Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Kiki Sulistyo

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


rantai babi

 

yang bertaring mesti bertarung dengan yang berdengking, yakni si anjing

tapi hela dulu ke hulu ladang, ke gatal bulu batang pohon birak

 

pabila ia siluman akan terdengar siulan dari balik bilik si tuan

dian tak sekali-kali padam, uang logam direndam di pemandian

 

lalu orang bikin sandi, orang bikin sandiwara bagi penghuni candi

pandai besi gaib, ini rantai, sepandai-pandai pantun bikin andai Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 22, 2016 at 11:42 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


Melihat Komet

 

kukira ia teluh yang menempuh separuh jalan

dari tempat keramat ke pusat keramaian

yang kalau siang banyak orang bersaing saling serang

dan malamnya cuma udara bau cuka

 

saat itu dianjurkan pada siapa saja untuk meminta

agar ekornya yang cemerlang tak tersesat sembarangan tempat

sebab bisa jadi besok pagi ada yang ditemukan mati

tanpa musabab, jadi pengganggu waktu istirahat

 

kukira ia seperti orang alim, yang lintas sebentar lantas hilang

lalu setiap kami akan bercerita dan merasa paling dekat dengannya

meski di belakang, kami paham setiap bibir punya tabir

selubung rahasia yang terbentang bagai ruang tempatnya sirna

 

aku melihatnya kini, lagi atau untuk pertama kali

tak ada bedanya, ia sepenuhnya dekat dengan detak nyawa

meluncur di ketenangan yang dalam, masuk ke ceruk rusuk

melingkar di sana bagai ular yang ingkar dari kitab ajar

 

(Bakarti, 2014)

 

Ajimat Kuku Mayat

 

mata batu, lenyapkan semua penjuru

burung malam, kurung tiap pejam

ini setapak, buat jadi lunak

ringanlah langkah, pecahlah tulah

penjaga makam, makan malam datang

bunyi kalajengking, denging pucuk duri

sampai, telah sampai

tanah lapis bawah, decis cacing merah

kuku-kuku hitam, ibu kunang-kunang

keruk kian dalam, galian dingin nian

jari pencuri, tergenggam jari penggali

dapat, telah dapat

kentungan sayup, pucuk api meletup

lalu anjing, hijau mata anjing

memanggil, orang-orang memanggil

 

(Bakarti, 2014)

 

Kudabatu, Kudawaktu

 

mereka menemukannya, di kedalaman antara pasir dan tekanan air

seekor kuda beku dengan rongga mata menyala biru

berapa abad ia berkubur di situ, cuma waktu, makhluk bisu itu yang tahu

tapi waktu tak membuat tanda di tubuhnya, seakan ia tak tersentuh

seakan ada perjanjian telah dituliskan dengan cara paling diam

 

mereka membuat peta untuk mengangkatnya, menduga berapa tenaga

bakal terkuras agar impas pencarian ditebus harga dan harum-nama

kuda itu berasal dari kurun waktu tak terhitung, tak dicatat kitab

riwayat mana saja yang pernah mereka baca; kudabatu, kuda tanpa waktu

 

maka sebuah sebutan selalu diperlukan bagi tiap penemuan

sebutan yang bila orang menyebutnya akan bisu seketika

lidah jadi batu dan rahang kaku: rahang fosil yang mati menggigil

di gurun salju, di bukit berhantu tempat sering terdengar angin memanggil

 

mereka mengangkatnya, begitu ringan ternyata bagai boneka mainan

di permukaan, cahaya perak pagi hari menyiramnya, lantas menghisapnya perlahan

kuda itu kudabatu, batu yang menguap apabila ada yang melihat

mereka melihatnya habis di udara, tak menyisakan apa-apa

 

betapa sia-sia semuanya, saat mereka teringat hari itu akhir tahun

tahun yang baru datang mengendara kuda; kudawaktu, kuda yang bisu

 

(Bakarti, 2014)

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampena, Lombok, 15 Januari 1978. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 MARET 2014

Written by Puisi Kompas

April 8, 2014 at 11:30 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


Lonceng Makan Siang

 

lonceng makan siang berkeloneng di tengah ladang

batang-batang kurus kacang tanah membayang di panci rebus

bibi yang anggun bagai api unggun, berdiri memandang kejauhan

hari ini ada juga sup kelinci, dengan biji bunga matahari

harumnya terkepul di udara meranumkan buah-buah mangga

 

sekali paman memanggil kami, suaranya seperti dalam mimpi

kadang paman begitu baik, dan kalau paman baik,

bibi terlihat lebih cantik,

 

tengah bulan komariah, semalam ada datang piring terbang

jakun leherku mulai mengembang dan iseng sekali

memperhati dada Ida, anak paman yang berambut merah bagai gadis manca

Ida tak lahir dari rahim bibi, kabarnya, seekor pelikan membawanya

dari seberang lautan, bersama keranjang rotan hutan

 

lonceng makan siang berkeloneng ulang, Ida berlari di depan

badannya ramping seakan ceruk tebing, bau tubuhnya runtuh

seperti dari sebuah kota yang lama dilupakan orang

sup kelinci dan biji bunga matahari membuat matanya kian cemerlang

 

aku kira itulah kali pertama cinta terhidang di meja keluarga

 

2013

 

 

Ramalan Sirih Pinang

 

sirih pinang bilang, aku dan Ida akan jadi kekasih terlarang

seekor monyet besar datang dengan menyeret batang yang terbakar

memutari kampung, siul monyet itu bergulung-gulung sampai jauh

hingga orang di seberang menyangka telah tiba akhir dunia

 

ramalan itu kami baca sambil tidur di tepi pematang

Ida memandang sekawanan serangga keluar kandang

dalam pikirannya, sungguh senang menjadi serangga

terbang ke sembarang mencari harum kembang

 

aku meraba rambutnya, merah-terang seakan baru terpanggang

sirih pinang bilang, kami sebenarnya sedarah yang lama terpisah

lalu disebabkan rasa bersalah, bumi berputar balik arah, kami kembali

ke tempat pertama kali ruh tumbuh dan penuh di tubuh

 

maka kamilah yang sekarang bersalah, apabila memilih ingkar

kecuali bila ada yang mati dan orang-orang mulai lupa siapa kami

di baris terakhir ramalan ini, tertulis siapa yang mesti mati

alhasil, aku percaya mengapa kemudian pada malam hari

 

aku sering bermimpi melihat paman mati bunuh diri

 

2013

 

 

Anjing Merah

 

sudah lama aku menduga merah pada rambut Ida

berasal dari bulu anjing yang suatu petang pernah bertandang

beginilah aku kira: seorang ibu telah berserah sedemikian rupa

saat sampai pada puncak sakit di kaki bukit

 

garbanya hampir terbuka sehingga pohon-pohon memohon

pada langit untuk menyalakan bintang lampion, langit sedikit berderit

dan akar-akar cahaya membakar mata ibu kita hingga tak dilihatnya

perpindahan benda-benda angkasa

 

beginilah aku kira: ruh ibu kita mengembara di atas sana

sementara tangis pertama Ida pecah di lembah

ketika itu ia semak tersibak dan anjing bulu merah menyalak

paman mendengar salak anjing itu dalam mimpinya

membuatnya terjaga dan seketika itu juga membuka jendela

“itu bukan dengan anjing, itu tangis bayi yang haus air susu,”

katanya sambil memandang keluasan ladang

 

kuceritakan semuanya pada Ida di depan kuburan anjing merah itu

pada suatu petang sesaat setelah binatang itu bertandang

dan paman menembakkan senapan ke bulu-bulunya yang berkilauan

 

2013

 

 

Sisir Kayu

 

pada merah rambut Ida ia percaya, ada cerita yang masih rahasia

tangan-tangannya yang kurus bagai angan-angan yang haus tualang

mendesirkan bisik untuk pergi, besok pagi atau pagi yang besoknya lagi

 

kukira Ida akan pergi juga, seorang jejaka akan membawanya

dan ia akan ditinggalkan dekat jendela, supaya setiap saat menjadi yang

pertama melambaikan tangan, menggadaikan kepulangan kelak apabila

anak-anak telah cukup umur untuk diajak

 

kadang aku cemburu, dan diam-diam bersumpah membuatnya patah

seperti hatiku saat tahu apa yang telah dibisikkan tersimpan di kepala

menjadi hasrat teramat kuat dan berkarat apabila tak dirawat

 

ketika akhirnya Ida pergi kawin lari – cintaku yang terpendam

busuk bagai buah yang terlalu lama diperam –  kulihat kian kilau ia

seperti seorang biku tua yang baru saja menyingkap semua rahasia dunia

 

2013

 

 

Kiki Sulistyo, lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya, Sirkus, akan segera terbit. Kini ia bermukim di sebuah dusun di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU. 27 Oktober 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2013 at 5:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


Penampakan Piring Terbang

di Atas Ladang Paman Kami

 

kami melihat subuh seperti berlabuh dari arah yang salah

bintik bintang lebih cepat tumbuh tinimbang biji kacang

di sepanjang ladang,

kami berdua – aku dan paman

mendengar, antara pohonan tumbang

dan mesin tua yang lama tak dihidupkan

 

di kejauhan, daun-daun palawija bagai lempeng tembaga

kami kira tuhan telah sembarangan

memutuskan kiamat dipercepat

kami merasakan dingin turun dari angkasa

seakan kutub utara sedang melintas di atas sana

 

lalu kami saksikan sebuah padang terhampar begitu saja

seperti bayangan masa depan setelah kematian

berkas cahaya yang seringan kapas terlepas di udara

mendarat di mata kami yang tiba-tiba buta

 

sebelum fajar kembang dan mata kami kembali benderang

tunas-tunas kacang memanjang, rekah di permukaan tanah

paman bilang, langit mengirim piring sedemikian besar

agar kami tak gusar, agar kami senantiasa sabar merawat lapar

 

2013

 

 

 

Juli Jempana

 

juli jempana si kuda arakan

mengantar pengantin ke bantar angin

agar tersambung apa yang belum rampung

jantung bujang dan denyut perawan

 

kekendangan hingga jelang petang

di bawah naungan langit warna kunyit

langit kemarau tua yang lebih rumit

dari perhitungan sajikrama

 

padi tumbang sebelum matang

dan ladang lenggang tanpa tanaman

masih untung ada lumbung, rumah gabah

yang tabah menanti ditampi

 

nanti malam bakal binar bara bulan

para pawang membuat kalangan

juli jempana si kuda arakan

menyambung murung orang sekampung

 

2013

 

 

Pembayun

 

maka pada hari yang tak terperi datanglah aku

membawa sirih-pinang dalam pinggan

kelon-intim calon pengantin

 

akan dititahkan atas tanah dan tanaman

keris dan warangka sehabis sajikrama

dengan kirangan seekor kerbau jantan

yang punuknya seperti gunduk berjurang

 

empat puluh cambukan dipunggung bujang

untuk tiap peluh yang pulang ke badan

ketika melarikan perawan ke rumah persembunyian

sebelum selabar datang ke kampung seberang

 

aku berjalan paling depan sebab aku membawa kabar

bakal tersiar ke penjuru pasar: dia yang tak pulang

telah terikat benang hasta, benang pengantar pesan

: dia memilih jadi daun sirih bagi pinang di pinggan

 

2013

 

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari

1978. bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas

Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 25, 2013 at 5:25 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


DUA PENARI PUTIH

PUISI KIKI SULISTYO

 

Si Tinggi Lidah

 

itulah aku, ada untuk menghamba pada yang tak bertulang

pada yang bertualang tapi tak kemana-mana

bila tercecap manis-kata akan keluar amis-dusta

tinggi melebihi janji segala yang bisa lebih tinggi

 

aku bilang dari sebelah sini, aku bisa tenang meniti

semua peristiwa kuletakkan di ujung jemari

hingga saat kalian bertanya, tinggal kujentikkan saja

peristiwa berlepasan bagai kupu-kupu baru ditetaskan

 

tentang hati orang bakal senang atau terpanggang

bukan bagian dari apa yang mesti aku pikirkan

aku bebas, segala yang ada di luar aku adalah penjara

dengan pintu terkunci dan berbaris-baris penjaga

 

begitulah, selama akau hamba setiap tuan adalah aku juga

sebab apa yang bermula sebagai ucap

akan berakhir sebagai sebab

 

2013

 

 

Rencana Berciuman

 

ke tempat gelap, ke tempat lembab

kita bakal berlatih memainkan sulap

bibirmu yang fasih melafal puisi

bibbirku yang letih meliurkan sunyi

bagaimana bila kita tukar keduanya

agar kau mengerti rasanya sendiri

dan aku memahami lekuk-liku puisi

 

tapi tunggu, ada sekerumun pemabuk di situ

ada anjing yang terkejut oleh bau tubuhmu

kita bicara sebentar tentang halaman sebuah koran

atau pengarang yang mencuri cerita orang

 

kalau pemabuk telah pindah

dan anjing berlari tak tentu arah

lafalkan puisi itu

sementara sunyi berkerumun di bibirku

ingat, pada saat yang tepat

keduanya bakal bertukar tempat

 

puisimu berayun di sunyi bibirku

sunyiku berdentum di bibir puisimu

 

2013

 

 

Tunjang Tua

 

berapa kuat bumi menompang imanmu hingga tegak atas tanah

dalam dada sebutir bijih terus membesar melampaui dunia

padang datar dengan kambing-kambing kurus kering

kemah yang tak kuat menahan dingin dan amuk angin

 

dalam cengkeraman sebelah tangan, tunjang tua telanjang

saat sepasukan anjing hutan melepas dengus berat

oleh getir dan lapar, siap bertaruh untuk hidup sehari lagi

 

pada tunjang itu aku melihat apa yang ada dalam pikiranku

kesendirian yang panjang, gurat usia yang berusaha lekang

 

lebih jauh dari masa lalu, dari saat terakhir di tangan keriputmu

aku bahkan masih mendengar salak gila anjing hutan

menyeberangi pintu rumah, terserap udara malam

terhirup rongga dada, lubang cahaya yang hampir padam

 

2012

 

 

Kiki Sulistiyo lahir di Ampenan, Lombok.

Ia bekerja di Departemen Sastra Komunitas

Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 27 Januari 2013

 

 

 

Written by Puisi Kompas

Januari 29, 2013 at 3:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

with 3 comments


Senandung Jagung

beginilah aku sekarang, kering dan pirang, dengan selimut keras bagi cangkang.

semenjak biji disebar di luas ladang. lalu ditinggalkan.

aku kenang saat-saat paling tentram. di antara segunduk teman.

 

mengapa aku yang terpilah. untuk mengulang kelahiran.

bila bisa, aku memilih lunak dan larut di perut ternak.

atau terhidang di piring perjamuan. ketimbang memandang

mata yang berbinar. membayang di ladang dedaun kembali berkibar.

 

tapi tak kuasa aku atas nasibku sendiri. mesti dengan begini

kusaksikan lincir sunyi tersembunyi dari sudut kabut.

menjadi selimut binar yang sebentar. hanya sebatas pagi sebelum tinggi matahari.

memaksa bakal-batang mengeras sebagai tunas yang cemas.

 

beginilah aku sekarang. pirang dan terpanggang. bukan oleh panas dari arang

para pedagang yang menunggu orang begadang. melainkan oleh siang

dan riang tembang penagih hutang. bertebaran sepanjang jalan menuju pemukiman.

 

2012

 

Nirmala

langit sangat bersih. tapi hamba ingin tidur dan merasa letih.

di dunia ini hidup dimulai sebelum pagi. meski hamba

telah lama mati. menyisakan diri yang terlanjur dikenali.

 

sebagai anumerta. hamba tak punya apa-apa.

bahkan cinta yang konon dimiliki setiap manusia.

juga nostalgia. hanya kadang ia kelihatan berjalan-jalan

antara ingatan dan keinginan melupakan.

 

saat itu hamba hanya ingin nirmala. bola mata yang pernah

memenjara. tapi di mana nirmala, hanya citra. tak sampai nyata.

hamba merasa lebih tua dari prasasti tersembunyi. bilamana hari mulai sibuk.

manusia ramai mengutuk. mengetuk pintu-pintu mimpi.

 

tapi hamba sudah penuh. mengelembung bagai balon mainan.

anak-anak hamba berlarian mengejarnya. istri hamba memandang dengan hampa.

lalu hamba melayang tak terjangkau siapapun. ke langit yang bersih.

mencari ia sepanjang usia membuat hamba bergelimang sedih

 

2012

 

Penangkar Bekisar

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

mempimpikan biru bulu berkilat itu hinggap

di tiang-tiang kayu. bukan sebab tergoda oleh suara

melainkan karena darah mereka sehitam kesepian yang disimpan

dan dilayarkan bersampan-sampan

 

maka akan ia temukan telur menekur, seakan butir atma lepas

dari tubuh petapa. menunggu moksa.

 

di pulau jauh, sebentang tangkaran dihuni pohon teluh

unggas ekor panjang terbang bergegas. bulu-bulunya ranggas

seakan gentar pada getah pencari damar.

karenanya ia mesti kembali. setelah memasang jerat-tali

dan menerka, apakah datang si jantan tua

atau unggas remaja yang buta sebab birahi pertama

 

keduanya tak berguna bila si betina tak tiba sampai senja

sebab cuma padanya butir telur betul-betul subur

bekerja memasang sayap, menaruh paruh, menanam taji

jadi bakal sulung yang tenang melengkung

hingga suatu petang menendang dinding cangkang

 

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

membayangkan telur-telur berserakan seperti jamur

bukan sebab tergoda oleh harga. melainkan karena tabiat mereka

serumit kesedihan yang menjelma linang

di mata penghuni hutan

 

2012

 

KIKI SULISTYO lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari 1978.

Ia bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

Mataram, Nusa Tenggaa Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 1 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2012 at 1:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: