Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘M Aan Mansyur

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Mengunjungi Museum

 

1.

Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.

Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung

belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu

membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri

di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta

benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai

atau hantu.

 

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya

masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian

perempuan itu masih kuda muda liar dan

senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika

kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi

kalender atau jam dinding yang ketagihan

mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 21, 2014 at 3:00 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

leave a comment »


Siput atau Bayi atau Aku yang Tidur

 

Satu-satunya rumah yang tersisa adalah tidurku. Di luar itu,

badai – dan bayangan-bayangan yang mengejar diri sendiri.

Aku tidak lagi menunggu. Jendela telah kehilangan cahaya.

Langit-langit dan atap dan langit dipenuhi perjalanan dan

ketakutan dan bandara.

 

Kuinginkan ini: selimut warisan ibuku adalah cangkang

dan aku melunak jadi bayi. Sudah lama aku jatuh cinta

pada hal-hal yang bisa mengajariku mengerti dan berhenti.

Telingaku tersumbat dan lamat-lamat cuma kudengar

kalimat selamat tidur dari dalam diriku yang baru kembali.

 

Aku siput dan aku bayi dan aku diselaputi tidur yang

damai. Kumakan mimpi-mimpiku: kita ada perih lain yang

kita kira masa depan dan semua yang cuma andai.

 

Kubiarkan semua bayangan di luar rumahku berlari dan

jatuh menabrak diri sendiri. Ikutlah berlari jika kau tak

ingin ke mana-mana lagi. Di dalam cangkang ini, aku riang

bermain. Alamat-alamat yang tidak pernah kudatangi,

pulau-pulau yang pernah menjauh, pulang satu demi satu

menempatiku.

 

Kelak ketika bayangan-bayangan itu, dan kau, menyerah

atau mengalah atau gagal mengalahkan diri sendiri, aku

bangkit. Mataku adalah pintu. Bahkan batu-batu akan

memasukiku sebagai bunga atau matahari terbit.

 

Barmain Petak Umpet

 

Kututup mata di depan, atau barangkali di belakang, pohon

mangga dan menghitung satu dua tiga empat lambat hingga

sepuluh. Kubiarkan kau berlari, menemukan jarak dan

tempat sembunyi. Kutahu, di suatu tempat, kau cemas

menunggu.

 

Rasanya baru dua tiga bulan, bukan sepuluh, anak-anak

belum sempat menggalkan diri dari kita. Tapi, di antara

pohon mangga tempatku terpejam menghitung dan sunyi

tempatmu bersembunyi, telah dibentangkan jalanan. Di

dadanya, orang-orang asing dan mesin-mesin lalu-lalang

lebih cepat dari waktu, saling kejar mencari dan mencari

dan mencari dan mencair jadi apa dan kenapa dan kapan.

Kau, meski tak lagi bersembunyi, tidak juga kutemukan.

 

Barangkali kau suntuk menunggu, dan aku mulai cemas

kehabisan lagu yang untuk kunyanyikan.

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa di Makassar,

Sulawesi Selatan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku

Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan

Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Februari 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 17, 2014 at 10:17 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with 3 comments


 

Hantu Bernyanyi

 

Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi

dan lagi, juga titik dan koma, sambil dalam hati menyanyikan

lagu ciptaannya, yang di ingatannya tinggal beberapa larik:

 

  1. Berdering-dering Halo yang aku kirim sejak bertahun-

tahun lalu belum kau jawab hingga sekarang. Aku

tahu kau dengar.

 

  1. Kepalaku kampung, dipenuhi anak kecil yang

berlarian mengejar bayang-bayang mereka sendiri.

Aku melihat diriku.

 

Di layar komputer, ia lihat piano-piano seolah-olah

dikerubungi sekawanan semut. Jika ia pemabuk, pikirnya,

tanda-tanda baca itu menyerupai kunang-kunang.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Meski tidak mabuk, ia masuk kamar mandi. Ia siram

kepalanya. Ia kosongkan bak. Ia tetap tidak mampu

menghafal lagu ciptaannya sendiri.

 

Sisa-sisa air yang tertinggal ditelinganya seperti bisikan

kekasihnya yang pergi bertahun-tahun sebelumnya.

 

Setelah melepaskan handuk, ia tiba-tiba tidak bisa

membedakan antara kantuk dan angin. Ia berjalan ke tempat

tidur tanpa mengenakan apapun kecuali rambut yang tergerai

basah dan bekas luka.

 

Ia pejamkan semua mata lampu dan matanya. Ia lihat di

halaman bunga satu demi satu mekar bersama masa lampau.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyabab.

 

*

 

Ia tidur seperti tanda kutip dan semua yang ia lihat dalam

mimpi adalah pahlawan. Baginya, yang layak jadi pahlawan

hanya bunga-bunga dan anak-anak. Tetapi, bukan itu

maksudnya, katanya ketika terjaga oleh suara sirine yang

semakin mendekat.

 

Ia bertanya-tanya, apakah harus terjaga hingga pagi agar

mampu kehilangan mimpi. Ia tak mau dikejar-kejar mimpi

masa kecilnya. Masa kecil amat rakus, mengubah manusia

menjadi undur-undur.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Ia lapar. Sangat lapar. Ia seolah punya kekuatan yang mampu

memakan malam dan seluruh isinya. Ia lihat, di jendela,

bulan sudah habis ditelan pelan-pelan oleh bayangan bumi. Ia

merasa lebih kuat dari sekedar bayangan bumi

 

di tengah laparnya yang belum melahap apapun, ia lihat

mobil jenazah berhenti dan menunggu di depan rumah

tetangga. Ia ketakutan dan beberapa bagian lagunya yang

hilang tiba-tiba pulang menemaninya.

 

Jika aku menyukainya, ia bernama kesepian. Jika aku

Membencinya, ia bernama kesepian.

 

Aku akan pergi, aku akan segera pergi. Begitu juga

Denganmu. Begitu juga mereka.

 

Ia bernyanyi dan bernyanyi sendiri hingga ia raib ditelan

suaranya sendiri.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Malam-malam berikutnya, penyanyi itu menghantui

rumahnya sendiri.

 

 

Menjadi Lumba-lumba

 

Aku pernah punya mimpi. Kau menulis angka-angka

penanda dibahuku, semacam tato permanen. Aku juga

menulis angka-angka serupa diperutmu, dan kau tertawa.

Ujung pisau yang aku gunakan menulis membuat rahimmu

geli. Kita telanjang, bergandengan tangan, berjalan dalam

dan tiba di tebing, lalu aku terjun ke sungai tapi kau

tidak.

 

Kelak, pada satu hari Sabtu, saat kau sibuk di kantor, aku

mencium pucuk hidung anak-anakmu di bibir kolam renang.

 

 

Menjadi Hantu

 

Aku ingin tidur seharian di sepatumu saat kau pergi ke kantor

menggunakan sepatu lain. Menunggumu di rumah tanpa

mengeluh.

 

Aku ingin jadi warna kesukaanmu, melingkari lehermu.

Berpura-pura sebagai selendang, karena seorang pria lain

tidak putus menginginkan dadamu.

 

Aku ingin mendengkur sebagai ular sawah atau angin di sudut

kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat,

mendekap, dan masih beraroma kita.

 

 

Belajar Berenang

 

Kau nyala langit yang biru pada pangkal bulan April dan

awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak

berundak-undak di belakang rumah dan bayangan pohon-

pohon yang menyembunyikan daun tua dan hewan melata.

Kau tebing dan suara angin yang memantul-mantul.

 

Kau nyali yang melepaskan pakaianku dengan malu-malu.

Kau langkah-langkah yang hendak dan tidak ke bibir jurang.

Kau tangkai pohon yang tidak kutahu namanya, tempat

tungkaiku gemetar sebelum terlambat memegang sesuatu.

 

Kau udara sesaat yang membuatku berdoa. Kau ketenangan

yang terbuka dan terluka menerima tubuhku yang telanjang

dan jatuh sebagai jala yang gagal mengembang. Kau ikan

warna-warni yang kaget dan sembunyi ke balik batu.

 

Kau benda-benda pendiam di kedalaman. Kau air yang tiba-

tiba keruh dan kepanikan yang menyakiti dadaku. Kau nyawa

yang lepas seperti balon-balon kecil dari paru-paruku.

 

Kau jari-jari air yang mengangkatku pelan-pelan ke

permukaan. Kau kekuatan yang kutelan dan kuembuskan

berulang kali. Kau kapak yang membuat lenganku bergerak

menggapai-gapai.

 

Kau keriangan yang tidak capai bergolak dalam darahku. Kau

Keseimbangan yang berhati-hati dan tidak menginginkanku

berhenti. Kau matahari yang memerahkan punggungku.

 

Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang

dan burung-burung yang mencari sarang. Kau senyum yang

kusembunyikan dari kemarahan ibu.

 

Kau kebahagiaan yang terlambat terpejam. Kau yang pertama

dan akan selalu basah dalam mimpiku. Kau yang terbangun

tengah malam dari mataku.

 

Kau sungai yang memanjang lalu melapang sebagai laut

karena khawatir aku jatuh sekali lagi. Kau masa kecil yang

sekarang kukenang dengan rasa bersalah dari dekat jendela

dadurat pesawat terbang.

 

 

M An Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

KOMPAS, MINGGU, 3 NOVEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

November 5, 2013 at 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Perihal Tokoh Utama Komik

 

Ia berdiri. Luhur dan hening. Rapuh dalam ikatan yang

rawan putus. Diselubungi jaring laba-laba dan kebisingan

dari kepalanya. Matanya terpejam bagi puing-puing, juga

bencana yang masih rencana.

 

Sepasang tangannya terentang. Lapang bagi penerimaan.

Seperti sayuran terpotong-potong. Mencintai pisau dan api

dapur. Kepalanya menampung penyakit. Sebagian berperang

melawan seluruhnya.

 

Bibirnya dijahit. Perutnya penuh kebakaran dan kelaparan.

Kemauannya lunak bagi kebingungan dan keras kepala.

 

Tubuhnya dicabik-cabik waktu. Berisi sesuatu yang

mengizinkan tubuh lain tumbuh ditubuhnya. Paru-parunya

sering kering. Hatinya kuning. Jantungnya memompa

kehidupan yang ragu-ragu.

 

Bahunya lebih kuat dari batu gunung. Pembuluh darah

menuangkan udara ke dalam suaranya. Menghamburkan

kekuatan untuk setiap ons takdirnya. Ia hidup. Dihiasi

pakaian berbagai warna. Ia bicara menggunakan bahasa roh.

Tidak masuk akal, namun penuh tetapi. Ia kadang meratapi

bebannya. Ia menggantungkan diri di kontrak besar yang

tidak pernah ditandatangani.

 

Hatinya selalu berduka dengan harapan suatu hari ia utuh

kembali. Awan akan hilang. Api yang membakarnya dari

dalam akan dingin. Lengannya terpasang lagi – dan tumbuh

jadi kebun baru. Kepalanya menjadi seluruh. Hatinya merah.

 

Ia cantik. Pemurah dan tidak pemarah. Tak tertandingi

senyumnya. Ia akan menggodamu dengan cerita yang tidak

ada ujungnya. Dongeng dan musik ajaib. Ia waktu. ia seorang

ibu. Ia mengandung dewa-dewa. Ia rahim ribuan

penyembahan dan tarian.

 

Namanya sama dengan nama negaramu. Sepasang lengannya

terentang. Mencintai pisau dan api dapur.

 

2013

 

 

 

Telanjang di Depan Cermin

 

Aku berdiri di depan cermin. Telanjang dan mencari

intim dari seluruh yang tiba-tiba asing dan liar.

 

Rambutku hujan, atau komet di langit malam. Rahang

persegiku mahir menakut-nakuti tangan pencari yang lemah

lembut. Mereka akan melihat benteng kokoh, bukan benteng

pemalu. Bibirku langit dan kakinya pada pukul 6 sore. Atau

teluk yang ditakdirkan tidak dipeluk sempurna.

 

Lekuk teluk bibirku mencibir dua danau di atasnya. Tetangga

yang tak pernah saling mengunjungi. Sepasang kesepian.

 

Masa depan mataku adalah kemarahan. Juga kelemahan

tempat cinta terjatuh. Suatu hari kelak kau akan mengatakan

hal indah mengenai mataku. Mataku kegelapan yang

mengenakan bintang-bintang tidak mati. Gelap seperti dasar

lautan. Seperti pertanyaan yang menolak semua jawaban.

Mataku menyembunyikan rahasia, termasuk dari dirinya

sendiri.

 

Aku mencengkeram wajahku. Menyarankannya pantang

menyerah. Hidungku jalan sempit dan datar. Aku mewarisi

keterbatasan. Modal baik bagi petualangan.

 

Aku menelusuri garis leher hingga pinggang. Tebing gunung.

Para pendaki belum pernah ke sana. Lenganmu masa

Depannya. Juga payudaramu. Kau akan kelelahan menanjak

ke puncak. Di bahuku akan dibangun perusahaan dan rumah

tempat seorang perempuan pelancong akan mampir. Juga

tempat kita berbulan madu selamanya.

 

Meski sudah kuat, tubuhku masih ingat aroma rahim ibunya.

Segera akan datang kau menawarkan rahim berparfum merek

lain. Jahat –  dan murah senyum.

 

Tungkai kakiku sepasang pohon. Berdiri di kiri dan kanan

jalan bersemak. Ia akan mengembalikanmu pada rahim ibu.

 

Aku remaja tiga belas tahun. Berdiri telanjang di depan

cermin. Tubuhku negeri asing. Masih menunggu

masa datang kau.

 

2012

 

 

 

Laut Berparuh Merah

 

Akan kuhentikan tahun-tahun diamku demi mengatakan kau

cantik. Setelah itu, aku bunuh diri. Atau memintamu menjadi

seekor gagak yang mematuk mataku. Aku ingin melihat

perihal terakhir sebagai merah paruhmu.

 

Halaman dan rumahmu penuh langit jatuh. Permukaannya

menyentuh dan menjadi kalung bagi leher kotamu. Laut

merebut kau. Matamu berteman dengan ikan dan terancam

mata pancing.

 

Laut adalah langit, namun sedikit lebih basah. Keduanya

cemburu pada matamu.

 

Waktu jadi siang yang padam berminggu-minggu.

Menggenang seperti kenangan yang ditinggalkan jalan

pulang.

 

Bencana melandai dan jadi tongkat yang menggandeng

Tanganku ke pantai. Dengan gemetar rindu, aku sentuh

alismu. Sesuatu yang asin dan asing menjawabku. Butir-butir

garam yang terbuat dari masa lalu kita. Aku tak bisa

merasakan angin lagi sebagai lagu. Ia menyebut terlalu

banyak nama.

 

Bekas lukaku hidup seperti sisa air yang terperangkap di

telinga usai mandi. Seperti gigi bungsu. Susah payah tumbuh

dan merobek gusiku.

 

Kau kini laut berparuh merah. Tulang rusukku debu. Cinta

jadi lumpur, jika aku menyentuhmu. Aku menyimpan napas

terakhir dalam botol. Aku meletakkannya di rambut-rambut

halus tubuh berombakmu.

 

Kelak jika kau bangkit, lolos dari laut. Aku akan menyusun

debu-debuku kembali sebagai kita. Sebagian kuciptakan jadi

kata-kata yang cuma mencintai mulutmu dan telingaku.

 

2012

 

 

 

Menjatuhkan Bintang-Bintang

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet Turki dan

menjualnya kepada penawar tertinggi. Akan aku lepaskan

binatang buas dari diriku. Ia pernah tidur berabad-abad di

rumah ibadah. Selalu lolos dari perangkap cahaya.

 

Aku belajar dengan cara mengabaikan. Tetapi, sekarang,  aku

ingin berhenti sejenak. Mengingat nama mereka yang

ditelan di pasir hisap pikiranku tahun lalu. Ada hutan hitam di

kepalaku. Waktuku penuh tengkorak. Kakiku tangga.

Memanjat dan menjatuhkan diri sendiri. Kepalaku pernah

lebih ringan dan bulu burung gelatik. Menggelitik seperti

riak-riak halus di perut perahu yang berbaring di perut telaga.

Menggoyang langitku.

 

Begini ramalan cuaca pekan ini: Besok: Lebih cerah dari

senyum bayi. Lusa: Langit remaja jatuh cinta. Ceria dan

mengumpulkan hujan. Kamis: Penuh awan berbentuk tanda

baca. Jumat: Curah dari awan mirip kebun binatang. Sabtu:

Api dan apapun yang menyerupai itu. Minggu: Tidak ada

cuaca.

 

Hati-hati. Angka bunuh diri langit bisa tiba-tiba meningkat.

Begitu juga dengan kelembaban dan keasinannya. Tetapi aku

akan berjalan-jalan di cakrawala ketika matahari mendarat

di topiku.

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet. Sebagai

bintang-bintang, kau akan berjatuhan. Di cahaya sekarat

senyum terakhirmu ada sesuatu yang nampak serasi.

Mengerikan dan menantang. Aku untuk pertama kali

kaupahami.

 

2012

 

 

 

M Aan Mansyur tinggak di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya yang terbaru adalah Tokoh-Tokoh yang

Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012)

 

 

 

PUISI, KOMPAS, MINGGU, 19 Mei 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 21, 2013 at 8:15 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Menyeberang Jembatan

 

aku ingin menceritakan apa yang mampu aku rasakan

ketika berjalan sendirian di jembatan. ibuku penasaran

kenapa aku senang melakukannya. dia tidak mengerti

waktu aku mengatakan: aku memperoleh kebahagiaan

dari yang getar gemetar di hatiku. seperti jatuh

cinta? tidak, ibu. dia diam dan aku merasa kalah.

 

perihal membosankan dan percuma selalu lebih mampu

menemukan kata-kata untuk mereka kenakan. bagi yang

setengah-setengah, dan bagi yang berdiri di tengah-

tengah, kata-kata semata jembatan yang seolah-olah ada.

di diriku ada banyak perihal yang terengah-engah tidak

mampu menyeberang ke jantung ibuku, terpaksa menjadi

rahasia, dan aku merasa bersalah.

*

sejak kecil aku sering pergi ke hutan. aku membisikkan

pikiran dan perasaanku yang merahasiakan diri dari tinta

kepada pepohonan, sebelum mereka ditebang dan

berubah menjadi pintu dan jendela, kursi dan meja, atau

buku-buku.

 

setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku

mungkin ada di sana menemaninya. ketika ibuku

berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, barangkali

rahasiaku yang menggenggam cermin untuknya. jika

ibuku tidur memeluk diriny sendiri, aku berharap ikut

menopang rindu dan rubuhnya yang kesepian.

 

dan andai dia menerima surat dari suaminya, pikiranku

sungguh ingin bergetar di jari-jarinya, perasaanku

sungguh ingin basah oleh air matanya.

*

ibuku masa lampau. kenangan. dia selalu mampu

mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang

cuma mampu menunggu dikecup. kata-kataku selalu

ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka

tidak punya jemari.

 

puisi ini sama belaka. sekumpulan kata, batang-batang

pohon, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding.

semata memiliki jendela, pintu, dan sesuatu yang

memeluki keduanya. rumah yang menunggu pertanyaan-

pertanyaan ibuku datang memberi penghuni.

 

2012

 

 

Melihat Peta

 

hari ini kematiaan membisikkan perihal-perihal yang indah.

langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah

ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya

mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

 

aku ingin tiba-tiba seisi tubuhku tercuri. seseorang

menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana

dan wewangian sambil membayangkan tuhan

menyambutku dengan riang.

 

kau, entah di mana, membaa catatan yang aku tulis, aku

kirim, dan terlambat tiba.

 

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku

terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang

pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.

*

peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di

jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung

seperti sesuatu yang tak mampu aku namai – mimpi atau

kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca

jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang

kelelahan.

 

nanti malam, aku tak mampu menutup mata jendela. akan

aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali

kau menitip rahasia.

 

sementara yang menetap di luar aku, segalanya

dendanmu. memendam dendam, kata ibuku, seperti

meminum segelas racun dengan harapan membunuh

orang lain.

 

aku tak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar

tubuhku dan seluru isinya yang tercuri. hiduplah kau.

 

2012

 

 

Menonton Film

 

semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi

meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. udara

terbuat dari asap, aku dan kau merangkak di tanah seperti

ular sebelum kaki-kakinya hilang. langit pada musim-

musim tertentu jatuh seperti potongan-potongan jigsaw.

jutaan simbol matematika menggantung di kabel-kabel

telepon dan lampu-lampu jalan. bunga-bunga akan

memberi petunjuk ketika kita kehilanan arah.

 

semesta di mana waktu hanya ada di cangkir-cangkir teh.

kehidupan nyata ibarat dunia kartun dan kartun terlihat

seperti kehidupan nyata, dan keduanya adalah sepasang

tetangga yang tidak saling percaya. ingatan dikosongkan

setiap pukul  6 sore, seperti matahari tenggelam. untuk

diisi berita malam yang membicarakan keluarga kita.

 

semesta di mana kau dimakan singan dan aku

menunggumu di mulutnya memegang tanda bertuliskan

nama aslimu yang tidak pernah kautahu sebelumnya.

 

semesta di mana setiap kali kau menyentuh gelas dengan

tangan kosong kau merasakan bisikan yang

mendesahkan. lengan dan kaku tidak diperlukan

samasekali. kita bercinta dengan menuangkan cahaya ke

mata satu sama lain.

 

semesta di mana furnitur ia hewan-hewan peliharaan

kesayanganmu. botol-botol anggur diisi dengan kelopak-

kelopak bunga untuk disajikan kepada bayi kita yang

baru lahir.

 

semesta di mana setiap kali matahari terbit, di kepalamu

tumbuh salur-salur tumbuhan beracun. setiap kali

matamu berkedip, aku seperti mendengar gelegar petir.

 

semesta serupa yang kita huni kini, tetapi aku tidak

pernah ada di sana.

 

2012

 

 

Mendengar Radiohead

 

aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan

perasaan-perasaan yang lembab. aku percaya ada perihal

semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu

yang bertahan di alir sungai, atau badai yang lembut.

aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang

lebih nyaring daripada sunyi.

 

dan dalam setiap yang pecah ada keindahan, hal-hal yang

berhak dicahayai senyuman; persolin maha yang

membentur lantai ruang tamu, lampu taman yang mati,

daun-daun dan daun jendela yang jatuh, hati yang patah

dan perpisahan, atau rindu bayi-bayi yatim piatu.

 

aku lahir dari ucapan-ucapan ibu yang lebih banyak ia

kecupan dengan diam; berlari adalah kesunyian,

barjalan adalah kebalikannya. aku bertahan bertahun-

tahun berlari dalam kesunyian menuju kau. aku mau

menemukanmu, agar mampu berjalan menggandeng

tanganmu mengelilingi pagi yang hangat. atau

mengantarmu pulang, menyusuri gelap, dan dengan

sepenuh ketulusan aku ingin menjaga dirimu dari diriku.

 

ketulusan, panjang dan susah dinikmati sepenuhnya,

seperti musim. kejujuran, singkat dan tidak mudah

diduga, seperti cuaca. namun jika kau menginginkan

jarak, aku akan menjadi ketiadaan yang lengang. sebab

ingatanm sedekat-dekatnya keadaan aku. lebih dekap

dari pelukan sepasang lengan.

 

kesalahanku padang rumput yang hijau. seperti ternak,

aku ingin makan dan menjadi gemuk. M\menjadi potongan-

potongan daging yang membuatmu enggan tersenyum

seusai makan. menjadi lemak yang kau keluhkan dan

menghabiskan uangmu. sementara kebenaran semata

meseum yang tidak kita sadari. jika ada waktu, kau akan

mengunjunginya. namun kau terlalu sibuk melupakanku.

 

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang

lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian.

dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan

membuatmu bersedih suatu kelak.

 

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah

menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-

keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari

sore menutup mata. di tempat lain ada seorang menatap

dari jarak yang tidak kau ketahui. aku tersenyum

menghangatkan kesedihanmu.

 

2012

 

 

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan 14

Januari 1982. Buku puisinya antara lain Aku Hendak

Pindah Rumah. (2008) dan Cinta yang Marah (2009). Ia

tinggal di Makassar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 6 JANUARI 2013

Written by Puisi Kompas

Januari 7, 2013 at 6:46 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: