Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Dedy Try Riyadi

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »


Bagaimana Capung Melihat Dunia

 

Ingatlah peristiwa ini:

 

Musa baru saja selesai menulis,

sedang di bawah bukit, Harun

tak kuasa menolak upacara

di hadapan patung sapi emas.

 

1/

Dalam semak itu, seekor siput

merambati tangkai bunga, tapi

lingkar kambium tunggul itu

tak lagi mengingatkan tentang waktu.

 

Barangkali, saat itu, kau mendengar

ada yang menyanyi dengan syahdu;

 

“Cahaya siang telah datang,

dan aku ingin segera pulang.”

 

2/

Seekor capung yang baru saja hendak terbang

mengira langit terbuat dari lembar-lembar kain sutra.

 

Sementara berhelai-helai dedaunan rumput

seolah tangan yang menghimbau;

 

“Siapa yang memihak Tuhan,

datanglah ke depan kemahku!”

 

Dan berkumpullah kita, di halaman sajak.

Capung itu melihat cahaya di balik semak.

 

3/

Rasanya, seekor burung pernah mematuk

serpih kayu itu. Entah di kulitnya, atau

bagian batangnya yang mudah pecah.

 

“Sekuntuk bunga seolah menyala, Tuan.”

Bisik kepik dari balik bayang. Kau tak melihatnya?

 

Aku hanya putik bunga berwarna putih.

Aku hanya mengira alam tengan merintih.

 

4/

Tak ada bau hujan atau sisa embun

di dedaunan rumput itu.

 

Seolah tak ada cerita yang bisa

kau rangkaum sebelum sebuah bunga

jadi alum.

 

5/

Barangkali, seorang menggurat batang tanggul itu

dengan inisial namanya.

 

Dan sebuah luka dibuka, pelan-pelan sekali,

pagi itu.

 

Pekik burung di balik semak, membuat capung

terbang semakin tinggi.

 

6/

Di halaman, seorang menyanyi Calypso;

 

“Tapi aku bersedih mengatakannya,

aku dalam perjalanan,

tak akan pulang berhari lamanya.”

 

Di halaman, capung memandang dunianya:

cahaya, semak, dan bayangan.

 

Tak dia pedulikan tunggul kayu

dan burung yang lupa rasa.

 

7/

Esok pagi – entah jika kau menyebutnya “lagi”

-di depan kemah, remah-remah roti.

 

Dan burung itu bersembunyi dalam bayangan

semak-semak yang tak lagi jadi api.

 

Capung itu tidak mengapung.

 

8/

Di antara banyak sayapnya,

Capung itu merenung;

 

Bagaimana dunia dibuat sesuram

bayang di bawah tunggul kayu itu?

 

Di antara kepak sayapnya,

capung itu terus menghubung.

 

9/

Di bawah langit yang serupa lembar-lembar kain sutra.

Musa mengasah pedangnya dan membayangkan

urat yang mengeras di leher saudara-saudaranya.

 

Sesekali, dia melirik pada puncak bukit, dan berkata:

“Jika waktunya tiba, hapuskan namaku saja.”

 

Kelopak matanya tiba-tiba menutup

ketika sayap-sayap capung itu terlihat

seperti tembaga.

 

2014

 

 

 

Liburan Penyair

 

Sekali waktu,

aku libur jadi penyair.

Menyaru sebutir apel,

tapi pisau sepi membelahku.

 

Aku jadi kupu-kupu,

Sepi jadi ulat masa lalu.

Ada baiknya aku jadi biji saja.

Eh, sialan! Ada lalat

menghisap-hisap sisa manisku.

 

Kukemas diriku jadi kanvas.

Pucat putih itu.

 

2014

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini

Tinggal di Jakarta. Ia bergabung di Paguyuban Sastra Rabu

Malam (PaSaR Malam). Buku puisinya adalah Gelembung (2011).

 

 

PUISI KOMPAS MINGGU, 27 APRIL 2014

Written by Puisi Kompas

April 29, 2014 at 10:59 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: