Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Pranita Dewi

PUISI Pranita Dewi

with one comment


Matsya

 

/1/

Telah kusaksikan kemegahan batu dari

zaman lama yang kini bertumpukan

di hadapanku.

Telah kusaksikan laut hitam

menyemburkan bayang-bayang

yang berkilauan

 

Satyabrata, ijinkan aku bangkit kali ini,

sebelum mata kail menembus

mulutku,

sebelum datang kiamat dan derita;

di laut tengah murung, di gunung terjal rimbun,

di goa-goa keramat dan rahasia

di mana semua kemarahan

terkurung dalam setiap doa

 

Engkau mendengar nujuman itu,

engkau mendengarnya sekali lagi

lalu dengan wajah berkerut

engkau mengambilku dan

menempatkan aku pada sebuah

mangkuk kecil. Di situlah aku

tumbuh dan membesar

seperti janji-janji mulia yang kautitahkan,

sebelum menjadi raja,

untuk melindungi rakyatmu yang setia.

 

Mangkuk kecil telah menjadi

duniaku. Di sinilah

aku mencabik kesunyian,

mengubahnya menjadi ribuan suara,

sebelum air bah menyiksa daratan.

 

/2/

Aku ikan raksasa, dapat pula mengira

derita dan gempita yang akan melintas

di hadapanku, bagai kirab yang keburu jadi

lintasan penghabisan dalam hidup yang garang

 

Nujuman ini, wahyu ini

yang jeritannya bagai

gemuruh dan laut

telah setia membimbing jalanku

untuk menyelamatkanmu

 

Aku akan jadikan diriku lebih dekat dengan matamu

sebagai penyelamat, aku telah menjauhkan

satu jalan lurus kepada maut

yang akan mendabik dadamu.

 

Selamat datang; mimpi-mimpi lama,

sengsara dan bahagia

rancangan-rancangan masa depan

 

Mari kita sambut bandang kerkutuk ini!

 

/3/

Pada mulanya engkau tidak pernah paham

arti kedalaman. Air hijau yang tenang ini,

pohon yang berkembang ini,

akan menjadi mimpi paling aneh

di setiap catatan yang terpinggirkan

oleh puluhan agama.

 

Aku ingin impikan pesta kerajaan laut masa lampau

di mana pilar-pilarnya terbuat dari cahaya

mercusuar. Dingin. Laut ini berangin.

 

Raja, bangunlah sebuah bahtera

jadikan tali itu dari naga banda

kaitkanlah ke tandukku

desakkan kemurnian rakyatmu di dalamnya:

biar kugenapkan penjelmaan ini

 

Tujuh macam awan mencurahkan hujan lebat

satu penanda hari jadi kiamat

seusai masa kering yang panjang

 

Kepada engkau, sebentar lagi,

akan kutunjukkan diri

cinta yang terbunuh ini.

 

2012-2013

 

 

Kegelisahan

 

Dua mataku sipit dan jenaka, selalu terjaga pada pagi

Dua tanganku mengepal penuh cengkeram,

selalu murung menunggu mati.

 

2013

 

 

Kelahiran

 

Beri aku 270 malam

untuk menatap kebusukan pagi ini

 

Tangisku yang pertama

apa yang menjadi sebuah pertanda?

 

Seekor katak menyelip di bebatuan

halilintar memecah menjelang kelahiran

alap-alap layang di ranting dahan-dahan

 

di sini begitu pepat

gelap ini begitu menyengat

aku begitu sekarat!

 

Tetapi akan kukenakan kain yang membikinku

lebih tampan lagi

gemerlaplah gemintang dini hari.

 

Aku akan dikekalkan para padri

sebagai lagu penuh pujian,

sebagai seribu orkestra sepanjang masa

sebagai silabel alam setiap kata

dan menjadi nyanyian murung para pendosa

 

Telah kusingkapkan langit dengan kata-kataku,

kubikin kecut udara dengan mimpi-mimpiku,

bintang begitu pucat di kemegahan mataku,

dan usia menghambur di gunung dan lautan

 

Esok akan bisa kusaksikan

memar pada wujud asing ini;

sepucuk cinta yang tumbuh mengalir

simbol merah jambu di kemarau jiwaku.

 

Aku akan menjadi bagian hari ini

aku akan menjadi seribu cermin

dalam bayang-bayang negeri

yang mati terpancung menunduk

terapung dan tidak menemukan keangungan lagi

 

Jiwa yang terkutuk ini, yang melompat keluar

dengan seribu taring dan cakar tajamnya,

akan mencabik dunia hingga ke liang nyawa

 

Tetapi begitu sunyi dan mati

meski berwangi mimpi

ajal menjemputku di kemudian hari

langit berkabung menyambutku

yang cantik dan mekar

yang jernih berkilauan.

 

Tuhan, Tuhan, mengapa engkau mengirimku kemari?

 

2013

 

 

Pranita Dewi lahir di Denpasar, 19 Juni 1987.

Buku puisinya berjudul Pelacur Para Dewa (2006)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 29 September 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 4, 2013 at 7:21 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: