Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘ZAIM ROFIQI

PUISI ZAIM ROFIQI

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 at 12:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZAIM ROFIQI

with 4 comments


Cermin

 

Suatu waktu kau tak bisa berdusta

membandingkan satu dan lainnya:
cermin tak bernyawa

tapi dia bicara

tentang kenyataan lain:

bahwa kau tak sepenuhnya tahu

mana wajahmu,

mana muka musuhmu?

2013

 

 

Mencintaimu

 

Lampu tugur yang terus saja bersinar, meski dinihari menjelang

meski jalanan lenggang, telah ditinggalkan.

Papan iklan yang tak henti bersuara lantang, meski hari hujan,

meski kota terendam banjir besar.

Jam dinding yang tetap mengabarkan waktu, meski tak ada lagi

orang

 

di rumah itu.

Kabut dan rintik hujan sering tertebar, menghalangi pandangan.

Tapi matari menyeruak juga di akanan, pelan-pelan.

Dan meski dibenakku samudra luas menggemuruh, mengharu biru;

apa yang tersaji hanya ini: air mata haru.

 

Ya, hanya itu

Semua itu.

 

2013

 

 

 

Zaim Rofiqi menulis puisi, cerpen, esai, dan

menerjemahkan buku.  Kumpulan puisinya adalah

Lagu Cinta Para Pendosa (2009).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 29 September 2013

Written by Puisi Kompas

Oktober 4, 2013 at 7:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZAIM ROFIQI

leave a comment »


Seperti

–          A N N

I.

Seperti sebuah buku purba

yang dicari begitu lama.

Suatu senja kau menemukannya:

tiga halaman pertama dan terakhir

sirna entah ke mana.

 

Sendiri, kau pun harus menuliskannya

rela, atau tak rela.

 

II.

Seperti sebuah rumah megah, berempat jendela.

Jendela pertama: hamparan padang begitu luas, mungkin

tanpa batas. Sepanjang jalan, pepohonan meranggas,

berdaun debu dan debu.

Jendela kedua: sebuah taman, berjalan setapak

bercecabang. Masing-masing menghamparkan cecabang

lain, mungkin tak terhingga.

Jendela ketiga: bentangan laut, di ujung pandang, gunung-

gunung berjajar. Angkasa penuh gegumpal awan hitam

keabuan. Badai mungkin menyapa, kapan saja.

Jendela keempat: tembok-tembok beragam bangunan,

saling-silang, tak beraturan. Sebuah jalan sempit

terhampar, mungkin hanya cukup dilewati satu orang.

 

Lama, begitu lama, kau tinggal di dalamnya.

 

III.

Seperti perpustakaan tua, tanpa penjaga.

Buku-buku berjajar, bertumpuk, berserak, tersebar.

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang datang,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang pergi,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang membaca,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang menulis:

kisah cinta, nostalgia, malapetaka, insomnia, amnesia, pa-

ranoia.

Kau sadar, engkau salah satu dari mereka.

 

IV.

Seperti sebuah balon karbit yang mengawang

di angkasa.

Seorang (atau sesuatu?) telah melepaskannya

sengaja, atau hanya iseng belaka.

Waktu demi waktu, masa ke masa

dia hanya mengambang

mungkin tanpa tujuan.

Waktu ke waktu, masa demi masa

dia cuma melayang

entah sampai kapan.

 

Kau tahu, dia akan terus di sana,

entah kau ada

atau tiada.

 

V.

Seperti sebuah pertempuran besar.

yang harus dimenangkan.

Musuh demi musuh datang,

menuntut ditaklukkan.

Senjata demi senjata digunakan,

demi memenangkan pertarungan.

 

Kadang kau lelah, ingin sudah. Tapi musuh kecil besar,

telah ada di gerbang halaman.

 

VI.

Seperti dongeng bersambung

pengantar tidur.

Kisah demi kisah disajikan, berjalan, sering di luar per-

hitungan.

Peristiwa demi peristiwa hadir, tanpa sepenuhnya berakhir.

 

Kau bertanya mengapa, lalu, bagaimana.

Tapi si tukang cerita telah pergi

entah ke mana.

 

VII.

Seperti sebuah pentas wayang, tanpa dalang.

 

2012

 

 

Hikayat Bayang-bayang

 

I.

Saat lahir, kau sebenarnya memiliki kembaran. Namun,

sejak mula, dia sadar dirinya penuh kutukan. Dan karena

itu, dia memilih jadi bayang-bayang.

 

II.

Memang dia terlahir hitam, memang dia hanya bisa

memberi kelam. Namun, percayalah, dia sangat bisa

dipercaya, dan mungkin tak ada makhluk yang lebih setia

dibanding dia: saat gelap, dia akan menyatu denganmu;

saat terang, dia akan selalu menyertaimu, mungkin

menjagamu.

 

III.

Dia telah begitu banyak berjasa: sejak awal masa, sejak

pertama matamu mengenal dunia, dia selalu bersamamu,

menemanimu. Tapi kau masih juga tidak tahu, apa yang

sebenarnya dia mau.

 

IV.

Kadang, di pagi atau senja hari, kau bahkan tak perlu

khawatir tentang arah dan rambu jalan, sebab dia telah

hafal semua jurusanmu, dan selalu siap menuntunmu hingga

tempat-tempat yang kau sebut tujuan.

 

V.

Malam ini, matikanlah semua lampu, agar dia sungguh

menyatu denganmu, agar kau sepenuhnya tahu: mengapa

selama ini dia membisu.

 

2011

 

 

Di dalam Penjara

 

Sudah sangat larut

Dan mungkin seluru penghuni bui itu telah lelap.

Tapi jam di dinding itu

masih saja berkata-kata.

Entah untuk apa.

Entah kepada siapa.

 

Tik tak.

 

2011

 

 

Kucing

–          Jacques Derrida

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang bermata biru berkilat-kilat. Ia melihat seekor

kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-

kilat seperti kegirangan. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam. Ia melihat

seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru

berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong

kapala ayam di bawah sebuah meja makan.

 

Ia melihat seekor kucing, Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah

sebuah meja makan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu

berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah cafe. Ia melihat seekor

kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-

kilat seperti kegirangan menyantap sepotong kapala ayam

di bawah sebuah meja makan di sebuah cafe di pinggiran

kota. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan

menyantap sepotong kapala ayam di bawah sebuah meja

makan di sebuah cafe dipinggiran kota di dini hari sehabis

hujan.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggir kota di

dinihari sehabis hujan. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak mengusir dingin. Ia melihat

seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru

berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong

kepala ayam di bawah sebuah meja makan di sebuah kafe

di pinggiran kota didinihari sehabis hujan di antara dua

pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang

mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak mengusir dingin, dan di atasnya,

sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain. Ia

melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan.

Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan, di

bawah sebuah lampu bohlam temaram.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak  mengusir dingin, dan di atasnya,

sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain  dengan

tangan yang saling bersentuhan, wajah yang kadang saling

didekatkan di bawahsebuah lampu bohlam temaram. Ia

melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan di bawah

sebuah lampu bohlam temaram yang menggantung

tepat di tengah-tengah ruangan. Ia melihat seekor kucing

berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat

seperti kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di

bawah sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran

kota di dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki

tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus

punggung satu sama lain seolah hendak mengusir dingin,

dan di atasnya, sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu

sama lain  dengan tangan yang saling bersentuhan, wajah

yang kadang saling didekatkan di bawah sebuah lampu

bohlam temaram yang menggantung tepat di tengah-

tengah ruangan, sementara di sekitar mereka, meja-meja

telah kosong ditinggalkan.

 

Ia melihat seekor kucing, lalu ia pun mengalihkan

pandangan ke luar, pada jalanan dinihari sehabis hujan

yang tak lagi hingar, pada deretan lampu jalan yang seperti

menyerunya untuk segera pulang.

 

2012

 

 

 

Zaim Rofiqi menulis puisi, cerpen, esai, dan me-

nerjemahkan buku. Kumpulan puisinya adalah Lagu

Cinta Para Pendosa (2009); kumpulan cerpennya

Bertajuk Matinya Seorang Atheis (2011).

Written by Puisi Kompas

Oktober 17, 2012 at 1:16 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: