Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Ramoun Apta

leave a comment »

Mencabut Batang Pinangan

Kayu-kayu bendungan itu sudah kulepas,
Keranjang pukat itu sudah aku angkat,

Bahkan, kini tak ada lagi tunggul kecik
Penghalang bagi itik yang hendak mudik.

Kau yang ikan, pergilah.
Lepaslah kau, berenang
Menyelami dasar sungai
Menuju muaramu yang baru.

Pergilah kau,
Lesap bersama arus air.

Kini, biarkan aku di sini, Menjahit selembar sirih
Yang tersobek separuh ini.

Ular yang hendak berpindah
Dari sungai ke kolam
Juga sudah bebas
Keluar-masuk
Ke tempat ini.

Kini, biarkan aku sendiri
Menambal pinang mengkal
Yang terkunyah setengah gigi.

 

Ibarat Sungai.

Telah aku kupas kulit tanah
Selimut dara di sekujur mata tunasmu.
Telah aku belah batu keras
Tunggul beku yang menutupi jalan akarmu.

Tapi kenapa tak berbuah juga
Emas itu pada lempungmu.

Telah aku rebahkan
Seluruh gelora
Cacing gila
Hasratku padamu.

Tapi tak kudapatkan juga air basah
Dari rahimmu yang menyuburkan aku.

Kini aku terbangun
Untuk kesekian kali
Dari matisuri.

Maka ketikan aku
Tak juga menemukanmu
Berada di sampingku

Bagai sapi gila
Aku mengamuk
Dan menghancurkan
Bayang-bayang matahari
Di permukaan sungai ini.

 

Balada Durian Muda

Akan ada satu bibit durian
Tumbuh di atas tanah berpasir.

Bibit itu tumbuh
Dari biji menjadi tunas
Dari tunas menjadi batang
Dari batang menjadi dahan.

Bayang-bayang dahan memantul di atas air
Rembulan berlayar tertusuk ilalang.

Di ujung, cabang bersimpang menumbuhkan daun,
Ketiak daun terbuka menunaskan bunga.
Bunga berurai menumbuhkan buah.

Buah bunting
Lepas dari tampuk
Jatuh ke tanah
Terguling
Membentur batu-batu.

Di samping batu
Durian tergeletak menguarkan bau harum
Durinya mencucuk hijau rumput.

Durian itu
Menunggu waktu untuk disantap.

Tapi sayang, tak satu orang pun
Datang memungutnya.

 

Bujang Inau kepada Supek Langap

Minggumu buah masak yang terpajang di etalase dagang.
Sedang mingguku retak serai dihempas angin pincang.

Bulanmu alat ukur tensi si juru rawat dengan paras
berminyak intan,
Sedang bulanku kardus bekas pembungkus obat generik
seusai dipahat hujan.

Tahunmu ketan hitam yang sempurna menjadi tapai,
Sedang tahunku bubur kacang hijau yang tercampur ke
luar pinggan

Sebelum makan.

 

 

Ramoun Apta lahir di Muarabungo, Jambi.
Bergiat di Komunitas Seniman Bungo (KSB).
Buku puisinya berjudul Pedagang Batu Mustika
di Pasar Raya (2018).

PUISI KOMPAS, SABTU, 10 AGUSTUS 2019

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 12, 2019 pada 7:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: