Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Juli 2012

PUISI Muhammad Ali Fakih

with 2 comments


Di Laut Musik

 

di laut musik

aku ombak

berdebur

memanjang

mencari diam

yang hilang

di dalam engkau

 

Jogja, 2012

 

Pitalikurma

 

dari celah dedaunan, bulan masih bisa melihatnya tercenung sendiri

dan mengibaskan senyap yang memeluk matanya tak henti-henti

 

dari tirai jendela, senyap masih bisa melihat rindu

dan menagih dendam pada hatinya yang pilu

 

dari tilam cahaya, rindu masih bisa melihat rahasia

dan menghembus kabut ke lubuk dinginnya cuaca

 

dari telinga dan matanya, rahasia masih bisa mendengar dan melihat

segala yang tak didengar dan dilihat

segala yang membuatnya paham

bahwa yang nyata tak lebih hanya bayangan

dan kesedihan yang mendalam

 

Jogja, 2012

 

Muhammad Ali Fakih lahir di Sumenep, Madura, 8 Maret 1988.

Belajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

 

 

KOMPAS, MINGGU, 29 JULI 2012

 

 

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2012 at 7:00 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

PUISI JUN NIZAMI

leave a comment »


Meninggalkan Kei Raha

 

To Madadi anting-anting

To Mawele se Ni Ngau

To Madadi Ngofa Yau

To Malule se Ni Nyiho

 

Atau kaukah Janiba, bagi rusuk Samad

Yang hancur. Sofi Sado Sone,

Hikayat yang kekal dalam kubur

 

Hamsilana, Maitara di seberang pandang

Sedang engkau di pelupuk kenang

Menegaskan bayang-bayang

Menegaskan jarak yang terbentang

 

Foheka, menuju entah kapal-kapal

Berangkat. Di dermaga palu kapal-kapal

Merapat. Sedang kakiku, masih juga terasa

Berat

 

Foheka, Bandar Udara Babullah

Atau matakukah yang berkabut

 

Pulau-pulau menyusut, sepanjang

Perjalananku menyongsong maut.

Meninggalkanmu. Ribuan kilometer

Di atas permukaan laut

 

Tetapi seperti pula suaramu

Ingatanku bersenandung di situ:

 

Ku menjadi anting-anting

Ku menggantung di telingamu

Ku menjadi seorang bayi

Ku tertidur di pangkuanmu

 

2012

Ziarah

 

Akulah Eufrat, airmata

Sepanjang mesopotamia yang terluka

Juga Tigris, wahai Muharram merdu

Bagi Babylon yang habis jadi debu

 

Minumlah darah dari tubuhku

O Karbala yang dahaga

Sebab setiap kepala yang dilarungsungai

Dari beribu batang leher yang terpenggal

Mestinya adalah bahasa

Sejarah yang ganas

Anggur cinta yang keras

 

Maka tegaklah sabda dari huluhilir ziarahku ya Hurairah:

Akan terbunuhlah 99 dari tiap 100 orang yang berperang itu

Darah yang pasang, di tubuh airku yang surut

 

2011

 

Arumi Sedang Mengetik

 

Dari jam dinding itu, detik-detik runtuh pada punggungmu

Secangkir kopi di atas meja, dan daun-daun yang jatuh pada

Beranda. Arumi sedang mengetik, barangkali menulis puisi

Atau menyelesaikan paragraf kelima dari sebuah surat cinta

 

Dari almanak-almanak tua, tanggal-tanggal luruh begitu saja

Ketika dalam jauh, angin menyisir sebuah pasar malam yang

Sibuk, dan seorang anak kecil gemetar, menyaksikan komedi

Putar yang terbakar. Sementara aku menghalau kantuk.

Sepanjang jalan, di dalam kreta, yang tujuan dan jadwal

Keberangkatannya aku lupakan

 

Arumi terus mengetik, sementara aku sebagai kata-kata yang

Kerab gagal ia baca. Malam semakin larut, sementara waktu begitu

Rahasia. Seperti mata begitu juga cinta yang tak letih-letih untuk

Teraga: dalam dada dalam bising, juga telinga dengan

Pendengaran masing-masing: Menghidmati tembang mijil

Juga himne maut yang dinyanyikan seseorang di atas genting

 

2011

 

 

 

Jun Nizami lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, Bergiat di sanggar

Sastra Tasik (SST). Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa sunda dan

Indonesia. 

 

KOMPAS, MINGGU, 29 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2012 at 6:57 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Puisi FERDI AFRAR

leave a comment »


Peggendam

 

bukalah pintu sayu matamu

teras kosong yang terlupakan.

kami akan diam-diam meletakkan bandul jam,

juga lentik mantra agar kau tak terjaga

dari kegembiraanmu menghitung domba

melompat dari bimbang ke bimbang

berselimut bulan.

 

kami akan berjumpa di lubang ketidaksadaran

kemudian kami ikhlaskan setengah jiwa kami

berdiam pada kerling mata: perabotanmu yang

mengering, perasaan-perasaanmu yang kumal,

halaman-halaman kosong yang akan kau tulis

tentang kehilangan. ketika itu kami hanyalah

ingatan yang mampir, yang bolak-balik

Menyembul dan tenggelam dari balik

Kenangan.

 

2012

 

Pembiak Kata

 

sepertimu kami memilah kata.

pada parasnya, pada garing nyaring

suaranya,

pada kemolekan dan kesintalan dagingnya.

kami jejerkan, kami luruskan, agar tak ada

yang mencong atau bengkong.

kami letakkan kata pada tempat

yang membuatnya bahagia.

 

kami kesepian, memutar nasib

seperti mengulangi percobaan bunuh diri.

sepanjang hari gentar memutar gasing di

punggung. kami letih dan mendamparkan tubuh

di garasi.

di atas meja, di temaram cahaya,

kami bersendempel pada kata.

 

tiba pada gelap

kami bermalam pada lamunan

yang membuat kami tersa akrab.

berdua melompat-akrobat di celah kalimat.

melawan gigil jam dan rayuan bantal.

menapaki puncak paling sunyi.

ke negeri asing paling ghaib,

yang belum pernah kami temui.

Bersemanya kami berkelana mesra

Hingga subuh bercahaya.

 

2012

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Kumpulan puisinya yang

segera terbit berjudul Sepasang Bibirmu Api.

 

KOMPAS, MINGGU, 29 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2012 at 6:53 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »


Penyair Tidur

 

Penyair tidur. Tidur di sebelah puisi yang juga tidur. Dan

mulut penyair terbuka. Mulut puisi juga terbuka.

 

Dari mulut penyair bersembulan sekian kata. Sekian kata

yang akan jadi kalimat.

 

Dan dari mulut puisi hadir kampung. Kampung yang

gampang mengubah letak dan penghuninya.

 

Kalimat dari mulut penyair melayang. Kampung dari mulut

puisi merekah. Keduanya saling pandang.

 

Keduanya saling berbisik: “Apa yang mesti dibikin? Kisah

damai, enteng, penuh warna? Ataukah, kisah gempal dan

sesak barut?”

 

kalimat dari mulut penyair mengerling. Terus meliuk.

Meliuk seperti tarian burung gaib berburu bintang.

 

Kampung dari mulut puisi tak mau kalah. Lalu mengigal.

Mengigal seperti gunung lepas pasaknya.

 

Dan keduanya pun terbang. Saling isi dan tolak. Saling

bentang dan lipat. Sedang jejak keduanya pun menyeleret

sampai jauh.

Sampai siapa saja yang melihatnya (siapa saja yang juga

tidur), merasa itu adalah hal-ihwal yang penuh kiasan.

 

Yang jadi kiasan buruk, maka meski segera terbangun.

Tapi jika sebaliknya, malah berharap untuk terus

Menyeleret.

 

Dan terus diburu. Sebab, ada keyakinan yang diam-diam

tersimpan: “Seleret itulah yang akan dapat membantu siapa

saja.”

 

Untuk memahami: “Mengapa dalam tidur, warna dan

Barut lebih mesra dan tepercaya?”

 

Sejurus kemudian (masih dalam tidur), penyair

Mengatupkan mulut dan tersenyum. Begitu juga puisi.

 

(Gresik, 2012)

 

Kapal Selam

di depan wonny

 

Dua menara. Yang satu menjulang. Satunya lagi masih

setengah jadi. Dikurung cetakan yang mirip ramraman.

Atau kandang besi bagi ular besar yang membeku dan

Menegak ke atas. Seperti ingin menyentuh awan di angkasa.

 

Lalu di bawahnya rumah ibadah. Rumah ibadah lenggang

Jam 9 pagi. Dan di depan rumah ibadah orang-orang begitu

bergegas. Seperti ada yang diarah. Padahal, Cuma

berputaran. Dan sorenya balik lagi ke rumah. Rumah

dengan keluarga yang melambai.

 

Apa kau masih menatap rumah ibadah itu? Ahai, lampu-

lampu yang dipadamkan. Kabel-kabel yang dibentang. Apa

kau juga masih membayangkan, jika seluruh tanah yang kita

pijak ini bukanlah daratan? Daratan keras dengan rumput

dan pohon?

 

Lalu, lihat air mancur di kejauhan. Air-mancur yang

sesekali macet. Air-mancur dengan kolam yang keruh. Dan

penuh berudu. Di sanalah pernah kita bicarakan:

“Seandainya, dulu di zaman-air kita dilahirkan, pastilah

tidak begini.”

 

Tapi punya sirip, ekor, insang dan sedikit sisik yang licin.

Sisik yang warnanya gampang dipilih. Juga dua bola mata yang

leluasa melihat, betapa rumah ibadah itu dan semua

perabotannya akan melayang. Melayang dengan luwes.

 

Melayang di kedalaman aor yang biru. Melayang seperti

Kapal selam yang bertenaga ricik dan debar. Kapal selam

yang persis di jantungnya, ada kulit tipis menyala yang

tembus pandang. Kulit tipis yang lebih mirip tirai daripada

sekat.

 

Kulit tipis yang membuat siapa saja dapat keluar-masuk.

Dengan penuh keriangan. Dan selaan: “Inilah zaman-air.

Zaman, di mana kita bisa mengalir dan menghilir ke mana

saja. Dan beribadah pada-Nya, yang juga mengalir dan

menghilir ke mana saja itu.”

 

(Gresik, 2012)

 

Sahabat Laut

 

Seperti manusia, sahabat laut bisa berganti bentuk. Jika

senang akan gemuk. Jika susah akan susut. Terus

memanjang. Seperti pilinan yang terentang dan hidup.

Menelusupi celah, lubang dan kedalaman. Kedalaman

Yang jauh dari pikiran.

 

Dan seperti manusia, sahabat laut pun bisa berbahagia.

Berlarian. Melompat. Tiarap. Dan sesekali meraih kupu-

kupu dan capung. Meski tak pernah bisa. Lalu jika lelah

tiba, pulang ke biliknya. Pulang dengan keringat dan debu

di tengkuk.

 

Dan di biliknya, seperti manusia juga, sabahat laut punya

ayah dan ibu. Ayah dan ibu yang bahagia. Yang tak lupa

dikabarkan selalu membaca koran dan menyulam. Ayah dan

ibu yang bercerita tentang si monyang yang perkasa, sakti

dan misterius.

 

Si moyang yang bekerja sebagai tukang kebun. Yang

menggarapi kebun berdinding tinggi. Dinding yang

terhampar dengan sekian penjaga. Yang konon tak pandai

menebak. Tapi tak boleh bertanya: “Kenapa datang. Apa ada

yang bisa dibantu?”

 

Dan seperti manusia, sahabat laut memang senang menemui

sesamanya. Dan jika sudah bertemu, maka omong-omong

pun tergelar, mulia dari soal parit yang mempet, warung

kopi yang cuek, sampai pada tuhan yang selalu ingin

disertakan.

 

Sebab, merasa: tuhan adalah si penyepi yang perlu untuk

dihibur.

 

(Gresik, 2012)

 

Kuatrin Tapi

 

1/

Kau berjalan ke utara dan lurus terus.

Dan di sebelah selatanlah kau jumpai kemah.

Tapi sewaktu berjalan itu, kau mengira

jika selatan selalu ada di hadapanmu.

 

2/

Kau tertawa ketika menemukan sesuatu.

Tapi sekian tahun ke depan, apa tawamu

itu masih kau ingat? Hmm, kepedihan waktu

yang selalu meniupkan alpamu.

 

3/

Sungguh, kau memang mencintai yang ini.

Tapi kau juga mencintai yang lainnya. Maka,

Bagaimana mungkin dua cincin cinta mengilat kau

lingkarkan di satu jari manis?

 

4/

Kau makan siang dengan secukupnya.

Bekerja, berdoa dan berak juga secukupnya.

Tapi di saat aku berangkat tidur malam, selalu

saja ada sisa tai yang melungker di ususmu.

 

5/

Tapi dan tapi tak bosan kau nyatakan. Seakan

semua bergerak berkesinambungan. Coba lihat,

ketika kerentaan menghampiri rongga hidupmu,

apa gigi yang rontok tersambung balik?

 

6/

Oh, mani, kencing, tai, keringat, ingus dan ludah.

Oh, yang encer seumur-umur yang keluar dari tubuhmu.

Tapi, siapa yang sanggup menakar, berapa

ratus tong jika itu semua terwadahi.

 

7/

Kau berkata: “Betapa bodohnya dia!” Tapi dia

yang cukup bodoh malah tersenyum. Terus menyela:

“Cukup hanya aku dan dia yang tahu bodohku.

Tak ada yang ketiga!”

(Gresik, 2012)

 

Mardi Luhung lahir dan tinggal di Gresik, Jawa

Timur. Buku puisinya, Buwun (2010), mendapat

Anugerah Khatulistiwa Literaty Award 2010.

 

KOMPAS, MINGGU, 22 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 23, 2012 at 6:36 am

Ditulis dalam Puisi

PUISI EDWAR MAULANA

leave a comment »


Meja

 

1

Ia tak mengerti arti pukulan

yang baru saja menimpanya

tapi menyadarkanmu bahwa

laki-laki pemarah itu tengah

benar-benar marah

 

2

Tak bisa membedakan

antara airliur yang jatuh

ketika kau tidur dan airmata

yang tumpah setelah laki-laki

pemukul itu benar-benar

memukulmu.

 

3

Ia hanya benar-benar basah.

 

2011

 

 

 

 

 

Kuku

1

Ia menganggap cintanya semisal kuku

yang tumbuh di jari tangan dan kakinya

yang mesti dirawatnya dengan sangat hati-hati

dengan rutin dibersihkan dari kotoran-kotoran

dari sebutan jorok dan menakutkan.

 

2

Ia takut jika suatu ketika tak sengaja

kuku yang tajam itu melukai leher

lekasihnya, atau wajahnya sendiri.

 

3

Ia mesti memotongnya tidak terlalu pendek

Supaya tetap bisa menggaruk kepalanya

Yang tiba-tiba terasa gatal, ketika melihat

Kunang-kunang di suatu malam, entah di mana.

 

2011

 

 

EDWAR MAULANA lahir dan tinggal do Cianjur, Jawa Barat.

 

KOMPAS, 15 JULI 2012

 

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2012 at 11:11 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI Alizar Tanjung

leave a comment »


Gulai Jantung

 

dirimu jantung pisang, diriku seongok danging yang beruas dan

berpilin ujung ke ujung, ditumbuhkan darah jantungmu dan

jatungku. aku menyaksikan jantungku kumpulan darah sedangkan

jantungmu kumpulan warna.

 

jantungmu dari tebasan parang, ke pangkal tubuhmu, tentu saja

luka itu adalah busuk, tumbuh itu adalah pucuk, sebeb itu kau biak

dari dua tubuh, satu dari jantung batang, satu dari urat

pangkal.

 

dalam kelopak bidukmu yang karam ke dalam daging jantung,

dirimu menyimpan anak-anak udang yang bengkok, bercangkang

lunak, hidangan makan malam, menikmatimu di lidah menikmati

bibir. dalam cerup jantungku yang berbibuk bungkuk,

akan aku simpan jantung yang lain.

 

pada bidang meja yang sama, sendok dan garpu tertelungkup,

gelas kristal kosong, serbet melipat ujung ke ujung di kotak plastik,

dirimu menyelami santan menyelami rasa lidahku, menyelami

kenikmatan keluar dubur. diriku menikmati keterasingan makan malam.

 

sebab itu kita berbeda

 

2011

 

Tangga Menuju Ular

 

di kayu kendur aku turun dari tangga cahaya

paling atas, meneruni lereng kerikil terjal perut

ular betina. katanya di bawah jembatan sana,

di penurunan ketujuh di rumpun pisang, seekor

ular siap menghisap selembar kain panjang ukiran

batik, melingkar di balik lapisan batu.

 

konon katanya ular yang berdiam ratusan tahun,

menghisap segala yang lewat dalam tubuh,

dan aku benar-benar sampai di pangkal cahaya.

rumpun batang pisang tua, bunga rumput teki,

jalar akar bunga bakung, hidup di parit batu.

 

entah pada penurunan keberapa lepas

dari cahaya, aku sampai di sarang ular betina,

lapisan-lapisan batu, akar-akar pakis rasan, aku

terlahir baru di rahang ular betina – batu-batu

melengkung dari tangan tetua. ular betina

menghisap daun-daun pisang muda, ular betina

menghisap puting jantung pisang.

 

Padang, 2011

 

 

 

Ruang Rumah Masa Lalu

 

kapan terakhir kali kita bertengkar?

 

aku menemukanmu sebagai batang kayu mati, menjalar

sebagai dinding, lantai, jendela-jendela tertutup, lae.

tubuhmu kumpulan warna kusam rayap di atap, bunyi siul

temali jemuran, denting seng siang hari, lubang atap, sebab itu

kutemukan dirimu adalah cahaya jahat yang menyediakan

lubang hujan. kamu sediakan tubuh bagi angin, masuk dari

lubang dinding, aku sadari ini sudah sangat lama.

 

kita sudah lama tak bertemu, terakhir kali kita ketemu, kau

menjelma akar kayu, membelit masa lalu, akar serabutmu

menjulai ke masa depan, lalu masa depan telah masa lalu.

aku foto-foto di dinding, warna-warna kabur, kaca-kaca

etalase, akarmu membelit akar tubuhku. lalu hujan adalah

tamu kenangan yang menginap minum kopu, tandas candu

itu.

 

kau kemudian pecahkan kayu dalam tungku, yang aku

temukan abu tungku, tiga buah batu, bulu-bulu kucing yang

tidur semalam, kencingnya yang amis, jaring-jaring lawah

tua, nyamuk-nyamuk yang terperangkap, sisa-sisa

penggorengan di kawah kuali. aku masa lalu.

 

2011

Kehilangan Tebu

 

Kas

Kita berbahagia di kilangan tebu, menampung air di

paraku, mendorong kayu bersama sapi gemuk, seperti

mengelilingi lingkaran bumi yang kecil, kita tertawa,

membiarkan bibir kita beruap air tebu, sungt-sungut putih

tumbuh di lengkung bibir atas kita, sampai siang tengah

hari kita berjalan sepanjang putaran sepanjang bundaran.

 

Membesarkan masa lalu membesarkan rumpun tebu dari

potongan-potongan batang tua, menanamnya di tanah,

bertunas dan menjulang ke langit, beruas-ruas buhul, ada

yang begitu ruang di krisik daun. Air-air temu mengangkut

ke kuali, mematangkan gula, kita membuat acuan betung

dan lingkaran daun tebu. Meneteskan gula hangat.

 

Acuan-acuan kecil itu acuan gula-gula tebu mungil di hari

bermain senja hari, menikmati kelereng, gambar, kajai,

tanek-tanek, mobil-mobil kayu, gatal-gatal miang tebu.

melewati jalan-jalan setapak ladang tebu itu kita membau

aroma sepelah-sepelah tebu, lumpur-lumpur sehabis hujan.

 

2011

 

 

 

ALIZAR TANJUNG lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN

Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, 15 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2012 at 11:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KEDUNG DARMA ROMANSHA

leave a comment »


Hikayat Perkawinan

bulan ngantuk

bersandar di punggung malam

angin mengantarkan masa lalu yang dingin

dan suara-suara seperti roh masa silam

yang ingin mencekikmu dari belakang.

siapa yang kehilangan?

siapa yang akan melengkapi tubuhmu?

ada semacam bau syahwat

yang akan menyumbat hidungmu.

dan kau mengendus-endus bagai anjing lapar

yang kehilangan tuannya.

sementara takdir sudah lebih dulu

mendapati surga yang sepi

ingin mendapatkan tempatnya.

 

kita selalu mengulangi takdir yang sama

dosa yang sama

selalu menjadi lupa

bahwa baik-buruk dapat tempat yang sama

inilah awal mula perkawinan itu

yang bikin kita terusir dari diri sendiri

rumah yang dulu mengusirmu di sini.

 

Sanggar Suto, 2012

 

Tebu

hiruplah wangi tubuhku

kau akan tahu

ke mana dialamatkan darahku:

kota-kota yang dikristalkan

di buku-buku yang berdebu.

 

hiruplah bau tubuhku

dari tulang-tulang besi berkarat

ketel yang terbatuk-batuk

pipa-pipa yang macet

dan limbah gula yang kecut.

 

rasakan perasan keringatku

di segelas teh hangat

sambil duduk manis

nonton gosip selebritis,

iklan coca-cola, pepsi

dan berita korupsi

yang tak pernah mati.

di sebuah minggu yang cerah

april yang basah.

 

pabrik-pabrik menanamku

getah tubuhku dikristalkan

dijual di toko-toko.

dan supermarket menanam tebu-tebu asing

lalu toko-toko meranggas

masa lalu kembali tumbuh di kota-kota

dan kita menjadi kutukannya

sebab sejarah menanamku

dalam buku-buku

 

minumlah aku

air mata yang meretas dari tuhub kurusku

agar kau tahu pahitnya kenangan

pahitnya pengkhianatan.

 

Yogya, 2012

 

Barangkali Ada yang Ingin

Kau Tanyakan

hujan tumpah

langit meludah.

kita berkemas

dari masa lalu yang cemas.

 

pertemuan kita tersangkut di jalan

tenggelam dalam secangkir kopi hitam

masa silam yang dingin.

 

bunyi telpon

bunyi alarm

mengingatkan mimpi semalam

pada senyummu yang basah

mulutmu yang resah.

 

Kita cerita tentang kursi-kursi yang berdebu

Ruang tamu yang berantakan

Uang kontrakan yang belum dibayar

Dan bau pesing kamar mandi.

 

Apa yang kau ramalkan dari masa lalu saudara?

Ramalan nasib yang membelot dari rencana

Pertemuan yang tak terbayangkan sebelumnya

Jadi hantu di tubuhmu

Tumbuh serupa tulang dan rambut di kepalamu

 

Yogyakarta, 2004-2011

 

 

Kedung Darma Romansha lahir di Indramayu, Jawa Barat,

1984. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa Dan

Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, ini bergiat antara lain di

Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.

 

 

 KOMPAS, MINGGU, 1 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2012 at 1:41 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTYO

with 3 comments


Senandung Jagung

beginilah aku sekarang, kering dan pirang, dengan selimut keras bagi cangkang.

semenjak biji disebar di luas ladang. lalu ditinggalkan.

aku kenang saat-saat paling tentram. di antara segunduk teman.

 

mengapa aku yang terpilah. untuk mengulang kelahiran.

bila bisa, aku memilih lunak dan larut di perut ternak.

atau terhidang di piring perjamuan. ketimbang memandang

mata yang berbinar. membayang di ladang dedaun kembali berkibar.

 

tapi tak kuasa aku atas nasibku sendiri. mesti dengan begini

kusaksikan lincir sunyi tersembunyi dari sudut kabut.

menjadi selimut binar yang sebentar. hanya sebatas pagi sebelum tinggi matahari.

memaksa bakal-batang mengeras sebagai tunas yang cemas.

 

beginilah aku sekarang. pirang dan terpanggang. bukan oleh panas dari arang

para pedagang yang menunggu orang begadang. melainkan oleh siang

dan riang tembang penagih hutang. bertebaran sepanjang jalan menuju pemukiman.

 

2012

 

Nirmala

langit sangat bersih. tapi hamba ingin tidur dan merasa letih.

di dunia ini hidup dimulai sebelum pagi. meski hamba

telah lama mati. menyisakan diri yang terlanjur dikenali.

 

sebagai anumerta. hamba tak punya apa-apa.

bahkan cinta yang konon dimiliki setiap manusia.

juga nostalgia. hanya kadang ia kelihatan berjalan-jalan

antara ingatan dan keinginan melupakan.

 

saat itu hamba hanya ingin nirmala. bola mata yang pernah

memenjara. tapi di mana nirmala, hanya citra. tak sampai nyata.

hamba merasa lebih tua dari prasasti tersembunyi. bilamana hari mulai sibuk.

manusia ramai mengutuk. mengetuk pintu-pintu mimpi.

 

tapi hamba sudah penuh. mengelembung bagai balon mainan.

anak-anak hamba berlarian mengejarnya. istri hamba memandang dengan hampa.

lalu hamba melayang tak terjangkau siapapun. ke langit yang bersih.

mencari ia sepanjang usia membuat hamba bergelimang sedih

 

2012

 

Penangkar Bekisar

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

mempimpikan biru bulu berkilat itu hinggap

di tiang-tiang kayu. bukan sebab tergoda oleh suara

melainkan karena darah mereka sehitam kesepian yang disimpan

dan dilayarkan bersampan-sampan

 

maka akan ia temukan telur menekur, seakan butir atma lepas

dari tubuh petapa. menunggu moksa.

 

di pulau jauh, sebentang tangkaran dihuni pohon teluh

unggas ekor panjang terbang bergegas. bulu-bulunya ranggas

seakan gentar pada getah pencari damar.

karenanya ia mesti kembali. setelah memasang jerat-tali

dan menerka, apakah datang si jantan tua

atau unggas remaja yang buta sebab birahi pertama

 

keduanya tak berguna bila si betina tak tiba sampai senja

sebab cuma padanya butir telur betul-betul subur

bekerja memasang sayap, menaruh paruh, menanam taji

jadi bakal sulung yang tenang melengkung

hingga suatu petang menendang dinding cangkang

 

sudah lama ia berkenan pada yang tak berkandang

membayangkan telur-telur berserakan seperti jamur

bukan sebab tergoda oleh harga. melainkan karena tabiat mereka

serumit kesedihan yang menjelma linang

di mata penghuni hutan

 

2012

 

KIKI SULISTYO lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari 1978.

Ia bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

Mataram, Nusa Tenggaa Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 1 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2012 at 1:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: