Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for November 2013

PUISI AHDA IMRAN

leave a comment »


Hikayat Sebuah Meja

                        –Hanafi

 

Aku terbaring dengan perut mengkilat

orang-orang makan malam di atas tubuhku

menyusun mufakat, menekan pisau, membuat

irisan lembut di permukaan daging asap

 

Waktu yang menjadi ludah

ruang yang memilin lidah

 

Lampu-lampu dinyalakan

orang-orang makan malam. Tubuh

mereka tak berkepala. Kepala yang berjatuhan

ke bawah tubuhku. Kepala yang menyusun

persekutuan selanjutnya

 

Persekutuan dalam kotak gelap waktu

Kotak yang terus diangkat ke atas tubuhku

 

Aku terbaring dengan perut yang hancur

dengan upacara makan malam yang panjang

dengan potongan kepala yang terus berjatuhan

berserak di atas tubuhku. Semua begitu lengkap

dan pengap

 

Seperti gelap di bawah tubuhku

 

2013

 

 

Setenang Buddha

 

Setenang Buddha

waktu menyusun maut pelan-pelan

menaruhnya dalam ruang setengah cahaya

setengah bayang

 

Pulang malam ke seberang siang

berenang badan ke puncak hilang

 

Maut berdiri di bunga padma

berjalan ia ke tepi perigi, diseduhnya

bayang langit, dibasuhnya segala

yang nestapa

 

Jantung waktu yang lembut

pergi pulang ke puncak hilang

tak lagi ia tersebut maut

terurai dari cahaya dari bayang

 

Setenang Buddha

 

2013

 

 

Dari Bahasa kepada Puisi

Malna

 

Kusimpan sisa tanganku di lubuk tubuhmu

lubuk yang hanya kau sediakan untukku

tangan yang pernah dipinjam seorang pemahat

yang tak bisa juga menyelesaikan bentuk

 

sepasang mataku

 

2013

 

 

Kalajengking

 

Tak usah kau bertanya bila aku menyengat

sebab bisaku sudah berada di balik jagat

 

Tubuhku menyala dalam gelap

aku bisikan paling senyap

 

Serupa bilangan yang terbuat dari waktu

tak bisa kau menampik ingatan padaku

 

Kematian adalah hukuman yang lembut

sengatku puncak senggama yang memagut

 

2013

 

 

Hikayat Tangan

 

Dari tanganku engkau selalu pergi

sebelum aku memberimu sebuah nama;

sebelum tahu dari negeri mana kau datang

dan siapa yang mengutusmu

 

Tanganku berasal dari keramaian

menjulur dari pintu angin yang berayun-ayun

pintu bagi segala suara; kata-kata yang selalu

luput menjadi manusia. Membentuk telapak

tanganku dengan luka yang berlubang

 

Ke dalam tanganku engkau datang

mengulur jejak kakimu ke lubuk bayang

menarik segala yang ingin pada yang mungkin

setengah dari keduanya membentuk

sepasang matamu

 

Dari tanganku engkau selalu pergi

sebelum mengebat segala yang mungkin

sebelum aku tahu siapa yang mengutusku –

menggenggam dan menarikku

 

ke dalam lubuk tubuhmu

 

2013

 

 

Dalam Kapal Nuh

 

Seperti mantel bulu yang lembab

suaramu menyelubungi pikiran. Selubung

yang membuat tubuhku menjadi biru. Selubung

yang membuat kota ini menjadi air. Kota tempat

orang membuat kata-kata menjadi pelampung

 

Kutulis puisi berikutnya

dan kutinggalkan

 

aku melihat suaramu menjadi bayang,

tak berkejadian tak berkarena. Cahaya memantul,

terserap, dan berkelok. Ruang mengurai. Aku tidur

dan berjalan dalam air. Pikiranku dipenuhi sisik ikan

aku mendengar suaramu bergaung ke seluruh palung

 

Kutulis puisi berikutnya

dan kutinggalkan

 

Tidak seperti apapun

kuberkati segala yang menyelubungi

dirinya. Pelampung pencari yang tak berkejadian

yang tak berkerena. Suaraku wujud dan pikiran

dalam pergantian warna air dan kelokan cahaya

di luar dan di dalam segala bayangku

yang kau serap dan kau timbang

 

2013

 

 

Hikayat Aradea

 

Menyerupai hewan pengerat

seseorang berdiam dalam kepalaku

dipecahkannya pembuluh darahku sehingga

otakku tergenang dalam darah. Sejak itu

aku selalu tidur sambil mendengar

suara-suara yang menggema

dari dalam tanah

 

Tengah hari aku berjalan di atas air

bayang awan seperti lelehan sperma di gaun

biru seorang perempuan yang pendiam. Daun-daun

merah memandang jauh dalam mataku, merogoh

pikiranku, mencari-cari seorang yang bersembunyi

ke dalam kepala dan ginjalku

 

Malam hari jantungku berwarna biru

seluruh suara menggema dari dalam tubuhku

suara yang menjelma nyanyian perempuan bergaun

biru. Mendorong mesin cuci darah, kudatangi gedung

pertunjukan. Menyelinap dan berdiam dalam sebuah

adegan. Tepat ketika seorang penonton keluar

 

dari dalam tubuhku…

2014

 

 

 

Ahda Imran lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus, dan kini menetap di Bandung. Ia menulis puisi dan esai, serta bergiat di Selasar Bahasa. Kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Penunggang Kuda Negeri Malam (2008)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 17 NOVEMBER 2013

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 20, 2013 at 1:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

with 3 comments


 

Hantu Bernyanyi

 

Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi

dan lagi, juga titik dan koma, sambil dalam hati menyanyikan

lagu ciptaannya, yang di ingatannya tinggal beberapa larik:

 

  1. Berdering-dering Halo yang aku kirim sejak bertahun-

tahun lalu belum kau jawab hingga sekarang. Aku

tahu kau dengar.

 

  1. Kepalaku kampung, dipenuhi anak kecil yang

berlarian mengejar bayang-bayang mereka sendiri.

Aku melihat diriku.

 

Di layar komputer, ia lihat piano-piano seolah-olah

dikerubungi sekawanan semut. Jika ia pemabuk, pikirnya,

tanda-tanda baca itu menyerupai kunang-kunang.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Meski tidak mabuk, ia masuk kamar mandi. Ia siram

kepalanya. Ia kosongkan bak. Ia tetap tidak mampu

menghafal lagu ciptaannya sendiri.

 

Sisa-sisa air yang tertinggal ditelinganya seperti bisikan

kekasihnya yang pergi bertahun-tahun sebelumnya.

 

Setelah melepaskan handuk, ia tiba-tiba tidak bisa

membedakan antara kantuk dan angin. Ia berjalan ke tempat

tidur tanpa mengenakan apapun kecuali rambut yang tergerai

basah dan bekas luka.

 

Ia pejamkan semua mata lampu dan matanya. Ia lihat di

halaman bunga satu demi satu mekar bersama masa lampau.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyabab.

 

*

 

Ia tidur seperti tanda kutip dan semua yang ia lihat dalam

mimpi adalah pahlawan. Baginya, yang layak jadi pahlawan

hanya bunga-bunga dan anak-anak. Tetapi, bukan itu

maksudnya, katanya ketika terjaga oleh suara sirine yang

semakin mendekat.

 

Ia bertanya-tanya, apakah harus terjaga hingga pagi agar

mampu kehilangan mimpi. Ia tak mau dikejar-kejar mimpi

masa kecilnya. Masa kecil amat rakus, mengubah manusia

menjadi undur-undur.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Ia lapar. Sangat lapar. Ia seolah punya kekuatan yang mampu

memakan malam dan seluruh isinya. Ia lihat, di jendela,

bulan sudah habis ditelan pelan-pelan oleh bayangan bumi. Ia

merasa lebih kuat dari sekedar bayangan bumi

 

di tengah laparnya yang belum melahap apapun, ia lihat

mobil jenazah berhenti dan menunggu di depan rumah

tetangga. Ia ketakutan dan beberapa bagian lagunya yang

hilang tiba-tiba pulang menemaninya.

 

Jika aku menyukainya, ia bernama kesepian. Jika aku

Membencinya, ia bernama kesepian.

 

Aku akan pergi, aku akan segera pergi. Begitu juga

Denganmu. Begitu juga mereka.

 

Ia bernyanyi dan bernyanyi sendiri hingga ia raib ditelan

suaranya sendiri.

 

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi

penyebab.

 

*

 

Malam-malam berikutnya, penyanyi itu menghantui

rumahnya sendiri.

 

 

Menjadi Lumba-lumba

 

Aku pernah punya mimpi. Kau menulis angka-angka

penanda dibahuku, semacam tato permanen. Aku juga

menulis angka-angka serupa diperutmu, dan kau tertawa.

Ujung pisau yang aku gunakan menulis membuat rahimmu

geli. Kita telanjang, bergandengan tangan, berjalan dalam

dan tiba di tebing, lalu aku terjun ke sungai tapi kau

tidak.

 

Kelak, pada satu hari Sabtu, saat kau sibuk di kantor, aku

mencium pucuk hidung anak-anakmu di bibir kolam renang.

 

 

Menjadi Hantu

 

Aku ingin tidur seharian di sepatumu saat kau pergi ke kantor

menggunakan sepatu lain. Menunggumu di rumah tanpa

mengeluh.

 

Aku ingin jadi warna kesukaanmu, melingkari lehermu.

Berpura-pura sebagai selendang, karena seorang pria lain

tidak putus menginginkan dadamu.

 

Aku ingin mendengkur sebagai ular sawah atau angin di sudut

kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat,

mendekap, dan masih beraroma kita.

 

 

Belajar Berenang

 

Kau nyala langit yang biru pada pangkal bulan April dan

awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak

berundak-undak di belakang rumah dan bayangan pohon-

pohon yang menyembunyikan daun tua dan hewan melata.

Kau tebing dan suara angin yang memantul-mantul.

 

Kau nyali yang melepaskan pakaianku dengan malu-malu.

Kau langkah-langkah yang hendak dan tidak ke bibir jurang.

Kau tangkai pohon yang tidak kutahu namanya, tempat

tungkaiku gemetar sebelum terlambat memegang sesuatu.

 

Kau udara sesaat yang membuatku berdoa. Kau ketenangan

yang terbuka dan terluka menerima tubuhku yang telanjang

dan jatuh sebagai jala yang gagal mengembang. Kau ikan

warna-warni yang kaget dan sembunyi ke balik batu.

 

Kau benda-benda pendiam di kedalaman. Kau air yang tiba-

tiba keruh dan kepanikan yang menyakiti dadaku. Kau nyawa

yang lepas seperti balon-balon kecil dari paru-paruku.

 

Kau jari-jari air yang mengangkatku pelan-pelan ke

permukaan. Kau kekuatan yang kutelan dan kuembuskan

berulang kali. Kau kapak yang membuat lenganku bergerak

menggapai-gapai.

 

Kau keriangan yang tidak capai bergolak dalam darahku. Kau

Keseimbangan yang berhati-hati dan tidak menginginkanku

berhenti. Kau matahari yang memerahkan punggungku.

 

Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang

dan burung-burung yang mencari sarang. Kau senyum yang

kusembunyikan dari kemarahan ibu.

 

Kau kebahagiaan yang terlambat terpejam. Kau yang pertama

dan akan selalu basah dalam mimpiku. Kau yang terbangun

tengah malam dari mataku.

 

Kau sungai yang memanjang lalu melapang sebagai laut

karena khawatir aku jatuh sekali lagi. Kau masa kecil yang

sekarang kukenang dengan rasa bersalah dari dekat jendela

dadurat pesawat terbang.

 

 

M An Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Buku puisinya antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

KOMPAS, MINGGU, 3 NOVEMBER 2013

Written by Puisi Kompas

November 5, 2013 at 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: