Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Juni 2013

PUISI MIRA MM ASTRA

with 4 comments


Tanah Sangir

 

Katakanlah,

sebelum habis kekuatan

burung-burung menguni

telah menyeru telu makasiou

 

di dedahan kayu bulan

apa makna pertemuan

ketika suatu waktu ruhku

tertuai angin tenggara

sebab didih garam

yang melaut di tubuh ini

terjerat di hampat padang lamun

menari lenso bersama penyu,

duyung dan ikan-ikan di terumbu karang

dalam biru kehilangan

dan kerinduan

 

Katakanlah, padaku

di tanah Sangir

sempurna apa darah ini menyerpih

hingga dadu mata tercelup

kuyup di batang kayu benang

sementara semilir kesepian

kau simpan di ceruk-ceruk waruga

 

Katakanlah,

isyarat kepulangan

sebelum redup temali bintang

terpukat di senyap jemari

orang-orang Bantik

dan kirimi aku bininta

hingga genap pelayaran

segala mimpi

dari tanah seberang

menuju Mahenang

 

5 Mei 2013

 

 

 

Majene

 

Majene, Majene

kurajut ungu garam pada jutaan titik

liang-liang kecil pada kulitku

sengan senyap ikan-ikan terbang

begitulah awal mula

matamu bertubuh dalam mataku

Banggae dan Pamboang

yang bangkit perlahan

dari celah kubur batu karang

menarik anganku dari rapuh belulang

 

di jarak lengang

kusemanyamkan luka pada gelombang

mengurai pasir

dan sehelai rambutmu ketemukan

menempel di bilah kandaruang mamea

lubuk waktu yang ditempa ombak liar

begitulah awal mula

kekuatanmu bertubuh dalam keletihanku

di tabuh rebana kata

menjelma tarian kuda-kuda sukma

 

Majene, Majene

di paras sasiq-mu

siapa bisa menduga bijak cuaca

angin tanjung berliku merentang rahasia

tempaan terik bulan dan derai hujan

suara-suaramu telah bertubuh dalam suaraku

larut di pucuk lidahku

menguncar mantra melaut mandar

pada damai cahaya mata posasi

ijinkan aku bersandar di sini

merumuskan angin sunyi

 

9 Mei 2013

 

 

 

Mira MM Astra lahir di Denpasar, Bali, 1978. Pernah belajar

Di Charles University dan Anglo-American University di Praha,

Republik Ceska. Karyanya termuat dalam antologi

bersama Langit Terbakar Saat Anak-anak Itu Lapar (2013).

 

 

KOMPAS, MINGGU, 23 JUNI 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2013 at 5:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


Penampakan Piring Terbang

di Atas Ladang Paman Kami

 

kami melihat subuh seperti berlabuh dari arah yang salah

bintik bintang lebih cepat tumbuh tinimbang biji kacang

di sepanjang ladang,

kami berdua – aku dan paman

mendengar, antara pohonan tumbang

dan mesin tua yang lama tak dihidupkan

 

di kejauhan, daun-daun palawija bagai lempeng tembaga

kami kira tuhan telah sembarangan

memutuskan kiamat dipercepat

kami merasakan dingin turun dari angkasa

seakan kutub utara sedang melintas di atas sana

 

lalu kami saksikan sebuah padang terhampar begitu saja

seperti bayangan masa depan setelah kematian

berkas cahaya yang seringan kapas terlepas di udara

mendarat di mata kami yang tiba-tiba buta

 

sebelum fajar kembang dan mata kami kembali benderang

tunas-tunas kacang memanjang, rekah di permukaan tanah

paman bilang, langit mengirim piring sedemikian besar

agar kami tak gusar, agar kami senantiasa sabar merawat lapar

 

2013

 

 

 

Juli Jempana

 

juli jempana si kuda arakan

mengantar pengantin ke bantar angin

agar tersambung apa yang belum rampung

jantung bujang dan denyut perawan

 

kekendangan hingga jelang petang

di bawah naungan langit warna kunyit

langit kemarau tua yang lebih rumit

dari perhitungan sajikrama

 

padi tumbang sebelum matang

dan ladang lenggang tanpa tanaman

masih untung ada lumbung, rumah gabah

yang tabah menanti ditampi

 

nanti malam bakal binar bara bulan

para pawang membuat kalangan

juli jempana si kuda arakan

menyambung murung orang sekampung

 

2013

 

 

Pembayun

 

maka pada hari yang tak terperi datanglah aku

membawa sirih-pinang dalam pinggan

kelon-intim calon pengantin

 

akan dititahkan atas tanah dan tanaman

keris dan warangka sehabis sajikrama

dengan kirangan seekor kerbau jantan

yang punuknya seperti gunduk berjurang

 

empat puluh cambukan dipunggung bujang

untuk tiap peluh yang pulang ke badan

ketika melarikan perawan ke rumah persembunyian

sebelum selabar datang ke kampung seberang

 

aku berjalan paling depan sebab aku membawa kabar

bakal tersiar ke penjuru pasar: dia yang tak pulang

telah terikat benang hasta, benang pengantar pesan

: dia memilih jadi daun sirih bagi pinang di pinggan

 

2013

 

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari

1978. bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas

Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2013 at 5:25 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »


Kain (1)

 

Tak usai kutanya kembali.

Mengapa Kau tolak persembahanku?

Gandum ini, anggur dan delima ini

buah sulung terbaik tanah kubanggakan,

ciptaanMu juga bukan?

mengapa mesti selalu hangus lemak domba

boleh semerbak asapi tahtaMu?

Mengapa mesti cucuran darah hanya

mengaliri batuan mezbah?

 

Aku ini petani latah sama niatnya

bersyukur padaMu. Karena

kendati berat gumuli semak duri kutukan,

terselip selalu setia kasihMu.

Memang bukan subur firdausi lagi

tapi lebih senantiasa daripada panen di khayalku.

 

Tapi mengapa domba jua dariku Kau tuntut?

Padahal bukan gembala aku, bukan Habel

bukan tak tulus. Mengapa lain tak boleh

sampai harus kutukar hasil tanahku

dengan domba buat mezbahMu

di hadapan pemuda penjilat itu?

 

Apakah sebenarnya makna domba bagiMu

selain binatang lemah dan lamban,

tak berdaya dan diam selalu

bahkan menjelang digorok?

 

Memang kulitnya Kau balutkan pada telanjang kami

dan lezat dagingnya selalu kudamba.

Tapi tentu bukan alasanMu kan?

Engkau tak pernah mau menjawab.

Tak pernah. Sampai mengental penasaranku

matang bagai kuning dahak.

Tak pernah kumengerti mengapaMu.

 

Maka bersisian mezbah kami menghadap jua.

Aku: yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahku

teriring gelagak harap menyenangkanMu.

Tapi domba itu hanya terlalap apiMu

perih belaka kutanggung kecewa

pada korbanku layu, menanti, tersia-sia

sepanjang terik siang tak tersambar jua.

Tuhan, sudah Kau rendahkan diriku.

Sangat, di hadapan adikku.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (2)

 

Apakah sulitnya menukar gandum terbaik

demi tambun domba seekor?

Dengan bebal diciptakan aturan sendiri

lantas memaksa Tuhan menerimanya.

 

-Wahai! Lelaki berhati batu!

Tak usah berjalan di luar pakem.

Ada yang perlu dipatuhi kendati tak mengerti.

Lantaran perintahNya tuk dijalani hanya.

Terlalu langit jalanNya di atas khayalmu.

Terlalu jauh pandangNya daripada rabunmu.

Kini akar sebatang tumbuh di hati

merambatkan salur-salur

dengan umbi pahit jahat dan licik-

akar gatal yang menghasut;

 

-Lelaki malang, nista segala jijik

telah ditolak korbannya di muka adik sendiri.

Lihatlah sumrigah wajah Habel

menoleh sekilas sebelum pulang

Perih tenggorokan tertelan bara!

Perih mata tersiram cuka!

Ejekan itu! Aib itu! Tertakik laksana rajah.

Tipis. Terhapus tidak.

Tetap rahasiakah penolakan ini

sedangkan lidah, betapa liar ditundukkan?

Lalu senyum itu, oh senyum Habel

benih tertawaan keturunan demi keturunan.

 

+ Cukup sudah, cukup untuk diakhiri.

Benih busuk perlu dimatikan.

tawa sumbang wajib dibungkam

sekali dan selamanya.

 

= Kain, mengapa bara hatimu dan pekat wajahmu?

Apakah tak akan berseri mukamu

bila engkau berbuat baik?

Tetapi bila engkau tidak berbuat baik,

di depan pintu sudah mengintip dosa,

sangat menggoda ia,

tetapi harus berkuasa engkau atasnya.

 

Aduh sayat kulit dikelupas.

Aduh rintih luka dipercik jeruk.

Alangkah gelegar teguran itu,

alangkah berat malu ditanggung

bagai pias wajah dara disingkap gaunnya.

 

+ Habel! Habel! Sumber segala petaka.

Sejak semula engkau yang lebih selalu.

Takkan lagi berseri aku

lantaran magma hati hanguskan tubuh.

Terlanjur diriku ditolak, terlanjur banjir benci ini.

Bila sungai perlu muara, kesumat perlu dituntaskan.

Oh, betapa menggoda rayuan dosa

betapa tercium nikmat aroma.

Ya, ya, jangan coba larang aku

kurenangi kini samudera dosa

dan terlelap bius kuatnya.

 

Angin kesiur tujuh arah, terbawa pesan tak sedap.

Dalam muslihat paling hitam dan pukulan teramat ahli

Habel meregang di padang, ditatap

domba-domba merumput.

Gemetar tanah memeluk tubunya dingin.

Raungan darahnya mencabik langit.

Kain terpaku Dia membunuh adiknya.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

 

Kain (3)

 

Pelarian

 

Dendam memang tuntas,

kendati hidup tak lagi sama.

Pada mayat itu dia tahu kini

getir sesungguhnya baru tercipta.

Sayup desis ular menggeletar semak

denting tawa paling sembilu

kekeh ular purba paling jahanam:

Nikmat dosanya! Nikmat pemberontakan!

 

Wahai, betapa dijawab tanya ibu yang rindu.

Betapa membelai masa kecil bersama.

Mengalir kisah bunda berseling isak

Firdaus terhilang dikenang selalu.

Dan dendam sangat pada beludak.

Terbayang kenangan bocahnya

pada mezbah ayah terbaring domba.

Alangkah ingin ia lukiskan dulu

warna lain mezbah sendiri

berhias buahan hasil ladangnya. Indah

tanpa gelepar domba terbantai.

 

Tapi suara itu, suara itu

selalu darah domba diminta

Apakah terkutuk pula segala buah

lantaran terlarang sebuah larangan?

Ia tak mengerti, ia ingin berbeda hanya.

 

-Tapi di manakah adikmu?

Ohoi, alangkah celaka suara itu.

Panik dan marah dia menjawab:

Adakah kau penjaga adikku?

 

Tapi rintih darah terus menuntut.

Hingga lumer keangkuhan di terik padang.

Liar matanya mencari luput. Sia-sia.

Tertutup kelam empat arah

angin menggumpal bagai aspal.

Tiba-tiba ditemukan dirinya asing.

Terkutuk dan terbuang.

Hilang harap dia melolong:

Wahai padaku tanah melaknat muka!

Dari wajahMu aku tersembunyi

dalam duka rinduku

sadar, senantiasa sia-sia.

Pelarian dan buronan abadi aku

sebagai kutuk titahMu.

Dihadang maut di tiap tindak!

Malang diriku! Sebutir dosa berpinak seribu duka.

 

-Baiklah, pelangi kasih Kupatri di dahimu

 

tanda perlindungan ilahi. Karena tujuh lipat balasan

bagi yang membunuh Kain.

 

Ke timur Eden, Kain beranjak. Pergi

Dan kembali tak pernah.

 

Makassar, 17 April 2013

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah Alumnus

Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pernah bekerja sebagai wartawan di Timor,

kini ia tinggal di Makassar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 18, 2013 at 6:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TONI LESMANA

leave a comment »


Kau

 

1

aku menebar bagian-bagian tubuhku

di atas meja. kau berada di mana

aku duduk menyaksikan tubuhku sendiri

pada bagian mana kau berdenyut

pada bagian mana pula kau luput

inilah musim kesendirian

seperti teka-teki

sakit yang kau hadiahkan

cinta yang kunikmati

aku tak pernah benar-benar sendiri,

kau tak pernah benar-benar pergi.

di atas kursi, sesekali aku dengar

segalanya bersuara, bahkan sunyi

bahwa kau ada di mana-mana

tak hanya pada tebaran bagian tubuhku

di atas meja

 

2

apa yang berdesir dalam semilir

yang mengendap dalam terang

yang menyerbu dari kicau

yang berkedip dalam bening

barangkali kau

yang berkilat sesaat sebelum embun pecah

yang pecah diserap tanah

 

3

di trotoar kutemukan kau menjual jarum,

di trotoar yang lain kau menjajakan benang

aku berteduh sambil menjahit kulit dan daging,

daging dan tulang, sendi dan sendi

jarum dan benang berlarian di tubuhku

dengan riang, seperti ada hujan

yang masuk dan keluar

lalu matahari. lalu kau

keluar masuk mencari bekas ciuman

yang alpa kuhapus

 

4

tanganku tertinggal di trotoar

kakiku melangkah mundur di sebuah gang

kepalaku tinggal di alun-alun

dadaku bergetar di atas menara

perutku bertapa di pasar terbakar

yang sampai padamu barangkali hanya hasrat

yang tak henti menggambar peta hidup

 

5

kau berkata ada pintu

yang tak terkunci. tak memiliki kunci

sebab pemilik kunci telah masuk

dalam diriku dan tak pernah meninggalkan

tapi kelak seluruh pintu

akan tertutup. akan tertutup

aku akan menguncinya dari dalam

mengunci sang pemilik kunci

 

maka seluruh pintu yang tertutup

tak lagi ingin terbuka. kau telah masuk

dunia, dunia melambai di jendela

 

2012

 

 

 

Peta dalam Rumah

 

Aku ingin memasukkan rumah ke ruang tamu, ruang tamu ke

dalam kamar ayah, kamar ayah ke dalam perpustakaan,

perpustakaan ke dalam dapur, dapur ke dalam mushola,

mushola ke dalam lemari, lemari ke dalam boneka,

boneka ke dalam mobil-mobilan.

 

Aku ingin menghidangkan mobil-mobilan itu di atas meja

makan, meja makan di atas perut ibu, perut ibu di atas kitab suci,

kitab suci di atas topi koboi, topi koboi di atas kuda, kuda di atas

pistol, pistol di atas peluru, peluru di atas buku gambar.

 

Aku ingin menanam buku gambar itu di pekarangan.

 

2013

 

 

Toni Lesmana lahi di Sumedang, Jawa Barat,

25 November 1976. Ia menulis puisi dan prosa

dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 JUNI 2013

 

Written by Puisi Kompas

Juni 12, 2013 at 11:46 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »


Kunti

 

Maka bernyanyilah ia kepada udara

yang kering kerontang

Kepada langit kosong

yang menggambarkan isi dadanya

-dada muda yang begitu mudah

terbaca dan tergoda

-dada ranum yang membuat kagum

para lelaki dan pendaki

 

Perempuan itu tak tahu apa-apa

Ia hanya hanyut ke dalam nada

Seperti mata air ia tak tahu

ke laut mana ia mengalir

Ia bahkan tak sadar

matahari telah berhenti beredar

Waktu berhenti. Angin mati

Dan seorang lelaki

Menantinya di sebuah sepi

 

Jogja, 2012

 

 

Balada Alli

 

Hai, kau yang menyamar sebagai ular, aku Alli

Naiklah ke peraduanku. Malam ini aku berahi

 

Hari kemarin kau Putri Chengamalam

Rindu yang kupuja sepanjang demam

Dan lantas kita berlarian di dalam hutan

Berburu kijang dan kasih sayang

 

Di sebuah lelah, di punggung trembesi

kausandarkan tubuhmu

pada tubuhku yang sepi

Tak bisa kau dengarkan apapun di sana

 

Dan pelan kaulepas cincin di jari manisku

bersama kisah-kisah Pandawa

yang kau tembangkan berulang-ulang

seperti gendewa terentang

Hingga Arjuna bangun dari tubuhmu

Dan bayang Wrahatnala menari lagi

Di alun-alun Wirata

 

Hampir aku jatuh, Arjuna

Dalam pelukan tubuh perempuanmu

Tapi Alli tak bisa jatuh. Tak sanggup jatuh

Ia adalah batu dari Madurai

-pernah membunuh anak burung gagak

 

Sebagai ular sebagai perempuan

mungkin kau bisa bercinta denganku

Tapi sebagai lelaki tunggu dulu

Kemarahanku lebih besar dari kesaktianmu

 

Tapi Tali ini –  benang kuning di leher

telah merampungkan baladaku

Pulandaran lahir tanpa persetubuhan

Dan Alli tinggal kenangan

Kenangan yang ingin kulupakan

 

Dan kisah perempuan

yang lahir di rekahan bunga lotus itu

Selesai sudah. Harus selesai.

 

Jogja, 2013

 

 

Amba

 

Aku kalung teratai yang tergantung di gagang pintu

Menunggumu mengenakanku pada sebuah perang

Separuh diriku yang lain adalah sungai kering berbatu

Yang sesekali saja tergenang jika hujan datang

 

Tapi sebut saja aku hantu,

Kemarahan yang tak padam,

Atau cinta yang gagal

 

Pada seorang lelaki kualamatkan seluruh deritaku

Tak perlu kau sebut namaku. Berdiri saja di tepi gelanggang

Kenakan aku dilehermu. Maka aku akan menerimamu

Seperti sebuah kereta yang menjemputnya pulang

 

Jogja, 2013

 

 

Satyawati

 

Di dalam kabut ini, Palasara, renggut aku

Habisi amis tubuhku sesuai janjimu

Lalu pergilah. Biarkan sepi Yamuna

Dan wangi tubuhku yang tersisa

Dari persetubuhan kita

 

Sebab aku anak pungut seorang nelayan

Kama yang jatuh di mulut seekor ikan

 

Di dalam kabut yang terbuat dari nafasmu

Di atas sampan yang terbuat dari tubuhku

Kita susuri Bengawan Yamuna sekali saja

 

Jogja, 2013

 

 

Gunawan Maryanto bergiat di Teater Garasi Yogyakarta.

Kumpulan puisinya Sejumlah Perkutut buat Bapak (2010)

meraih Khatulistiwa Literary Award 2010.

Segera terbit kumpulan puisi terbarunya,

The Queen of Pantura.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 12, 2013 at 11:43 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI GUS TF

leave a comment »


Susi Kulit, Susi Nalar

 

Lorong tubuhmu: daging terbakar menuju padam. Ah,

erangku parau, biru lebam, tersangkut di nganga jeram.

 

Lengkung batokku: tebal cangkang tempurung batu. Ah,

nalarmu, Susi, geretak ragu, gorong-gorong di kepalaku.

 

Tulang kayumu: kering berderak melengking tajam. Ah,

igauku galau, layuh-redam, tertatih di bungkuk malam.

 

Tegak batangku: serat mengeras menahan waktu. Ah,

kulitmu, Susi, lapis demi lapis: terus mengelupasku.

 

2011

 

 

Susi Tali, Susi Akar

 

1.      Tali Quipu

Seperti Phaeton yang takut kepada, tetapi selalu mengintip, angkasa,

orang-orang yang takut pada tulisan itu membuat alfabet dari tali Quipu.

Dengan bantuan warna, dan setiap gerak tertentu membikin mata ikatan,

mereka pun kembali kenal bacaan. Dan lihatlah, dewa-dewa yang dulu

marah sesudah wabah, dengan perasaan ajaib kagumnya, serta-merta

lantas menyerah. Maka, kata mereka, Baca, bacalah Susi, yang tak

henti mengerlip, tak henti mengerdip: mata ikatan, tali Bimasakti.

 

2.      Akar

Sebelum burung petir itu datang, engkau beranggapan dunia ini

pipih. Seperti Maliki yang senang setiap menemukan tempat berhenti,

kau pun senang setiap kali tak ada pertanyaan lagi. kautak suka orang

mengutip Mahabarata, mengatakan waktu adalah benih alam semesta,

karena kau tak melihat wujud, tuhan lahirmu, terpampang ada pada

lintas dan edar benda. Maka, betapa gila, memasukkan siang ke

 

malam, memasukkan malam ke siang.* Sebelum Burung Petir

itu datang, engkau beranggapan semua kata menciptakan dirinya

sendiri, kalimat-kalimatnya sendiri; semua hewan menciptakan

dirinya sendiri anak-anaknya sendiri; semua pohon tumbuh,

menyembul, memekarkan bunganya sendiri buah-buahnya

sendiri. Tak ada akar, yang berpilin, menggeliat mendekap Susi.

 

3.      Tak Soal

Si Pengunyah Serta, Si Pemakan Akar, itulah dua nama yang

kauberikan kepadanya sesudah banjir besar itu menjelmakan dia

jadi ikan salem. Kami tahu, tinggal hanya dia yang pernah hidup

di Baalbek dan Tiahuanaco sebelum menjelma jadi reruntuhan

dan kota tua, Dalam air, di dasar Sungai Minish, dia mulai

 

menyingkirkan tiang-tiang dan batu, memanah serat-serat dan

akar kayu. Menyilamkan dendam dan benci, mengangakan cakra

dan Susi. Setiap hari, setiap hari dia hanya berenang-renang. Setiap

hari, setiap hari dia hanya bersenang-senang, melupakan kami dan

pertanyaan sialan itu: mengapa ini terjadi bagaimana ini terjadi.

 

Seperti kauduga, pelan-pelan dia mulai membelah diri, menjadi

dua. Sebagaimana dulu di Baalbek, Si Pengunyah Serat lebih suka

hidup di hulu, di ketinggian, di gunung-gunung, yang membuat dia

merasa dekat dengan semesta. Sementara itu, Si Pemakan Akar,

sebagaimana dulu di Tiahuanaco, lebih suka hidup di muara,

 

di kedalaman, di lembah dan palung-palung yang membuat dia

merasa dekat dengan lempeng tektonik, sumbu-sumbu tanah yang

bergeser. Kami tahu, dua makhluk itu tak soal. Sama saja, karena

itu yang membuat dia selamat dari Baalbek dan Tiahuanaco, dan

lalu banjir besar, dan kini menganga: bergetar bersama Susi.

 

2011

*Dari QS 3:27.

 

 

Susi dari Gilgames

 

Di bawah air terjun, langit berat yang marun, Enkidu membasuh

semak gulma di punggungnya. Mamalia bergantungan, mengelayut

di pundak. Seekor ular melingkar, dari paha ke kelangkang, menjulur

julurkan lidah perak bercabang. “Engkau cabut bulu dari kulitku,”

kata Enkidu. “Apakah kausangka: telah memisahkan manusia

 

dari hewan?” Itu seperti melepas akar dari tumbuhan. Seperti melepas

getar dari Susi; merenggut gerak dari tari. “Buang pikiranmu dari bentuk,

hewan zaman lalu yang kaucambuk; ijab-kutuk makhluk. Air bukan lagi

tempat ikan, udara bukan lagi tempat burung.” Angkasa mengucurkan

sayap dan insang. Telah tak lagi beda: menyelam ataukah terbang.

 

Binatangku, kaulihat spora, dan katak-katak itu, melayang-layang?

 

Enkidu tengadah, memendam anggguk. Langit marun dan perak lidah

bersilih bentuk. Angkasa melingkar langit bercabang, dan spora dan katak

katak, seperti air terjun, seperti senyap dan insang, mengucur deras. “Ayo

Enkidu, tampung dengan tempat minum ternakmu.” Susi berdenyar;

bergetar, dalam tempat minum ternak Enkidu. “Ayo Enkidu,

 

hidangkan pada rumput makan malammu.” Dan Enkidu, dari bawah

air terjun keempat puluh itu, menampung apa pun seperti menanggung

hujan pertama 4,3 miliar tahun lalu. Menampung cambuk dan ijab-kutuk

seperti menanggung makhluk pertama 12 miliar tahun lalu. “Ah Enkidu,

betapa muda DNA-mu. Materi tak Cuma seletup dan antimateri lebih

 

tak bisa engkau ukur dari gema.” Lalu, bagaimana kaubisa percaya

kepada angka? Sungguh lucu. Kaubangga pada bilanganmu yang lima

belas digit saat bilangan tertinggi mereka hanya sepuluh ribu. Maka, apa

yang kini bisa kaukata tentang bilangan tak terhingga? Segala rupa segala

angka yang kaupercayai ada: hanya hitungan sepele dalam semesta. Ah,

 

binatangku, kaulihat klorofil, dan kehijauan itu, tak hanya warna?

 

Enkidu tertunduk, memendam angguk. Segar rumput makan malam

berkilauan, dalam Susi; dalam usus betina dan lambung-lambung jantan.

Betina-jantan masa lalu, betina-jantan di kapal dan banjir-banjir besar itu:

tak cuma Sumeria, tetapi juga Inca, Assyira, Mesir, dan Babilonia; tak

cuma dewa (kaukenang ia: Dewi Iminis), tapi juga semua yang kini

 

tengah melekat pada tubuhmu: serangga, ular, mamalia, pun si kecil itu:

kutu-kutu: Pun si yang lebih kecil: bakteri dan kuman-kuman. Pun si yang

lebih-lebih kecil: amoniak dan methan. Racun-racun itu. semua yang entah

telah sejak kapan (dari zaman ke zaman) jadi alasan kau mencari dan terus

mencari – engkau tahu mereka tak tahu – air terjun baru. Ah, binatangku,

 

Gilgames, akulah semak gulma itu: Susi, hama yang selalu dibasuh Enkidu.

 

2010

 

 

Susi Lubang

 

lubang dangingnya, kaututup dengan dagingmu. Kau

membara, bilah tembaga dalam dirimu. Gelogoh itu,

air mendidih dingin membeku.* Dada yang tumpul,

raga yang mandul, serat menganga usus mengepul.

lubang dagingmu, kaututup dengan dagingnya. Kau

menyala, pohon kosmik dalam dirimu. Zaqquum itu,

serat menganga lambung memompa. Jantung yang

tumpul, jiwa yang mandul, entah sampai kapan –

 

engkau menutup Susi membuka: Lubang Semesta.

 

2009

*Dari QS 78:25

 

 

Gus Tf lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat,

13 Agustus 1965. Buku puisinya yang telah terbit

adalah Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005)

dan Akar Berpilin (2009).

Written by Puisi Kompas

Juni 4, 2013 at 3:43 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: