Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Deddy Arsya

leave a comment »

Tangsi untuk Ahmad Marzoeki

Di situ, empat orang raja, duduk bersila
di atas munggul kayu tua. Ada tiga orang tuanku
menitah pada burung, seperti bunyi gesek aur bunyi titahnya,
melewati sebuah lembah, di garis matahari naik matahari turun,
di tepi jalan besar tuan komandur, dengan kereta angin,
dan opas menepikan kuda, mengalir batang air,
matahari dekat terasa. Ada tempat
di mana ragam rindu tak berselisih dengan cuaca
di kubu yang kukuh, dari segala jurusan terdengar
salak meriam, seperti bunyi aur, kataku bergesekan
tebing tarahku buncah di lurah penuh angin,
seorang alim juru terang, Imam Perang,
telah turun dari parit-parit penuh ranjau,
pada dahulumu, tempat aku meletakkan siku,
di situ mengalir sungai amarahmu,
di gelanggang menggejolak api.
Mungkin negeri ini dulu hanya padang kuda
sialang setinggi paha dan jika senja hilang-raib
ke dalam kelumunmu, lalu di pinggir bukit ini
kau tatah tanah dan tali-tali nasib memanjang
bagai kau tarik selendang kuning mayang
dari pundakku. Mungkin kita tak butuh cinta
atau yang semacamnya, dalam tindakan wajar
kukulum lagi hasratku dari tepi kawahmu,
merabuk udara, hibuk pucuk-pucuk akasia,
di pangkalnya, empat orang raja, duduk bersila
di atas munggulnya, munggul tua, kataku.
Pada lepuh damar, telah tumpah dawat
ke kuning kertas, telah terbang kawat
ke jarak luas, di luar keras angin, menampar
-nampar, pucuk pisang melepai-lepai
dan berderit engsel
dan palang pintu tanggal.

 

Kepak Alir ke Hilir

Menyelam ruku-ruku, asam kandis, jahe, kunyit
kardamanggu, serai, segala bumbu
bertempuk, bersorak…
berpadu dalam gelegak belangamu.

Ikan-ikan merapat di situ, mata jala mengikat, telah kupaku
setiap pintu air, dan gerak kepak ke hilir
telah kuselami setia[ lekukmu
telah kucicipi palung hasratmu

berenang aku di lubuk paling dangkal dan paling dalammu
merentak aku di bukit paling mangkal dan paling curammu

telah menegang kuncupmu
telah menyepak kelambitku.

Menyelam ruku-ruku, asam kandis, jahe, kunyit
kardamanggu, serai, segala bumbu
bertempik, bersorak…
berpadu dalam rubuh-gemeretak dapurmu.

 

Mengundang Makan

Jadi bagaimana, nasi telah beku di atas bejana
kata-kata telah terkebat bagai buhul di ujung kain

kita masih akan bersiasat dengan lidah yang makin lama
makin terasa majal, dan lutut yang ngilu lagi padat-pedar?

Jadi bagaimana, sendok-sendok telah jadi dingin
dan tikar telah kusut, gorden direnggut-renggut

kita masih akan bersitatap dengan mata yang makin lama
makin penuh pasir, dan kepala yang makin berat lagi pengap?

 

Siasat di Akhir Gelap

Apakah yang membuatmu turun di akhir gelap?
Barangkali ada berharap menemukan teh hangat,
cangkul-parang berdentang di ladang, langkah menetak
embun, keringat mengucur dalam diam
di badan demam, makan siang dari sang sitri,
dan cerita tentang anak-anak yang meraba-rambah jalan di pagi buta,
menggambar pondok dan semangka, pisang masak di batangnya

di ladang halaman belakang masa depan berlompatan
bagai lompatan angsa-angsa di antara teratai menguning
dan kolam-kolam berair hijau, rama-rama diam di puncak bunganya,
ikan-ikan kecil warna-warni dan kapal-kapalan berbunyi kletek kletek,
dan merah perapian terang-nyala menghanyutkan gigil kita.

Apakah yang membuatmu turun di akhir gelap?
Barangkali hujan yang jatuh riang di wajah anak-anak
tapi seribu tahun hidupku bersamamu hanya sutas bayang
-bayang, begitu cepat masa sirna-hilang
setelah pekik satu waktu retak dari liang sejarah
setelah zaman bikin keranda, merenggut-renggut hendak lepas
dari badan jiwa, berbaris-baris beribu-ibu ke pinggir lubang,
di ladang halaman belakang, bergolek-golek kepala.

Apakah lagi yang memaksamu turun di akhir gelap?

 

Deddy Arsya sedang mempersiapkan buku puisi terbarunya, Khotbah Si
Bisu, setelah Odong-odong Fort de Kock (2013) dan Penyair Revolusioner (2017).

PUISI KOMPAS, SABTU, 22 JUNI 2019.

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 24, 2019 pada 7:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: