Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Agustus 2013

PUISI HERU JONI PUTRA

leave a comment »


Kedatangan Ahmed Kamiel

 

Akan ada zamannya, ketika diketahui

Bahwa penyair Yori Kayama

Hanya fiktif belaka: ia bahkan tak ada dalam

Sesuatu yang Tak Akan Terlihat.

 

Lalu orang-orang, dengan menyumpah dalam hati,

Menghapus silsilah

Yang telah dirangkai dijalin-jalin untuknya,

Serta membiarkan Ahli Sejarah meragukan

Catatan tentang dirinya,

 

Dan dengan tabah, membirukan setiap bait puisi

Yang kata orang ditulis olehnya,

Agar tak lagi terbaca pada langit di pagi manapun.

 

Lalu akan datang seorang lelaki mengumumkan diri,

“Namaku Ahmad Kamiel. Aku adalah lelaki pengagum jibril;

Kata-kataku, setidaknya, akan separuh benar.”

 

Orang-orang mengerubuinya, seperti mengerubungi

Panglima perang yang mati-berdiri di medan laga.

“Pada suatu zaman nanti, akan ada sebuah negeri,

Yang mana dalam kitab mereka,

Aku disebutkan sebagai penyair.

Kata-kata dalam diriku bergerak bebas

Berkeliaran tak menentu. Getaran dalam diri kalian

Akan menyusunnya menjadi sebuah doa untuk kita bersama.”

Ahmed bersabda.

 

Sayang sekali Ahmed Kamiel tak mengendarai kuda,

Sehingga siapapun tak akan membayangkan bahwa ia

Datang seperti seorang ksatria yang tersisa

Dari perang bertahun-tahun lamanya.

Ahmed juga tidak berjalan jauh layaknya musafir,

Sehingga siapapun akan termasuk ke golongan

Orang-orang yang berlebihan

Bila mengutamakan pertolongan padanya.

 

Lalu padanya, orang-orang segera berkisah

Tentang Penyair Yori Kayama.

 

“Sesungguhnya ia adalah penyair yang dirajam

Dalam goa Tak ada dan ia adalah pengembara

Yang berasal dari lembah Barangkali.”

 

Ahmed mendengarkan; dalam mengangguk

Ia menggeleng.

 

Sekali lagi, tentang Kayama, “Sebenarnya ia hanyalah

Tokoh utama dari sebuah hikayat yang, atas izin Tuhan,

Tak akan sempat tercipta.”

 

Ahmed mendengarkan; dalam menatap

Ia tertawa.

 

Kuranji, 2013

 

 

 

Ahmed Kamiel Jatuh Cinta Lagi

 

Orang-orang telanjur percaya,

Setelah Mardhatillah atau Ummul, tak akan ada lagi

Yang begitu dicintai Ahmed Kameil.

 

Tetapi Tuhan mengubah takdirnya sendiri-

Kini Ahmed Kameil mencintai

Batang pisang.

 

Ahmed mencintai jantung pisang yang busuk di dalam.

Ahmed mencintai buah pisang yang masak di peram.

 

Ahmed mencintai anak pisang yang ditebas sebelum bertunas.

Ahmed mencintai kelopak batang pisang yang terus meranggas.

 

Padang, 2013

 

 

 

Sayyid Adalah Sayyid

 

Sayyid adalah Sayyid.

Pada suatu malam, semenjak kudanya

Sudah pandai berkata-kata,

Kuda itu tak mau lagi meniti jembatan.

 

Sayyid adalah Sayyid.

Ketika kudanya masih tak mau

Meniti jembatan pada suatu malam, kudanya

Malah bercerita tentang Ahmed Kameil

Yang mencintai batang pisang.

 

Sayyid adalah Sayyid.

Karena kudanya tetap bersikeras tak mau meniti jembatan

Menuju rumah gadis Kalera itu,

Ia pun merasa mulai mencintai batang pisang –

 

“Batang pisang tumbuh di jalan,

Tumbuh di jalan ditebang orang,

Sungguh malang nasib di badan,

Sudah di tangan direnggut orang”

 

“Gadis Kalera tinggi semampai.

Sering terlihat sedang berdua

Bila dengan kapal tak kunjung sampai,

Dengan batang pisang kuturut jua”

 

Padang, 2013

 

 

 

Kuda Sayyid Madani Syani

 

Sayyid Madani Syani, si kusir bendi dari negeri kami.

Kudanya kuda patah kaki, dengan mata berpasir, ekornya

Kusut seperti rambut Gadis Kalera dari Bukit Gadangota,

Dan kalau disuruh berlari, kudanya itu lebih memilih mati.

 

Setiap duha, saat Sayyid melecuti itu kuda, orang-orang akan bangun

Dari tidurnya dan selalu mendoakan agar si kuda padai berkata-kata. Bukan,

 

Doa itu tidak diperuntukkan aga si kuda bisa meminta beribu kali ampun

Kepada tuannya, tapi supaya si kuda, ketika mereka sampai di Bukit Gadangota

Kesekian kalinya, bisa menolong untuk mengatakan benar kepada Gadis Kalera

Bahwa Sayyid Madani Syani sangat mencintainya.

 

Padang, 2013

 

 

 

Tentang Troya

 

Suara bulan

Tak terdengar lagi,

Sebab Sayyid dan kudanya berdua

Di tepi sebuah sungai

 

Dengan gemuruh perpindahan ikan-ikan.

 

Jembatan dari sebilah bambu itu

Telah lama hanyut.

 

Sayyid mendengarkan

Kuda itu menghiburnya dengan kisah

Kedatangan Ahmed Kameil,

Tetapi ia tetap bersikeras

Ingin menemui Gadis Kalera.

 

Lalu, kuda pincangnya itu

Bercerita tentang perang Troya,

Tentu saja, versi jemaah kuda:

 

Paris hanyalah kuda Troya

Bagi ramalan Aesacus,

Ia dilahirkan hanya untuk menculik Helen

Agar perang itu terjadi –

 

Sebab Dewa Legenda butuh

Kisah pengkhianatan dari para peramal,

 

Itu sebabnya Odysseus – meskipun

Sudah berusaha jadi gila,

Agar tak diikutkan dengan perang itu,

Akhirnya juga menjadi kuda troya

Bagi kemenangan Yunani.

 

Aesacus yang kejam,

Cassandra yang keliru –

Para peramal yang membawa sial.

 

Teberkatilah Hebuka yang berusaha

Membunuh Paris di gunung Ida.

 

Terkutuklah para pengembala

Yang menggagalkan rencana Hebuka.

 

Jauhkanlah setiap jemaah kuda dari ancaman

Perang troya lainnya.

 

Padang, 2013

 

 

 

Heru Joni Putra lahir 13 Okteber 1990

di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sekarang

belajar di Jurusan Sastra Inggris Universitas

Andalas dan bergiat di Ladang Institute, Padang.

 

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 25 Agustus 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 29, 2013 at 6:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: