Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Mei 2013

PUISI NEYLA KUN ARIFA

leave a comment »


Lagu Air Jatuh

 

dalam tubuhku ada yang diam-diam menjadi air

air yang menyucikan tubuhku

mereka luput dari lumut

dan bebas dari waktu

 

di padang gurun orang-orang dahaga

meminum air dari tubuhku

wajah mereka memantul dari air

dan menyeringai padaku

 

pada kesunyian orang saleh

air tubuhku mengunjungi Tuhan

dan mencium batu hitam

 

ketika melintas di jantung kota

orang-orang saling mengarahkan senjata

bersama lengking yang sangat nyaring

air dalam tubuhku ngucur di mana-mana

menggenangi rumah, menggenangi jam dan angin

 

air dalam tubuhku menyusun lagi air yang jatuh

serupa sepi yang sembunyi di balik daun

sepi yang bersepakat dengan angin dan matahari

menunggu daun-daun tubuhku

lepas satu-satu

 

 

 

Perjalanan Air

 

Alm, Rahmat Saz

 

air itu hanya ingin mengalir, terus mengalir

melewati sungai dan kejadian yang berganti

mengantar yang hendak berangkat ke hilir

 

air itu hanya ingin mengalir, terus mengalir

meski seribu mata mengintai

karena ricik-ricik kecil menepi

 

air itu hanya ingin mencapai muasal yang asin

merangkumkan perjalanan dari

pertemuan singkat. sebelum kembali nitik

di tanah yang lain.

 

 

 

Menjelang Kemarau

 

telah kuterima isyarat angin yang mempercepat laju

awan di bawah langit yang makin biru

hujan akan bergegas

melanjutkan perjalanan

 

telah kuterima isyarat di kuping daun

dari matahari yang bersinar utuh

tanah akan kembali gersang

hari berdebu

kelender kemarau

 

 

 

Neyla Kun Arifa lahir 3 September. Besar dan menetap di Bantul,

ia kini belajar di Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 26 Mei 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2013 at 3:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AGRYANTI

leave a comment »


Anjani

 

bangsa jin yang menyulapmu

telah terbang menghilang

di pusuk. Bersama juru kisah

menjadi kupu-kupu

 

aku menerimamu sebagai anjani

matahari yang gerhana

tenggelam

di balik perasaanmu

mengingatkan pada derita,

mulang pekelem, cinta yang sirna

 

di manakah ihwal mula segala

jalaan kembali

akhir yang gaib

 

puncak ini sunyi

dari ketinggian

kengerian menghujam

tajam

 

aku dan kau

berdiri sedekap

 

2013

 

 

Anjing Gunung

 

tukang masak

dari balik bukit

mengenal tanda itu

ngilu pada waktu lengkingmu

 

dari sunyi senyap

pagi dingin

sebelum matahari

 

tubuh gemetar

yang putih jernih

seperti zaitun

basah oleh kabut

 

ke dalam hutan

dimandikan cahaya

pohon, tebing tinggi,

kesedihan

 

jika sungai telah mati

dan gembala tak ada

jangan mengeluh

duduklah di dekatku

 

di bukit ini

menjaga yang pernah ada

dan kini tak ada

 

2013

 

 

 

Alzheimer

 

di hadapanmu, aku

tak mampu membedakan

bayangan, kenangan, ataukah

nestapa

 

lubuk hitam kelam

datang kepada malam

kegelapan ilusi

lempang di landai prasangka

 

di hadapanku, kau

ingatan yang mengecil

mimpi keperakan

memendar pada ujung

sia-sia usia

 

lalu segalanya muda

kembali seperti belia

 

2013

 

 

 

Kamar Gelap

 

kamar gelap

adalah hantu yang murung

dengan jari-jari dan kuku hitam

menjangkau mimpi

dipinjamnya rasa sepi

disimpannya ke hening malam

 

langkah yang gontai

semacam hembus angin, tirai yang lambai

gerimis yang tak henti-henti

 

kamar gelap

adalah hantu yang berjaga

dengan kaki-kaki dan rambut panjang

dipinjamnya hening malam

disimpannya ke dalam sepi

 

2013

 

 

 

Irma Agryanti lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ia bergiat di Komunitas Akarpohon.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 26 Mei 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2013 at 3:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Perihal Tokoh Utama Komik

 

Ia berdiri. Luhur dan hening. Rapuh dalam ikatan yang

rawan putus. Diselubungi jaring laba-laba dan kebisingan

dari kepalanya. Matanya terpejam bagi puing-puing, juga

bencana yang masih rencana.

 

Sepasang tangannya terentang. Lapang bagi penerimaan.

Seperti sayuran terpotong-potong. Mencintai pisau dan api

dapur. Kepalanya menampung penyakit. Sebagian berperang

melawan seluruhnya.

 

Bibirnya dijahit. Perutnya penuh kebakaran dan kelaparan.

Kemauannya lunak bagi kebingungan dan keras kepala.

 

Tubuhnya dicabik-cabik waktu. Berisi sesuatu yang

mengizinkan tubuh lain tumbuh ditubuhnya. Paru-parunya

sering kering. Hatinya kuning. Jantungnya memompa

kehidupan yang ragu-ragu.

 

Bahunya lebih kuat dari batu gunung. Pembuluh darah

menuangkan udara ke dalam suaranya. Menghamburkan

kekuatan untuk setiap ons takdirnya. Ia hidup. Dihiasi

pakaian berbagai warna. Ia bicara menggunakan bahasa roh.

Tidak masuk akal, namun penuh tetapi. Ia kadang meratapi

bebannya. Ia menggantungkan diri di kontrak besar yang

tidak pernah ditandatangani.

 

Hatinya selalu berduka dengan harapan suatu hari ia utuh

kembali. Awan akan hilang. Api yang membakarnya dari

dalam akan dingin. Lengannya terpasang lagi – dan tumbuh

jadi kebun baru. Kepalanya menjadi seluruh. Hatinya merah.

 

Ia cantik. Pemurah dan tidak pemarah. Tak tertandingi

senyumnya. Ia akan menggodamu dengan cerita yang tidak

ada ujungnya. Dongeng dan musik ajaib. Ia waktu. ia seorang

ibu. Ia mengandung dewa-dewa. Ia rahim ribuan

penyembahan dan tarian.

 

Namanya sama dengan nama negaramu. Sepasang lengannya

terentang. Mencintai pisau dan api dapur.

 

2013

 

 

 

Telanjang di Depan Cermin

 

Aku berdiri di depan cermin. Telanjang dan mencari

intim dari seluruh yang tiba-tiba asing dan liar.

 

Rambutku hujan, atau komet di langit malam. Rahang

persegiku mahir menakut-nakuti tangan pencari yang lemah

lembut. Mereka akan melihat benteng kokoh, bukan benteng

pemalu. Bibirku langit dan kakinya pada pukul 6 sore. Atau

teluk yang ditakdirkan tidak dipeluk sempurna.

 

Lekuk teluk bibirku mencibir dua danau di atasnya. Tetangga

yang tak pernah saling mengunjungi. Sepasang kesepian.

 

Masa depan mataku adalah kemarahan. Juga kelemahan

tempat cinta terjatuh. Suatu hari kelak kau akan mengatakan

hal indah mengenai mataku. Mataku kegelapan yang

mengenakan bintang-bintang tidak mati. Gelap seperti dasar

lautan. Seperti pertanyaan yang menolak semua jawaban.

Mataku menyembunyikan rahasia, termasuk dari dirinya

sendiri.

 

Aku mencengkeram wajahku. Menyarankannya pantang

menyerah. Hidungku jalan sempit dan datar. Aku mewarisi

keterbatasan. Modal baik bagi petualangan.

 

Aku menelusuri garis leher hingga pinggang. Tebing gunung.

Para pendaki belum pernah ke sana. Lenganmu masa

Depannya. Juga payudaramu. Kau akan kelelahan menanjak

ke puncak. Di bahuku akan dibangun perusahaan dan rumah

tempat seorang perempuan pelancong akan mampir. Juga

tempat kita berbulan madu selamanya.

 

Meski sudah kuat, tubuhku masih ingat aroma rahim ibunya.

Segera akan datang kau menawarkan rahim berparfum merek

lain. Jahat –  dan murah senyum.

 

Tungkai kakiku sepasang pohon. Berdiri di kiri dan kanan

jalan bersemak. Ia akan mengembalikanmu pada rahim ibu.

 

Aku remaja tiga belas tahun. Berdiri telanjang di depan

cermin. Tubuhku negeri asing. Masih menunggu

masa datang kau.

 

2012

 

 

 

Laut Berparuh Merah

 

Akan kuhentikan tahun-tahun diamku demi mengatakan kau

cantik. Setelah itu, aku bunuh diri. Atau memintamu menjadi

seekor gagak yang mematuk mataku. Aku ingin melihat

perihal terakhir sebagai merah paruhmu.

 

Halaman dan rumahmu penuh langit jatuh. Permukaannya

menyentuh dan menjadi kalung bagi leher kotamu. Laut

merebut kau. Matamu berteman dengan ikan dan terancam

mata pancing.

 

Laut adalah langit, namun sedikit lebih basah. Keduanya

cemburu pada matamu.

 

Waktu jadi siang yang padam berminggu-minggu.

Menggenang seperti kenangan yang ditinggalkan jalan

pulang.

 

Bencana melandai dan jadi tongkat yang menggandeng

Tanganku ke pantai. Dengan gemetar rindu, aku sentuh

alismu. Sesuatu yang asin dan asing menjawabku. Butir-butir

garam yang terbuat dari masa lalu kita. Aku tak bisa

merasakan angin lagi sebagai lagu. Ia menyebut terlalu

banyak nama.

 

Bekas lukaku hidup seperti sisa air yang terperangkap di

telinga usai mandi. Seperti gigi bungsu. Susah payah tumbuh

dan merobek gusiku.

 

Kau kini laut berparuh merah. Tulang rusukku debu. Cinta

jadi lumpur, jika aku menyentuhmu. Aku menyimpan napas

terakhir dalam botol. Aku meletakkannya di rambut-rambut

halus tubuh berombakmu.

 

Kelak jika kau bangkit, lolos dari laut. Aku akan menyusun

debu-debuku kembali sebagai kita. Sebagian kuciptakan jadi

kata-kata yang cuma mencintai mulutmu dan telingaku.

 

2012

 

 

 

Menjatuhkan Bintang-Bintang

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet Turki dan

menjualnya kepada penawar tertinggi. Akan aku lepaskan

binatang buas dari diriku. Ia pernah tidur berabad-abad di

rumah ibadah. Selalu lolos dari perangkap cahaya.

 

Aku belajar dengan cara mengabaikan. Tetapi, sekarang,  aku

ingin berhenti sejenak. Mengingat nama mereka yang

ditelan di pasir hisap pikiranku tahun lalu. Ada hutan hitam di

kepalaku. Waktuku penuh tengkorak. Kakiku tangga.

Memanjat dan menjatuhkan diri sendiri. Kepalaku pernah

lebih ringan dan bulu burung gelatik. Menggelitik seperti

riak-riak halus di perut perahu yang berbaring di perut telaga.

Menggoyang langitku.

 

Begini ramalan cuaca pekan ini: Besok: Lebih cerah dari

senyum bayi. Lusa: Langit remaja jatuh cinta. Ceria dan

mengumpulkan hujan. Kamis: Penuh awan berbentuk tanda

baca. Jumat: Curah dari awan mirip kebun binatang. Sabtu:

Api dan apapun yang menyerupai itu. Minggu: Tidak ada

cuaca.

 

Hati-hati. Angka bunuh diri langit bisa tiba-tiba meningkat.

Begitu juga dengan kelembaban dan keasinannya. Tetapi aku

akan berjalan-jalan di cakrawala ketika matahari mendarat

di topiku.

 

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet. Sebagai

bintang-bintang, kau akan berjatuhan. Di cahaya sekarat

senyum terakhirmu ada sesuatu yang nampak serasi.

Mengerikan dan menantang. Aku untuk pertama kali

kaupahami.

 

2012

 

 

 

M Aan Mansyur tinggak di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya yang terbaru adalah Tokoh-Tokoh yang

Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012)

 

 

 

PUISI, KOMPAS, MINGGU, 19 Mei 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 21, 2013 at 8:15 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HASAN ASPAHANI

with one comment


Aku Sudah Tidak Lagi Bertanya

 

AKU sudah tak lagi bertanya, lewat dari tapal berapa

kapas kata dari ikatan pantun, tualang menjadi tapa,

 

Aku pejalan rambang, menggadang karena rumah radang,

Aku sudah tak lagi bertanya, berapa bayang tumbang.

 

 

Pengumuman Orang Hilang

 

RADIO itu kepalaku sendiri. Yang akhirnya berhenti pada satu

frekuensi, yang terus-menerus memutar ulang hal sama: pengantar

akhir siaran.

 

Aku seperti memutar kenop frekuensi radio, mencari entah siaran

apa yang sedang ingin kudengar. Mungkin pengumuman seseorang

yang hilang.

 

 

Raung Kaca, Ruang Baca

 

NANTI aku ke sana sebagai pemelesir, terusir.

 

Mencari buku yang hilang, atau yang belum ada.

Itu sebab aku mampu sepura hati, berpura-pura.

 

Itu seperti danau, berparas kaca, bayangku

meraung di sana, aku yang hanya sanggup gugup,

tentu tak mendengarnya: mencemaskan pangkalan

ditelan pisang, tak bisa berhenti, pusang hati.

 

Nanti aku ke sana sebagai pemburu, dengan pemuras,

senantiasa menodong ke arah kiri, ke dada sendiri.

 

 

Pengakuan Seorang Mantan Pencuri

 

RUMAHKU adalah rumah-Mu. Rumah-Mu adalah rumahku. Sekarang

kalau aku hendak masuk, aku tak perlu lagi membongkar jendela-Mu.

 

Tapi, tadi malam aku mencoba mencuri lagi di rumahku sendiri. Diam-diam

Menyelinap ke dalam hati-Mu, dan berharap Kau memergoki aku.

 

 

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur,

Dan kini bermukin di Batam. Buku puisinya yang terbaru

Adalah Mahna Hauri/A Fairy’s Veil (2012)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 MEI 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 13, 2013 at 7:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


PUISI DODY KRISTIANTO

 

Memedi

 

Bissmillahi, aku menunggu dengan tingkah sopan.

Kutaheskan badan lemah gemulai ini agar terbiasa

menerima sembur darimu. Sebagai yang kasat

dan tak kebal dari godaan, kupercaya kegaiban.

Kugedruk bumi tujuh kali dan kutunjuk langit

sesekali.

 

Keluarlah, mentaslah, bertarunglah.

 

Pastinya, aku pantang menyalakan lilin. Tak ada

komat-kamit, bau menyan, hingga darah jago

yang terbelah. Gemetarkah aku? Tidak!

Meski rupamu tak kutangkap dalam cermin

 

Sekali lagi, ini malam Jum’at penghabisan.

 

Kuberucap basmallah pertama. Kusuwukkan

ke dalam kelewang. Agar aku yang lemah belaka

dapat menyigar tubuhmu. Atau jubahmu.

Atau batangmu. Atau segala tampak yang kusangka

kamu. Aduhai, sanak kadang pengganggu.

 

Ingin kutuntaskan kutuk dan sumpah serapahmu dulu.

 

(2013)

 

 

Genderuwo

 

Siapa yang mau menemaniku? Kamu? Atau sesuatu

di luar kamu? Yang menerawang di sebalik kancut?

Yang mengincar dan ingin keluar dari cawat? Serta

menyiapkan kegawatan kunam sebagai serbuan awal.

Ketahuilah, aku perawan yang tak pernah gemetar.

 

Memang, aku pikir pula kita bernama sama. Bertubuh sama.

Dan berasal dari malam sama. Lama aku hindari

segala tarung. Agar tamu malam ini semesra perjamuan lalu.

Kamu peyakin ikhwal awal kewingitan. Aku pemuja yang pasrah

pada yang mengendap. Jangan lagi tergesa. Jangan lagi lewat

dengan cepat.

 

Aku telah mengamankan segala kitab ajian. Aku simpan

agar sempurna semua penyatuan. Serupa sepasang angsa

mengambang pelan. Lepaskan. Lepas segera satu selubungmu

tersisa. Kita akan berjalan berdua. Berjalan menuju pagi

yang tak kembali.

 

(2013)

 

 

Tarung Tenung

 

Puh, berkelit ataukah mengelak, ini hanyalah tingkah sekadar

penggayang yang berserah pada daya kaum gentayang.

 

Kau yang mengimani teluh. Telah pula kau sawur

kembang mawar, melati, kenanga, kantil, hingga

aroma sigaret menyan yang mengundang tentara

tak tampak pandang

 

sebenarnya, ingin kukembalikan semua pada tarung belaka.

Harus melangkah pulang sawan yang kau semburkan,

harus beranjak pisau yang kau tanam dalam badan.

 

Lalu bagaimana semua tuntas bila kita tak beradu?

Tak ada bentur, tak ada gelut, tak ada geliat.

Dan kita serahkan semua pada tiup. Pada anasir

yang menebar ranjau-ranjau di udara

 

Wahai, kau yang menyergap tuba di penghujung liang,

lidahmu berbenih celaka, taringmu mengundang bahaya.

Haruskah kusemayamkan paku ke tengah gedebok pisang.

Agar kelak kau dapat mengerti, tanpa mencakar

dapat tembus logam dalam jantungmu, jantung peniup teluh

yang membangkitkan semut rangrang dalam lambungku.

 

(2013

 

 

Menyambut Jenglot

 

Kamu kelana dan kami menyergap

Kamukah sesungguh jantung hati?

Tak maukan berubah selayak kami?

 

Tapi diammu langgam mengancam

Harus jeli kami memahami perilaku rahasia,

Penganut langkah rahasia dari kitab rahasia.

Juga pengucap doa rahasia dalam ayat rahasia.

 

Kemarilah,

Bersepakatlah dengan sebatang dupa

sebatang yang gemar mengantar

segala rupa tak ada.

 

Kami mengamini. Perjumpaan berdua bukan perkara

menumpahkan darah. Tanpa perlu bimbang, kami rela

bertukar rupa. Masuklah, berapa banyak menyan

yang kami sembahkan agar kamu yang diam

mau bertandang?

 

Kemarilah,

sebelum pagi menunjuk pukul dua.

sebelum kami gedruk tanah dalam gerak

tujuh langkah

 

(2013)

 

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya dan tinggal di

Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini bergiat bersama

di Komunitas Saparatos

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 MEI 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 13, 2013 at 6:36 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI WENDOKO

leave a comment »


Dongeng Sebelum Tidur (15)

 

Kau suka menyelipkan melati ke rambutmu.

Harumnya jadi aneh waktu bercampur bau rambut – lebih

lembut dari sitrun. Tetapi sitrun adalah harum yang paling

lembut, begitu katamu. Tahukan kau, melati selalu

mengambil harumnya dari bau lain di dekatmu?

 

Tentu aku tahu. Saban hari kau yang merawat

bunga-bunga di kebun. Kau menyapu daun-daun prem yang

rontok, menata letak batu-batu, dan membuat gundukan tanah

di rumput. Kau yang menanam tanaman rambat di dinding,

lalu mengatur bambu-bambu menutup dinding yang

menyudut. Kau pintar merawat tangkai bunga atau memotong

batang, karena itu kau akrab dengan bau-bauan itu. Tapi kau

paling menyukai anggrek dalam pot. Itu anggrek musim semi,

katamu. Harumnya tak menusuk, tangkainya ramping, dan

kelopaknya serupa lotus. Warnanya juga putih-keruh. Kau

juga menyukai azalea, yang jarang kaupangkas dan karena itu

tak tumbuh merumpun.

 

Di pondok mungil kita, kau yang menanam bunga-

bunga dalam pot. Sampai tak ada lagi tempat kosong.  Kau

menyusun krisan, selusin atau dua puluh – dalam pola tak

berimbang dan aneka bentuk. Tak boleh terlalu rapat,

katamu, agar bunga-bunga tak berdesakan atau saling

menumpuk. Kadang kau mencampur bunga-bunga, lalu

menyelipkan batang rumput – dan memakai penjepit agar

tangkai tegak dan melentur. Tetapi kadang kau hanya menata

bunga di mangkuk. Kau mengikat beberapa tangkai, lalu

menancapkan pada alas berpaku – sebelum mengisi mangkuk

dengan potongan arang, pasir yang habis dicuci, menuang air

dan melekatkan selapis lumut.

 

Waktu malam kita berdiam di kamar itu. dinding-

dindingnya sudah kaulapis dengan kertas berkarakter Fu.

Dalam cahaya pelita, kamar itu jadi teduh. Kau kerap

menyeduh teh, dan kita memandang ke luar pondok. Di langit
awan merambat dan setiap saat berubah bentuk. Bulan

bersinar di belakang pepohonan pinus. Kita menikmati bulan,

bunyi jangkrik, dan gemulai angin pada daun-daun,. Aku suka

menulis sajak pada waktu-waktu itu. katamu, sajak-sajakmu

seperti gemericik air atau bunga-bunga gugur. Kataku, aku

mencintai matamu yang seolah danau dengan warnanya yang

teduh.

 

Lama setelah kau pergi, aku masih merawat kebun

dan bunga-bunga dalam pot. Aku menyeduh teh, lalu

memandang ke luar pondok. Aku masih menulis sajak-sajak,

dan selalu mengingat harum melati yang kauselipkan ke

rambutmu…

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (19)

 

Rambutnya menggunung dijepit tusuk konde perak

Ikal-ikal rambut keperakan,

tergerai sampai ke bahu dan alis mata.

Ia bermantel hitam, gaunnya sutra

-bersulam, berkerah lebar dan ramping di pinggang.

Wajahnya berbedak tipis, dengan perona merah delima.

Ia yang mengangkat tirai di kabin kapal

-di sisi Sungai Shamen, dalam kapal mirip kulit kerang.

Di dalam kabin, ada kursi-meja teh, sebuah dipan

lalu pintunya yang menuju buritan.

Ia pintar bermain bhipa dan menyanyi seperti burung balam.

Tapi hari itu, di sudut itu, ia hanya diam

-menyandar pintu dan memandang diam.

Waktu aku menunjuknya, ia datang

lalu menyodorkan buah pinang….

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (20)

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kita minum arak di bawah langit hitam.

Kau tak pintar minum, dan setelah

cangkir ketiga wajahmu memerah.

Kau pernah berkata, “Jika ini kehendak Dewa,

bulan akan muncul di langit,

dan kita akan hidup sampai rambut memutih.”

Ah, kukiran tak baik mencobai dewa-dewa.

Tapi setelah itu angin mengusir awan.

Waktu tengah malam, bulan kembali benderang.

Di danau, kita lihat riak air yang keemasan

seolah ada lampu-lampu menembus pepohonan

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kau dan aku menggambar ying-yang di kertas.

Kita duduk di muka jendela,

berpakaian sutra dan kipas di tangan

lalu memandang ke kolam, di luar jendela.

Waktu malam angin singgah, dan bulan

bercahaya di daun-daun pisang.

Kau telah menyiapkan dupa dan aneka buah,

lalu sepasang lilin di meja.

Katamu, “Hari ini Gadis Penenun dan Gembala

akan bertemu di Bimasakti,

di jembatan yang dirakit ribuat burung parkit.”

 

Sekarang bulan ketujuh….

 

Aku tahu kau akan datang.

Aku telah menaruh pakaianmu di ranjang

lalu sepasang selop di kaki ranjang.

Ah, ingatkah kau, dengan pakaian itu

kau mengamati bunga prem sehabis salju,

atau bunga krisan waktu embun jatuh

dan anggrek saat hujan mengguyur.

Di meja aku menaruh semangkuk bubur bhitan,

lilin-lilin, cangkir teh dan teko

lalu vas berisi bunga bakung.

 

Di kamar itu aku menunggu.

Waktu malam merayap, lidah api di lilin melompat.

 

Baru aku ingat. Aku belum melayarkan

lentera kertas di sungai, untukmi.

 

 

Keempat Musim

 

(Puisi Kanvas untuk Wang Wei)

 

/1/

Kamelia di dalam pot, bunganya seperti peoni

Merah, merah-muda, dan putih

 

/2/

Cakrawala seperti tak berujung

Kosong, hanya gelombang laut

 

/3/

Pepohonan memaparkan bayang-bayang

Angin musim panas berembus di air kolam

 

/4/

Datang dan pergi seperti camar di atap

Awan menelan matahari yang tenggelam

 

/5/

Basah kuyup waktu musim gugur

Burung meracau, kelopak-kelopak bunga gugur

 

/6/

Pohon prem berlingkar batang tiga depa

Dahan-dahannya memayungi mata

 

/7/

Bunga persik telah lewat musim

Kelopaknya jatuh dan daunnya menguning

 

/8/

Waktu musim dingin hanya bentangan air beku

Yangliu bertengger di muka langit yang kelabu

 

 

 

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah

menerbitkan beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012).

Sebagian puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa

Inggris dan terbit dengan judul Selected Poem (2010).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 5 MEI 2013

 

 

Written by Puisi Kompas

Mei 6, 2013 at 2:14 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: