Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment

Mengunjungi Museum

 

1.

Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.

Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung

belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu

membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri

di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta

benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai

atau hantu.

 

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya

masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian

perempuan itu masih kuda muda liar dan

senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika

kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi

kalender atau jam dinding yang ketagihan

mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya.

 

Dunia lama selalu baru terjadi di hadapannya. Ia

menjauhkan diri dari segala yang ada di luar pintu

museum. Ia merasa terjebak di antara doa dan

ciuman pertama. Jika ia menganggap lukisan

sebagai keindahan, semesta itu memudar. Ia tidak

ingin aman dan tercatat sebagai penghuni masa

lampau terlalu cepat.

 

Ia dan seorang gadis di sekolahnya pernah saling

jatuh mencintai. Semua pria dewasa, termasuk guru,

hanya orang bodoh di depan gadis itu. Ia ingin gadis

itu tumbuh lebih nyata dari kecantikannya. Ia ingin

menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban.

 

2.

Ia ingin sihir tampak nyata dari lukisan atau

lebih hidup dari seluruh yang sibuk di luar museum.

Tapi ia tak ingin cinta jadi tangga yang mengangkat

merendahkan diri sendiri.

 

3.

Ia setuju, dan ia tak setuju. Ia melihat gadis itu tak

mampu menerima hidupnya sendiri sebagai

kesibukan yang lumrah dan boleh ditunda. Ia

mengejar dirinya sebagai karir, mengubah

kecantikannya jadi jam kerja.

 

Di museum, ia ingin mengembalikan bekas luka di

punggung perempuan itu jadi senyuman. Ia ingin

meniupkan apapun yang mampu mengubah ranjang,

selimut, dan pakaian perempuan itu jadi serat-serat

pohon. Ia ingin menjadi penyair atau, setidaknya,

kembali jadi seorang yang belum pernah bercita-cita

mengenal kuas dan warna. Ia ingin jadi pencuri

takdir sendiri, pulang ke sekolah yang tidak kenal

ujian dan acara penamatan.

 

4.

“Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan

diri terperangkap bingkai,” kata pelayan toko buku

itu pada hari terakhir bekerja, hari terakhir sebelum

jadi hantu lain di pikiran remaja abadi dalam diriku.

 

 

 

Menyaksikan Pagi dari Beranda

 

Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun

ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan

mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum

mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan

dan membuatnya berwarna-warni. Mereka

memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka

mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap

jadi mata air di halaman.

 

Orang-orang melintas membawa kendaraan.

Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan

apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa

kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba

tepat waktu.

 

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-

satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu.

Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

 

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku

mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya

selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan

mengenang orang-orang yang hilang.

 

Sudah tanggal berapa sekarang?

 

 

 

Mengamati Lampu Jalan

-Kepada Eka Wulandari

 

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih

kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka

setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka

ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang

agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja

– atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

 

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu

mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu

jalan memiliki kekasihnya masing-masing –

sebagaimana hati manusia.

 

Lampu jalan depan rumahmu mati – dan bukan

hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat

pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan

cahayanya sendiri.

 

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh

lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti

menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang

lain – lampu di kamarmu dan di kamarku – juga

merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan

diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan

takut keluar rumah.

 

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.

Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

 

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang

itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap

menunggumu di sana dengan cahaya yang sama.

Kau seperti biasa berjalan pulang kerja

melewatinya, juga melewati lampu jalan depan

rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa

berbahayanya kesedihan.

 

 

Menyimak Musk di Kafe

 

Tidak ada yang istimewa dari kafe itu. Minumannya

biasa-biasa saja. Lampu-lampunya terlalu terang.

Dan para pengunjung ribut membicarakan negara

yang sedang tidur.

 

Panggung dan alat-alat musik di panggung kafe istirahat

setengah jam. Pukul 2 tiba dan seorang perempuan

menyanyikan lagu favoritmu. Aku menikmati tiga

hal dari lagu itu. Gempa waktu, rasa sakit, dan

sesuatu yang belum kutahu namanya.

 

Aku pulang dan jalan beraroma kampung

halaman terbakar. Aku berhenti setiap ada pohon

mengucapkan terima kasih sebelum tiba pada

jam-jam tidak bisa tidur di kamar.

 

Lagu itu belum berhenti. Rasa sakit tumbuh seperti

kalimat-kalimat indah di buku-buku puisi Sylvi

Plath. Aku mencintaimu dan mencitai

kehilanganku atasmu.

 

Di kafe itu, orang-orang berbahagia demi mengibur

kesedihan mereka. aku berbahagia karena selalu

bisa sedih pernah memiliki.

 

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, Makassar. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 Juni 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 21, 2014 pada 3:00 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on basoakbar07.

    Suka

    Baso Bin Fulan

    Desember 1, 2015 at 11:06 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: