Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI HANNA FRANSISCA

leave a comment »

Menunggu Ayah

 

Kecipir tumbuh di pagar, belimbing manis

di tangan gadis. Langit sore turun di dahan,

pohon manggis memanggil angin.

 

Ada capung bersayap emas, terbang serentak

dari ujung rumputan. Ilalang berbisik meniupkan sunyi,

pada telapak gadis yang kini menangis.

 

“Pakailah sandalmu, sayang,

sebelum ayahmu pulang.”

 

Ia menatap ke kejauhan, sayap elang mengitari padang,

menembus bukit di atas awan

mencari mangsa yang kesepian.

 

“Apakah elang jantan selalu terbang

tak pernah pulang?”

 

Langit sore kini temaram,

gadis melangkah menuju malam.

 

Ilalang berbisik bersama dahan,

memandang gadis di ujung jalan.

 

Singkawang, 2016

 

 

Kangen

: Hian Ho

Ada bau tubuhmu, antara pagar dan daun pintu.

Sebatang bunga liar mungkin tumbuh di situ, menjadi jembatan

musim hujan ke musim kemarau. Hamparan kerikil pasir

dalam ingatan, batu-batu, daun kering, serta angin yang terperangkap

di bawah teras, mungkin semua adalah

wajahmu yang pergi.

 

Di daun pintu ada cermin waktu yang lapuk,

sinar matahari mengantar sunyi setiap hari. Sejengkal

demi sejengkal jarak, di antara kayu dan paku-paku,

tertulis kalimat demi kalimat, yang bayangannya

memanjang dalam menuju senja.

 

Ada pemisah antara pagar dan pintu rumah.

Matahari terik, ranggasnya daun, dan perginya

burung-burung menuju jalan

sunyi tanpa suara.

 

Jakarta, 2016

 

 

 

Gerhana di Tepi

Sungai Matamu

 

Aku melihat riak, aku melihat perahu, aku melihat

sebatang bambu tertancap menjulang di tengah sungai. Telanjang

tanpa daun, tanpa pegangan.

 

Senja telah menjadi jarum

runcing, dengan cahaya karat keemasan berpendar

melukai dirimu.

 

Perahu, riak, dan bambu,

air yang mengalir ke hilir. Menjauh menuju waktu.

Meninggalkan batu-batu, bersama pasir yang

mendesir

di kedalaman dingin

dan beku.

 

Ada angin di rumpun perdu

menyalakan hari dan burung yang terbang pulang

ke rahim sunyi. Menunggu malam

dalam diam.

 

Pontianak, 2016

 

 

 

Hari Raya Kubur

 

Pulanglah sayang, ke Singkawang,

ketemu sanak kerabat

di kuburan.

 

Rumah kita

rumah ingatan. Diterbangkan angin

di atas nisan. Leluhur menunggu

dupa dan tungku. Anak dan cicit

jumlah seribu.

 

Burung elang membangun sarang. Di celah

bukit berdendang. Menjulang langit

ia memandang. Leluhur Singkawang

memanggil pulang.

 

Singkawang, 2016

 

 

Piknik ke Kuburan

 

Mari hirup dupa

sambil diam-diam tertawa, di atas tanah kuburan

Liang Shui Hwa.

 

Jangan lupa kamera.

Memotret iringan kereta kencana,

berisi jenazah penuh

bunga-bunga.

 

O Amitabha.

 

Susi! Nyonya Shin Wu! Tuan dan Puan!

Rapikan baju, sebarkan wangi parfum amlinetta.

Sepatu Richard Orlendiva, gaun rancangan Violin Batubara.

Ayo! Ayo! Tampakkan berlian

dan segala permata.

 

Kita selfie di atas keranda,

Sebelum kereta kencana

Berangkat menuju

kuburan orang kaya.

 

Bau dupa

harum parfum violet amlinetta.

Baju dengan bahu terbuka,

dada mulus paha berkilau cahaya.

 

Burung-burung di atas

boleh berduka.

Serangga di liang

boleh berpesta:

 

Bagi matinya Liang Shui Hwa.

 

Singkawang, 2016

 

 

 

Di Atas Nisan,

di Hari Raya Kubur

 

Ini hari raya, sayang, kenakan gelang

kalung berlian sutera. Bawa anak,

bawa cucu.

bawa cicit.

Jangan lupa bersolek. Jangan lupa

dandan molek. Bawa mobil paling mewah.

Bawa cerita paling megah.

Kita ketemu

di kuburan.

 

Kuburan adalah tempat orang mati, dan

tempat semua orang menanti. Maka sebelum

keranda tiba menagih ajal,

dan kelak engkau terkubur di tanah-dingin,

datanglah ke mari, sayang,

di Hari Raya gembira.

 

Lihat nama leluhur dipahat altar,

mengharap teh dan arak persembahan arwah,

nyala lilin, buah bunga

yang mereka suka di dunia. Kita bakar uang plastik,

mobil kertas, komputer dari kardus,

jam tangan pura-pura, dan semua tiruan

palsu harta benda,

supaya mereka tenang

dan tak merasa

ditinggalkan.

 

Mereka suka

asap kertas

yang dibakar

dengan bahagia.

 

Maka tertawalah sayang, terbahak-bahak,

sambil melihat api, minum arak,

ngobrol sana-sini. Memamerkan benda-benda.

Para leluhur akan datang

bersama kita. Makan bersama kita. Mabuk.

Ngobrol tentang semua harta

yang kita punya. Mereka bukan hantu

yang selalu kesepian.

 

Katakan jika punya mobil tiga. Jangan malu

membuka lengan yang dihiasi berlian. Bahkan jika

harus berbohong tentang pabrik,

toko-toko, rumah mewah lantai lima,

wisata ke tempat jauh di dunia,

hingga tato gambar naga

di paha istri kita.

 

Lihatlah sayang, langit mulai tinggi.

Jangan terlambat sebelum mereka datang.

Jangan sampai terlalu siang, dan membuat

roh leluhur kita kepanasan. Kita berdoa,

semoga kelak nanti

tidak kesepian.

 

Kita ketemu

di atas kuburan.

 

Singkawang, 2016

 

 

Hanna Fransisca (Zhu Yongxia) lahir 30 Mei 1979 di Singkawang, Kalimantan Barat. Buku puisinya adalah Konde Penyair Han (2010) dan Benih Kayu Dewa Dapur (2012).

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 25 JUNI 2016

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 27, 2016 pada 12:29 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: