Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Cyprianus Bitin Berek

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

with 3 comments


Dendam Absalom

Nyanyian kepada Daud

 

Engkau adalah masa lalu tak selesai

yang harus dibereskan. Yang tumbuh

dan melahap hidupku hingga sumsum.

Bertumbuh kau seperti tumor

menjalar dan mematikan

sebagai kanibal.

 

Aku harus membunuhmu, Ayah,

kendati kuhormati dan kucintai engkau.

Sangat. Karena ampunanmu sebatas jarak

sedangkan hadirku tak lagi kau anggap.

Sedekat pandang kau tempatkan aku

untuk berjumpa tak boleh – agar rinduku

sebatas bisul tanpa mata. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2015 at 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »


 

 

Kain (4)

            harapan

 

Malam mendatanginya dalam mimpi.

Malam yang gelisah, mengajaknya

Menunggangi rumah masa kecil.

Terbawa pula perdu, rumputan padang

pohonan akasia. Juga burung dan kupu

yang bergerak selalu, mengantarnya

ke barat. Ke kampung asal.

Malam yang penuh pengertian itu

mengiring mimpinya, renta dalam duka

menjenguk masa lalu.

 

Mimpi juga pernah membawa tubuhnya

lunglai ke atas tembok kota,

kepayang arak rindu:

–          Datanglah dan jemput aku!

Seru saja damba bersua kepadaku.

Tolong bujuk aku dengan memelas

sementara pura-pura kutolak permintaanmu itu.

Terlalu malu berbalik diriku

setelah tak pamit kala berangkat.

Katakan dulu sesuatu yang manis:

gumam bunda di celah doa

merajut bayang wajah dan namaku

menjadi harap menjadi khayal

menjadi terkasih lagi. Atau

ayah yang sakit-sakitan atau

masa lalu yang sebenarnya tak (perlu) ada.

Ayo, tanamkan benih haru padaku

agar kutemukan alasan pulang, karena

sebenarnya rindu ini terlampau ruah.

 

– Ranting mimpi bertunas lantas mengering:

Sungguh, lebih celaka pelarian ini dibandingkan mati.

Kabur belaka wajah sanak.

Kadang terjaga aku di sunyi malam

antara takut dan ingin dipergok.

Wahai, nikmatnya wajah masa lalu

menabur rindu pada lelapku

sebelum mengabu dipanggang hari.

 

-Habel, Habel!

Biang segala mimpi paling celaka

Sudah manyat busuk, masih mengusik kau!

Terkutuk segala tanah bagi darahmu!

Hantu jahat kau di mimpiku resah!

Mengapa padamu hanya Allah memihak?

Sungguh hidup paling sialan mesti kujalani!

 

Dia menanti. Ditanam jua damba sebatang

Di dadanya kiri, di jantung berdenyut merih.

Dipercikan selalu air mata dan rintih.

Hingga memuncak jadi hasrat:

menjenguk tanah asal.

Tapi terus saja diulur-ulur. Selalu.

Menanti alasan terbaik yang tak pernah ada.

Dan kembali memang tak pernah

kecuali dalam impian paling purba

: jiwa yang terhilang.

 

Agustus 2013

 

 

Kain (6)

            kota Henokh

 

Mimpi yang selalu ketakutan itu

membangun kota berkubu dari peluhmu.

kau namai Henokh seperti putramu sulung.

Karena berharap kelam berganti cahaya baru.

 

Kecemasan membangun tembok dan organ tubuhmu

menjelma antara bayaran, bersiaga:

serangan gelap musuh itu

mengganggu tidurmu senantiasa

dengan berisik suara mereka.

 

Padahal kau sadar sungguh,

tertoreh sudah tanda suaka di dahimu.

Tetapi kota terus membanjiri tubuh

dengan amis peluhmu

sementara tetap kau mengira

itu teriakan darah adikmu.

 

Malam ini mendadak kau berpikir tentang Habel

yang terselip di antara hingar tentaramu

lalu diam-diam menyusup

dan menikam belati ke jantungmu.

 

Mimpimu sering melihat sepasang kasut

yang berlari sendiri diteriaki darah

yang mengering di belukar itu.

Kadang kasut itu memaksa tubuhmu

berjalan ke kampung halaman.

Sementara kau sampirkan jubah di bahu

tersedu mengenang ayahmu.

 

Lihatlah, bulan pun lembayung

Pada malam kau diam-diam rindukan adikmu.

 

 

Kain (8)

 

Kecemasan yang mulai letih

berkata pada suatu malam:

Cukup sudah. Pelarian perlu berbatas.

Tak mungkin terus berpindah.

 

-Di Tanah Nod – di timur Eden aku berbiak.

Di tanah yang punah berkat, lahirlah anak-anakku.

Berlusin-lusin, bagai buah ara diguncangkan.

Tapi takut dan sepi ini sungguh siluman.

Menakut-takuti mimpi dengan cakarnya.

Cukup sudah! Cukup segala telunjuk menunding!

 

Dengan cadas kecewa dan sakit hati dibangun kota

berlumur getah angkuh tersisa. Mengapa perlu sesal

sesudah Tuhan sembunyikan wajah?

Dinamainya kota Henokh seperti putranya sulung

karena merekalah masa depan.

 

-Selamat berpisah mimpi buruk

pula segala kenangan cengeng.

Selamat tinggal Tuhan!

Biar kucipta tuhanku sendiri.

Kuukir indah patungnya lantas kusembah.

Karena tak ingin kutengok lagi

masa lalu itu.

Apakah Kau iri dan menyesal?

 

-Di sini, keresahan terasing.

Terlampau hingar pesta-pora.

Terlalu sibuk untuk menyesal

selain si palung sepi malam.

Di sini kuingin tenteram belaka

Memisah diri dari segala

juga ancaman nyawaku tunggal.

 

(- Di sini, di kokoh kota bertembok

sesungguhnya bersembunyi aku

dalam penjara kubangun sendiri.

Ah bunda, dosa ini ternyata

cuma melahirkan keterasingan.

Sebenarnya sudah mati aku

lama sebelum disergap ajal.)

 

Oktober 2013

 

 

Kain (9)

 

Kini mimpi membawanya ke ladang.

Mengulang cerita persembahan itu.

Mimpi yang sudah tak setia itu

memaksa pandangnya kepada mezbah Habel

pada domba bakaran terlalap habis.

Lalu nampak bertunas kayu berpalang

dan sesosok tubuh bergantung berdarah.

Tapi sajian ladangnya asap pekat hanya

bagai jerami basah terbakar.

 

Ia tak mengerti maknanya:

Eden bisa diraih kembali

dengan korban darah.

Bahwa dosa perlu tebusan darah.

Karena sebenarnya ia

penghuni neraka lantaran dosa.

 

Ia tak mengerti dan tak ingin mengerti

tapi merasa perlu membunuh mimpi

yang bersekongkol melukai tidurnya itu.

Barangkali dengan mengusir lelap tidur

yang kerap mengundang mimpi.

 

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah lulusan Fakultas Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.Ia pernah bekerja sebagai reporter pada beberapa media massa lokal di Timor, Nusa Tenggara Timur, dan kini tinggal di Makassar.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 Januari 2014

 

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2014 at 8:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »


Kain (1)

 

Tak usai kutanya kembali.

Mengapa Kau tolak persembahanku?

Gandum ini, anggur dan delima ini

buah sulung terbaik tanah kubanggakan,

ciptaanMu juga bukan?

mengapa mesti selalu hangus lemak domba

boleh semerbak asapi tahtaMu?

Mengapa mesti cucuran darah hanya

mengaliri batuan mezbah?

 

Aku ini petani latah sama niatnya

bersyukur padaMu. Karena

kendati berat gumuli semak duri kutukan,

terselip selalu setia kasihMu.

Memang bukan subur firdausi lagi

tapi lebih senantiasa daripada panen di khayalku.

 

Tapi mengapa domba jua dariku Kau tuntut?

Padahal bukan gembala aku, bukan Habel

bukan tak tulus. Mengapa lain tak boleh

sampai harus kutukar hasil tanahku

dengan domba buat mezbahMu

di hadapan pemuda penjilat itu?

 

Apakah sebenarnya makna domba bagiMu

selain binatang lemah dan lamban,

tak berdaya dan diam selalu

bahkan menjelang digorok?

 

Memang kulitnya Kau balutkan pada telanjang kami

dan lezat dagingnya selalu kudamba.

Tapi tentu bukan alasanMu kan?

Engkau tak pernah mau menjawab.

Tak pernah. Sampai mengental penasaranku

matang bagai kuning dahak.

Tak pernah kumengerti mengapaMu.

 

Maka bersisian mezbah kami menghadap jua.

Aku: yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahku

teriring gelagak harap menyenangkanMu.

Tapi domba itu hanya terlalap apiMu

perih belaka kutanggung kecewa

pada korbanku layu, menanti, tersia-sia

sepanjang terik siang tak tersambar jua.

Tuhan, sudah Kau rendahkan diriku.

Sangat, di hadapan adikku.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (2)

 

Apakah sulitnya menukar gandum terbaik

demi tambun domba seekor?

Dengan bebal diciptakan aturan sendiri

lantas memaksa Tuhan menerimanya.

 

-Wahai! Lelaki berhati batu!

Tak usah berjalan di luar pakem.

Ada yang perlu dipatuhi kendati tak mengerti.

Lantaran perintahNya tuk dijalani hanya.

Terlalu langit jalanNya di atas khayalmu.

Terlalu jauh pandangNya daripada rabunmu.

Kini akar sebatang tumbuh di hati

merambatkan salur-salur

dengan umbi pahit jahat dan licik-

akar gatal yang menghasut;

 

-Lelaki malang, nista segala jijik

telah ditolak korbannya di muka adik sendiri.

Lihatlah sumrigah wajah Habel

menoleh sekilas sebelum pulang

Perih tenggorokan tertelan bara!

Perih mata tersiram cuka!

Ejekan itu! Aib itu! Tertakik laksana rajah.

Tipis. Terhapus tidak.

Tetap rahasiakah penolakan ini

sedangkan lidah, betapa liar ditundukkan?

Lalu senyum itu, oh senyum Habel

benih tertawaan keturunan demi keturunan.

 

+ Cukup sudah, cukup untuk diakhiri.

Benih busuk perlu dimatikan.

tawa sumbang wajib dibungkam

sekali dan selamanya.

 

= Kain, mengapa bara hatimu dan pekat wajahmu?

Apakah tak akan berseri mukamu

bila engkau berbuat baik?

Tetapi bila engkau tidak berbuat baik,

di depan pintu sudah mengintip dosa,

sangat menggoda ia,

tetapi harus berkuasa engkau atasnya.

 

Aduh sayat kulit dikelupas.

Aduh rintih luka dipercik jeruk.

Alangkah gelegar teguran itu,

alangkah berat malu ditanggung

bagai pias wajah dara disingkap gaunnya.

 

+ Habel! Habel! Sumber segala petaka.

Sejak semula engkau yang lebih selalu.

Takkan lagi berseri aku

lantaran magma hati hanguskan tubuh.

Terlanjur diriku ditolak, terlanjur banjir benci ini.

Bila sungai perlu muara, kesumat perlu dituntaskan.

Oh, betapa menggoda rayuan dosa

betapa tercium nikmat aroma.

Ya, ya, jangan coba larang aku

kurenangi kini samudera dosa

dan terlelap bius kuatnya.

 

Angin kesiur tujuh arah, terbawa pesan tak sedap.

Dalam muslihat paling hitam dan pukulan teramat ahli

Habel meregang di padang, ditatap

domba-domba merumput.

Gemetar tanah memeluk tubunya dingin.

Raungan darahnya mencabik langit.

Kain terpaku Dia membunuh adiknya.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (3)

 

Pelarian

 

Dendam memang tuntas,

kendati hidup tak lagi sama.

Pada mayat itu dia tahu kini

getir sesungguhnya baru tercipta.

Sayup desis ular menggeletar semak

denting tawa paling sembilu

kekeh ular purba paling jahanam:

Nikmat dosanya! Nikmat pemberontakan!

 

Wahai, betapa dijawab tanya ibu yang rindu.

Betapa membelai masa kecil bersama.

Mengalir kisah bunda berseling isak

Firdaus terhilang dikenang selalu.

Dan dendam sangat pada beludak.

Terbayang kenangan bocahnya

pada mezbah ayah terbaring domba.

Alangkah ingin ia lukiskan dulu

warna lain mezbah sendiri

berhias buahan hasil ladangnya. Indah

tanpa gelepar domba terbantai.

 

Tapi suara itu, suara itu

selalu darah domba diminta

Apakah terkutuk pula segala buah

lantaran terlarang sebuah larangan?

Ia tak mengerti, ia ingin berbeda hanya.

 

-Tapi di manakah adikmu?

Ohoi, alangkah celaka suara itu.

Panik dan marah dia menjawab:

Adakah kau penjaga adikku?

 

Tapi rintih darah terus menuntut.

Hingga lumer keangkuhan di terik padang.

Liar matanya mencari luput. Sia-sia.

Tertutup kelam empat arah

angin menggumpal bagai aspal.

Tiba-tiba ditemukan dirinya asing.

Terkutuk dan terbuang.

Hilang harap dia melolong:

Wahai padaku tanah melaknat muka!

Dari wajahMu aku tersembunyi

dalam duka rinduku

sadar, senantiasa sia-sia.

Pelarian dan buronan abadi aku

sebagai kutuk titahMu.

Dihadang maut di tiap tindak!

Malang diriku! Sebutir dosa berpinak seribu duka.

 

-Baiklah, pelangi kasih Kupatri di dahimu

 

tanda perlindungan ilahi. Karena tujuh lipat balasan

bagi yang membunuh Kain.

 

Ke timur Eden, Kain beranjak. Pergi

Dan kembali tak pernah.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah Alumnus

Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pernah bekerja sebagai wartawan di Timor,

kini ia tinggal di Makassar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 18, 2013 at 6:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: