Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Warih Wisatsana

PUISI WARIH WISATSANA

leave a comment »


Begitulah Setiap Malam

 

Begitulah setiap malam kami bertemu

meniru tetes air menembus dinding

membayangkan seekor anak burung

tidur semusim di liang batu

 

Bila kami jemu berbagi cerita

Ia membujukku mengenakan topeng ibumu

Berulang meyakinkanku

bahwa tubuhmu hanyalan pualam angan

genangan kenangan yang sekejap lenyap

sewaktu tangan menyentuhnya perlahan

 

Tubuh yang kelak jadi rabuk akar mati

biarlah kini menjelma sebatang pohon tua

di mana sepasang tupai melayang riang

tak peduli siapa pencipta patung di taman ini

tiruan dirimu yang ingin tersipu sepanjang hari

 

Bila aku berbaring murung di ranjang

dan enggan berbagi pandang

Seketika dirinya berpura gila

bagai seorang ayah yang gelisah

berdiri di ambang pintu hingga petang

menunggu di bungsu yang tak kunjung pulang

 

Atau jadi seorang kekasih putus asa

serupa tugu batu penyendiri

berdiri di simpang jalan

hingga lampu kamarmu padam

 

Lalu memekik dari lantai empat

mengejutkan orang-orang lewat

menduga dirinya akan nekat meloncat

 

Di waktu lain ia tercenung di kamar mandi

semalam membasuh wajah berkali-kali

merasa diri seekor ikan terbang terlupakan

mengigaukan nama-nama sungai dan lautan

 

Segera kurayu ia mengunjungi rumah piatu

seorang tua dengan langkah ragu tak sampai ke pintu

mengucapkan selamat datang seraya tertawa hampa

 

Kubisikkan padanya bahwa kelak begitulah nasib kita

ia hanya tersenyum seolah satu hal yang lumrah saja

 

Bila kami tak kunjung merasa bahagia

ia menari di depanku

menanggalkan satu persatu masa lalunya

sengaja menghalangi jalanku ke pintu

sambil berulang memecahkan piring

agar suara marahku tak terdengar nyaring

 

Begitulah setiap malam kami bertemu

berkali merayakan hari kelahiran

saling menyalakan lilin di depan cermin

mengecup kening dan meraba wajah masing-masing

yang entah kenapa selalu saja akhirnya serupa

 

2012

 

 

 

 

Umang-umang

Kepada Penyair Ketut Suwidja

 

Genaplah petang ini

Umang-umang yang sendiri

Berenang perlahan menuju tepi

Merelakan rumah raganya

Di kedalaman samudra

 

Begitulah kusaksikan semuanya dari kejauhan

Seorang pendeta mengayun genta

Penari membisikkan mantra

Tapi seperti biasa

Tak ada yang bisa menduga

Apakah pintu sorga seketika lalu terbuka

 

Mereka membiarkan petang puing

Melupakan sehelai rambut putihmu

Diterbangkan angin dihanyutkan malam

Di mana tak kutemukan lagi perahu ibu

Yang dulu melayarkan masa kecilmu

Mengarungi palung muasal segala tanya

Di sebalik ganggang dan bayang gelombang

 

Begitulah hari bermula atau berakhir tak terduga

Seperti sebutir pasir sesat tak sengaja

Ke rumah kerang atau teripang

Bertahun dalam linangan cahaya

Sebelum berkilau sempurna

Bebagai pualam rahasia hidup kita

 

Namun aku ini hanya orang biasa

Melihatmu dari kejauhan saja

 

2012

 

 

 

Ode Dini Hari

 

Seekor cicak mati sedini ini sendirian

Tubuhnya remang membayang

Menggenangi lantai dingin

Tersentuh pendar cahaya dari seberang

 

Tak ada sekedar sapa duka

Atau doa sederhana yang memberkatinya

Begitu saja hidupnya lintas percuma

Seakan terlupakan tanpa makna

 

Padahal bermalam sebelumnya

Suara riangnya melipur kita

Menggodamu dengan teka-teki nasib

Bahwa hari esok jauh lebih baik

 

Apakah bunyi hujan di luar itu

Adalah suara gaibnya

Atau lenguh dan keluh kita

Yang tak bersudah

 

Seekor cicak mati sedini ini

Harinya telah selesai

Tapi matanya masih saja terbuka

Walau hampa tanpa cahaya

Menatap ke arah gelap

Di mana senyap tak kunjung tersingkap

Sebagaimana hidup ini yang sekejap lenyap

 

2013

 

 

 

Upacara

Erawan

 

Berhutang pada siapakah hidup ini?

 

Di dekat rumahmu, sebelum gang buntu

atau sekelok sajak dari masa kanak

Seperti biasa dengan tekun dan sabar

Para penjaja itu mengacungkan patung budha

Tak peduli torehan kasar, pahatan tak selesai

memodai wajahnya yang hening ini

 

Melampaui siang hingga petang nanti

Mereka akan menghampiri siapapun

Mengulangi tawaran nasib baik yang sama

Sambil mengingat sebungkus nasi dan seteguk kopi

harga hari tak terganti sebelum mati melunasi janji

 

Selalu seperti biasa sang welas asih itu

masih terus memejamkan mata

Seakan tak tergoda nyanyian duniawi

Angan sorgawi diri kita yang tak ingin percuma

Tak kuasa menolak bujukan suka dan duka

Selubung bayang yang mengelabui pandang

 

Berhutang pada siapakah nasib baik ini?

 

Lihat gantungan kunci kayu itu

Tiruan lingga yoni yang sempurna

Menggoada mata kita hingga ke alam niskala

Merasa diri sudah sungguh wanaprasta

tapi nyatanya tak kunjung jadi pendeta

Padahal telah direntang garis dan warna

Telah dibentangkan segala aksara

Melampaui semua mantra serta seluruh rajahan rahasia

 

Berkali pula mengiring arakan lembu dan naga banda

Sepanjang doa dirundung kidung juga gamelan

Tikungan demi tikungan tak sampai tujuan

Jauh nian jalan pulang ke kawitan

 

Setiap waktu bertanya, kuyup hidup menemu jawab

Hutang piutang ini belum juga selesai terlunasi

 

2013

 

 

Warih Wisatsana tinggal di Denpasar, Bali.

Buku puisinya berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan (2003)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 SEPTEMBER 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 13, 2013 at 4:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: