semua itu ampunilah garam

Ampunilah buah asam

Ampunilah golok yang mencincang daging di tatakan kayu

Tangan yang melumat bumbu dengan sebuah penggiling batu

 

Ampunilah menu makan siang kami yang sederhana

Dendeng paus musim lefa

 

Juli 2013

 

 

Petilasan Seekor Monyet

 

Monyet besar ini tak seperti monyet lagi

Tangan siapakah yang mengikatnya dengan kain

dan selempang

Mengajarnya bersuci

Lalu mengirimnya ke gua-gua petilasan

 

Ia masih tampak jenaka saat

kutemukan terbungkus pada selembar sampul kulit yang dekil

Bulu tubuhnya belum dicukur

Dan gelungnya masih utuh memendam seluruh rahasia waktu

Namun kenapa ada bau sabun pada jejaknya

Apakah ia sedang mandi

Atau hanya bermain-main dengan riak segara

Lalu keluar dengan terburu-buru

Keluar seperti bocah yang berlari pulang tanpa mengenakan baju

 

Ia tak seperti monyet lagi

Walau kadang-kadang enggan menampakkan muka

Tapi ia tak pernah benar menjauh dari sesiapa yang mencari

Kadang-kadang dikejarnya mereka dengan sepucuk kudapan segar

Dari daun-daun yang tak akan busuk dan tua

Dari taman rambat dan perdu gurun yang membesarkan ternak

dengan peluh dan tapa pengembala

 

Beruntunglah gunung-gunung yang ia agungkan dengan

sujud

ia selimuti dengan kabut dan rasa takut

Juga perahu-perahu nelayan di samudra

Beruntunglah mereka

Karena dilanun angin lengang

Angin yang menghalau buih pulang ke asal gelombang

 

Tapi monyet besar ini

Apakah yang aku tahu tentang kisahnya

Bukankah ia hanya cerita pengantar tidur

Hanya kadang-kadang kami bertemu di bilik

kontrakanku yang sedih

di pinggir tol menuju pusat kota

di mana monyet-monyet tumbuh dan bertempur

untuk menjadi cerita sehari-hari yang tak bermakna

 

Ia tak mengatakan apa-apa

Aku tak mengatakan apa-apa

 

Jakarta, 2013

 

 

Tugu-tugu Kota Bau-Bau

 

Nanas palsu. Kota Bau-Bau menjelang pilkada

Kalau bersisik katakan ikan, berpayung katakan raja

Jangan kau bungkus dengan umpama

Sebab kalau kau sobek tapi tak menitik darah

Atau bila tampukmu patah tapi tak menitik getah

Siapa yang menanggung rahasianya

Tugu berlumut

Ataukah muka yang masam?

 

Aku juga heran kenapa pintu bandar

harus dijaga seekor naga

mengapa bukan ubur-ubur

Mengapa tidak membuat bantal untuk mengapung

di atas ombak yang tak pernah tidur

 

Mimpi pulang ke negeri asal

Melabuh pada terowongan-terowongan runtuh

berisi manyat aspal

penakar logam

kepingan gerabah

lembaran uang kain terselip di antara tumpukan silsilah

di loteng rumah

 

Silsilah palsu. Di dalamnya hanya ada satu singgasana kosong

Itu pun sebuah tiruan

Agar sesiapa yang duduk di atasnya

Tidak mangkir dari perjanjian yang disurat pada tulang manusia

Disahkan dengan sebuah cap biru dari kapal karam

yang diselamatkan dari perairan Kabaena

 

Bukan cap yang mengada-ada

Seratus tahun setelah tembok keraton dibangun

La Karambau yang gagah berusaha merebutnya

Tapi ia terusir

Pengikutnya diburu

Satu-satunya yang selamat hanyalah tempat lari

Tersembunyi di balik gua-gua keramat

di bukit Siontapina yang sunyi

 

Ke situlah sajak ini diantarkan

Orang-orang mendaki tanpa alas kaki

Pondok-pondok dibersihkan

Para tetua mengaruh

di rahim batu yang telah melahirkan raja-raja

dari sebatang bambu di kesunyian hutan

 

Sajak palsu. Kota Bau-Bau menjelang pilkada

Ratusan tahun lalu aku pernah tersesat

di tengah pesta yang sama

 

Ngibing semalam suntuk

Kendi perak penuh arak dituang

ke gelas tamu-tamu yang sudah oleng

karena mabuk

 

2012

 

 

 

 

 

Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli1975 di Kajai Talamau, Sumatera Barat.

Kumpulan puisinya berjudul Percakapan Lilin (2004).

Kini ia tinggal di Jakarta.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 20 Okteber 2013

 

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 23, 2013 at 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZAIM ROFIQI

with 4 comments


Cermin

 

Suatu waktu kau tak bisa berdusta

membandingkan satu dan lainnya:
cermin tak bernyawa

tapi dia bicara

tentang kenyataan lain:

bahwa kau tak sepenuhnya tahu

mana wajahmu,

mana muka musuhmu?

2013

 

 

Mencintaimu

 

Lampu tugur yang terus saja bersinar, meski dinihari menjelang

meski jalanan lenggang, telah ditinggalkan.

Papan iklan yang tak henti bersuara lantang, meski hari hujan,

meski kota terendam banjir besar.

Jam dinding yang tetap mengabarkan waktu, meski tak ada lagi

orang

 

di rumah itu.

Kabut dan rintik hujan sering tertebar, menghalangi pandangan.

Tapi matari menyeruak juga di akanan, pelan-pelan.

Dan meski dibenakku samudra luas menggemuruh, mengharu biru;

apa yang tersaji hanya ini: air mata haru.

 

Ya, hanya itu

Semua itu.

 

2013

 

 

 

Zaim Rofiqi menulis puisi, cerpen, esai, dan

menerjemahkan buku.  Kumpulan puisinya adalah

Lagu Cinta Para Pendosa (2009).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 29 September 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 4, 2013 at 7:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI Pranita Dewi

with one comment


Matsya

 

/1/

Telah kusaksikan kemegahan batu dari

zaman lama yang kini bertumpukan

di hadapanku.

Telah kusaksikan laut hitam

menyemburkan bayang-bayang

yang berkilauan

 

Satyabrata, ijinkan aku bangkit kali ini,

sebelum mata kail menembus

mulutku,

sebelum datang kiamat dan derita;

di laut tengah murung, di gunung terjal rimbun,

di goa-goa keramat dan rahasia

di mana semua kemarahan

terkurung dalam setiap doa

 

Engkau mendengar nujuman itu,

engkau mendengarnya sekali lagi

lalu dengan wajah berkerut

engkau mengambilku dan

menempatkan aku pada sebuah

mangkuk kecil. Di situlah aku

tumbuh dan membesar

seperti janji-janji mulia yang kautitahkan,

sebelum menjadi raja,

untuk melindungi rakyatmu yang setia.

 

Mangkuk kecil telah menjadi

duniaku. Di sinilah

aku mencabik kesunyian,

mengubahnya menjadi ribuan suara,

sebelum air bah menyiksa daratan.

 

/2/

Aku ikan raksasa, dapat pula mengira

derita dan gempita yang akan melintas

di hadapanku, bagai kirab yang keburu jadi

lintasan penghabisan dalam hidup yang garang

 

Nujuman ini, wahyu ini

yang jeritannya bagai

gemuruh dan laut

telah setia membimbing jalanku

untuk menyelamatkanmu

 

Aku akan jadikan diriku lebih dekat dengan matamu

sebagai penyelamat, aku telah menjauhkan

satu jalan lurus kepada maut

yang akan mendabik dadamu.

 

Selamat datang; mimpi-mimpi lama,

sengsara dan bahagia

rancangan-rancangan masa depan

 

Mari kita sambut bandang kerkutuk ini!

 

/3/

Pada mulanya engkau tidak pernah paham

arti kedalaman. Air hijau yang tenang ini,

pohon yang berkembang ini,

akan menjadi mimpi paling aneh

di setiap catatan yang terpinggirkan

oleh puluhan agama.

 

Aku ingin impikan pesta kerajaan laut masa lampau

di mana pilar-pilarnya terbuat dari cahaya

mercusuar. Dingin. Laut ini berangin.

 

Raja, bangunlah sebuah bahtera

jadikan tali itu dari naga banda

kaitkanlah ke tandukku

desakkan kemurnian rakyatmu di dalamnya:

biar kugenapkan penjelmaan ini

 

Tujuh macam awan mencurahkan hujan lebat

satu penanda hari jadi kiamat

seusai masa kering yang panjang

 

Kepada engkau, sebentar lagi,

akan kutunjukkan diri

cinta yang terbunuh ini.

 

2012-2013

 

 

Kegelisahan

 

Dua mataku sipit dan jenaka, selalu terjaga pada pagi

Dua tanganku mengepal penuh cengkeram,

selalu murung menunggu mati.

 

2013

 

 

Kelahiran

 

Beri aku 270 malam

untuk menatap kebusukan pagi ini

 

Tangisku yang pertama

apa yang menjadi sebuah pertanda?

 

Seekor katak menyelip di bebatuan

halilintar memecah menjelang kelahiran

alap-alap layang di ranting dahan-dahan

 

di sini begitu pepat

gelap ini begitu menyengat

aku begitu sekarat!

 

Tetapi akan kukenakan kain yang membikinku

lebih tampan lagi

gemerlaplah gemintang dini hari.

 

Aku akan dikekalkan para padri

sebagai lagu penuh pujian,

sebagai seribu orkestra sepanjang masa

sebagai silabel alam setiap kata

dan menjadi nyanyian murung para pendosa

 

Telah kusingkapkan langit dengan kata-kataku,

kubikin kecut udara dengan mimpi-mimpiku,

bintang begitu pucat di kemegahan mataku,

dan usia menghambur di gunung dan lautan

 

Esok akan bisa kusaksikan

memar pada wujud asing ini;

sepucuk cinta yang tumbuh mengalir

simbol merah jambu di kemarau jiwaku.

 

Aku akan menjadi bagian hari ini

aku akan menjadi seribu cermin

dalam bayang-bayang negeri

yang mati terpancung menunduk

terapung dan tidak menemukan keangungan lagi

 

Jiwa yang terkutuk ini, yang melompat keluar

dengan seribu taring dan cakar tajamnya,

akan mencabik dunia hingga ke liang nyawa

 

Tetapi begitu sunyi dan mati

meski berwangi mimpi

ajal menjemputku di kemudian hari

langit berkabung menyambutku

yang cantik dan mekar

yang jernih berkilauan.

 

Tuhan, Tuhan, mengapa engkau mengirimku kemari?

 

2013

 

 

Pranita Dewi lahir di Denpasar, 19 Juni 1987.

Buku puisinya berjudul Pelacur Para Dewa (2006)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 29 September 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 4, 2013 at 7:21 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: