Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Wendoko

PUISI WENDOKO

leave a comment »


Musim Hujan, Tahun Baru

 

/1/

Pernahkah kaudengar cerita:

Sebelum tahun baru, Nian – raksasa bertanduk

dan bermata lebar – kerap  mendatangi desa-desa.

Nian akan melalap panen ladang, ternak, atau manusia.

Karena itu penduduk menaruh sisa panen di depan rumah

–          lalu menutup pintu dan jendela-jendela.

Sampai suatu malam, ketika Nian menjerit-jerit

karena bocah yang berpakaian merah.

 

Atau, pernahkah kaudengar cerita:

Li Zhi-chang, si pemberontak itu

menyeru penduduk menggantung lentera merah

–          agar terlepas dari malapetaka.

 

Sebelum tahun baru, Ibu menempeli dinding rumah

–          juga pintu dan bingkai jendela – dengan kertas warna merah.

Lalu guntingan kertas berkarakter keberuntungan,

kekayaan, kebahagiaan, dan umur panjang.

 

Di depan pintu menggantung dua lentera merah.

 

Ibu juga menggosok seisi rumah

–          menyapu dengan nasib buruk dan membuka Jalan Keberuntungan,

sebelum menyimpan sapu di bilik belakang.

 

Di ruangan depan bertumpuk makanan dalam bungkus besar.

Tapi bersabarlah sampai tiga hari ke depan.

Kita sudah menyantap labazhou, bubur dengan bijian kacang

–          sekedar menghormat dua belas dewa.

 

/2/

Sebelum tahun baru, Dewa Tungku pulang ke Istana Dewa

–          setelah satu tahun lamanya mengamati gerak-gerik kita.

suguhkan makanan yang manis dan gula-gula,

agar Dewa Tungku tak melapor yang buruk tentang kita.

 

Ibu sudah menanak niangao

–          kue manis dari tepung ketan, gandum, sedikit garam, lalu gula.

Bentuknya bulat, semoga keluarga rukun bersatu-bulat.

 

Ayah sudah membersihkan meja altar

–          mencopot dekorasi lama, lalu menaruh niangao dan gula-gula.

 

Di depan rumah ia membakar patung kertas.

 

“Ini Zao-jun, si Dewa Tungku,” katanya.

“Kita mengantar Dewa Tungku ke Istana Dewa,

untuk bertemu dengannya tahun mendatang.”

 

Tapi lembab sekali di luar rumah.

 

/3/

Ada hidangan-hidangan di meja:

 

Louhan zhai, aneka sayuran dalam nampan.

Irisan wortel, kubis, rebung, kulit-tahu, jamur dan kacang

–          artinya kemakmuran.

 

Tumis ikan dalam piring besar.

 

Tapi kata ibu, tak boleh disantap sampai tuntas –

Harus ada sisa untuk disampan, artinya kelimpahan.

 

Daging gulung dan sosis, dengan potongan daun bawang.

Daun bawang artinya menghitung uang.

Irisan sosis, bukankah mirip uang logam?

 

Mie dengan telur-telur bulat

–          tapi jangan digigit waktu bersantap.

Sedot keras-keras, semoga umurmu panjang.

 

Di ujung meja, jeruk berkulit keemasan

–          artinya keberuntungan.

Lalu apel-apel merah, semoga ada setahun yang lancar.

 

Paman Lou sudah datang.

Ia sedang bercakap-cakap di ruang depan.

Paman San dan Bibi di perkarangan rumah.

Tetapi mana bibi Fang?

Mungkin sedang membantu Ibu di belakang.

 

Sebelum santap malam, ucapkan doa-doa.

Tahun lalu Kakek sudah tak ada.

Ingatlah para leluhur – dan kita bersyukur

untuk satu tahun yang telah lewat.

 

/4/

Ada rangkaian bunga di meja:

 

Bunga prem, kumkuat dan terong.

Bunga persik, lili, lalu ranting-ranting bambu.

 

Prem dan kumkuat artinya kekayaan.

Terong, semoga kau dilimpahi kesehatan.

Bunga persik artinya berkat, lili itu ketenangan.

 

Ibu membeli dari bazar di dekat rumah.

 

Di ujung jalan ada suara tambar, simbal dan tarian naga.

 

/5/

Shen-tu dan Yu-lei, dia penjaga Gerbang Tanah

suatu saat turun Gunung Persik di utara.

Mereka menghabisi setan-setan –

yang saban hari melalap bunga persik di sana.

Tak hanya bunga, tapi juga menggerogoti batang.

 

Karena itu selama tiga puluh hari pertama,

kita menaruh patung Shen-tu dan Yu-lei di pekarangan.

Tak hanya menolak bala, tapi juga menjerat keberuntungan.

 

Tapi gantungkan juga gambar Dewa Kekayaan.

dan tuliskan bait-bait sejak beruntai –

seperti dulu yang dicontohkan Kaisar Meng Huang.

 

Sebentar lagi rombongan orang itu akan lewat.

Mereka berteriak “Dewa Kekayaan telah datang!”

Sudahkah kauletakkan meja di dekat pagar

–          lengkap dengan kue dan gula-gula?

Jangan lupa sisipkan uang ke amplop merah,

agar tahun ini beban kita berkurang.

 

Sekarang kainian. Kakak Ing pasti datang.

Ia akan datang dengan si mungil yang tampan.

 

/6/

Pernahkah kaudengan cerita:

Qu Ming, saudagar muda itu

sekali waktu terdampar ke pulau berbatu-batu.

ia dijamu oleh empunya pulau, dan sebelum pulang

Qu Ming meminta Ru Yuan – si pelayan yang jelita.

Mereka serumah dalam satu musim panas,

lalu perlakuan Qu Ming berubah kasar.

Suatu hari Ru Yuan menjelma asap – lenyap

ke dalam sapu, dan menyapu habis seisi rumah.

 

Tetapi sekarang saatnya membersihkan rumah,

setelah empat hari lamanya

kita menyimpan sapu di bilik belakang

–          agar tak menyapu harta keberuntungan kita.

 

Adik, jangan lupa singkirkan sesaji dan dupa.

Lalu pandanglah langit dan gugusan awan.

Kita membaca langit dan pertanda

–          barangkali langit akan bersih sampai tahun mendatang.

 

Gantungkan juga kain merah di pintu depan.

Bukan, bukan untuk menakuti Nian – karena

sekarang hari kelima. Kita gantungkan kain merah

sekadar menjaga kedamaian.

 

/7/

Ranting-ranting mulai menunas.

Angin mengusik, tapi langit tak berawan.

 

Semalam, setelah lewat tengah malam

kita menghanyutkan sampan kertas dengan lentera

ke sungai. Biarkan ia berlayar

–          terantuk-antuk, dan terbawa arus ke lautan.

 

Tapi pagi ini jangan ke luar rumah.

Dewa Amarah sedang berkeliaran.

Tidurlah lebih cepat, dan jangan lupa

tebarkan beras atau biji-biji ke lantai.

 

Biarkan tikus-tikus berpesta, sepanjang malam.

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah menerbitkan

Beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012).

Sebagian puisinya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris

Dan terbit dengan judul Selected Poems (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 26 Januari 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 26, 2014 at 7:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI WENDOKO

leave a comment »


Dongeng Sebelum Tidur (15)

 

Kau suka menyelipkan melati ke rambutmu.

Harumnya jadi aneh waktu bercampur bau rambut – lebih

lembut dari sitrun. Tetapi sitrun adalah harum yang paling

lembut, begitu katamu. Tahukan kau, melati selalu

mengambil harumnya dari bau lain di dekatmu?

 

Tentu aku tahu. Saban hari kau yang merawat

bunga-bunga di kebun. Kau menyapu daun-daun prem yang

rontok, menata letak batu-batu, dan membuat gundukan tanah

di rumput. Kau yang menanam tanaman rambat di dinding,

lalu mengatur bambu-bambu menutup dinding yang

menyudut. Kau pintar merawat tangkai bunga atau memotong

batang, karena itu kau akrab dengan bau-bauan itu. Tapi kau

paling menyukai anggrek dalam pot. Itu anggrek musim semi,

katamu. Harumnya tak menusuk, tangkainya ramping, dan

kelopaknya serupa lotus. Warnanya juga putih-keruh. Kau

juga menyukai azalea, yang jarang kaupangkas dan karena itu

tak tumbuh merumpun.

 

Di pondok mungil kita, kau yang menanam bunga-

bunga dalam pot. Sampai tak ada lagi tempat kosong.  Kau

menyusun krisan, selusin atau dua puluh – dalam pola tak

berimbang dan aneka bentuk. Tak boleh terlalu rapat,

katamu, agar bunga-bunga tak berdesakan atau saling

menumpuk. Kadang kau mencampur bunga-bunga, lalu

menyelipkan batang rumput – dan memakai penjepit agar

tangkai tegak dan melentur. Tetapi kadang kau hanya menata

bunga di mangkuk. Kau mengikat beberapa tangkai, lalu

menancapkan pada alas berpaku – sebelum mengisi mangkuk

dengan potongan arang, pasir yang habis dicuci, menuang air

dan melekatkan selapis lumut.

 

Waktu malam kita berdiam di kamar itu. dinding-

dindingnya sudah kaulapis dengan kertas berkarakter Fu.

Dalam cahaya pelita, kamar itu jadi teduh. Kau kerap

menyeduh teh, dan kita memandang ke luar pondok. Di langit
awan merambat dan setiap saat berubah bentuk. Bulan

bersinar di belakang pepohonan pinus. Kita menikmati bulan,

bunyi jangkrik, dan gemulai angin pada daun-daun,. Aku suka

menulis sajak pada waktu-waktu itu. katamu, sajak-sajakmu

seperti gemericik air atau bunga-bunga gugur. Kataku, aku

mencintai matamu yang seolah danau dengan warnanya yang

teduh.

 

Lama setelah kau pergi, aku masih merawat kebun

dan bunga-bunga dalam pot. Aku menyeduh teh, lalu

memandang ke luar pondok. Aku masih menulis sajak-sajak,

dan selalu mengingat harum melati yang kauselipkan ke

rambutmu…

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (19)

 

Rambutnya menggunung dijepit tusuk konde perak

Ikal-ikal rambut keperakan,

tergerai sampai ke bahu dan alis mata.

Ia bermantel hitam, gaunnya sutra

-bersulam, berkerah lebar dan ramping di pinggang.

Wajahnya berbedak tipis, dengan perona merah delima.

Ia yang mengangkat tirai di kabin kapal

-di sisi Sungai Shamen, dalam kapal mirip kulit kerang.

Di dalam kabin, ada kursi-meja teh, sebuah dipan

lalu pintunya yang menuju buritan.

Ia pintar bermain bhipa dan menyanyi seperti burung balam.

Tapi hari itu, di sudut itu, ia hanya diam

-menyandar pintu dan memandang diam.

Waktu aku menunjuknya, ia datang

lalu menyodorkan buah pinang….

 

 

Dongeng Sebelum Tidur (20)

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kita minum arak di bawah langit hitam.

Kau tak pintar minum, dan setelah

cangkir ketiga wajahmu memerah.

Kau pernah berkata, “Jika ini kehendak Dewa,

bulan akan muncul di langit,

dan kita akan hidup sampai rambut memutih.”

Ah, kukiran tak baik mencobai dewa-dewa.

Tapi setelah itu angin mengusir awan.

Waktu tengah malam, bulan kembali benderang.

Di danau, kita lihat riak air yang keemasan

seolah ada lampu-lampu menembus pepohonan

 

Bertahun yang lalu, pada bulan ketujuh

 

Kau dan aku menggambar ying-yang di kertas.

Kita duduk di muka jendela,

berpakaian sutra dan kipas di tangan

lalu memandang ke kolam, di luar jendela.

Waktu malam angin singgah, dan bulan

bercahaya di daun-daun pisang.

Kau telah menyiapkan dupa dan aneka buah,

lalu sepasang lilin di meja.

Katamu, “Hari ini Gadis Penenun dan Gembala

akan bertemu di Bimasakti,

di jembatan yang dirakit ribuat burung parkit.”

 

Sekarang bulan ketujuh….

 

Aku tahu kau akan datang.

Aku telah menaruh pakaianmu di ranjang

lalu sepasang selop di kaki ranjang.

Ah, ingatkah kau, dengan pakaian itu

kau mengamati bunga prem sehabis salju,

atau bunga krisan waktu embun jatuh

dan anggrek saat hujan mengguyur.

Di meja aku menaruh semangkuk bubur bhitan,

lilin-lilin, cangkir teh dan teko

lalu vas berisi bunga bakung.

 

Di kamar itu aku menunggu.

Waktu malam merayap, lidah api di lilin melompat.

 

Baru aku ingat. Aku belum melayarkan

lentera kertas di sungai, untukmi.

 

 

Keempat Musim

 

(Puisi Kanvas untuk Wang Wei)

 

/1/

Kamelia di dalam pot, bunganya seperti peoni

Merah, merah-muda, dan putih

 

/2/

Cakrawala seperti tak berujung

Kosong, hanya gelombang laut

 

/3/

Pepohonan memaparkan bayang-bayang

Angin musim panas berembus di air kolam

 

/4/

Datang dan pergi seperti camar di atap

Awan menelan matahari yang tenggelam

 

/5/

Basah kuyup waktu musim gugur

Burung meracau, kelopak-kelopak bunga gugur

 

/6/

Pohon prem berlingkar batang tiga depa

Dahan-dahannya memayungi mata

 

/7/

Bunga persik telah lewat musim

Kelopaknya jatuh dan daunnya menguning

 

/8/

Waktu musim dingin hanya bentangan air beku

Yangliu bertengger di muka langit yang kelabu

 

 

 

 

Wendoko menulis puisi dan cerita. Ia telah

menerbitkan beberapa buku puisi, yang terakhir adalah Jazz! (2012).

Sebagian puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa

Inggris dan terbit dengan judul Selected Poem (2010).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 5 MEI 2013

 

 

Written by Puisi Kompas

Mei 6, 2013 at 2:14 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: