Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Februari 2013

PUISI SITOK SRENGENGE

leave a comment »


Kwatrin Himmirsky

 

Kulepas kau lekas,

mumpung hujan murung

dan Laut Hitam, rahim yang membiru karena rindu

masih mau menunggumu

 

Tunggu aku di pantai landai

sebelum berpaut tangan sepanjang pawai

dari istana ke kubur tua pencipta aksara

menziarahi jazirah cahaya

 

Kita simak benua-benua mengeja nama kita

dalam tujuh ribu bahasa

sambil mencari kata paling cermin

yang mempu memantulkan batin

 

Kelak, pada satu malam buta,

mungkin kau terjaga oleh lengking kata

berisak tangis dilepih mendung

sajak yang kautulis masih menggantung

 

Saat itu, kau tahu,

tak ada lagi yang perlu ditunggu

Lekas lepas namaku yang lama kauperam

bubuhkan di larik lumpang itu sebelum kembali pejam

 

Bebaskan beban

biar ambyar menjelma serbuk harapan

yang tiap butirnya berkilau, antara ragu dan risau,

seperti aku dan kau

 

Latu yang meletik sesekali lalu lindap kembali

bagai degup hidup atau kemelut maut dalam puisi

memiuh aku dan kau

terjamah jauh ribuan pulau

 

Metamorfem

 

I
Kata yang urung kauucapkan malam itu

terlunta di entah bagian mana dalam dirimu

lurung gelap yang tak ia tahu pangkal-ujungnya

yang kian kelam tiap kali ia mengharap cahaya

 

Betapa ingin ia lepas dari lembut bibirmu

setelah sekian lama lemas digelayut geragu

mengandaikan diri kekasih dari negeri fajar

mengurai rahasia sedih yang tak berujar

 

II

Jika tak mampu kauucapkan, tulis aku

mungkin sebagai surat cinta yang menyeru rindu

atau alasan yang bagus untuk mangkir dari kerja

demi percumbuan kudus pada sela paha Selasa

 

Sebab bula di pagi itu meriwis garis gerimis

suara-suara yang dipingit langit pun terurai jadi desis

sebagian dari mereka mungkin gema erang Hawa

kala Adam memanggut buah terlarang kali pertama

 

III

Kata yang urung kauucapkan

betapa murung tercurah sebagai hujan

 

Kata Hati

 

Kata-kata ini, cintaku, sangat santun memintamu,

sudi mengantar mereka kepadamu

karena rindu dan percaya betapa

hatimu senantiasa terbuka

 

Sesungguhnya mereka milikmu

bagian paling indah yang, karena malu,

begitu lama sembunyi dan berdiam diri

hingga kaulupa dan muskil kaukenali

 

Sebagai bunyi dan gambar samar

mereka selalu gusar dan gemetar

gugup-gagu, tiap kali hendak menyentuhmu

tepat di selaput lembut paling peka itu

 

Sekian lama menanti

berharap datang saat terbaik, ketika kau sedang sendiri,

membentang kalbu sebagai langit yang telak teduh

bagi segugus planet yang menolak luruh

 

Mereka ingin kembali, turut serta merasai sedihmu

menyentuh yang melepuh, mengelus yang ngilu,

merekatkan yang retak, merawat yang tersayat,

meringankan yang berat

 

Mereka kadang berkhayal sebagai hujan pertama

yang dengan senang hati menjatuhkan diri dini hari

ketika kau kemarau mengerang dahaga

di antara akar dan sumur mati

 

Alangkah ingin mereka melihat

tubuhmu yang likat bangkit menggeliat

bersama pucuk-pucuk daun berseri seusai mandi

kuncup-kuncup kembang berganti gaun warna-warni

 

Sesemarak gelak dan gerak para pencinta

di babak pembuka pesta bulan pernama

di mana nestapa terkapar tak berdaya

dihajar pijar harapan dan cahaya cinta

 

Maka maklumlah jika kepadaku

(penyair daif ini) mereka minta diantar ke hatimu

Sebab, mereka percaya, keindahan bersemanyan di hati yang terbuka

dan puisi adalah jalan sederhana untuk mencapainya

 

Penyihir

 

Sejauh kau pergi, di mana pun kau kini,

kita berada di bawah lengkung langit yang sama

Riak rinduku melurubi seluruh samudera dera

 

Tidakkah kau tahu, dalam buku batinku terguris namamu?

Huruf-huruf pucat yang merembaka sebagai nubuat

 

Kadang, ketika halaman putihku penuh olehmu,

aku ingin meniru pohon yang gugur daun,

mendamba hujan yang meluruhkan kenangan

 

Sampai jiwaku kuyup, kelopakku kuncup

Sedang kau menjelma gema, menggelimang

kesepianku yang menggeliat gamang

 

Kata-katamu, kau tahu, kadang bunga biru rumpun perdu,

sesekali belati yang membelai belikat hati

Membuatku mekar, gemetar

 

Dan bungaku luruh saat belatimu menyentuh

Layu. Luka. Di hatiku kau terpahat, mungkin tak kekal,

tapi biarlah kuingat tanpa sesal

 

Jika kelak kau kembali,

tiap kata telah memilih maknanya sendiri

Mungkin tak lagi kaukenali

 

Kau bukan penyair culas, kekasih

Cuma penyihir yang melintas ketika aku ringkih

 

Atau, kau pengembara yang gampang terkesima

Menyusur lintang bibir  bagai alur sungai di padang pasir

Hanyut aku dalam arusmu

 

Lalu bersama kita menguap sebagai fatamorgana,

mendekap harap sungguhpun fana

Atau terberai jadi kerikil, meratapi yang mustahil

 

Sitok Srengenge, penyair yang juga menulis novel dan

esai. Bukunya antara lain On Nothing (puisi), Meng-

garami Burung Terbang (novel), dan Cinta di Negeri

Seribu Satu Tiran Kecil (esai).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 24 FEBRUARI 2013

Written by Puisi Kompas

Februari 26, 2013 at 3:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TIA SETIADI

leave a comment »


Cermin, Sungai, Puisi

                         untuk Jorge Luis Borges

 

/I/

Bagaimana bila satu petang kau bercermin

Dan kau pandang di sana bukan wajahmu?

 

Melainkan riak senja yang mengalir,

Arus awan di langit, dan nyala api di kejauhan.

 

Wajahmu jadi jejak yang meraib

Dan terbakar dalam bening api.

 

Dan api adalah puisi itu.

 

/II/

Sering kau menyaksikan wajahmu hanyut

Di alir sungai yang beda setiap waktu

 

Sekaligus sama setiap waktu

Seperti sungai Heraklitus.

 

Puisi adalah cermin yang hanyut

Di sungai itu.

 

Dan sebuah Wajah Lain

Yang terus memandangimu

 

Di kedalaman waktu.

 

/III/

Cermin, sungai,

Puisi:

 

Terkembang sedikit lebih lebar

Dan lebih baka

 

Ketimbang alam

Semesta.

 

Sebab ketiganya menggandakan

Serta menggemakan segalanya.

 

Seperti senggama.

 

/IV/

Narcissus menyingkapkan inti dirinya

Di kedalaman cermin dan sungai

 

Yang tak berawal dan berakhir

Bagai bentangan pasir.

 

Dan pasir adalah puisi itu

Di mana Wordsworth menitipkan

 

Seluruh dunianya yang tak terhingga.

Hijau dan sederhana.

 

Seperti keabadian.

 

Yogyakarta, Agustus 2012

 

Tia Setiadi bekerja sebagai editor sebuah

lembaga penerbitan di Yogyakarta. Saat ini ia

Sedang menyiapkan kumpulan puisi berjudul

Adam Mencari Wajahku.

 

KOMPAS, MINGGU, 17 Februari 2013

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2013 at 3:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TJAHJONO WIDIJANTO

with one comment


Kuncen

 

tak mudah kau bayangkan setumpuk batu menganga

menceritakan dirinya sendiri. menelusuri tepi-tepi

sunyi bercabang-cabang menuju arus asing yang tak

pernah diam menggigil. setiap kali lafalku terputus

berkelebat bayangan menjumpaiku dalam riwayat

tak tamat-tamat.

 

“kau mesti tetap di sini, menemaniku menulis

kembali kisah yang tak kenal musim!”

 

udara yang atis tergelincir dalam lorong-lorong

asing yang bising dalam hening dan lumut

meranggas di batu-batu akan membatu

membawamu tamasya ke negeri leluhur batu nisan

tempat para satria bercambuk api di tanah-tanah

keramat.

 

tak ada yang dapat lolos dari sihir ini. ciuman waktu

telah menjadi candu menyeret para pentakziah suci

yang malang menaburkan penghabisan tentang kenangan

akan keindahan kematian yang mungil.

 

waktu yang tergelincir di antara desir hening dan

bising tak sanggup memberi bahasa pada bumi

yang menjelma kompas liar menuju rindu yang

gelisah pada hari-hari yang makin keramat

menghapus jejak-jejak darah dari setiap yang kalah.

 

Ngawim 2013

 

Nubuat Pohon Asam

 

aku lahir dari kutuk

doa tua yang membonsai tubuh

memisahkanku dari genggaman langit bapa angkasa

belenggu yang berpinak sepanjang gelisah napas

tak pernah lunas terbalas

tempat sunyi yang menyerah pada kehendak berkarat

batang tubuhku yang kuat perkasa

hanyalah si terkutuk dengan jiwa nelangsa

menggumpalkan kekalahan dalam semadi tak terperikan

menjinjing waktu dengan darah meleleh di pinggang

menunggu penebang mematahkan tulang-tulang

 

aku lahir dari kutuk

mantram yang membelenggu dahan rantingku

mengurung rindu pada liukan ujung badai

juga bisikan cinta dari pucuk kabut di tangga langit

terbungkuk-bungkuk jadi si tua diterpa singin dan mimpi buruk

 

aku lahir dari kutuk

berkabar pada cuaca yang datang dan pergi

dalam kubangan waktu yang gelisah dalam sejarah

bersama ingatan-ingatan kecut serupa pecut

menganyam senja, jarak dan peristiwa

berkawan hantu tua penunggu jalan yang juga tua

merajam bunyi menjadi sunyi

 

Ngawi, 2012/2013

 

 

 

 

 

Tujuh Sajak Pendek

 

 1.      Di Stasiun Kota

ada jeda terasa: saat kereta datang – pergi

ada terasa sisa suasan: saat Amba merana

karena Bisma dan cita-cita

 

2.      Sajak di Dasar Kolam

sebuah kolam keruh airnya

di dasarnya puisi menjerit-jerit terkapar

tak lagi kuasa menggenggam zaman

 

3.      Perjalanan ke-3x

seperti kemarin kaki terkoyak

antarkan diri di simpang jalan

: ini altar atau terminal

 

4.      Doa di Gaza

tuhan,

telah aku kirimkan kawanku padamu

kapan giliranku menerima kehormatan ini?

 

5.      Sajak Lilin

tiga lilin memercik ragu menatap malu

lampu meja suram di pojok kamar

semakin hari tak ada lagi sudi jadi saksi

untuk yang tak pernah kembali

 

6.      Sajak Bulan

bulan telah lama tenggelam

tapi malam tak pernah usai

 

7.      Episode Terakhir

bumi kembali tunjukkan

kesetiaannya pada kita

buktinya, Sinta krasan di dalamnya

 

 

Tjahjono Widijanto lahir di Ngawo, Jawa

Timur, 18 April 1969. Kumpulan puisinya

antara lain Janturan (2011). Ia menetap di

kota kelahirannya.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 17 Februari 2013

Written by Puisi Kompas

Februari 18, 2013 at 2:49 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AFRIZAL MALNA

with 2 comments


Apartemen Identitas

 

Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya.

Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang

lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui

mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, di jalan Eugene

Sue, telah berlalu meninggalkan yang telah berlalu. Empat

kelompok angin besar, kelabu, bergerak. Membuat perempatan

angin di langit. Kelompok awan putih dibaliknya, menyimpan

perpustakaan Utara dan Selatan. Bergerak dari empat arah. Biji-

biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik, setelah

Perancis dan Afrika. Malam datang bersama suara

ambulan. Kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. Udara dari

tubuhmu membuat biji-biji bahasa tumbuh di atas debu-debu

yang berkumpul di balkon apartemen. Asap tembakau

menjemput seorang penyair yang bermukin dalam tas kopernya.

Burung-burung, anak-anak musim yang setia, menjaganya

dengan cerita-cerita botanikal. Penggaris yang mengukur

kematian, dan pidato seorang pengangguran di kreta metro,

melintasi stasiun Stalingrad.

 

Apartemen itu berisi:

-Pemberontakan tali sepatu daerah kubusmu

-Slide cincin pernikahan di atas lidah

-Tarian tak selesai Henri Matisse

-Bung-bunga bunuh diri di Saint Muchel, Notre-Dame

-Seorang tua berkulit hitam bicara dengan dua tas besarnya di

Stasiun metro, Duroc

-Kematian post-modernisme dalam aliran keuangan

internasional.

 

Alarm apartemen merontokkan semua bunyi di dinding, minyak

goreng yang hangus di kompor elektrik. Asapnya mengumpal,

tak bisa kulihat, tak bisa kugenggam, tak bisa kutatap,

menjemput identitas dalam tas koper yang terus bergerak tanpa

rekening bank. Membuat perempatan angin untuk potret-potret

luka setiap bangsa.

 

Lupakan aku. Lupakan aku, setelah semua kultur membisu.

 

Mesin Jahit Bayangan

Hello Ulrike Draesner

 

Malam, sebelum agak malam. Buku-buku mengaborsi suami,

setelah suami mulai kehilangan lelaki. Radius yang tidak pernah

berubah antara daftar surat masuk dan surat keluar. Pisau bedah

di ujung bahasa, botol infus dari balik gerbang Berlin,

mengaborsi lampu-lampu malam. Ukuran kemeja yang tidak bisa

memperbesar bayangan lelaki di luar rumah. Apakah puisi,

tanyamu: di antara kursus-kursus bahasa, memindahkan kultur

kota dari mural East Side Gallery ke tembok yang lain, dan bau

mentega yang menciptakan lidah di antara pisau. Dekontruksi

memori dari rahim ke bekas reruntuhan pesawat. Lebih turun

lagi ke rasa berantakan. Kau rasakan, puisi mengambil jiwaku

untuk mendapatkan bayangan bahasa, ruangnya yang tak punya

luar dan tak punya dalam. Gravitasi cinta yang melampaui benua,

menyentuh seorang anak India dalam pelukanmu. Lebih naik

lagi, kata yang meruntuhkan setiap representasi. Agak malam

setelah malam. Kau rasakan dinding-dinding rumah masih

merasakan setiap memori yang melepaskan diri dari sejarah,

dengan membaca, melalui dan mengalami membaca, jembatan-

jembatan yang mengantar cerita. Apakah puisi, tanyaku: sebuah

potongan tiket kereta di stasiun Beusselstrasse, menciptakan

bayangan angin ke Rosenthaler Platz. Memindahkan puisi antar

benua dari perangkap kata, dari setiap terjemahan yang mencium

bau luka. Aku masukkan lenganku ke dalam bahasa, kau tanam

musim berwarna putih dalam senyummu. Aku masih bisa

mencium rempah-rempah yang melangkah di belakangku,

memunggungi waktu, merayuku antara dekorasi Jawa dan aku

yang diperbanyak dalam mesin foto copy. Malam, setelah

melalui malam. Apakah puisi. Kita potret bahasa. Banyangan

mengelupas. Mengaborsi cahaya dari setiap rahim yang ingin

melahirkannya. Apakah puisi: mesin jahit yang terus menjahit

bayangan antara tubuh dan setelah tubuh. Membuat kobaran

sunyi dalam pakaian yang telah ditinggalkan. Malam, setelah

malam tak lagi di sini.

 

Jembatan Iblis dari Keningku

            Buat BOT, Marianne dan Elia

 

Sebuah gereja dalam salju. Kursinya membekukan kekosongan.

Pintunya menutup musim dingin. Salin masih terus membekukkan

sunyi. Di Gotthard, melewati Zurich ke Andemartt, sebuah hotel

dalam salju. Albergo San Gottardo. Pintunya menutup musim

dingin dari 5 menit musim panas. Lima jam mendaki,

menyesatkan diri dalam lubang-lubang udara. Kota telah berlalu

dalam kenangan memasak dan mesin printer. Lembah-lembah

Urseren dan Laventina. Setiap belokan, melingkar. Arsitektur

kesunyian, melingkar. Konstruksi kesedihan, melingkar.

Mengubah warna kenangan dan gua-gua bekas peninggalan

militer. Melingkar di bawah tebing-tebing batu di atas tebing-

tebing batu yang kembali ke bawah dan ke atas. Ke luar dan ke

dalam.

 

Cahaya dari bukit-bukit batu, mengelupas melewati erangan

Salju di musim panas, benturan antara yang berlalu dan

berkelanjutan. Ruang di sini terus menciptakan dirinya berulang-

ulang, untuk menyesatkan waktu dalam perjanjian antara iblis

dan pendeta suci Gottardo, antara monumen kesunyian dan

tebing-tebing sejarah. 800 tahun lalu melewati tebing-tebing

Schollenen dan Reuss, di atas jembatan Teufelsbrucke, iblis yang

tertipu seekor kambing. Di bawahnya, air dari lelehan salju

masih terus mengalirkan potret-potret perang Napoleon. Tubuh

melawan tubuh, membuktikan waktu. Jiwa melawan jiwa,

membuktikan yang berulang. Udara menjadi begitu curam, 9

derajat di bawah kultur yang ketakutan.

 

6 jam berjalan kaki, turun dari kecuraman waktu, sampai di

Airolo. Makan malam di Lauzers, di tepi sungai. Di tepi

Bayanganku yang curam.

 

Aku Setelah Aku

:eyelight

 

Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai

reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang-

gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang

mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas

kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para

petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu

bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh.

Berenang, dalam  yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati

di mataku.

 

Ketukan-ketukan kecil, putaran di kening, lembah-lembah yang

belum pernah kulihat. Aku berdiri melihat garis bibirmu dari

matamu, garis yang dilalui sebuah truk. Seorang perempuan

menyetirnya dengan lengan kirinya yang patah. Ia gulingkan

cermin-cermin busuk ke dalam keca: aku pada batas-batas

berakhirnya aku. Perempuan yang kecantikannya melumpuhkan

batas-batas militer. Parit-parit bekas peperangan, membuat mata

rantai baru ke telaga. Bebaskanlah aku, bebaskanlah aku dari

kultur yang menawan kebinatanganku.

 

Ia bergerak, kejutan-kejutan pendek dari setiap bayangan puisi.

Garis pantai lurus dari matanya, semakin lurus dalam horison

keheningan: batas setelah manusia menyerahkan dirinya kembali

sebagai binatang. Perempuan yang kecantikkannya menyihirku

sebagai lelaki setelah lelaki, sebagai aku setelah aku. Kecantikan

yang mengisi kembali botol-botol kosong dalam puisi, setelah

kekejaman di luar tutup botol.

 

Aku ambil kembali manyatku dari lidahnya. Perempuan yang

kecantikannya terus menerus merajut pecahan-pecahan kaca. Aku tak

percaya, tubuh penuh jahitan setelah aku di depanku.

Perempuan yang kecantikannya membangun sebuah hutan di

mataku, siang-malam, mengisinya dengan binatang-binatang

kecil, pagar jiwa dalam cincin yang mengusir kehancuran makna.

Gua bagi pemuja tubuh dan burung-burung dalam kicauannya.

Di dalam sarangnya, aku dan waktu menjadi purba.

 

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Selain

Menulis puisi dan prosa, ia banyak bekerja untuk teater,

tari, dan seni rupa. Buku puisinya antara lain

Pada Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 FEBRUARI 2013

Written by Puisi Kompas

Februari 4, 2013 at 6:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: