Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Januari 2013

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »


DUA PENARI PUTIH

PUISI KIKI SULISTYO

 

Si Tinggi Lidah

 

itulah aku, ada untuk menghamba pada yang tak bertulang

pada yang bertualang tapi tak kemana-mana

bila tercecap manis-kata akan keluar amis-dusta

tinggi melebihi janji segala yang bisa lebih tinggi

 

aku bilang dari sebelah sini, aku bisa tenang meniti

semua peristiwa kuletakkan di ujung jemari

hingga saat kalian bertanya, tinggal kujentikkan saja

peristiwa berlepasan bagai kupu-kupu baru ditetaskan

 

tentang hati orang bakal senang atau terpanggang

bukan bagian dari apa yang mesti aku pikirkan

aku bebas, segala yang ada di luar aku adalah penjara

dengan pintu terkunci dan berbaris-baris penjaga

 

begitulah, selama akau hamba setiap tuan adalah aku juga

sebab apa yang bermula sebagai ucap

akan berakhir sebagai sebab

 

2013

 

 

Rencana Berciuman

 

ke tempat gelap, ke tempat lembab

kita bakal berlatih memainkan sulap

bibirmu yang fasih melafal puisi

bibbirku yang letih meliurkan sunyi

bagaimana bila kita tukar keduanya

agar kau mengerti rasanya sendiri

dan aku memahami lekuk-liku puisi

 

tapi tunggu, ada sekerumun pemabuk di situ

ada anjing yang terkejut oleh bau tubuhmu

kita bicara sebentar tentang halaman sebuah koran

atau pengarang yang mencuri cerita orang

 

kalau pemabuk telah pindah

dan anjing berlari tak tentu arah

lafalkan puisi itu

sementara sunyi berkerumun di bibirku

ingat, pada saat yang tepat

keduanya bakal bertukar tempat

 

puisimu berayun di sunyi bibirku

sunyiku berdentum di bibir puisimu

 

2013

 

 

Tunjang Tua

 

berapa kuat bumi menompang imanmu hingga tegak atas tanah

dalam dada sebutir bijih terus membesar melampaui dunia

padang datar dengan kambing-kambing kurus kering

kemah yang tak kuat menahan dingin dan amuk angin

 

dalam cengkeraman sebelah tangan, tunjang tua telanjang

saat sepasukan anjing hutan melepas dengus berat

oleh getir dan lapar, siap bertaruh untuk hidup sehari lagi

 

pada tunjang itu aku melihat apa yang ada dalam pikiranku

kesendirian yang panjang, gurat usia yang berusaha lekang

 

lebih jauh dari masa lalu, dari saat terakhir di tangan keriputmu

aku bahkan masih mendengar salak gila anjing hutan

menyeberangi pintu rumah, terserap udara malam

terhirup rongga dada, lubang cahaya yang hampir padam

 

2012

 

 

Kiki Sulistiyo lahir di Ampenan, Lombok.

Ia bekerja di Departemen Sastra Komunitas

Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 27 Januari 2013

 

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 29, 2013 at 3:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FITRI YANI

leave a comment »


DUA PENARI PUTIH

PUISI FITRI YANI

 

Sebuah Pengakuan

 

benar, bahwa aku yang lebih dulu menggodamu di bawah pohon

itu. sebab kau musafir kelaparan yang hampir mati berperang

melawan cuaca. dadamu berlubang, aku bisa melihat lorong gelap

sepanjang perjalananmu. aku tak tahu, mengapa persimpangan ini

diciptakan sehingga kita berjumpa dan semuanya bermula,

mengapa aku merayumu berhenti dan berteduh di bawah pohon

rindang. mengapa kau tergoda sehingga tumbuhlah kata-kata yang

menjalar di mata, telinga dan bibirmu. kau sendiri tahu, seberapa

jauh jalan yang telah kau tempuh dan kau memerlukan sesosok

tubuh, untuk sekedar mengusap bulir peluh di keningmu, bahkan

lebih dari itu. aku tertegun heran karena setelah itu kau selalu

kembali mencari-cari tubuh yang pernah memelukmu begitu erat

dan matamu menjadi kian sekarat.

 

2012

 

 

Malam di Jalan Ali Pitchay

 

keramaian yang menarikku dalam alam bahasa yang sukar kuterka

ketika kudatangi kotamu, akan menjadi satu-satunya ingatan yang

membuat dunia, bagiku, menjadi lebih luas dari yang kuketahui.

sudut-sudut kota yang lengang itu akan memulangkan ingatanku di

suatu malam yang lampu-lampunya berwarna biru. juga percakapan

tentang masa lalu usai makan malam di sebuah restoran melayu,

yang kemudian membuat kita sama-sama menyimpan rasa haru

seakan malam panjang tak akan pernah membuat kita kembali

bertemu

 

lantas kurekam semua lekuk jalan dan kita beranjak meninggalkan

sisa-sisa makan yang membuat perasaan kita kembali menjadi

lengkap satu sama lain. bukit-bukit kapur diterangi cahaya ungu,

jalan-jalan hidup dan ramai dikunjungi tamu, cerita-cerita saudagar

cina dan india tentang negeri perak tersusun si dinding-dinding rumah-

rumah batu. di kejauhan, cameroun highland menghembuskan

aroma daun teh sepanjang higway utara dan selatan. aku

terkesima, kubayangkangetar pertemuan seperti sebuah kebetulan

yang kadang-kadang membuat kita menangis di atas tangan-

tangan takdir

 

hingga akhhirnya kita akan dipisahkan oleh jalan-jalan dan harapan-

harapan yang membuat kita saling mengingat atau barangkali

perlahan melupakan. maka apa yang tengah kukatakan melalui

sajak ini, barangkali hanya akan menjadi gema di antara ruang

yang terbentang begitu panjang, yang membuatmu sejenak terdiam

sebelum akhirnya rindu menjadi patut diucapkan.

 

Ipoh-Perak-Malaysia, 17 Desember 2012

 

 

Penggali Sumur

 

ia menggali sumur, katanya ia ingin meminum air murni itu. aku

senang sekaligus berduka. karena musim sedang kemarau. ia

percaya bahwa sumur di mata tak lebih dalam dari tanah yang

tengah ia gali. maka ia terus menggali. hingga tubuhnya hilang di

dalam gelap, hingga suaranya hanya berupa gema. berminggu-

minggu. aku berprasangka baik-seorang penggali tak akan mati di

dalam lubang yang ia gali dan kedalaman mesti melahirkan

gaungnya sendiri. aku menantinya di pinggi sumur yang hampir

menyerupai jurang. tapi suaranya tak terdengar lagi, hanya

gemericik yang menyerupai suara air.

 

 

Fitri Yani lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP

Universitas Lampung. Buku kumpulan puisinya adalah

Dermaga Tak Bernama (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 27 Januari 2013

Written by Puisi Kompas

Januari 29, 2013 at 2:51 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


IMG00616-20130122-Tapa Barata Anak Bujang

Setelah masuk ke gua tarikah empat puluh hari di Koto Tengah

Dia pulang mengunjungi ibunya

Ibu, aku sudah bertapa

Kita-kitab segala bangsa telah kubuka

Kucari simpul derita dunia dan kupepat dia

Kalau kukata, matinya mati anjing

Terpenjara ia bersama babi segala celeng

Tidak akan hidup lagi dia abadi dalam sengsara

 

Tapi ibunya bilang: burungmu masih tegak

Hasratmu masih suka berlagak, kerampangmu gelinjang-gelegak

Pergilah ke Gunung Ledang, tempat pendekar pergi bertarak

 

Setelah turun dari Gunung Ledang empat puluh hari kemudian

Dia mengetuk pintu dapur ibunya

Ibu, aku sudah memangkas hasrat

Para gergasi rimba raya dalam tubuhku telah kubebat

Kutemu simpul amarah dunia dan kupancung dia

Kalau kukata, matinya mati pada pangkal

Ke pucuk dia tak akan hidup

Ke urat dia tidak akan tumbuh

 

Tapi ibunya bilang: Neraka dalam dirimu tak kau padamkan

Gerahammu mengunyah bagai pabrik, lambungmu karet gelang terus regang

Bagaimana mungkin petapa gemuk sepertimu sampai pada makrifah

 

Kau loba, Siampa!

 

 

Menjerat Burung Terbang

 

Kau ingin menangkap burung, katamu yang terbang di angkasa itu

Maka kau melompat bagai berkelebat pada pohon tinggi itu

Memanjati rantingnya yang berdaun paling ujung

 

Dari atas sana kau berseru:

Burung-burung bernyanyilah dan daun-daun menarilah

Akan kupasang jerat antara tidur dan jagamu, pada siang dan malammu

Aku seru pada yang hilang akan kembalilah dia padaku selalu

Bercerailah dari tumpukmu dan lepaslah kepakan sayapmu

 

Tapi tiap kau melenggang ketiakmu lepas ke tahan seperti kain basah

Gelengmu lepas dari kepala yang tidak berani tengadah atau bilang ya

Kau lompati pohon tinggi itu hingga tergapai-gapaikau di udara

 

Kau pelihara rasa gamang itu bagai lupa dalam buku sejarah

Tak berani kau menitah pada daun-daun dan burung-burung itu

Kau melompat, tapi tumitmu tidak lebih sejengkal dari tanah

Lalu kau kata hendak menangkap yang berubah di udara?

 

 

Ratap Kapal Karam

 

Kapal karam

menjelang di Pulau Pandan

padahal angin hanya diam

dan langit tampak

tak kusam

 

Mungkin ada tenung

berjalan pada lipatan gelombang

barangkali sumpah

dipesan perantara geram

 

Laut tenang

kalut dukamu

membawa asin garam

dalam pasang

ke pantai-pantai

panas berdengkang

 

Nun jauh di tengah,

paus hitam berjumpai putih

duduk diam

sendirian

 

Laut tenang

dalam deritamu

kapal karam

jadi

silam

 

 

 

Samsinar Pulang dari Pasar

Samsinar pulang

dari pasar

pukul empat petang

membawa santan

berkebat serai

dan rukuruku

 

Untuk menggulai

ikan macoaji

tangkapan bagan

nelayan Purus

mengelinjang

dalam kuali

 

Aku suaminya

tidur bergelung

di tengah rumah

hilang marwah

 

Celaka bapak si anu

kutukmu

dari dapur

yang mengepul

aroma kayu

terbakar basah

 

Celaka dia!

 

Amin semesta

 

 

 

Pacu Sapi di Simabur

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk

Berlomba lari di medan pacuan

Membawa karavan yang di atasnya

Masa silam duduk sendirian dengan cemeti di tangan

Sapi yang juga diarak dari masa silammu

Dan orang-orang di sini memancung kepalanya dengan arit

Mengubahnya menjadi sapi buntung masa kini yang berjalan ke depan

 

Turis-turis dari Jepang membawa rombongan tukang foto ke sini

Menggelar tenda di pinggir arena untuk menunggu momen penting:

Ketika sapi itu berak atau terkencing beramai-ramai

Mengangkat sebelah kaki untuk berkata “waw” seperti anjing

 

Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk yang berpacu

Di gelanggang berbau pesing yang sudah seperti jamban

Karavan di atasnya telah lepas dari punggung

Penunggang itu terlempar ke pinggir pacuan

Meninggalkan cemeti yang melecut-lecut dirinya sendiri

Dan orang-orang di sini sepakat mengumpat:

 

“Pantat, pantat, nomor empat pantat!”

 

 

 

Dinda Petualang

Fais memotret arca ke muara Baranghari

Menulis tentang tembikar dan ukiran pada batu

Untuk majalah traveling luar negeri

Bodhisatva menyapanya, “Apa kabar, Dinda petualang?”

Anaknya merengek hampir setiap malam

“Abak, Abak!” memanggil-manggil dalam diam

Rindu terkebat pada waktu

Cemburu bersorak ke arah pintu

Sementara musim lepas terus dari tampuknya

Bagai orang tua pikun tersesat di kota besar

Mambang di awan berputar-putar

Fais memotret dari kapan yang berjalan ke depan

Sementara bumi berputar ke belakang

 

 

 

Rosnida Mencari Laki

 

Tidak berfaedah

kerjamu itu, Rosnida

ibunya memekik-mekik

di pangkal jenjang

 

Tapi dia berbedak juga

sore-sore hari

mencari laki

ke Pasar Atas

atau ke Pasar Bawah

bukittinggi sempit sekali

menawar kuini

atau duku Sijungjung

harganya murah

 

Malam baru

dia pulang

membawa lagu

selamat pagi, Ibu

telah kutemu

sumpul lukaku!

 

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Padang,

Sumatera Barat. Buku puisinya,

Odong-odong Fort de Kock,

akan segera terbit.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 20 Januari 2013

Written by Puisi Kompas

Januari 22, 2013 at 2:27 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI IRMA AGRYANTI

leave a comment »


Pembaptisan

 

seorang pembaptis, sebaris ayat

begitu santun

bagai doa semi

 

cahaya lilin dan air suci

semacam tangis dalam roman

tafsir dari segala tafsir

 

sempurnalah gadis remaja

di antara tamsil-tamsil

kenestapaan

tangan terakhir yang menyentuhnya

 

2012

 

 

Melankoli Ingatan

 

ia ingin membuang ingatan, setelah dikenalnya banyak hal. hujan

yang tak punya musim, membiarkan kenangan memasukkan tangis

ke dalam matanya. mata yang dibuat dari daun-daun kering, begitu

halus dan tabah. tahun-tahun menatapnya. tahun-tahun yang

melukai. tapi kau membebaskannya dari kesakitan, juga melankoli.

ia ingin membuang ingatan, di muka pintu, waktu berhenti,

perlahan berjalan mundur.

 

2012

 

 

Aku Membayangkan Sajakmu

 

membayangkan sajakmu

hanya setitik nyala

dari rumah ke pembakaran

memberi terang

pada garis kata-kata

 

mataku sehitam malam

seremang bayangan

tak paham

kupu-kupu diarak

mengitari mataram

 

bertubuh magrib

bersayap matahari

 

kau menulisnya dengan tinta air

seperti relief candi yang diterakan

di kedua sebrang pulau

 

sindu,

siapa lebih gelap dari sajakmu

lebih kelam dari silam

bahasa tanpa warna

bahasa yang setua

kampung halaman

 

2012

 

 

ia melangkah

sepanjang selendang

meliuk dengan tubuh yang bicara:

 

aku akan mengitari api

membelah dan mengiring

 

rambutnya dibiarkan terulur

menjangkau cahaya

 

seirama gerak beburung

matanya, menulis riwayat-riwayat cemas

sita yang dibawa rama-rama

rama-rama yang dibawa mati

 

sehelai tangis, sebaris sepi

di tengah tarian panjang

membuat rinai tubuhnya

 

di pementasan ini

penari itu, melantun seorang diri

dalam riuh ramai kesunyian

 

2012

 

 

Irma Agryanti lahir di Mataram, Lombok.

Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 JANUARI 2013

 

Written by Puisi Kompas

Januari 16, 2013 at 1:32 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Jurus Menjelang Tumbang

 

Inilah jurus menjelang tumbang:

 

kau terpuruk di pojokan. setelah terhempas

tonjokan tangal kidal. tapi kau ingin membalas

dengan sisa tenaga selembut tisu

dengan ancangan sekuat lidi

dengan pukulan selesat siput

di atasmu, bintang-bintang datang mendekat

di matamu, bulan merah pudar setengah kelam

 

tapi, kau tak ingin malu oleh pesilat muka tikus

kau tak mau takluk oleh jurus sapuan

bangau ngantuk. kau ingin tetap menghajarnya,

meski wajahmu tak tercetak di depan cermin lagi

berkuda-kudalah. siapkan seribu pukulan

pukulan dua tiga empat hanya lewat di badan

sang penantang. tepatkan juga tendangan,

tendang yang melesat jauh di atas kepala sang penghajar

 

mengertilah, kau hanya tinggal menunggu ia

mendaratkan jotos pemungkas. jotos yang ingin berpulang

tepat di jantung. di tempat yang tak lagi dapat kau lindungi

dengan gelibat bertahanmu

 

(2012)

 

 

Menangkal Sawan

 

Yang kutakutkan adalah kau.

Telah jitu kutangkal gerak gelak naga air.

Juga dapat kuringkus macan geni

yang memberiku seribu tikam pada badan.

 

Tapi untukmu, pergulatan beralih liat.

Kau teramat lihai menaruh beling di perutku.

Atau paku di jantungku. Membuatnya bergoyang,

bergelantungan saat kuancang sebuah tinjuan.

 

Kuda-kudaku bolehlah terpasang tegap,

tapi kau cukup meniup sawan. Anasir angin

akan mengantar yang rawan itu masuk ke dalam,

lalu pencar di luaran. Mereka akan berubah

semacam pendekat ganas yang mengincar.

 

Aih, kau penebar kejahatan di udara.

Petenung yang tak habis kugayang

dalam satu tonjokan tajam.

 

(2012)

 

 

Jurus Menunggang

 

Bahasamu adalah mengangkangi,

menumpangi. Maka tuntaskanlah beberapa

siasat:

 

siasat tenang, siasat mengekang, siasat

diam, hingga siasat berdendang agar tak

sampai segala kesetanan bertandang.

Segalanya tak lebih dari siasat singkat.

 

Semua semata untukmu, yang membuatnya

di bawah dan tertaklukkan. Jangan

menunggunya hingga giras dan

melontarmu ke segala arah.

 

Kuatkan pula ancangan yang telah

diwariskan para moyang. Pandangan ke

depan, sesekali melirik kiri dan kanan.

Jangan pernah kau palingkan muka

ke belakang. Jangan pernah.

 

Semua demi segala demit yang

menunggumu. Demit yang menjebak dan

menyiapkan sial agar kau yang menyimpan

kebaikan gerak tak banyak berlagak.

 

Mulakan semua dengan ketenangan,

mulakan dengan sikap seumpama kapal

karam. Agar ia tak sampai berontak, lagi

tak menyentak dengan lenggam badan

mahagalak.

 

(2012)

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya,

3 April 1986, dan kini tinggal di Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 JANUARI 2012

Written by Puisi Kompas

Januari 16, 2013 at 1:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with one comment


Menyeberang Jembatan

 

aku ingin menceritakan apa yang mampu aku rasakan

ketika berjalan sendirian di jembatan. ibuku penasaran

kenapa aku senang melakukannya. dia tidak mengerti

waktu aku mengatakan: aku memperoleh kebahagiaan

dari yang getar gemetar di hatiku. seperti jatuh

cinta? tidak, ibu. dia diam dan aku merasa kalah.

 

perihal membosankan dan percuma selalu lebih mampu

menemukan kata-kata untuk mereka kenakan. bagi yang

setengah-setengah, dan bagi yang berdiri di tengah-

tengah, kata-kata semata jembatan yang seolah-olah ada.

di diriku ada banyak perihal yang terengah-engah tidak

mampu menyeberang ke jantung ibuku, terpaksa menjadi

rahasia, dan aku merasa bersalah.

*

sejak kecil aku sering pergi ke hutan. aku membisikkan

pikiran dan perasaanku yang merahasiakan diri dari tinta

kepada pepohonan, sebelum mereka ditebang dan

berubah menjadi pintu dan jendela, kursi dan meja, atau

buku-buku.

 

setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku

mungkin ada di sana menemaninya. ketika ibuku

berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, barangkali

rahasiaku yang menggenggam cermin untuknya. jika

ibuku tidur memeluk diriny sendiri, aku berharap ikut

menopang rindu dan rubuhnya yang kesepian.

 

dan andai dia menerima surat dari suaminya, pikiranku

sungguh ingin bergetar di jari-jarinya, perasaanku

sungguh ingin basah oleh air matanya.

*

ibuku masa lampau. kenangan. dia selalu mampu

mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang

cuma mampu menunggu dikecup. kata-kataku selalu

ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka

tidak punya jemari.

 

puisi ini sama belaka. sekumpulan kata, batang-batang

pohon, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding.

semata memiliki jendela, pintu, dan sesuatu yang

memeluki keduanya. rumah yang menunggu pertanyaan-

pertanyaan ibuku datang memberi penghuni.

 

2012

 

 

Melihat Peta

 

hari ini kematiaan membisikkan perihal-perihal yang indah.

langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah

ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya

mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

 

aku ingin tiba-tiba seisi tubuhku tercuri. seseorang

menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana

dan wewangian sambil membayangkan tuhan

menyambutku dengan riang.

 

kau, entah di mana, membaa catatan yang aku tulis, aku

kirim, dan terlambat tiba.

 

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku

terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang

pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.

*

peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di

jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung

seperti sesuatu yang tak mampu aku namai – mimpi atau

kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca

jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang

kelelahan.

 

nanti malam, aku tak mampu menutup mata jendela. akan

aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali

kau menitip rahasia.

 

sementara yang menetap di luar aku, segalanya

dendanmu. memendam dendam, kata ibuku, seperti

meminum segelas racun dengan harapan membunuh

orang lain.

 

aku tak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar

tubuhku dan seluru isinya yang tercuri. hiduplah kau.

 

2012

 

 

Menonton Film

 

semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi

meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. udara

terbuat dari asap, aku dan kau merangkak di tanah seperti

ular sebelum kaki-kakinya hilang. langit pada musim-

musim tertentu jatuh seperti potongan-potongan jigsaw.

jutaan simbol matematika menggantung di kabel-kabel

telepon dan lampu-lampu jalan. bunga-bunga akan

memberi petunjuk ketika kita kehilanan arah.

 

semesta di mana waktu hanya ada di cangkir-cangkir teh.

kehidupan nyata ibarat dunia kartun dan kartun terlihat

seperti kehidupan nyata, dan keduanya adalah sepasang

tetangga yang tidak saling percaya. ingatan dikosongkan

setiap pukul  6 sore, seperti matahari tenggelam. untuk

diisi berita malam yang membicarakan keluarga kita.

 

semesta di mana kau dimakan singan dan aku

menunggumu di mulutnya memegang tanda bertuliskan

nama aslimu yang tidak pernah kautahu sebelumnya.

 

semesta di mana setiap kali kau menyentuh gelas dengan

tangan kosong kau merasakan bisikan yang

mendesahkan. lengan dan kaku tidak diperlukan

samasekali. kita bercinta dengan menuangkan cahaya ke

mata satu sama lain.

 

semesta di mana furnitur ia hewan-hewan peliharaan

kesayanganmu. botol-botol anggur diisi dengan kelopak-

kelopak bunga untuk disajikan kepada bayi kita yang

baru lahir.

 

semesta di mana setiap kali matahari terbit, di kepalamu

tumbuh salur-salur tumbuhan beracun. setiap kali

matamu berkedip, aku seperti mendengar gelegar petir.

 

semesta serupa yang kita huni kini, tetapi aku tidak

pernah ada di sana.

 

2012

 

 

Mendengar Radiohead

 

aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan

perasaan-perasaan yang lembab. aku percaya ada perihal

semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu

yang bertahan di alir sungai, atau badai yang lembut.

aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang

lebih nyaring daripada sunyi.

 

dan dalam setiap yang pecah ada keindahan, hal-hal yang

berhak dicahayai senyuman; persolin maha yang

membentur lantai ruang tamu, lampu taman yang mati,

daun-daun dan daun jendela yang jatuh, hati yang patah

dan perpisahan, atau rindu bayi-bayi yatim piatu.

 

aku lahir dari ucapan-ucapan ibu yang lebih banyak ia

kecupan dengan diam; berlari adalah kesunyian,

barjalan adalah kebalikannya. aku bertahan bertahun-

tahun berlari dalam kesunyian menuju kau. aku mau

menemukanmu, agar mampu berjalan menggandeng

tanganmu mengelilingi pagi yang hangat. atau

mengantarmu pulang, menyusuri gelap, dan dengan

sepenuh ketulusan aku ingin menjaga dirimu dari diriku.

 

ketulusan, panjang dan susah dinikmati sepenuhnya,

seperti musim. kejujuran, singkat dan tidak mudah

diduga, seperti cuaca. namun jika kau menginginkan

jarak, aku akan menjadi ketiadaan yang lengang. sebab

ingatanm sedekat-dekatnya keadaan aku. lebih dekap

dari pelukan sepasang lengan.

 

kesalahanku padang rumput yang hijau. seperti ternak,

aku ingin makan dan menjadi gemuk. M\menjadi potongan-

potongan daging yang membuatmu enggan tersenyum

seusai makan. menjadi lemak yang kau keluhkan dan

menghabiskan uangmu. sementara kebenaran semata

meseum yang tidak kita sadari. jika ada waktu, kau akan

mengunjunginya. namun kau terlalu sibuk melupakanku.

 

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang

lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian.

dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan

membuatmu bersedih suatu kelak.

 

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah

menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-

keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari

sore menutup mata. di tempat lain ada seorang menatap

dari jarak yang tidak kau ketahui. aku tersenyum

menghangatkan kesedihanmu.

 

2012

 

 

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan 14

Januari 1982. Buku puisinya antara lain Aku Hendak

Pindah Rumah. (2008) dan Cinta yang Marah (2009). Ia

tinggal di Makassar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 6 JANUARI 2013

Written by Puisi Kompas

Januari 7, 2013 at 6:46 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: