Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Gunawan Maryanto

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Januari 18, 2015 at 6:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »


Kunti

 

Maka bernyanyilah ia kepada udara

yang kering kerontang

Kepada langit kosong

yang menggambarkan isi dadanya

-dada muda yang begitu mudah

terbaca dan tergoda

-dada ranum yang membuat kagum

para lelaki dan pendaki

 

Perempuan itu tak tahu apa-apa

Ia hanya hanyut ke dalam nada

Seperti mata air ia tak tahu

ke laut mana ia mengalir

Ia bahkan tak sadar

matahari telah berhenti beredar

Waktu berhenti. Angin mati

Dan seorang lelaki

Menantinya di sebuah sepi

 

Jogja, 2012

 

 

Balada Alli

 

Hai, kau yang menyamar sebagai ular, aku Alli

Naiklah ke peraduanku. Malam ini aku berahi

 

Hari kemarin kau Putri Chengamalam

Rindu yang kupuja sepanjang demam

Dan lantas kita berlarian di dalam hutan

Berburu kijang dan kasih sayang

 

Di sebuah lelah, di punggung trembesi

kausandarkan tubuhmu

pada tubuhku yang sepi

Tak bisa kau dengarkan apapun di sana

 

Dan pelan kaulepas cincin di jari manisku

bersama kisah-kisah Pandawa

yang kau tembangkan berulang-ulang

seperti gendewa terentang

Hingga Arjuna bangun dari tubuhmu

Dan bayang Wrahatnala menari lagi

Di alun-alun Wirata

 

Hampir aku jatuh, Arjuna

Dalam pelukan tubuh perempuanmu

Tapi Alli tak bisa jatuh. Tak sanggup jatuh

Ia adalah batu dari Madurai

-pernah membunuh anak burung gagak

 

Sebagai ular sebagai perempuan

mungkin kau bisa bercinta denganku

Tapi sebagai lelaki tunggu dulu

Kemarahanku lebih besar dari kesaktianmu

 

Tapi Tali ini –  benang kuning di leher

telah merampungkan baladaku

Pulandaran lahir tanpa persetubuhan

Dan Alli tinggal kenangan

Kenangan yang ingin kulupakan

 

Dan kisah perempuan

yang lahir di rekahan bunga lotus itu

Selesai sudah. Harus selesai.

 

Jogja, 2013

 

 

Amba

 

Aku kalung teratai yang tergantung di gagang pintu

Menunggumu mengenakanku pada sebuah perang

Separuh diriku yang lain adalah sungai kering berbatu

Yang sesekali saja tergenang jika hujan datang

 

Tapi sebut saja aku hantu,

Kemarahan yang tak padam,

Atau cinta yang gagal

 

Pada seorang lelaki kualamatkan seluruh deritaku

Tak perlu kau sebut namaku. Berdiri saja di tepi gelanggang

Kenakan aku dilehermu. Maka aku akan menerimamu

Seperti sebuah kereta yang menjemputnya pulang

 

Jogja, 2013

 

 

Satyawati

 

Di dalam kabut ini, Palasara, renggut aku

Habisi amis tubuhku sesuai janjimu

Lalu pergilah. Biarkan sepi Yamuna

Dan wangi tubuhku yang tersisa

Dari persetubuhan kita

 

Sebab aku anak pungut seorang nelayan

Kama yang jatuh di mulut seekor ikan

 

Di dalam kabut yang terbuat dari nafasmu

Di atas sampan yang terbuat dari tubuhku

Kita susuri Bengawan Yamuna sekali saja

 

Jogja, 2013

 

 

Gunawan Maryanto bergiat di Teater Garasi Yogyakarta.

Kumpulan puisinya Sejumlah Perkutut buat Bapak (2010)

meraih Khatulistiwa Literary Award 2010.

Segera terbit kumpulan puisi terbarunya,

The Queen of Pantura.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juni 12, 2013 at 11:43 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: