Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Taufik Ikram Jamil

PUISI TAUFIK IKRAM JAMIL

leave a comment »


penyair hang jebat

 

penyair hang jebat

membalut luka kata-kata

setelah kisah

adakah tikam yang salah

atau mungkin batu asah keliru

menerjemah tajam keris

sementara silat dan gelut

memaknai diri sebagai uji

bukan tari menjelang mati

gerak yang terpatri dari hati

 

 

 

pelabuhan mana

 

di pelabuhan yang keberapakah

akan kau tambat diri

pancang tahu pasti pada tali

sentap serta ikat yang menagih janji

antara sampai dan pergi

tak pernah berbagi lagi

dipahami hari dari hembus yang asli

seperti langit senantiasa hijau

menautkan mata sejauh pandang

 

 

 

 

 

 

percintaan hang tuah-tuh teja

 

kalian sampai ketika renyai

saat hari mengawal sunyi

hingga diam kalian semakin sejuk

dan kalian membiarkan semuanya

terkurung dalam isyarat

yang terbasa-basi pada malam

dikunci dalam bilik kata-kata

dengan mendustai makna

tanpa sekat setia

atau sekedar tenggat pura-pura

menyetujui setiap khianat

pada tuju yang berbeda

lalu menyatu pada yang tak suka

menghidu keinginan lain

dari sisa-sisa gelap

ditinggalkan dendam dan geram

 

tapi semuanya harus berakhir

sebelum subuh

 

 

 

depunta hyang sebelum berangkat

 

di bawah sinar setengah bulan yang menari

dengan tangan lentiknya memeluk jagat

di depan rakyat hambur menghampar

depunta hyang tegar berujar:

untuk delapan abad menjelang

yang tak panjang direntang

yang tak tanggung digulung

kalian menjadi saksi

betapa perjalanan suci ini

menjemput mimpi-mimpi

yang tak boleh kita abaikan sebagai janji

maka tak ada kesal tiada sebal

sebab telah kita sebar kisah dengan sadar

katangka dan minangatamwa bukan ditinggalkan

tetapi telah menjadi resam bagi setiap hala

memang tak mungkin patah di satu tapak

bahkan tidak pada jarak langkah

kembali ada harapan

diciptakan angan-angan yang kesepian

melayap dalam himpitan-himpitan ingatan

berbagi tempat dengan setiap sangkaan

 

perguruan nalanda kuharap serta

sebah kehendak ilmu sejauh tuju

sehingga ragu sekalipun

akan menjadi guru

berdepan dengan beragam laku

tak akan pernah sia-sia bersemuka kata

sampai tiada adalah satu-satunya cara

untuk menguji cinta pada yang ada

 

(Salah satu versi Depunta Hyang memindahkan Sriwijawa

dari Kampar, Riau, ke Palembang, Sumsel)

 

 

Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru, Riau. Buku

Puisinya antara lain tersebab aku melayu (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 SEPTEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

September 13, 2013 at 3:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: