Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Agustus 2012

PUISI F AZIZ MANNA

leave a comment »


Mungar

kelahiran bukanlah kedatangan

kematian bukanlah kepergian

rumah adalah rumah

semoga tuhan memantapkan hati kami

kekosongan yang menyembur dari sumur hanya ilusi

jalan di muka pintu yang diteriki matahari

kami akan bertahan di lingkar tanggul ini

meski angreman telah mungar sebelum jadi

jika kau pulang, sungguh kau akan mengerti

sebab kelahiran bukanlah kedatangan

kematian bukanlah kepergian

rumah adalah rumah

semoga tuhan memantapkan hati kami

 

Sidoarjo, 2012

 

 

Poronganyar

menghindar sunyi

sunyi yang lain menghampiri

mulut adalah kepala yang kosong

lengan yang dimakan lepra

hanya desis di lubang cacing

 

o, bapak dari seorang lelaki

yang menenggelamkan kampung kami

dunia kehilangan bentuk

hanya kenangan teronggok di tanggul-tanggul

 

angin menguing

gemuruh debu dan kerikil

sampan kami karam

dayung tertimbun

di patung ombak

 

Anyer, 2012

 

 

Hujan, Payung dan Mulut

yang Lepas dari Kepala

/1/

pagi seperti senja

hanya dingin dan kelam yang bertambah

kami diam

menerawang bebulir air

berjatuhan

 

musim menjelma tanda yang susah dibaca

seperti raut wajahmu seperti kampungku

dan kami diam

menerawang

seperti menunggu isyarat

yang lain

 

/2/

hujan memintal debu

mengental di situ kami dan saudara kami

berdiam darah kami

hitam

mata kami

buram

pikiran kami

kelam

seluruh hidup

suram

(semoga bangkai-bangkai tikus dijauhkan)

dunia hanya diterangi kilau kilat

nyata sekejab, lebih lama gelap

tak ada cinta tak juga dosa

peluit yang ditinggal telinga

mulut-mulut yang lepas dari kepala

 

/3/

malam kelam melesat

kan gemuruh hujan

 

tanggul melembung

lumpur mengembung

 

tubuh kami

tubuh kami

 

sudet

seset

 

ini luka

tak sudah-sudah

 

atap-atap, payung-payung

retak rusak

 

Sidoarjo, 2012

 

 

F Aziz Manna bermukin di Sidoarjo, Jawa

Timur. Buku puisinya berjudul Siti Surabaya

dan Kisah Para Pendatang (2010) dan Wong

Kam Pung (2010)

 

 

KOMPAS, MINGGU, 12 AGUSTUS 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 15, 2012 at 3:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Mengamati Tiga Jurus

kau yang belia, pendaras kitab yang setia

tidak sia-sia jika jawara tua itu

menghardik namamu dengan lantang

sembari menunjukkan tiga ancangan

menghajar

 

agar kau yang muda senantiasa berjaga

dan menerka mana jurus yang kelak

dapat kau ikat dalam raga

 

dia guru dan seteru yang sempurna

persiapkan dirimu

sebab kau akan tahu

bagaimana cakaran elang

kehilangan koyakannya

atau ketenangan siasat ular

tak berdaya di depan kekangannya

berjagalah, buat tatapanmu siaga

dan menerka kuda-kuda apa

yang ia tunjukan

 

mungkin ancangan ekor naga

gerak gelebat gesit liat

yang tak mudah dibebat

meski tombak terpanjang

mengancam di hadapan

ia sunggu tak dapat diredam

dan diredakan

gerak yang sungguh tangguh

yang dipungkasi dengan sekian

rangkai tinju

 

bisa juga, ia membimbingmu

dengan kekukuhan tapak beruang

geraknya yang lambat, yang amat

mengingat langkah dengan cermat

percayalah, segala pukulan tak berdaya

di depan tubuh maha kuat,

dengan urat-uratnya yang tegap

yang sanggup melumpuhkan

tindakan segerombolan penyerang

 

tak akan lengkap jika tak kau tangkap

satu jurus pamungkas: tingkah lihai kera

yang tangkas dan sukar ditebak

kau tak akan tahu dengan cara apa

tiba-tiba dia mengelak

kemudian tanpa duga melakukan hentak

kau tak akan mengira, sebab inilah siasat

yang mahir menyimpan segala gamparan,

tendangan, atau pitingan

kala cecunguk yang sesumbar

mencoba menyerang, menusukmu

dengan sebilah kelewang

(2012)

 

Di Depan Petarung Tanggung

Tahan. Redam ancangan dan jurusmu menjelang

sabetan pertama itu tiba. Jangan lupa menyimpan satu

pitingan secepat kerjap yang membuat para jawara

 

terbangun dari tidurnya. Kuda-kudamu tentu matang

sungguh. Kau yang telah menjalani pertarungan tanpa

jeda dengan pesilat berjurus munyuk dan pendekar

bertoya buluk

 

telah kau jalani

hingga kau mengerti benar arti menerima pukulan atau

bagaimana menjamu tendangan yang bertandang telak

di tepi wajahmu. Kau yang belajar

 

tentang sakitnya kalah. Tentu bukan ancaman,

sekumpulan cecunguk dungu yang mengumbar

kelewang dan sesumbar menyeru namamu.

(2012)

 

Kunyuk Melempar Buah

yang tentu matang

bersama kuda-kuda

adalah segala tenaga

yang berlintasan

di sekitar

 

yang tak diurai

yang telah dipecah

dan siap dihempaskan

di depan jemawa

yang menantang

 

kau yang mengenal

segala ihwal pencak

dari kembaran gila itu

juga satu siasatnya

yang dapat melumpuhkan

para penyerbu dari langkah

sekian jauh

 

tentu ia tuntunkan padamu

putaran untuk menjinakkan

angin

ia ajarkan perihal memutir

gerak tiba-tiba itu

lantas amati bagaimana

sepasang kaki melangkah

lincah

memijak dan mengentak

tanah

 

agar yang di bawah

mengirim dayanya

daya yang memberi

sebuah kekukuhan

pada lesatan pukulan

yang akan diarahkan

ke semua arah

(2012)

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April

1986. Saat ini tinggal d Sidoarjo.

 

KOMPAS, MINGGU, 12 AGUSTUS 2012

Written by Puisi Kompas

Agustus 15, 2012 at 3:39 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SITOK SRENGENGE

leave a comment »


Kereta

1

Sendiri di stasiun Tugu,

entah siapa yang ia tunggu

Orang-orang datang dan lalu,

ia cuma termangu

 

sepasang orang muda berpelukan

(sebelum pisah) seolah memeluk harapan

Ia mendesis,

Serasa mengecap dusta yang manis

 

Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,

kenapa ingatan begitu rapuh?

Cinta mungkin sempurna,

tapi asmara sering merana

 

ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap

: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?

Lengking peluit, roda + roda besi berderit,

tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

 

2

Andai akulah gerbong yang kosong itu,

akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku

 

Di antara orang berlalang-lalu,

ada masinis dan para portir

Di antara kenanganku denganmu,

ada yang berpangkal manis berujung getir

 

Cahaya biru berkelebat dalam gelap,

kunang-kunang di gerumbul malam

Serupa harapanku padamu yang lindap,

tinggal kenangan timbul tenggelam

 

Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,

Hanya bersama tapi tak bertemu

Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,

terlalu berat menahan beban

 

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,

begitu pula aku

kau akan jadi kemarin

kukenang sebagai pengantar esokku

 

Mungkin kita hanya penumpang,

duduk berdampingan tapi tak berbincang,

dalam gerbong yang beringsut

ke perhentian berikut

 

Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,

sedang aku terus melantur mencari mata air rindu

Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air

Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat perkir

 

Kita berjalan dalam kereta berjalan

Kereta melaju dalam waktu melaju

Kau-aku tak saling tuju

Kau-aku selisipan dalam rindu

 

Jadilah masinis bagi kereta waktumu

menembus padang lembah gulita

Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,

sebab segalanya telah beda

 

Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,

tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih

 

Peretas

 

Seumpama pagi, kita pun lekas pergi

Sebagai sore, kita segera sampai

Dari dan ke pangkuan kelam

 

Di mana kita jadi penelusur gua gelita

Meraba, menaswir gema cinta

Terpisah dari yang selain desah

 

Raga melenggang bagai ganggang

Sukmaku menggapai sukmamu, bersitaut serupa kiambang

Larut dalam kelucak ombak pasang

 

Kulumur landai lampingmu sampai pasir menyerpih

Kudentur-dentur ceruk curammu hingga berbuih

Hingga kau-aku terhempas, terlepas, di altar tarikh

 

Peramlah separuh perih, sampai kaulihat rakit

dinahkodai cahaya fajar pertama dari kaki langit

Selebihnya biar kusemat di jantungku, betapapun sakit

 

Sebab, selagi selat susut semata kaki,

kita akan mulai saling mencari

Dipandu denyut nadi

 

Kuharap kita akan bersua di sebuah bukit hening

yang menyimpan mata air bening, di mana letih berbaring

seluruh luka pulih, seiring kita tandai segala yang asing

 

Dan di tanah yang sabar itu, hidup akan tumbuh

Kau bagian dariku, aku bagian darimu, dua jiwa satu tubuh

Senantiasa saling butuh. Tanpa yang lain kita tak penuh, tak utuh

 

Peladang

 

Minggu, menunggu kuncup cintaku menjigrah jingga

Bagai bunga angsoka di halaman putih sang kekasih

 

Senin, senantiasa tanganku terulur serupa pohon nyiur

Menjinjing tempayan berisi sari kasihku sesuci susu

 

Selasa, selalu lamunanku menjulur seperti sulur ubi

Tekun mengukir kesiur kenang tentangmu di jalur nadi

 

Rabu, rabuku bergetar sesamar cahaya di marwah mawar

Menggambar gairah meruap harap dengan cinta merona

 

Kamis, kambojalah aku putih lembut semburat ungu

Hirup harumku sebagai penangkal kalut kalbumu

 

Jumat, jumpai aku si pucuk bulu membelai bulan subuh

Gugup menggurat gurit rindu dendam sampai sembilu lebam

 

Sabtu, sabar sekalem kalammu setabah benih berubah buah

Sadar hidup hanya jeda sebelum jiwaku jumbuh kaurengkuh

 

Musim

 

Tak pernah henti cinta mencintai

Sampai usia tak letih silih mengisi

 

Dulu

sebelum menyatu

aku bergelar lapar

kau bernama dahaga

Sama-sama baru tiba dari hampa

 

Lalu

dibimbing waktu

aku melahapmu

kau meregukku

Sejak itu kita bukan lagi yang sediakala

 

Betapa perkasa cinta

Ia jelmakan kita jadi manusia

 

Kuhasratkan kau rebah di tanah

sebab aku petani yang tabah

setia membajak dan mengairimu

Hingga kau bunting

melahirkan nasi ribuan piring

 

Kadangkala aku pekerja pabrik gula

merawat ladang tebu

atau menjaga gerak mesin gilingmu

Agar tak cuma aku

tapi semua yang dekat kita

tetap bisa menikmati manismu

 

Dalam dambaku kau seindah musim basah

selalu murung dan menangis

setiap kausaksikan kawanan burung

meninggalkan hutan tropis yang hampir habis

 

Kubuka sawah dan kebun

menadah gairah yang rimbun

sebelum kau berpaling sebagai musim kering

membuatku gering rindu peluhmu

 

Aku bergantung padamu

Tak perlu kuminta kau jadi yang kumau

Cinta ibarat bunga: mereka indah

sudah itu layu lalu luruh demi buah

 

Petani dan musim

tak terpisah

 

Sitok Srengenge, penyair yang juga menulis

Novel dan esai. Bukunya antara lain, on

Nothing (puisi), Menggarami Burung Ter-

bang (novel), dan Cinta di Negeri Seribu Satu

Tiran Kecil (esai).

 

KOMPAS, MINGGU, 5 AGUSTUS 2012

 

Written by Puisi Kompas

Agustus 7, 2012 at 2:10 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: