Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Aslan Abidin

leave a comment »

Abu George Bar Damaskus

mari tuan, aku tuangkan
minuman ke gelasmu. kosongkan dan
aku tuangkan lagi. sampai pagi,
sembari bernyanyi.

“wine dari kebun
anggur nuh di themanon, dari kebun
anggur raja salomo di baal-hamon,
wine mukizat yesus dari kana.”

malam baru saja mulai. di
damaskus, tuan tak akan dengar lagi
suara kokok ayam. fajar jauh dari tiba
dan kesedihan belum pula dalam kita
benam.

aku dana, tuan. bartender abu
george bar – masih gadis. tetapi aku
suka membanggakan diri seorang saki,
si penuang anggur ke piala para sufi.

angkat gelasmu, tuan.
toast! dengarkan suara dentingan
gelas. bukan dentuman bom. hanya
itu yang terdengar jernih di telinga.

dekatkan ke hidung, hirup aromanya.
manis, agak getir, dan pahit. wangi nira,
tebu, jintan, gandum, anggur, delima.

tidakkah sedikit menggugah
rasa ingin bertahan hidup? apakah
tuan masih dapat membedakannya
dari sergah bau kematian: mesiu serta
gas sarin, tubuh terbakar di udara?

“arak saggi dari iran, wine lebanon,
bir al-shark aleppo, atau bir buatan
madees khoury dari palestina?”

mari, tuan. rasakan
hangatnya. mengalir perlahan
dari ujung lidah ke pembuluh darah.
seperti menghanyutkan rasa perih,
menyamarkan ketakutan akan mati.

walau hanya sejenak.
sebab di atas kepala tuan, di balik
atap, bom dan mortir mungkin menukin
ke tengkuk kita.

setidaknya, meski sejenak.
di sini, tuan dapat terhenyak
membayangkan diri seorang darwis.
masygul mengutip baris-baris
syair dari gibran:

“kasihan, negeri yang meminum
anggur yang tak diperasnya sendiri.”

tuan juga dapat duduk saja
di kursi pojok. minum pelan serta
menggeleng putus asa: mengutuk
assad, putin, trump, dan pemberontak
– dalam hati.

atau menyamar sebagai
pelarian tentara amerika dari
baghdad, depresi, mabuk, dan memaki:
fuck this war! sementara musik dari
dj, hentakkan suara the bee gees:

i’ll live to see another day….
mari tuan, ayo goyangkan badan.
pertanda kita masih hidup…. stayin’
alive, stayin’ alive….

panggil aku dana, tuan. bartender di
abu goreng bar – masih gadis, tetapi
suka membanggakan diri seorang saki,
si penuang anggur ke piala para sufi.

aku menemanimu, berusaha
melupakan pedih dari parang saudara
ini. kita di tengah damaskus, tuan, kota
tua yang sedang dihancurkan.

Makassar, 2018

 

Aslan Abidin lahir Soppeng, Sulawesi Selatan, dan kini
tinggal di Makassar. Buku kumpulan puisinya bertajuk
Orkestra Pemakaman (2018).

PUISI KOMPAS, SABTU, 6 JUNI 2019

Written by Puisi Kompas

Juli 8, 2019 pada 7:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: