Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Juni 2012

PUISI LAKSMI PAMUNTJAK

leave a comment »


Image

Cerita Perjalanan

 

Tiap perjalanan mungkin bermula

dari tangga

 

atau dari kaki yang terseret

sepanjang lorong

 

di rumah nenek yang tua, di mana

pintu terbuka, mungkin ke bayang

 

& bekas tinta. Ada pediangan dengan

sisa arang. Sering orang tak bisa tahu

 

mana ruh mana hantu, dan seperti kunci

yang jatuh ke pasir, kita tertegak

 

ke arah pusaran, tapi lupa seseorang

yang di sana. Nyanyi terjahit pada langit,

 

jauh sebelum kota-kota didirikan

dan tanda jalan dan jarak dipasang

 

Bisa saja angin khianat, ketika sinar

memilih celah,

 

mungkin kita puji Tuhan yang salah

dan hanya ingat apa yang membuat ladang bercahaya

 

bagian yang lekat pada peta. Kita tinjau bentangan

dari arah kerak bumi, seakan-akan planet ini

 

hanya tumpahan kosmis yang tak sengaja.

Gunung mengeriput di bawah matahari, dan laut

 

cuma air yang merembes de dalam ruang.

Tapi akhir-akhir ini panas jadi perak,

 

ketika pulau tenggelam dan ikan terengah

dalam liang hari yang hitam, yang meranggas tak biasa.

 

Apapun kisah yang kita bayangkan di jalan ini

terkubur di dada si mati, atau selamat karena bulan

 

dengan wajah sesat seorang dewi. Begitu rupa kiranya,

hingga halaman yang melompat dari kitab

 

terasa menyentak lembut, mengisyaratkan sesuatu

yang akrab ke kulitmu: sidik jari ibu, tetes peluh bapak

 

yang lepas dari leher yang menjulur di garis yang sama,

membawanya pergi ke sebuah tempat,

 

ke sebuah penjuru, di mana burung-burung

terbeliak, menatapmu.

 

 

 

Tentang Cahaya

Yang ia percakapkan hanya cahaya.

Ketika ia berikan kepadaku buku tentang seorang penulis

yang mengucilkan diri di rumah rahib Cappadocia,

rasanya ia berharap aku juga akan berpikir

tentang cahaya yang jatuh ke batu-batu tertentu,

di pagi-pagi tertentu.

Baiklah, kataku, tapi warna putih

adalah malam. Bukan matahari yang

mengantarkannya, melainkan caha bulan

pada karang. Ia mendengarkan.

 

Lalu ia sarankan agar aku lebih menyimak pagi

Anatolia. Sebab di sana ada getar kecil

pada cahaya terang, pohon-pohon birka

berbercak kapur dan coklat muda

yang memangar tebing, burung air yang

meloncat-loncat.

Ketika si penulis di biara itu mati

belum sebulan semenjak ia berikan buku itu kepadaku,

diam-diam ia runtuh.

Lalu ia tulis semacam obituari

yang akan membuat yang mati,

bahkan Narcissus, tersipu-sipu.

Sementara ia menangis dalam kepedihan Virgilius,

aku datang kembali ke jajar sinar

yang jatuh ke dadaku siang itu.

Tiap kali pandangnya menatap sepasang lonceng

di kedua ujungnya, puncak yang lunak

dan menyerah itu,

aku tak tahu adakah ia tengah menikmati

warna jingga gardu-gardu yang menegaskan

pertigaan itu,

atau menjilatkan matanya

ke warna susu, warna bundaran pada menara

dongeng Rapunzel.

Aku tak tahu adakah

cahaya tubuhku yang ia tatap

atau cahaya sekitarku

yang tak ada hubungannya

dengan diriku.

 

 

 

Bhisma: Di Siang Terakhir

Suatu hari kulihat seorang lelaki terantuk-antuk melintasi padang;

matanya tetap saja menunduk. Seakan dalam badai yang

menghimpun hujan itu, setelah menerobos celah semak. ia akan

menemukan cahayaalit di rahim ibunya.

 

Seekor burung terjun ke dalam liang di tanah yang kini gelap – aku

tak tahu rumah siapa neraka siapa –  tapi ada sesuatu pada lelaki itu

yang tersentuh dalam-dalam, seolah hanya dengan satu gerak

tangan telah terhimpun kembali kepercayaan, di seluruh hidupnya,

dan ia biarkan ujung anak panah perempuan itu terbang sendiri,

menusuk.

 

 

 

Putus

Tentu aku telah melihat ini dalam mimpi:

kita mulai dengan makan, dan

kita lirik tiap gerak yang lewat pada gang.

Lalu kita beringsut pergi

dengan diam, pulang pada segelas anggur ringan.

Aku ingin katakan sesuatu padamu, tapi kau telah tahu.

Dan sesaat tertangkap: sunyi dan senja. Lalu:

Sunt lachrimae rerum. Dengan nada

yang tak akan meyakinkan bulan.

Ternyata airmata ada, pada tiap benda. Sekejap

kucoba berkata, tidak, tidak,

kita lebih baik kembali pada yang tadi,

kepada pikiran yang pertama. Tapi begitulah.

Tiap kali kita bertanya-tanya,

dalam kabut macam ini, yang lebih berat

ketimbang gelap, yang lebih gelap ketimbang angan,

mengapa pada akhirnya

semua terhenti, di titik ini.

 

 

 

Laksmi Pamuntjak telah me-

nerbitkan dua kumpulan puisi,

Ellipsis, (2005) dan The Anagram

(2007). Empat puisinya di atas

adalah versi Indonesia dari sa-

jak-sajak berbahasa inggris yang

akan ia bacakan dalam poetry

Parnassus di London, Inggris,

akhir Juni ini – bagian dari Cul-

tural Olympiad dan London Fes-

tival 2012, mengiringi Olimpiade

2012. Laksmi diundang ke acara

tersebut sebgai wakil dari In-

donesia.

 

KOMPAS, MINGGU, 24 JUNI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2012 at 2:49 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »


 

 

 

 

 

 

 

Di Dalam Televisi

kota ini

adalah televisi

sebuah kaleng ikan sarden

dengan amis laut buatan

 

ada yang diracun

dan menunggu mati suri

kehilangan musim

ketika seluruh lampu dipadamkan

 

kota pukul 00

sebuah fatamorgana

yang mengungsi

ke dalam televisi

 

2012

 

Anjing Api Artupudnis

di mana ia dikubur

seekor anjing yang datang

dalam sajakmu

 

masihkah dikenali

bayang-bayang hitam malam

menggoreskan kibas ekornya

ke arah pulang

 

seberapa keras ia menggonggong

lapar menyusu, haus berburu

seberapa ia jauh berjalan

menyisir kupu-kupu

 

tubuhnya

dikoyak api birahi

 

tapi di mana ia dikubur

di makam Van Ham yang lapang

rumah potong terbuka

tak ada pembakaran

 

dalam sajakmu

kematian diabadikan

 

2012

 

Patung Air Partini Tuin

dalam tubuh batu

padam matahari

 

sedingin kolam matanya

corak kain batik

tangannya menangkup bagai kuncup

menutup lubang pusar

 

ia bukan sita

padanya dikenakan

bunga-bunga tanpa warna

sepucat ikan

penjaga setia garis silsilah

 

tubuhnya basah

keningnya basah

heningnya basah

 

membuka diri

ke kedalaman air

sepanjang tahun

menunggu

hanyut

 

2012

 

Requiem

10 musim dingin

dialamatkan pada namanya

 

ia mengadu tentang jadi tua

ngilu gusi

cinta

yang tak datang

 

kartu pos dari paris

mengirim dingin terburuk

 

daur garis tangan patah

menggambar perempuan

di mana kesendirian adalah biru salju

dan lengang jalan

 

sebelum pintu dibuka

mereka melepas sirine

tanda kematian

 

2012

 

IRMA AGRYANTI lahir di Mataram, Lombok. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon.

KOMPAS, MINGGU, 10 JUNI 2012

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2012 at 2:48 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »


Kangkung Selokan

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, lelaki yang tumbuh keliru

di sepanjang lekuk dan ceruk, dan di sepanjang comberanmu.

kolam dan ladang dalam riwayat para leluhur, hanyalah

dongeng di sepanjang malam kosong,

tak menumbuhkan mimpi, tak berbuah impian.

 

kami tercampak di bandar-bandar, serupa kaleng sarden

bekas makan siang, kemudian tumbuh, menjadi sampah,

memuakkan setiap mata bila terkenang sarapan kemarin pagi.

 

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, serupa tomat

yang tercampak ke dalam sampah. kuali dan kelaci,

serta mangkuk dan piring bagi nasib kami, hanyalah

sepenggal takdir yang tertidur – takdir yang mendepak kami

keluar dari mimpi sendiri.

 

Padang, 2011

 

 

Energi Mencipta Puisi

mencipta puisi

tak semudah membalikkan cangkang

kura-kura yang melangkah tertatih

menuju sungai

 

mencipta puisi

seperti menjangkau buah di ujung ranting

tak pandai mengira kerapuhan dahan

alamat badan akan jatuh

dan puisi menjadi luruh

 

meski kau mampu menghadirkan kata-kata

dan mendakwa kata-kata itu adalah puisi

 

tetap saja kau hanya berhasil mencipta

kura-kura yang tersandung

dan aliran sungai yang tak berhasil

menemu muara

 

sementara buah masih riang terjuntai

semisal gerak daun basah

di rantingnya

dahan lebih dulu menjatuhkan engkau

 

Padang, 2012

 

 

Pulanglah, meski Sekedar sebagai Bayangan

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan

orang-orang di beranda menanti engkau datang

meski hujan lupa meninggalkan bercak di permukaan

 

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan

orang-orang di halaman menunggu engkau pulang

meski di bekas hujan jejakmu menghilang

Padang, 2012

 

RAMOUN APTA lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991.

Ia bergiat di Labor Penulisan Kreatif Sajak Sore dan bekerja di Forum Penulis Seni, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 10 JUNI 2012

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2012 at 2:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

with one comment


The Real Is Silence

River Of Life, 2012/1/

Apakah kau percaya

pada arwah gentayangan

yang ada dan tiada

di sekitar istana? Apakah kau percaya

ada yang baunya sengit

ada yang membusuk

di sekitarmu?

Apakah kau sungguh-sungguh

mencintai ibumu?

Wahai, Perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/2/

Pangeran, lihatlah ke luar.

Orang-orang pulang kantor

berkendara motor:

Satu, seratus, seribu –

ada yang berteriak

mungkin padamu,

“Bagaimana kabar anjingmu?”

Tak ada yang peduli

dengan siapa ibumu tidur

malam ini.

Mereka tak suka nonton

sandiwara sedih –

hujan yang setiap hari

menggigilkan mereka sudah cukup

menjajarkan mereka

di sudut duka yang baka.

“Apa kabar anjingmu

yang suka menggeletak

pura-pura mati

setiap kali kau bicara

kepada dirimu sendiri

tentang bunuh diri?”

 

/3/

Seorang perempuan yang lewat

membuka payung dalam gerimis

tak pernah mendengar

dan mungkin juga tak peduli

bayolan dua penggali kubur

di pinggir liang lahat

yang akan menganga

siap menerima masa lampaumu.

Perempuan itu pingin buru-buru pulang

menonton kisah gadis solehah

agar bisa ikut mengusut

rangkaian pertanyaan sederhana

yang tak ada kaitannya

dengan celoteh dua badut itu,

“Apakah memang cinta

Yang telah mengirim

Perempuan muda itu

Ke jalan sesat?”

Perempuan berpayung

menunggu angkot –

kalau saja ia tahu

kisah cinta tak telarai itu

mungkin akan dikatakannya –

tanpa menimbulkan rasa sedih,

“Itu pasti lebih dikenang

daripada kalau ia masuk biara

yang pasti akan menjadikannya

tak jelas telungkup

atau telentang.”

Sidik jarinya tetap menempel

di sekujur tubuhmu, lihat!

Siut matanya masih terasa

menyambar-nyambar tatapanmu!

 

/4/

Kau mungkin hanya ragu-ragu

untuk tahu bahwa sepasang badut

itu punya firasat buruk

segera sesudah kau mendarat

di negeri ini;

mereka bernyanyi-nyanyi

memain-mainkan tengkorak

melempar-lemparkan kata-kata musykil

ketika menggali kubur

perempuan muda yang bayangannya

meraung dan mencakar-cakar

dua belak otakmu.

Mereka mungkin saja tahu

bahwa kau hanya berpura-pura

gila ketika itu;

bahwa kau memang tak paham

makna cinta yang kaukumur-kumur

tak pernah masuk tenggorokanmu,

“Yang mati bunuh diri

tak berhak dikubur

di pelataran suci ini!”

Tapi, bukankah kau sebenarnya

yang membimbingnya

ke liang kubur itu?

O, ya, Pangeran –  bukankah kau

yang pernah menyuruhnya

masuk biara ketika ia

merasa tak kuasa

menjangkaumu? Padahal!

 

/5/

Bahwa kau memang tak paham

ketika dulu bilang

ibumu pelacur murahan

bahwa kau tak bisa mengurai

simpul yang digulung

ibumu dan perempuan muda itu;

bahwa kau memang tak paham

kasak-kusuk sebelum kau masuk

ke perhelatan agung

yang tak seharusnya

tapi yang ternyata seharusnya

melibatkanmu;

bahwa adu pedang itu

permainan yang lebih perkasa

dari sandiwara akal-akalanmu.

 

/6/

Sandiwara yang kaurancang

hanya sedikit menggoyang mahkota,

yang jelata tak diberi tempat

untuk menyaksikannya;

mereka sibuk berseliweran

naik angkot, bis kota,

boncengan sepeda motor setiap hari

tidak untuk menjawab

pertanyaan yang mungkin kausodorkan

kepada arwah gentanyangan itu.

Sandiwara hanya kenyakinan maya

yang menorehmu, “Hai,

kenapa getar pada api maya?”

Kepada siapa sebenarnya

Kautodongkan pertanyaan itu?

Kepada arwahmu sendiri

yang akan menutup

perbincangan ini nanti?

 

/7/

Underpass macet sama sekali

ketika hujan deras turun –

itu, alhamdulillah, sebabnya mereka

tak pernah sampai di gedung

pertunjukan sandiwara

akal-akalanmu.

Mereka buru-buru

ingin sampai ke rumah

menyaksikan sinetron

yang tak berniat menyodorkan

masalah atau tanda tanya

ke kotak kepala

yang sudut-sudutnya

tak pernah tentram

dan karenanya hanya memimpikan

air mata yang melegakan sukma.

Sialan! Hujan tak juga berhenti

macet di underpass menyebabkan

semua tertunda.

Alhamdulillah, mereka tak ikut bingung

meski mungkin suka sandiwara

yang ada adu pedangnya

yang banyak maki-makinya

yang berkilau gelimang darahnya

tanpa harus mendengarkan

ucapan filsafat yang keramat

di tepi liang kubur itu.

 

/8/

Aku mencintai perempuan muda

yang mungkin bunuh diri itu –

lebih dari segala cinta

yang dimiliki manusia!

 

/9/

Tentu kaudengar teriakan lelaki

yang bapaknya kaubunuh

dan adiknya mati tenggelam itu,

“Tunggu, jangan timbun dulu

liang kubur yang kaugali

sampai kau bisa memeluk

sekali lagi

tubuh molek itu.”

 

/10/

Ada hp bergetar

Di underpass

Sinetron keluarga sakinah

dah mulai mas

km msh di jln

ujan ya

rugi mas ga nonton

haru bgt deh.”

Sialan! Hujan gak juga reda!

Padahal hanya dalam sandiwara

hidup berupa tanda tanya.

 

/11/

Apakah benar itu umpatan

ketika terdengar ucapan

Wahai, perempuan,

kaulah kaum ringkih itu.

 

/12/

Selebihnya; senyap-sunyi semata.

 

 

Nuh

Nuh bilang, kita harus membuat perahu.

Mimpi kita muntah: banjir besar itu

apa sudah direncanakan sejak lama?

Ambil beberapa huruf yang cekung,

 

agar kita semua bisa terapung.

Persiapkan juga beberapa yang tegak

dan miring, dan sebuah titik.

Ke mana kita terbawa muntahan ini?

 

Susun dalam sebuah kalimat yang kedap air

agar kita bisa sampai ke sebuah bukit.

Mimpikah sebenarnya muntahan ini?

Agar kita bisa menelan masa lalu.

 

Senyap Penghujan

:Rendra

 

/1/

Senyap mengendap-endap dan hinggap

di ranting itu. Seekor burung mematuknya –

ia terdengar menyanyikan aroma panda

sepanjang musim penghujan.

 

/2/

Seekor burung menukik dan hinggap

di ranting itu. Sunyi sembunyi di senyapnya –

terlelap di antara bulu-bulunya.

 

/3/

Senyap, burung, sunyi, dan juga hujan

melesat bersama aroma yang kebiru-biruan.

 

 

Sapardi Djoko Damono dalam waktu dekat

akan meluncurkan dua buku puisinya yang

terbaru, Sutradara Itu Menghapus Dialog

Kita dan Namaku Sita, serta sebuah trilogi

novelet.

 

KOMPAS, MINGGU, 3 JUNI 2012

 

 

Written by Puisi Kompas

Juni 3, 2012 at 4:56 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: