Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Ahda Imran

PUISI AHDA IMRAN

leave a comment »


Hikayat Sebuah Meja

                        –Hanafi

 

Aku terbaring dengan perut mengkilat

orang-orang makan malam di atas tubuhku

menyusun mufakat, menekan pisau, membuat

irisan lembut di permukaan daging asap

 

Waktu yang menjadi ludah

ruang yang memilin lidah

 

Lampu-lampu dinyalakan

orang-orang makan malam. Tubuh

mereka tak berkepala. Kepala yang berjatuhan

ke bawah tubuhku. Kepala yang menyusun

persekutuan selanjutnya

 

Persekutuan dalam kotak gelap waktu

Kotak yang terus diangkat ke atas tubuhku

 

Aku terbaring dengan perut yang hancur

dengan upacara makan malam yang panjang

dengan potongan kepala yang terus berjatuhan

berserak di atas tubuhku. Semua begitu lengkap

dan pengap

 

Seperti gelap di bawah tubuhku

 

2013

 

 

Setenang Buddha

 

Setenang Buddha

waktu menyusun maut pelan-pelan

menaruhnya dalam ruang setengah cahaya

setengah bayang

 

Pulang malam ke seberang siang

berenang badan ke puncak hilang

 

Maut berdiri di bunga padma

berjalan ia ke tepi perigi, diseduhnya

bayang langit, dibasuhnya segala

yang nestapa

 

Jantung waktu yang lembut

pergi pulang ke puncak hilang

tak lagi ia tersebut maut

terurai dari cahaya dari bayang

 

Setenang Buddha

 

2013

 

 

Dari Bahasa kepada Puisi

Malna

 

Kusimpan sisa tanganku di lubuk tubuhmu

lubuk yang hanya kau sediakan untukku

tangan yang pernah dipinjam seorang pemahat

yang tak bisa juga menyelesaikan bentuk

 

sepasang mataku

 

2013

 

 

Kalajengking

 

Tak usah kau bertanya bila aku menyengat

sebab bisaku sudah berada di balik jagat

 

Tubuhku menyala dalam gelap

aku bisikan paling senyap

 

Serupa bilangan yang terbuat dari waktu

tak bisa kau menampik ingatan padaku

 

Kematian adalah hukuman yang lembut

sengatku puncak senggama yang memagut

 

2013

 

 

Hikayat Tangan

 

Dari tanganku engkau selalu pergi

sebelum aku memberimu sebuah nama;

sebelum tahu dari negeri mana kau datang

dan siapa yang mengutusmu

 

Tanganku berasal dari keramaian

menjulur dari pintu angin yang berayun-ayun

pintu bagi segala suara; kata-kata yang selalu

luput menjadi manusia. Membentuk telapak

tanganku dengan luka yang berlubang

 

Ke dalam tanganku engkau datang

mengulur jejak kakimu ke lubuk bayang

menarik segala yang ingin pada yang mungkin

setengah dari keduanya membentuk

sepasang matamu

 

Dari tanganku engkau selalu pergi

sebelum mengebat segala yang mungkin

sebelum aku tahu siapa yang mengutusku –

menggenggam dan menarikku

 

ke dalam lubuk tubuhmu

 

2013

 

 

Dalam Kapal Nuh

 

Seperti mantel bulu yang lembab

suaramu menyelubungi pikiran. Selubung

yang membuat tubuhku menjadi biru. Selubung

yang membuat kota ini menjadi air. Kota tempat

orang membuat kata-kata menjadi pelampung

 

Kutulis puisi berikutnya

dan kutinggalkan

 

aku melihat suaramu menjadi bayang,

tak berkejadian tak berkarena. Cahaya memantul,

terserap, dan berkelok. Ruang mengurai. Aku tidur

dan berjalan dalam air. Pikiranku dipenuhi sisik ikan

aku mendengar suaramu bergaung ke seluruh palung

 

Kutulis puisi berikutnya

dan kutinggalkan

 

Tidak seperti apapun

kuberkati segala yang menyelubungi

dirinya. Pelampung pencari yang tak berkejadian

yang tak berkerena. Suaraku wujud dan pikiran

dalam pergantian warna air dan kelokan cahaya

di luar dan di dalam segala bayangku

yang kau serap dan kau timbang

 

2013

 

 

Hikayat Aradea

 

Menyerupai hewan pengerat

seseorang berdiam dalam kepalaku

dipecahkannya pembuluh darahku sehingga

otakku tergenang dalam darah. Sejak itu

aku selalu tidur sambil mendengar

suara-suara yang menggema

dari dalam tanah

 

Tengah hari aku berjalan di atas air

bayang awan seperti lelehan sperma di gaun

biru seorang perempuan yang pendiam. Daun-daun

merah memandang jauh dalam mataku, merogoh

pikiranku, mencari-cari seorang yang bersembunyi

ke dalam kepala dan ginjalku

 

Malam hari jantungku berwarna biru

seluruh suara menggema dari dalam tubuhku

suara yang menjelma nyanyian perempuan bergaun

biru. Mendorong mesin cuci darah, kudatangi gedung

pertunjukan. Menyelinap dan berdiam dalam sebuah

adegan. Tepat ketika seorang penonton keluar

 

dari dalam tubuhku…

2014

 

 

 

Ahda Imran lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus, dan kini menetap di Bandung. Ia menulis puisi dan esai, serta bergiat di Selasar Bahasa. Kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Penunggang Kuda Negeri Malam (2008)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 17 NOVEMBER 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 20, 2013 at 1:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHDA IMRAN

leave a comment »


24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu

 

24 jam berikutnya yang tak pernah cukup

membersihkan pecahan kaca dalam kepalamu

kepala yang dipenuhi air laut dengan ikan pemangsa

bermata rabun. Suaramu menyerupai ratap, atau

lebih sering menyerupai geraman

 

Tenanglah, sedang kumandikan tubuhmu

dari kata-kata sekadar. Dari jejak kaki

orang dulu. Jejak kaki yang selalu

mengucapkan nama lengkapnya

dengan api dan sembilu

 

Lihat, dalam tubuh dan kata-katamu,

aku berjalan, setenang air danau,

setenang api membakar pulau

 

24 jam berikutnya terapung-apung

dalam kepalamu. Kepala yang menanak kata-kata

dari sisik ular, getah kulit kayu, dan mantera

kutukan. Suaramu tak menyerupai apapun,

atau lebih sering tak menyerupai suara

 

2013

 

 

 

Hujan yang Berwarna Hitam

 

Hujan yang berwarna hitam

adalah hantu yang bersedih

dirangkumnya sekalian malam

disimpannya ke lubuk perih

 

Jantungnya gelap

adalah degup angin ngarai

tangis yang sayup. Lambai

yang tak sampai-sampai

 

Semata seru

di sawang

yang beku

 

Hujan yang berwarna hitam

adalah hantu yang mengerang

tubuhnya sedingin batang pisang

dirangkumnya sekalian dendam

 

disimpannya ke lubuk malam

 

 

2013

 

 

 

Ular Tepi Air

 

Seekor ular bergulung di tepi air

menunggu kapan mayatku dihanyutkan

ke sungai untuk meminta kembali

sebuah kata yang pernah

kupinjam darinya

 

2013

 

 

 

 

 

Pelajaran Kedua Menulis Puisi

 

Tulis puisi dan lupakan

serupa mendatangi dan meninggalkan

pada keduanya dunia tak tampak, kecuali

serupa kelok bayang separuh batang lidi

 

yang kau julurkan ke dalam perigi

 

2013

 

 

 

Pelajaran Ketiga Menulis Puisi

 

Naik ke jenjang kata

yang tak berkejadian tak berkarena

 

Menggigil kakimu ke puncaknya

serupa Musa menuju Thursina

 

2013

 

 

 

Pelajaran Keempat Menulis Puisi

 

Kata adalah tubuhKu

yang bukan seseorang

yang bukan bayang

 

Hilang dalam kata

temukan darahKu

 

Minumlah!

 

2013

 

 

Ahda Imran Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat (Indonesia) namun besar di Cimahi, Jawa Barat. Puisinya tersebar di koran, jurnal, dan antologi. Antologi puisinya antara lain Dunia Perkawinan (1999) dan Penunggang Kuda Negeri Malam (2008). Ia aktif mengikuti kegiatan pertemuan sastra di berbagai daerah. Ia menulis untuk suplemen budaya mingguan di koran Pikiran Rakyat Bandung.

 

 

 

PUISI Kompas, 17 Maret 2013

 

Written by Puisi Kompas

Maret 22, 2013 at 7:21 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHDA IMRAN

with one comment


Brosur Wisata Belanja Kota Bandung

 

Kota ini berasal dari lumpur dasar danau yang menempel di sepatu seorang

Gubernur Jenderal.

 

Lalu tuan-tuan membuat kota ini dari sisa-sisa kecantikan seorang

germo yang didatangkan dari Paris. Kota tempat tuan-tuan perkebunan pelesir.

Belanja dan bergaya. Mereka membawa juga banyak sekolah. Sekolah yang

mengajak anak-anak inlander melihat barisan orang menyerbu penjara

Bastille.

 

Kota ini berangin seperti perempuan yang berbisik di balik daun telingamu

 

Mari belanja. Orang-orang membawa tubuhnya ke toko baju. Menumpuk

tubuhnya dalam troli. Taruh saja tubuhmu di situ. Seorang walikota akan

mendorongnya. Ia memakai sepatu Gubernur Jenderal. Mengajakmu

mengelilingi seluruh toko baju di kota ini. Toko baju yang membuat kota ini

menjadi ruang rias dalam gedung sandiwara. Gedung sandiwara dengan

panggung yang tak punya ingatan.

 

Lihat. Penunjuk arah di kota ini. Semua menuju toko baju, mall, apartemen

yang semua namanya terapung-apung dalam bahasa inggris. Di depan kasir

kau menerima senyuman puas para gadis muda yang manis. Senyum untuk kartu

kredit dan tubuhmu yang terlipat dalam kantung toko baju.

 

Kota ini kuah batagor yang menetes dari ruang sauna dan panti pijat.

 

Mari makan. Udara kota ini membuatmu selalu merasa lapar. Bawa tubuhmu

ke mana saja. Kota ini akan memasak apa saja untuk tubuhmu. Kota ini meja

makan besar. Meja makan yang dipenuhi bunga-bunga plastik, steak dan kuah

batagor yang menetes dari ruang sauna dan panti pijat. Kau bisa makan sambil

mendengar suara angklung atau kerinding underground. Atau suara lemah

anak-anak mengamen yang bernyanyi hanya dengan menepuk-nepuk

tangannya. Memakai kaos persib.

 

2012

 

 

Pembatas Buku

 

Waktu tak punya lagi huruf

sekedar suara lonceng tanda makan siang –

dan aku berjaga di batas ingatan

yang tak pernah kau cari

 

2012

 

 

Tapol

 

Ada malam yang paling kutakutkan –

ketika aku tidur kau datang. Mengambil kuku

jari tangan dan kakiku, ubi jalar yang kusembunyikan

di kolong dipan, botol plastik berisi air cucian kaki ibuku

suara sepatumu yang keras, sepasang matamu yang beku

dan berlubang. Atau kau akan membiarkanku

terus tidur. Setelah merampas seluruh

kata-kata yang tumbuh

 

di atas tubuh anakku…

 

2012

 

 

Sajak Tan Malaka

Kepada Harry A Poeze

 

Poeze, waktu itu tak bertubuh tak berkejadian

orang sekaumku telah membunuhnya. Mengubur

mayatnya di bawah bayang gardu tentara. Waktu

yang berbaju merah. Waktu yang menulis revolusi

dengan tangannya yang sakit. Revolusi.

 

dengan tubuh yang tak utuh

 

ingatan itu, Poeze, tak berkaki tak berkejadian

orang sekaumku telah menebasnya. Ingatan

yang tak mengenal lagi bau jasad tubuhnya

ingatan yang merangkak-rangkak mencari

sisa jejak kakinya

 

di ruang kerjamu

 

2012

 

 

Garut Selatan

 

Melewati jembatan gantung

ada hutan kecil di atas pulau karang

pohon-pohon tua menyimpan arwah

orang dulu. Ular hijau dengan matanya

yang berkilau adalah sepasang matamu

sepasang mata yang menjaga seluruh ingatan –

dendan dan kesedihan

 

Ada juga cahaya mengembang di akar gantung

menyusut di sela rimbun lembab batang kayu

bersama burung-burung laut aku terperangkap

lalu dengan gelap yang lembut

engkau melilit tubuhku

 

Menuruni undakan batu licin

tekstur dinding karang adalah huruf-huruf

yang rumit. Kau membacakannya untukku –

sebelum huruf-huruf itu menjelma abu. Sejak itu

akulah pewaris seluruh ingatan. Berdiam

di hutan kecil atas pulau karang

 

Dengan gelap yang lebih lembut

aku melilit tubuhmu

 

2010-2012

 

 

Hari Ini Tubuhku Terasa Ringan

 

Hari ini tubuhku terasa ringan

bayi-bayi berterbangan dari kedua lenganku

mengelilingi jejak-jejak kaki yang terisi air –

sebelum angin bergerak. Sebelum

burung gagak itu terbangun

 

Kutinggalkan penginapan

dalam tubuhku bayi-bayi itu kembali tidur

berselubung kain hitam aku berjalan dengan sepasang

kaki milik seorang penari. Tak ada lagi yang harus

kupikirkan. Juga pernyataan, mengapa seluruh

kemalangan selalu membuatku merasa lebih

baik dari sebelumnya? Atau kebencianku

pada segala yang menetap

 

di kedai kopi. Angin membawa bau tubuhku

orang-orang menemukanku. Aku adalah segala

yang mereka benci. Seperti tersebut di mulut

kaum paderi. Di bawah langit biru kubiarkan

mereka membunuhku

 

Sepasang mataku memandang

burung gagak itu berputar-putar

 

Hari ini dunia tubuhku terasa ringan

kubiarkan bayi-bayi bermain di jejak-jejak

kaku yang terisi darah. Berselubung juba

para paderi aku menitis di kerling mata

seorang penari. Menggerakkan angin

 

Memanggil ribuan burung gagak

 

2012

 

 

Tan Malaka

 

pejalan jauh

tak bertubuh

pergi datang

tak berbayang

 

2012

 

 

Ahda Imran lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus.

Penunggang Kuda Negeri Malam (2008) adalah kumpulan puisinya yang telah terbit. Ia tinggal dan bekerja di Bandung.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 30 SEPTEMBER 2012

 

 

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 3, 2012 at 2:48 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: