Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Maret 2014

PUISI MARDI LUHUNG

with one comment


Telur Asin

Aku memakan telur asin. Dengan kuning yang berminyak.
Dan aku teringat padamu. Yang pernah berseloroh: “Kau
tahu, waktu lahir, aku menetas dari telur asin. Telur asin
yang kebiru-biruan. Agak lonjong. Dan bercangkang kuat.”
Dan ketika telur asin telah habis, aku juga teringat, kau
memang lentur. Dan bagi yang ingin menelisiknya, mesti
diterawangkan ke sinar lampu. Agar terlihat gurat tipis atau
tebalnya urat. Lain itu, pada setiap desirmu, aku mendengar debur
lautan yang riang. Debur lautan yang tak pernah lelah
mengusung bakal garam. Sambil merentangkan apa saja
yang ada. Lalu berkebatan di ujung-ujung ombak:
“Tangkaplah aku, tangkaplah juga asin yang abadi yang melekat
di langit-langit mulutku!” Dan waktu itu, betapa aku (juga
mereka yang sempat melihatmu) menduga, jika kami berani
memasuki mulutmu, pasti keluarnya akan terurai dalam
butiran garam yang mutih. Butiran garam yang kelak
tersaput di setiap kerahasiaan rasa telur asin yang
terhidang. Seperti tersaputnya kabut dalam asap.

(Gresik, 2014)

 

 

Nyala

Di laptop ada yang selalu memanggil nama kita. Dan suara
panggilannya seperti denah rabun. Kadang lurus. Kadang
tebal. Dan kadang tak jelas. Apakah itu garis untuk rel
kereta, arah sungai atau halte bis. Dan di laptop,
sepertinya ada wajah yang nongol. Wajah yang penuh
warna. Dengan rambut kelimis tipis. Terus menyela: Apa
kalian mau menjawab balik atau tidak. Dan menambah:
Sehat juga kan? Memang, ada sebatang lorong. Dan
Wajah yang penuh warna itu berlagak di tengahnya.
Sesekali kukuh berkacak pinggang. Dan sesekali yang lain
pun berlarian ke sana ke mari. Tak lelah menaburkan
noktah pelangi di layar monitor. Agar yang pintar menata
pun dapat menatanya untuk jadi siapa saja. Juga apa saja
yang senantiasa mengawasi tanpa henti. Tanpa kedip. Dan
di laptop, memang ada yang selalu memanggil nama kita.
Dan kita pun jadi terpana, ketika pusat listrik dimatikan.
Tapi layar monitor tetap saja menyala. Dan sebentang
lorong yang ada tadi pun tiba-tiba menyeruak. Gesit, lincah
dan tangkas. Seperti ketangkasan sang tafsir atas
bergulirnya telur-telur unduh yang tak pernah terduga
begitu adanya. Bagaimana ini semua nanti direhatkan?

(Gresik, 2014)

 
Sedak

Penonton gelap. Latar gelap. Lantai panggung mengkilat.
Dan si penari berbaju tipis tersenyum. Mengibaskan
selendangnya yang juga tipis. Dan bibirnya? Bibirnya yang
menyala itu menembangkan sesuatu. Sesuatu bagi si
pengembara. Si pengembara yang baru saja pulang.

Si pengembara yang mengusung karung yang penuh
dengan buah tangan. Bagi siapa saja yang dulu ditinggal di
lubang sumur. “Tapi. Ibu.” kata si pengembara, “mengapa
semua yang ada kini tinggal bekas?” Dan si ibu (yang tak
lepas dari geser sandal itu) cuma terdiam.

Tapi terus mengelus kening si pengembara. Elusan yang
entah kenapa dan untuk apa. Lalu sepasang laron dan tiga
codot terbang. Sedang, lima kambing di kandang seperti
bantal keriting yang bergerak. Tak ditengok. Hanya bibir
si penari menembangkan sesuatu yang kembali terdengar.

Dan kembali pula penonton gelap. Latar gelap. Dan si
waktu, ya, si waktu, tiba-tiba mengurai wujudnya sendiri.
Untuk kemudian menyusunnya balik. Dalam bentuk ember
yang penuh kelenjar ungu. Yang sebelum panggung ditutup,
setiap penonton mencelupkan kakinya ke ember itu.

“Ibu, Ibu, aku melihat, ada jejak-jejak ungu yang tiba-tiba
bertebaran,” potong si pengembara dengan sedikit tersedak.

(Gresik, 2014)

 
Tutul

Dulu, setelah dibersihkan, bumi tampak elok. Air pun
mengalir. Gunung berjejak. Angin bertiup pelan. Dan
yang jalan, terbang dan berenang dibiarkan bertempat.

Dulu, setelah hari berganti, ada juga yang membuang
warna. Semula cuma tutul kecil. Lalu membesar. Dan
berpusaran. Mengingatkan pusaran kaki badai dan topan.

Dulu, setelah pusaran kaki badai dan topan reda, bumi
elok jadi kelabu. Malam jadi agak berat. Relung terbuka.
Dan gua dan terowongan jadi memanjang dan telanjang.

Dulu, yang berdiri tegak, pun segera belajar menunjuk.
Menggaris. Memetak. Lalu menjinakkan si mamalia
untuk dihela dan ditunggangi. Juga dinikmati susunya.

Dulu, dan dulu, dan dulu, mulailah perembutan itu. Dan
bumi elok pun disergap gerhana, gempa, bandang. Juga
bergantinya yang awal menitah dan yang dititahkan.

Atau yang mesti terusir dan mengusir. Atau yang tidak lalai
mengetuki pintu-rumah-depan sebagai pengingat. Tapi,
sayangnya, kami selalu acuh tak acuh, seperti hasrat kisut.

Yang pelan-pelan mengerut. Dan perputaran di punggung
kura-kura tua yang oleng.

(Gresik, 2014)

 
Weton
: cerita mirammastra

Jika esok malam laut pasang datang, tolong pandanglah
dengan jelas. Sebab, pada laut pasang, aku akan
menyerahkan umurku. Umur yang telah terpakai. Umur
yang berkibar. Seperti kibaran bendera yang tertancap di
karang. Karang keling yang disorot cahaya. Cahaya kuning
keemasan.

Dan jangan terkejut, jika di saat yang tak terduga, akan ada
si buaya putih yang menyembul dari laut pasang. Si buaya
putih yang punya kelebat aneka warna. Si buaya putih yang
bahagia ketika memasuki meja pengorbanan. Meja sesaji.
Meja yang penuh dengan bunga, beras, buah dan bumbu.

Seperti kebahagiaan si wanita ketika menyerahkan
miliknya pada si lelaki impian. Meski (setelah itu), arah-
arah ombak tetap saja terambing dan terguncang. Dan para
pelayar, para pelayar yang hebat sekali pun, hanya bisa
melayari sambil menjambaki rambut sendiri.

Padahal, si empu batas-muasal-lautan selalu demikian
dekat. Seperti dekatnya urat pada leher. Urat yang selama
isi perairan dan perabotannya dijaga, tak lelah meniupkan
denyut. Lalu, seperti penanti yang melabaikan sapu
tangannya di pantai, tolong lambaikan juga sapu tanganmu.

Biar nanti setelah aku serahkan umurku pada laut pasang,
selalu ada ingatan: “Jika apa yang ada, tidaklah pernah
cuma-cuma. Meski itu, untuk sebuah penyerahan.”

(Gresik, 2014)

 
Gandum

Dia adalah keturunan kedua-belas dari si penjaga kitab.
Kitab yang mengajari siapa saja agar mempercayai yang
gaib. Juga meluruskan arah kiblat agar sampai pada hasrat.
Dan dia juga yang menyambung bisik. Tentang sepiring
gandum bagi si buta yang galak. Yang tak bosan mencaci
maki si hati dunia. (Padahal, si hati dunia telah menyamar
jadi si lain. dan menyuapinya setiap pagi dengan penuh
adab). Sepiring gandung yang akan ditukar air mata. Ketika
si hati dunia wafat. Dan ketika si buta galak tahu, jika si
lain, yang telah menyuapinya setiap pagi itu, tak lain adalah
si hati dunia sendiri.

Dan aku bertemu dia pada sebuah siang. Di sebuah pantai
tradisional. Dan dari jenggotnya yang lembut, aku merasa,
dia juga yang dulu membuat perahu yang teberkahi. Lalu
mewarnainya dengan hijau, biru dan kuning. Dan
membiarkan buritan agak lapang. Tempat sujud bagi kening
setelah dihantam ombak. Akh, betapa rahasianya jika
sudah di tengah keluasan? “Apakah kau juga suka berburu
ikan?” itu tanyanya padaku. Dan aku mengernyit. Mengapa
kok berburu? Mengapa tidak menjaring atau memancing?
Entahlah. Tapi, aku tetap mengangguk.

Lalu, dia tersenyum. Dari senyumnya, aku melihat seekor
ikan raksasa melompat. Perutnya yang lebar terlihat
tembus-pandang. Dan terlihat apa-apa yang ada di
dalamnya. “Berburulah. Dan cari tahu apa yang ada di
dalam perut ikan itu,” tambahnya. Terus lenyap.
Meninggalkan aku yang sendiri. Aku yang tercekat. Dan
aku yang langsung menebak: Apa sebenarnya yang ada di
dalam perut ikan itu? Makhluk hidup ataukan sekerumunan
renik? Atau cuma semacam sisa makanan yang tak terurai?
Atau malah sebaris doa ampuh, yang dulu pernah
Dilantunkan oleh pelari?

Hmm, ini tentunya tebakan yang tak biasa. Dan barangkali,
si buta yang galak yang dapat menjawabnya. Si buta yang
kini kerap aku temui di sudut kampung. Dengan air mata
terurai. Dan dengan kepiluan seperti ini:

“Wahai, si hati dunia, kapan lagi kau datang padaku dengan
sepiring gandum?”

(Gresik, 2014)

 
Mardi Luhung tinggal diGresik, Jawa Timur. Buku Puisinya, Buwun (2010). Mendapat Khatulistiawa Literaty Award 2010.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 23 Maret, 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 29, 2014 at 1:45 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI JIMMY MARULI ALFIAN

leave a comment »


Terapi Awal Januari

: Pareme

 

Setelah kita sepakat berkomplot dalam sindikat, apakah masih

harus aku katakan bahwa panggulmu dan kuku kelingkingku

adalah bagian dari firman? Padahal di sepanjang Samudra Hindia

yang bising oleh khotbah ombak menubur tebing, kamu berani

menyendiri tanpa jaminan selamat ataupun garansi aku akan

menunaikannya hingga tamat. Perihal siput-siput yang

berkelompok pada bebatu di ujung tanjung, kita selalu punya

alasan untuk tidak menangkapnya lalu membiarkan satu dua

cangkang tinggal di dekat kakimu seperti hendak mendukung

bahwa perantauan akan berlangsung. Tentang padi-padi gendut

yang tubuhnya senang merunduk menghadap laut sepanjang pantai

Krui, aku meyakini itulah bekal yang menyelamatkan perjalanan.

Aku tidak pernah bilang bahwa kita berdua si sakit yang akan

berkelana mencari obat di lekuk-lekuk bukit tapi aku cuma

waspada bahwa cinta pun akan diterpa sejumlah kutuk bersama

ingatan juga pengharapan yang lebih dulu ditanam di sebelah tahi

lalatmu yang membesar itu. Mencintaimu tanpa kecamuk adalah

ilham pertama yang akan memelihara gelora. Lantas adakah

hukum dapat menjangkau perasaan kecut kalau nyatanya ulir

bibirmu bembuatku hanyut? Cuma hening. Mungkin itu nubuat

kalau kita tak akan tobat sekaligus sembuh dari asmara yang kerap

kambuh.

 

2011/2012

 

 

Pencatat Akte Kelahiran

 

Bahkan setelah kau datang berbarengan komet pukul delapan tadi

ia terus mengingatkan bahwa jari-jari panjangmu harus dicap tinta biru:

Pelancong telah tiba dengan batas negara

yang agak meliuk di garis bibirnya

dan selembar peta buta lucu berwarna abu-abu

 

Aku tidak menduga kau datang segera. Di Baturaja, kelok sungainya

sering menyesatkan! Belum lagi batang-batang karet yang rimbun

serapi dan selurus rukuk jemaah sembahyang magrib

itu cukup membuktikan

kalau aku tak bisa menerka setiap kejutan

 

Dengan ramah ia menyarankan agar namamu dicatat

pada register induk bulan ini

 

“Lalu nanti pada bulan kedua belas, ajaklah ia mengamati

kepala-kepala ikan yang timbul tenggelam di pinggir kali

niscaya ubun-ubunnya akan terbuka

lantas lompat seekor naga yang palig lucu

bersisik hijau berkumis merah jambu”

 

Ujarnya saat mencacah

dan menjanjikan takdir dalam bilangan jumlah

 

Siapa yang tahu kalau doa bisa mempan bagi lelaki

yang tengkuknya bergidik lantaran janji?

 

Sebelum pukul 9 malam tubuhmu pun lenyap lalu meronta

seperti hendak tengkurap. Aku ngelantur mabuk dalam harap

separuh percaya suaramu rukun setenang bulat sukun

selebihnya menerka tenggorokanmu kerap tersedak wasangka

 

Maka nama dan tanggal lahirmu harus kudaftarkan secepatnya

agar tahu persis jumlah waris yang bakal diterima

atau berapa jumlah tangis dan sendawa

ketika kau berhasil melongok

betapa surga letaknya beberapa meter dari pondok

 

26 Februari 2013

 

 

 

Jimmy Maruli Alfian lahir dan tumbuh di Bandar Lampung.

Kumpulan puisinya adalah Puan Kecubung (2009)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Maret 2014

Written by Puisi Kompas

Maret 20, 2014 at 10:42 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SENO JOKO SUYONO

with one comment


Pelabuhan Karang Antu, Serang

 

Ibuku adalah pelita dupa

dua hari lalu, ia melihat Kwan Im tergesa-gesa

dari klenteng menuju dermaga

berbelit syal halus Coromandel

ia mengenakan hiasan perut manik-manik Tamil

 

Melewati rumah-rumah walet

yang ludahnya diasinkan saudagar Benggala

ia berbelok melintasi tambak-tambak penyu pelaut Madagaskar

sekolah perikanan yang dibangun orang Pegu

 

Badannya semampai

putih, wangi

ia bicara bahasa Bugis

 

Dewi itu tertegun. Semuanya karatan

ombak gosong

pulau-pulau peti kemas

hilang

 

Ke mana syahbandar? bisiknya

mengapa jung-jung tak ada yang datang?

ibuku melihat Kwan Im menangis

dari matanya menetes mercusuar hitam

 

 

Lampion-lampion Gion, Kyoto

 

Arwah-arwah

salah jalan

 

lampion-lampion

petunjuk pulang sekali setahun

menuntun

 

ke bilik-bilik lain

bukan rumah cucu

 

lorong-lorong sempit

mengacaukan mana utara-selatan

 

dingin

dipetik shamisen

 

dingin

dikoyak kimono

 

dingin

dirompak sake

 

altar kehidupan keluarga

menanti sia-sia

 

 

 

Wat Doi Sutep

                        : Krubha Sriwichai

 

pernahkah kau dengar

seorang bante pedesaan

yang banyak membangun kuil?

 

di atas bukit ia dirikan stupa putih

di pinggir hutan

ia gantungkan genta-genta

 

di ceruk-ceruk goa

ia upam stalaktit stalagmit

menjadi jari-jari mudra

 

ya, ia tak bersertifikat

ia membuat marah bante perkotaan

sebuah delegasi dikirim menghukumnya

 

“kuil tak bisa sembarangan

didirikan oleh sanyasin-sanyasin pengelana”

 

“kuil tak bisa asal dibangun

tanpa persetujuan sangha”

 

tahukah kau

di depan bleduk stupa buatan bante pedesaan itu

 

aku mengenang kisah

jenar yang mayat wanginya

diganti anjing oleh para wali

 

 

 

Seno Joko Suyono pernah belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Kini ia tinggal di Bekasi.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Maret 2014

 

Written by Puisi Kompas

Maret 20, 2014 at 10:10 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAUDAL TANJUNG BANUA

leave a comment »


Barus

 

1.

tak ada jalan lurus ke barus

para pengelana telah lama menembus kabut

mencari celah jalan

ke bekas perigi sultan

hendak mereka gali sumber

mata air yang terlelap

berabad-abad

akan mereka nyalakan kandil

dan lampu damar

di rumah-rumah lampu cahaya

yang tiada terkira ruhnya

o, cahaya, demikian mereka yakin,

engkau tak mungkin tinggal rangka

engkau utuh sejak semula

ibarat kapas lepas di udara

lalu hinggap berbagi-bagi

lesap berbagai-bagai

jadi benang jadi kain

jadi renda jadi perca

di dalam tiap nama

 

maka mereka dirikan bilik kecil

tempat memuja

cahaya maha cahaya

agar jelas yang dipertuan

di masa ini penuh derita

 

2.

kami, pengelana fana, separoh terang

setengah buta, bertahun-tahun kemudian

menyusul mereka menembus kabut

pedalaman sumatera

mencari secercah jejak yang ditinggalkan

sejarah.

 

kami ciumi getah pohon-pohon langka

di sisa hutan bukit barisan

buat mengenal bahasa sumatera

dan batang hayat pohon silsilah

 

kau sebutlah namanya: kamfer

itulah pohon hayat leluhur kami

lebih dari sekedar kapur dari barus,

ia kapur dalam barus

bahkan barus itu sendiri

(serupa nafas bukan sekedar udara yang dihirup

tapi hidup dalam hidup), maka disebut ia kapur barus

sebagaimana cahaya yang tak mungkin tinggal rangka,

wanginya pun tak pudar ditiup-hembus udara

sekalipun kota runtuh penuh derita, kapal-kapal karam

ke dasar samudera

 

o, getah yang mengental dalam pokok batang

adalah darah kami yang dibekukan

kehendak zaman. wanginya hinggap

di tiang perahu dan layar kapal

membawanya pergi jauh

ke lain pulau

ke semenanjung

ujung benua

jadi rempah jadi perancah

di tungku-tungku dapur istana

pengawet ragi kain ibu ratu dan para selir

pengharum ranjang peraduan para sultan

dan kesudahannya merasuk ke kain

para raja

di persemanyam

 

apalagi yang dicemaskan?

pelabuhan besar, bandar berkembang

kota tumbuh bersilang jalan

gudang-gudang dan kongsi dagang

menampung getah darah leluhur kami

hingga siapa pun tahu,

sejak itu, telah ditebang sekalian batang

lebih dari hasrat berladang

getahnya dibawa turun

berbungkul-bungkul, berpikul-pikul

di dalam karung dan kain sarung

dari parliatan, pakkat, kolang, tara bintang,

ona gonjang, parik sinamba, humbang hasandutan

semua dipadatkan dalam lambung

kapal-kapal segala bangsa

dan lambung itu pun menelurkan

keramik antik, barang pecah belah, mata uang dan senjata,

mengeram perangai badai, topan gelombang

penuh amarah

hingga datanglah suatu masa

kapal-kapal angkat jangkar

(atau tak sempat angkat jangkar)

kota hilang dalam semalam

leluhur segala bangsa lenyap

tak tahu rimba

 

kami, pengelana fana,

separoh terang setengah buta

tak mengerti. misteri dan sejarah

sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki

meski kami dengar cerita tentu

tentang serangan gergasi dari laut

tapi tak tahu makhluk apa gerangan

sebagian menyebut itu raksasa kiriman langit

yang cemburu pada surga di bumi

ada pula yang setuju itu bajak laut terkutuk

menaklukkan kota dan raja, memutus urat nadinya

dan sebagian paham dalam angguk

itu bangsa kulit putih yang berdagang

dengan senjata dan tahta suci

 

tak ada yang tahu pasti

hingga bertahun-tahun kemudian

bumi berguncang gunung-gunung berguncang. laut mengelucak

seperti tempayan diayak tangan yang terguncang

lalu gelombang besar, lebih dari amarah topan, menghantam pantai

dan kota-kota yang tidur selepas badai

dan ketika terjaga, semua lenyap seketika

manusia ibarat lalat, dengan satu tepukan,

semua senyap terlepas

beterbangan ke sorga

 

kini di bekas pergi sultan yang belum rampung digali

para pendahulu kami (bagi mereka doa puji), kami bermuka-muka

tegak dan berkaca, tegak dan bersila

kami basuh muka dengan cahaya tak bertara

kami nafasi diri dengan wangi

getah darah leluhur kami

 

3.

di pusat makam keramat

papan tinggi seribu tangga

kami pun meninggi

mencari alamat

yang disimpan semesta

turun ke makam mahligai

aksara-aksara gaib

tak usai terbaca

tapi segalanya terkaca

sehening doa. rumput-rumput meninggi

mencari matahari

dalam diri

 

nisa patah, nisan-nisan sebulat gada

arab dan india menyatu di tanah sumatera

batu alam kembang teratai

menyila kami bersila, merasa sangsai,

sia-sia, menghadap yang baqa

 

lalu nisa tuan ibrahim dan tuan mukhudum

di belakang rumah papan setengah bata

dicumbu pucuk enau, dau rumbia

bila malam tiba. tanpa lentera

konon mereka mesra-memesra

satu menggila atas lainnya

 

“apa zikirnya wahai, tuan penjaga?”

memohon kami pada juru kunci

minta amalan perisai diri

tapi ia pura-pura buta, pura-pura tuli

kami pun pura-pura terus meminta

pura-pura terus mencari

 

“ah, apa pula kau kata,” katanya akhirnya

bagai memungkas kitab larangan

pelan-pelan ia sarungkan

dekat ke dada

 

4.

di barus, hamzah fansuri jadi wisma

(adakah bilik kecil tempat memuja)

di antara padi menguning, terentang jalan

ke pasar lengang, pelabuhan lama

benteng hitam, gereja dan mesjid tua

tinggal hening, sejak ditinggal hamzah, si anak dagang

membawa api syair sepenuh badan

 

andam dewi, lobu tua

negeri percintaan pada pengelana

tempat menggali perigi sultan yang tertidur berabad-abad

tapi yang didapat: pecahan keramik, guci keramat, manik-manik

dan bingkai kapal tak dikenal. lebih banyak lagi

kapal-kapal ikan di masa kini

dan jala nelayan teronggok lapuk di kolong rumah

 

ah, tak kutahu setebal ini kabut perjalanan

mencari silsilah dan api syair

tapi kutahu: puisi adalah tindakan terakhir

seorang penyair

setelah kabut dan jalan-jalan

 

/Barus-Yogya, 2013-2014

 

 

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Kini ia tinggal di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisi terbarunya adalah Api Bawah Tanah (2013)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 Maret 2014

Written by Puisi Kompas

Maret 17, 2014 at 11:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »


Ngurek

 

tanpa sebatang gagang

aku masih bisa berkhidmat

di hadapan rahasia lubang.

 

menanti penuh kesabaran

di uluran benang yang bergetaran.

sepanjang mata kail menadah umpan

agar terjerat sang tubuh hitam panjang

si lihai berkelit, belut berlilitan.

 

semoga tangan peka

pada setiap geletar kiriman.

sebelum peluh menetes

berluruhan tak tertampung

ujung hari yang berkesudahan.

 

saling merenggut dan bersikukuh,

sang buruan tak mudah patah

di seberang kelam dan jauh

dari murahan pada rasa menyerah.

 

andaikan tanganku lengah

dan kehilangan arah,

ia pasti menemu celah

kabur dan tak sempat terangkum gugur.

 

tapi kecergasanku

membikin pasrah makin melemah.

setelah tercerabut ke akar pertahanannya

dua-tiga hantaman ke tanah

akan membuatnya jerih

sampai di puncak letih.

 

2013

 

 

Kolecer

 

aku akan kehabisan bumbu

bila harus menyulam bilik pondokmu

untuk menghadang angin barat itu.

 

aku pun akan kehilangan

pohon keramat kampungku,

hanya untuk membangun dinding kayu

pada kamarmu.

 

maka kuhadiahkan sebatang pancang

tubuh gombong bambu.

juga seraut kayu

yang memipih,

mengusik musim yang menepi kini.

 

kau boleh memilih jati, tisuk, bihbul

atau surilem sesukamu.

sebab sungguh luas hasratku

memanggulnya di atas punggung

Galunggung yang kian penuh-peluh.

 

mengaraknya ke pematang sawah

dan menancapkan tepat

ke kedalaman tanah.

tegaknya seperti isyarat pitarah

di mana selalu tertuju pada wibawa.

 

pusarnya yang mengunci

menjagai wajah angkasa yang perkasa.

ekornya melambai

membagikan wajah angin yang tergerai.

 

dan apabila terdengar dengungannya

burung-burung terusir sudah,

padi-padi tumbuh suburlah.

 

anak-anak menyukai suaranya

seperti mendapati teman sejawat

yang setia mengisi tabah

ke tiap rusuk dadanya

dan akan senantiasa terawat

di dalamnya.

 

suatu petang di bawah cahaya jingga

yang semakin mematang,

diriku menghadapinya,

terasa lebih menantangnya.

tapi langit juga terhisap

ke dalam pusarnya.

sehingga teramat gegabah

bilah wajah resah terus saja

kubiarkan tengadah.

 

2013
 

Mugya Syahreza Santosa lahir di 3 Mei 1987 di Ciajur, Jawa Barat. Kini ia tinggal dan bekerja di Bandung. Hikayat Pemanen Kentang (2011) adalah buku puisinya yang pertama.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 Maret 2014

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2014 at 6:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

with one comment


SATU BELAHAN BULUH BUAT SATU BATANG TOMAT

 

buluh ini aku ambil dari tepian sungai yang mengalir

di tanahkuning, tepat matahari di tengah ubun, tepat murai

batu berkicau berkali-kali, aku ambil buluh yang beruyung

biar kuat dia diterpa angin, panas, hujan karangsadah.

 

buluh ini aku tebang dengan parang yang paling tajam,

parang yang telah meyakinkan matanya dengan luka

yang menganga di perut. ketajaman mata parang

membutuhkan sakit batu asahan yang tak pernah usai.

 

aku buat dia sepanjang 2 meter 10 sentimeter. aku potong

ujung yang merupakan kepala, aku potong pangkal

yang merupakan kaki, tak apa tak berujung tak apa

tak berpangkal, sebab dia akan aku tanam sendiri.

 

buluh ini aku tancapkan di satu batang tomat, tomat jelang

berbunga pertama, menampung angin, menampung panas,

menampung hujan, menampung kegelisahan harapan

orang yang menanam, menampung kehancuran dirinya.

 

perlahan dan pasti kulitnya mengkerut.

 

buah tomat berbuah ranum,.ditawar seharga 4000 rupiah

sebatang, menunggu 4 bulan, menunggu air kerongkongan

penanam yang tak kering di karangsadah ini.

 

(2013)

 

 

LADO SUNGAI PUA

 

berkunjung ke sungai pua, mengikuti garis kerikil, pasir, runduk

ujung daun yang melengkung ke batang tubuh, kuat jalaran

akar yang mengikat ke pangkal batang, serbuk benang sari

yang mengikat diri ke kepala putik, aku temukan lado orang

sungai pua.

 

lado orang sungai pua, ditanam di sebidang tanah di depan rumah.

diselingi bawang perai, seledri, lobak sawi. pupuknya tahi ayam.

racunnya air liur pagi hari. hujannya kumpulan embun merapi.

di satu kaki merapi, di satu ladang, di satu batang, di satu buah

lado merah sungai pua, aku temukan diriku, melengkung

 

memeluk jantung. diriku akar yang menjalar dalam biji lado

sungai pua, bunga yang mengendap di pangkal daun yang

mencintai batang, buah yang matang di meja makan dengan

tambahan irisan bawang perai, taburan garam, seledri sungai pua,

lezatnya.

 

(2013)

*lado (cabai)

** Sungai Pua (nama asli daerah Sungai Puar)

 

 

KAYU API DI GARIS TANGAN

 

Bah, aku si penghuni rumah:

di halaman rumah ini kau carah kayu, kau pasang mata baji,

marete itu memukul baji, pukulan pertama pukulan lunak

selunak jalan pikiranmu, pukulan kedua pukulan keras,

sekeras garis tanganmu, pukulan berikutnya pukulan entah,

entah pada pukulan berapa kayu ini keping. kayu keping

lepas sakit mata baji,  kau susun kepingan itu serupa

menyusun kepingan dirimu yang entah ribu detik ke berapa

usiamu menjadi daging kayu ini.

 

tidak apa, aku masih penghuni rumah ini:

kayu ini kayu rimba, kayu bernama kayu paniang

hutan tanahkuning, lunak ke dalam keras keluar, lunaknya

telah kau uji di mata baji, kerasnya telah kau palu di kepala

marete, sempurna kayu ini kau keping sempurna garis

tanganmu memecah kayu, di hari pakan kayu api kau jual,

kau tukar dengan beras solok, kelapa pariaman, ikan padang,

kau tersenyum, kau masak nasi, kau hidangkan padaku,

makanlah.

 

(karangsadah, 2013)

 

 

 

ALIZAR TANJUNG lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN

Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 MARET 2014

Written by Puisi Kompas

Maret 4, 2014 at 9:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: