Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘JUN NIZAMI

PUISI JUN NIZAMI

leave a comment »


Meninggalkan Kei Raha

 

To Madadi anting-anting

To Mawele se Ni Ngau

To Madadi Ngofa Yau

To Malule se Ni Nyiho

 

Atau kaukah Janiba, bagi rusuk Samad

Yang hancur. Sofi Sado Sone,

Hikayat yang kekal dalam kubur

 

Hamsilana, Maitara di seberang pandang

Sedang engkau di pelupuk kenang

Menegaskan bayang-bayang

Menegaskan jarak yang terbentang

 

Foheka, menuju entah kapal-kapal

Berangkat. Di dermaga palu kapal-kapal

Merapat. Sedang kakiku, masih juga terasa

Berat

 

Foheka, Bandar Udara Babullah

Atau matakukah yang berkabut

 

Pulau-pulau menyusut, sepanjang

Perjalananku menyongsong maut.

Meninggalkanmu. Ribuan kilometer

Di atas permukaan laut

 

Tetapi seperti pula suaramu

Ingatanku bersenandung di situ:

 

Ku menjadi anting-anting

Ku menggantung di telingamu

Ku menjadi seorang bayi

Ku tertidur di pangkuanmu

 

2012

Ziarah

 

Akulah Eufrat, airmata

Sepanjang mesopotamia yang terluka

Juga Tigris, wahai Muharram merdu

Bagi Babylon yang habis jadi debu

 

Minumlah darah dari tubuhku

O Karbala yang dahaga

Sebab setiap kepala yang dilarungsungai

Dari beribu batang leher yang terpenggal

Mestinya adalah bahasa

Sejarah yang ganas

Anggur cinta yang keras

 

Maka tegaklah sabda dari huluhilir ziarahku ya Hurairah:

Akan terbunuhlah 99 dari tiap 100 orang yang berperang itu

Darah yang pasang, di tubuh airku yang surut

 

2011

 

Arumi Sedang Mengetik

 

Dari jam dinding itu, detik-detik runtuh pada punggungmu

Secangkir kopi di atas meja, dan daun-daun yang jatuh pada

Beranda. Arumi sedang mengetik, barangkali menulis puisi

Atau menyelesaikan paragraf kelima dari sebuah surat cinta

 

Dari almanak-almanak tua, tanggal-tanggal luruh begitu saja

Ketika dalam jauh, angin menyisir sebuah pasar malam yang

Sibuk, dan seorang anak kecil gemetar, menyaksikan komedi

Putar yang terbakar. Sementara aku menghalau kantuk.

Sepanjang jalan, di dalam kreta, yang tujuan dan jadwal

Keberangkatannya aku lupakan

 

Arumi terus mengetik, sementara aku sebagai kata-kata yang

Kerab gagal ia baca. Malam semakin larut, sementara waktu begitu

Rahasia. Seperti mata begitu juga cinta yang tak letih-letih untuk

Teraga: dalam dada dalam bising, juga telinga dengan

Pendengaran masing-masing: Menghidmati tembang mijil

Juga himne maut yang dinyanyikan seseorang di atas genting

 

2011

 

 

 

Jun Nizami lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, Bergiat di sanggar

Sastra Tasik (SST). Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa sunda dan

Indonesia. 

 

KOMPAS, MINGGU, 29 JULI 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2012 at 6:57 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

%d blogger menyukai ini: