Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Edwar Maulana

PUISI EDWAR MAULANA

with one comment


Enam Bagian Kepercayaan

 

1

Tuan yang sendirian, duduk di atas batu

menunggu yang tersesat di rimba siang

dan belukar malam.

 

Adakah kesepian itu.

 

Tidak, barangkali

hanya saja peta di tangan terlalu kusam

di remas-remas ribuan pertanyaan

hingga kami tak dapat alamat, lengkap

dengan nama jalan atau nomor rumah.

 

Maka. Biarkan kami mencari

atau tuan menampakkan diri.

 

2

Kalian yang duduk di bahu kanan

dan kiri. Mengumpulkan setiap percik api

atau tetes air yang aku pakai untuk mandi.

 

Jangan sampai salah menjumlah

tak tepat mencatat setiap surat

yang kutulis tanpa alamat.

 

Sebab waktu adalah satu-satunya langkah

yang tak pernah mau berbalik arah

dan masa lalu tak pernah bisa diubah.

 

3

Mereka yang selalu berpindah-pindah

membawa kabar kegembiraan.

 

Kadang, mengajak kita berperang

mencari istri dan mencintai kematian.

 

4

Peristiwa yang usai dituliskan

pada pelepah-pelepah kurma.

 

Bukalah

setiap kali kau merasa sepi

atau ingin memperbanyak istri

atau ketika kau lapar dan bertengkar.

 

Bacalah, sampai tak ada lagi

yang bisa dipercaya.

 

5

Kau yang memaksa mereka

berjalan dan mati di garis tangannya sendiri.

 

6

Yang terakhir datang

ketika cahaya berkumpul, muncul

dari arah senja, ketika tak lagi ada ibu

atau orang-orang

yang mengajak berperang.

 

Atau ketika langit berhenti

menjatuhkan suara-suara.

 

 

 

Usia

 

Kita lahir daru bulan yang bulan

dierami malam sampai jarum jam

melempar lengking azan.

 

Lalu, usia serupa daun yang jatuh

sehelai demi sehelai meninggalkan subuh

langkah kita seperti tergesa, menuju bahaya.

 

 

 

Air

 

Kemudian, di punggungmu

kami jadikan perahu, diayunkan

riak, di bawah kepak gagak.

 

O. Siapa pun.

 

Biarkan kami tenggelam

biar ikan-ikan tak keleparan.

 

 

Edwar Maulana lahir di Cianjur, Jawa Barat, 8 September 1988. Buku kumpulan puisinya adalah Tembang Sumbang (2012) dan Peryataan Cinta (2013).

 

 

PUISI KOMPAS MINGGU, 27 APRIL 2014

Written by Puisi Kompas

April 29, 2014 at 11:04 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI EDWAR MAULANA

leave a comment »


Meja

 

1

Ia tak mengerti arti pukulan

yang baru saja menimpanya

tapi menyadarkanmu bahwa

laki-laki pemarah itu tengah

benar-benar marah

 

2

Tak bisa membedakan

antara airliur yang jatuh

ketika kau tidur dan airmata

yang tumpah setelah laki-laki

pemukul itu benar-benar

memukulmu.

 

3

Ia hanya benar-benar basah.

 

2011

 

 

 

 

 

Kuku

1

Ia menganggap cintanya semisal kuku

yang tumbuh di jari tangan dan kakinya

yang mesti dirawatnya dengan sangat hati-hati

dengan rutin dibersihkan dari kotoran-kotoran

dari sebutan jorok dan menakutkan.

 

2

Ia takut jika suatu ketika tak sengaja

kuku yang tajam itu melukai leher

lekasihnya, atau wajahnya sendiri.

 

3

Ia mesti memotongnya tidak terlalu pendek

Supaya tetap bisa menggaruk kepalanya

Yang tiba-tiba terasa gatal, ketika melihat

Kunang-kunang di suatu malam, entah di mana.

 

2011

 

 

EDWAR MAULANA lahir dan tinggal do Cianjur, Jawa Barat.

 

KOMPAS, 15 JULI 2012

 

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2012 at 11:11 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: