Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Nukila Amal

PUISI NUKILA AMAL

with 2 comments


Naga Pop-UP

 

Yang paling mencekam di antara para naga seram

adalah naga merah di halaman lima

Di atas kertas ia bangkit

menjulang setegak arca petapa

sendiri di tebing curam tinggi, tanah bertatah

batu-batu mulia bling bling berlian emas nilam

 

Mestinya telah ia rasakan langit di atasnya

terbuka, namun bukan langit berangin miliknya

saat ia melayang di atas jurang-jurang

melintasi ngarai-ngarai bersungai

 

Dan tiba-tiba campur tangan ini

Bernafas api, ia maju menatapku

yang menatapnya tak berkedip

Mestinya aku semacam dewa aneh,

monster, gergasi surgawi di akanan

tengkurap mengayun-ayunkan kaki

pulang di ujung sebuah malam

melantur, manis memabukkan

 

kepayang, kuelus setelapak tangan

sisik taring misai perapian

kutepuk-tepuk menenangkan

betapa kupahami cemasmu

merasakan tekanan langit tiba-tiba

pada ubun-ubun, pada tengkuk,

dipelototi dewa-dewi mengantuk –

monster modern kami

 

 

Naga Spektra

 

Di awal tiba, ia cuma sebuah nokttah

(tak penting – satu kata, sekalimat,

Sebelah dagu, tiba-tiba lenyap)

Noktah yang mulai membuka

gulungan dan lipatan, menghamblur

limas pada limas, garis patah zigzag

pendar-pendar perak

kristalin dalam gerak

 

menjelma

seekor naga megah

merambah medan tatap mata

memanjanglebar, ragi dan getar

menebar pupa kelabu buta

dari perutnya – penumbra

yang menerakan

ketiadaan sesuatu

dalam segala

(Retak dalam matriks?

Realitas tercabik, tiba-tiba

tampil teramat cacat)

 

Aku memata-matai seisi duniaku

genting gerhana di mata

lengkung naga, masih perak elektrik

 

Secara agung, ia menyisih

ke cakrawalan paling sepi

mengumpulkan tubuhnya

menggeliat kenyang

dan pergi

 

Aku memata-matai seisi duniaku

segala sesuatu kembali utuh

pada menit kedua puluh

 

 

Menyemangka

 

Siapa yang tahu kejar sabar

dan daya tenun serupa apa

yang memunculkan hijau dedaunan

untuk mengulang dan merenda diri

tak pernah serupa dua kali

Apa gerangan gairah yang

membersitkan bunga betina kuning

damba yang merasuki sulur-sulur

mengumpar mencari arah rahasia

lajur-lajur yang turun gelap

menegaskan tepian bundar hunian

dan bahagia yang menyelami

samudra daging merah

Siapa yang tahu arus tak habis

bentuk dalam gerak

sebuah semangka

 

 

Empa Kepala Bosch

Buang Batu, 1488 – Hieronymus Bosch

 

Biarawati sudah jemu mencemasi

arwah gentayangan, kaku tajam,

kucing hitam, gemerisik malam

bisik-bisik berisik setan

 

Agar selamat dari segala mala

kenakanlah penolak bala –

jimat sarat kalimat setebal

dan seberat kitab pengetahuan

 

*

Rahib pagi-pagi sekali pergi

ke tulang cukur desa meminta

potongan rambut terkini, model surgawi –

selingkar halo rebah di kepalanya

 

*

Lubbert Das tak berkuasa atas kepalanya

sekap kuburan ilalang berbatu lapis

kaok burung gagak terbang rendah

lengking tawa dan titah para arwah

 

Lubbert Das cuma ingin lubang udara

bersemilir kincir angin, padang terbuka

permai pastoral, tanpa tiang gantungan desa

Ia tak ingin berakhir di sana, berayub tertiup angin,

 

pinta matanya

yang menatap kita

 

*

Lelaki bertopi corong menyanyi

asal-asalan mars alkemis dalam hati –

sayat sana, iris sini – sambil ia petikkan

sekuntuk lagi tulip emas

dari kepala Lubbert Das

 

Menanti, sepundi lagi koin emas

segemuk pinggang Lubbert Das

 

 

Jeli Ceri Nostradamus

 

Siapkan sekilo buah ceri yang termatang dan terindah.

Bayangkan negeri jauh berladang lapang, bermatahari sekali.

Hiruplah wangi tanah dan buah ceri berjuntai merah

terpetik sejangkauan tangan anak-anak petani di musim panenan.

Yang termanis adalah yang terjatuh, matang terpa tempa angin.

Secercah saja hijau membikin kecut, dan gigimu kedut.

 

Biji adalah masa depan yang terjanjikan, buanglah.

Masukkan ke panci berpasir gula – sedikit saja,

yang masam akan melarut lupa diri, mengental manis.

Manis sekadarnya, ditunggui sesabarnya.

Aduk sesekali dengan sendok kayu, di atas api biru.

Setengah mendidih, tuang ke dalam kain bersih bertadah

wadah gerabah, peras, peraslah hingga tumpat

kain sekepalan tinggal kulit dan rangka serat.

Masukkan perasan sari ceri ke panci berapi rendah

Hati-tahi dengan lidah apimu, nyalang itu tak perlu

(niscaya menggelegakkan amarah ceri,

urung menyerap yang termerah dari merah dirinya,

tumpah ke luar wadah, hangus berlebam marun ungu).

Untuk menguji, titikkan setetes jeli ceri di atas pualam.

Jika ia berdiam bundar, tak tergoda menggelincir oleh licin,

maka telah cukuplah ia sebagaimana adanya.

Tuang ke dalam bejana kaca, biarkan mendingin oleh nafas angin.

Cahaya terbaik adalah yang jatuh seirisan –

dari tingkap jendela, celah, ronggang… carilah.

 

Bawa bejana kaca ke arah cahaya, dan lihatlah

Jeli ceri sejernih mirah delima, berkilau cemerlang

menjanji nujuman takdirmu dan umat manusia

Habluran masa depan, sejarah: jerih-payah, (ke)capaian.

 

Beberapa, ada beberapa, yang akan lebih tersihir menatap

dalam irisan cahaya

titik-titik debu melayang

ringan

tanpa tujuan.

 

 

Nukila Amal menulis novel

Cala Ibu (2003), kumpulan cerita

Laluba (2005), dan yang baru

terbit buku ceritak anak Mirah

Mini: Hidupmu, Keajaibanmu.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 24 Maret 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 27, 2013 at 8:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: