Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Zelfeni Wimra

PUISI ZELFENI WIMRA

with 6 comments


ode liris inyiak guru

 

jalan ini tak lagi sunyi, nyiak

langkah kami kadang mirip derap duka perang yang berlari kencang

tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri

meredam ringkihnya sendiri

 

melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo

menggenggam gigil di ujung jarinya

denyut yang canggung

kitab-kitab kuning telah memutih

gema suara debat mengabu di rusuk surau

tahlil dan kunut ditabukan

segalanya bertaburan jadi bid’ah

memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak

dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang

menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 at 8:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZELFENI WIMRA

leave a comment »


Sajak Surau Patah Tiang

 

Kami jabat surau ini

pengisi musim yang berlepasan dari jantung kami

surau patah tiang

tumbang menjelang hari raya terang

 

di remang mihrab, masih ada yang tegak

menggumam berzanji:

ke surau adik ke surau

ke surau membasuh kaji

risau bersabut rarau

alif kami tak lagi berdiri

 

2012

 

 

 

Kampung Tak Bernabi

 

perkampungan kembali tenang

setelah ayat terakhir alfatihah diaminkan

lidah kami berhenti pada alif lam mim

tiga huruf bersangkutan dalam rahasia

mereka tak sempat jadi kalimah.

kata alif: aku tidak sanggup berdiri di titik kesendirian

ucap lam: kau masih menjauh tak menjangkau tubuhku

mim pun berseru: rajah aku lam. aku kedinginan.

 

terdengar ada yang berdentang

seperti gemerincing lonceng

menjelang jibril turun mengurai misteri kalam

tapi di kampung kami ini kini tiada lagi yang bisa kami panggil nabi

 

2012

 

 

 

Puisi Bungsu

 

:brigitte oleschinsky

 

aku salut pada helaian rambut yang berpenggalan

jatuh di lantai salon kecantikan

sebilah gunting telah memisahkannya sari kepala seorang puan

yang berias menjelang tiba hari pernikahan

 

aku salut pada perut sepatu yang pandai merawat cemburu

sebelum sebuah perjalanan direncanakan

selalu bagian punggung yang dibersihkan

dipugari dan diminyaki

padahal sakit perjalanan tertumpu pada sisi dirinya yang tertekan

 

aku salut pada jiwa tulus anak-anak ikan gabus

menetas beratus-ratus

langsung berhadapan dengan arus

namun bila lapar menguras usus

mereka serahkan badan dimakan induk yang rakus

 

aku salut pada kepandaian seekor belut

meskipun badan dibalut lumpur

tetapi selalu bisa meluncur

tanpa sedikitpun berlumur

 

aku salut pada ketaatan si kaki seribu

merangkak lambat menekuni lumut tebing batu

seolah tidak tahu, laju waktu selalu terburu

baginya, hidup sekenyang rahang

mengapa harus berlari kencang seperti kijang

atau melayang ke awang serupa elang

 

aku salut pada landak

terbiasa menahan duri di atas daging sendiri

aku salut pada kesetiaan burung hantu pada pasangannya

aku salut pada airmata nelayan yang menetes ke tengah samudra

aku salut pada puasa induk ayam yang mengeram

aku salut pada pintu yang sedia menutup diri

sebelum penghuni rumah bepergian

aku salut

aku salut pada bait-bait pusi di buku ini

yang tidak pernah mengerang atau meradang

padahal setelah aku karang sengan garang

ia lebih berpeluang terbuang, dari pada dikenang

 

2012

 

 

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang

Limopuluah Koto, Sumatera barat. Ia tengah

mempersiapkan buku kumpulan puisi pertamanya,

Air Tulang Ibu.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

September 25, 2012 at 3:49 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: